Please be awise. Mature Content!! Disaat melarikan diri, Maureen malah bertabrakan dengan seseorang yang tidak pernah diduga. MAx, pengusaha bertangan dingin yang tidak mudah disentuh. Namun, dia malah luluh saat melihat wajahnya. Membuat gadis itu terikat dengan pria arogan yang mencintai dengan caranya dan mengubah seluruh hidupnya.
View MoreMaureen menoleh pada suami, pinggangnya sakit di cubit Max.Nathan menatap penampilan Maureen, dia bahkan bisa langsung mengenali kemeja yang dipakai Maureen milik siapa.Kemudian matanya menyipit pada leher yang terlihat bekas gigitan terlihat jelas. Itu sudah merupakan tanda kepemilikan.“Te—terima kasih banyak, Nath, kau lagi—lagi menolongku,” Maureen ingin sekali mendekat, tapi pinggangnya ditahan Max.Nathan hanya menatap situasi yang ambigu. Dia ingin sekali berdiri dan langsung menghajar Max, namun sekarang yang dia perlukan adalah satu janji yang harus Maureen tepati.Dengan adanya janji tersebut, Nathan merasa yakin apapun masih bisa diubahnya.“Uhuk uhuk shh!!” desis Nathan sambil memegangi dadanya.“Apa yang sakit? Dimana yang sakitnya?” Maureen menepis tangan suaminya, dia spontan duduk di tepi ranjang Nathan.Tangannya reflek mendekat dan ikutan menyentuh untuk mengetahui kondisi Nathan. Wajahnya cermin bahwa dia mencemaskan kondisinya.“Rupanya aku belum sepenuhnya kala
“Kau benar-benar keterlaluan. Aku marah padamu, Max!” Maureen berbalik dan mendorongnya, dia membuka pintu mobil dan segera keluar.Max segera mengikuti, “Sayang, jangan marah. Maafkan aku. Kita makan malam dulu ya, kau pasti lapar kan?” Max berhasil meraih tangannya.Sebisa mungkin Max mengulur waktu agar Maureen tidak jadi menjenguk atau kalau dia bisa membawanya langsung pulang.Maureen bergeming.Ucapannya diabaikan.“Jangan marah, maafkan aku. Aku akan izinkan, asalkan aku juga bisa bersamamu!” Max merayunya.Dia tidak ingin kalau Maureen berubah pikiran dan meninggalkannya.“Kau jangan membohongiku!” dengus Maureen menoleh karena ucapannya.“Apa aku terlihat seperti itu dimatamu?” kembali Maureen bergeming.“Hanya karena laki—laki yang baru kau kenal, kau sampai bersikap seperti ini, hah!” Max melayangkan aksi protes, “apa aku dimatamu tidak lebih baik darinya?” Maureen menghela nafasnya.“Apa aku terlalu keras? Bagaimanapun, kalau bukan Max yang menyelamatkan mama dan membantuk
Max mengabaikan rintihannya. Dia terus melahap belahan bibir bawah istrinya hingga benar-benar Maureen tidak kuat.“Max … ahh hmm ahh Max ummm aku!” tanpa sadar Maureen terus mendorong kepala suaminya agar tetap bermain di bawah tadi.Kepalanya terangkat, deru napasnya masih terdengar kasar, tanpa ragu, bibir tadi sekarang sedang menyerang lagi bibirnya.Detik berikutnya, tubuh polos istrinya sudah diangkat ke pangkuan, Maureen mulai bergerak naik turun secara perlahan.“Max, kau benar-benar kejam. Tubuhku ini masih sakit ahhh ahh mmm!” saat dia protes, Max malah membalikkan tubuhnya lagi hingga kini Max yang sedang memompa dengan ritme cepat.Dia benar-benar menghajar tubuh istrinya sampai kewalahan.Max menarik tubuhnya dalam dekapan. Dia menutupi hanya dengan kemeja yang dilepasnya.“Kau yang lebih dulu berbohong dan mengkhianati ku. Ini hukumannya sangat ringan hah!” wajah Maureen di tarik sampai mereka berhadapan, dan grauk, Max menggigit bibirnya hingga berdarah.“Ah sakit Max!
Carlos dan Benny langsung mendekat. Nathan masih memeluk tubuh Maureen.“Kau gila, Nathan!!” teriak Carlos setelah suasana lebih kondusif, orang-orang tadi sudah dihabisi oleh anak buah Max juga Nathan.Martin segera mendekat pada Lola. Kepalanya dipukul dan terluka. Dia pingsan.Max ingin sekali marah melihatnya. Tapi, dia juga melihat istrinya yang sudah penuh dengan darah.Mereka segera membawanya kembali masuk ke rumah sakit.Max melihat wajah yang melindungi tubuh istrinya.“Moses? Sedang apa dia disini? Bagaimana dia bisa mengenal istriku?” kaya Max dalam hati.Max terkejut, tapi dia juga ikut membantu mengangkat tubuhnya.Carlos segera melakukan operasi untuk mengangkat peluru yang bersarang di punggungnya.“Di–dia, akan baik-baik saja kan Max? Aku, aku akan merasa bersalah kalau dia …,” Maureen dipeluk Max. Meski ada luka, tapi hanya lecet-lecet.Darah yang tadi mengalir pun itu berasal dari Nathan.“Tenanglah, ini tidak seperti yang kau bayangkan,” Max mencoba menenangkan hat
“Kau sudah janji padaku. Dua kali janji. Apa semua itu akan kau ingkari?” Maureen cemberut lagi, “Iya, iya, aku tahu. Aku akan bicara padanya!” Maureen ingin melepaskan pegangannya, tapi Nathan memberikan kode pada Benny dan Carlos untuk membawa Lola keluar ruangan dokter tadi.“Loh, loh, mau kemana?” Maureen ingin melangkah, tapi sekali lagi ditarik oleh Nathan hingga dia akhirnya duduk lagi di pangkuan Nathan.Nathan pura-pura meringis saat Maureen mencoba mendorongnya.“Ma–maafkan aku, kau juga yang salah!” dengus Maureen, dia tidak berusaha keras lagi mendorong tubuh Nathan.Namun, Nathan seolah tidak ingin mendengarkan perkataannya, dia hanya lebih memepetkan tubuhnya.“Na–Nath, kau, kita uhm ….”Maureen merasa serba salah dan tidak enak. Tubuhnya ingin mendorong keras, tapi disisi lain dia merasa berhutang budi padanya.Pinggangnya malah semakin didorong masuk ke dalam pelukan. Sepertinya, Nathan hanya ingin memeluknya sesaat.“Rasanya aku ingin sekali menggigit dan memakannya
“Padahal aku tidak pernah berpikir sejauh ini, karena kau bicara, kemungkinan ini pasti ada. Dia juga bisa kita curigai,” Maureen akhirnya berpendapat.Tadinya dia berpikir akan menghubungi kakak tirinya untuk mengkonfirmasi kejadian hari.Melihat kedatangan Karina dan dari sorot matanya terlihat dia juga tidak menyukai Maureen. Maureen bisa mengambil kesimpulan seperti itu.Saat dia berpikir, satu pesan diterima. Maureen membuka ponselnya dan dia melihat gambar yang dikirimkan oleh Nathan.“Lihatlah, dia benar-benar terluka parah. Bagaimana ini, Lola? Dia tidak menginginkan apapun kecuali aku merawatnya sampai sembuh. Tahu begini, lebih baik aku yang terluka,” Maureen mengoceh saat dia memperlihatkan gambar tersebut.“Kau gila! Itu sama saja bunuh diri. Sepertinya orang-orang tadi dikirim memang untuk menyakitimu, Iren! Itu bukan hanya kejadian kebetulan!”Irene manggut-manggut. Dia pasrah.“Apa aku harus bilang padanya juga?” Maureen ingin meminta saran dari Lola.“Jangan bertanya
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments