LOGINAbby mematut tubuh di depan cermin yang ada di ruangannya. Dia memutuskan untuk tidak pulang, melainkan langsung bersiap di kantor karena tak ingin membuang waktu. Dia tak boleh terlambat karena rencananya dimulai dari acara ini.
Dia melangkah dengan gemulai memasuki ballroom. Ratusan tamu undangan telah berada di sana, berbaur dan percakapan mereka pastilah tak jauh dari bisnis. Abby bosan membicarakan bisnis di acara pesta. Kecuali hari ini. Karena dia akan menebar jaring mulai dari sini. Jika suasana hatinya sedang bagus, mungkin tak masalah jika dia berbincang dengan beberapa orang. Hanya beberapa orang penting saja. Lainnya tidak. Akan tetapi, tiba-tiba dia tidak ingin berbaur dengan siapa pun. Kecuali putra mahkota keluarga Emerson. Dia lantas memilih tempat di sudut ruangan, sengaja agar tak terlihat karena dia tidak suka jika orang-orang dengan otak bisnis yang kotor lantas mendekat padanya. Siapa yang tidak mengenalnya? Seorang pebisnis wanita yang menjadi salah satu kandidat pebisnis muda paling sukses. “Kau di sini rupanya,” ujar seorang pria paruh baya dengan wajah dan hidung memerah, mendekat padanya. “Mengapa kau selalu bersembunyi, hm?” Abby menoleh ke kanan dan kiri, memastikan lelaki itu tengah berbicara dengannya. Namun, tak ada orang selain dirinya, yang sialnya, sedang tidak berbaur dengan tamu lain. “Kau bicara denganku?” tanya Abby lantas dikejutkan oleh tindakan pria itu yang langsung mencengkeram pergelangan tangannya. “Jangan sok jual mahal, Nona. Aku tahu kau sering tidur dengan para pebisnis sukses yang membuatmu melenggang nyaman di posisimu sekarang.” Pria itu mendekat dan Abby bisa menghidu aroma alkohol dari mulutnya. “Ikut denganku. Mereka memiliki beberapa kamar VIP di tempat ini.” “Jaga bicara dan sikap Anda, Tuan. Jika Anda mengenalku, sayangnya aku tidak mengenal Anda.” Abby berusaha melepaskan cengkeraman pria mabuk itu, tetapi dirinya tak berhasil. Dia mulai menyesali kenakalannya ketika remaja yang selalu membolos setiap kelas taekwondo. Jika tidak, saat ini juga dia dengan mudah melepaskan diri. Pria itu makin dekat dan nyaris mengecup bibir Abby yang membuatnya merasa mual karena aroma tak sedap yang menguar dari mulut pria itu. Dia tak ingin membuat keributan dengan berteriak lantang, tetapi bagaimana lagi? Abby mendesah sebelum kemudian memekik sembari tetap berusaha melepaskan diri. “Lepaskan aku!” “Ayolah, Nona. Aku janji hanya satu malam dan aku tidak akan bermain kasar.” “Hey, lepaskan dia!” Abby dan pria itu seketika menoleh kala mendengar suara bariton yang terdengar berat dan berhasil mengecoh pria mabuk itu sehingga Abby bisa menggeser tubuh dan berdiri di belakang pria muda yang baru saja datang dan menjadi pangeran berkuda putihnya. “Apa yang kau lakukan di sini? Kau seharusnya tidak datang.” Pria mabuk itu bertanya sembari berpegangan pada dinding untuk menopang tubuhnya yang sempoyongan. “Ck! Kau yang seharusnya tidak datang. Kau sama sekali tidak diundang.” “Bedebah! Kau sama seperti ayahmu, Zac! Kau menghancurkan kebahagiaan orang lain dan mengacaukan segalanya! Kau seharusnya tidak kembali.” Zac? Apakah Abby tidak salah dengar? Apakah lelaki ini adalah Zachary Emerson? Jika benar, sungguh, pucuk dicinta ulam pun tiba. Pria muda itu tampak tenang seolah tak ada sesuatu yang bisa mengusiknya. “Pulanglah. Kekalahanmu bukanlah tanggung jawab siapa pun. Ayolah, ini dunia bisnis. Akan ada untung rugi dan itu bukan salahku. Kau yang seharusnya berhati-hati.” “Dia juga!” Pria mabuk menunjuk ke arah Abby. “Jalang itu tak pernah membuatku tidur dengan nyenyak.” Zachary menoleh ke arah yang pria itu tunjuk, tetapi dia tidak menemukan siapa pun di sana. Ke mana perginya wanita itu? Mengapa dia pergi seperti siluman bahkan sebelum Zac sempat mengatakan sesuatu. Dia bahkan tak mengucapkan terima kasih setelah Zac menyelamatkannya. Sungguh terlalu. *** Seorang pria dengan penampilan perlente, mengenakan setelah jas berwarna silver dipadu kemeja hitam, terlihat menawan. Sorot mata tajam yang dihias bulu mata dan alis yang lebat, serta rambut kecoklatan yang disisir rapi melengkapi ketampanan dari pemilik rahang berpahat tegas itu. Dia berdiri dan berbincang dengan lainnya di antara alunan musik jazz nan lembut, menanti sang empunya acara naik ke atas panggung dan memanggil namanya untuk maju ke podium. Akan tetapi, dalam hatinya tengah bergemuruh sekarang. Dia masih terbayang-bayang akan wanita yang dia selamatkan dari pria mabuk yang nyaris mengacaukan pesta. Tak ada ucapan terima kasih, tak ada salam perpisahan. Jika dia pergi begitu saja, lantas apa tujuannya datang kemari? Dia pasti ingin menyaksikan pengangkatannya menjadi CEO sekaligus owner anak cabang Emers Corp. Dia pasti bukan tamu biasa yang hanya datang karena iseng. “Siapa wanita itu?” gumam Zac yang membuat beberapa kolega yang tengah berbincang dengannya, mengerutkan kening. Zac tak mampu lagi bertahan dan pura-pura asyik dengan percakapan antara dirinya dan para tamu. Dia penasaran sampai nyaris gila. Wanita itu sempat menyita perhatiannya, terlebih pria mabuk tadi kelihatannya sangat tak suka padanya. Pesta sedang berlangsung sebagaimana mestinya saat kemudian seseorang melangkah masuk ke dalam aula tempat dihelatnya acara tersebut. Seorang wanita dengan gaun malam velvet yang membalut tubuh, masuk ke dalam hall. Bibir ranum dipoles lipstick berwarna pink muda, menambah pesona dan kecantikannya. Semua mata terpaku saat dia berjalan masuk, tak elak Zachary Emerson—sang putra mahkota Emers Corp. Dia bahkan tak ingin berkedip dan melewatkan kehadiran perempuan itu. Jika saja dia tak mengingat dirinya sudah memiliki kekasih, maka sudah dia datangi sosok menawan di sana.. Di samping itu, jangan lupakan, perempuan itu berhutang terima kasih padanya. Abby kini berada di antara para pebisnis dan sepertinya tak ingin beramah-tamah dengan tamu lain. Dia lagi-lagi memilih tempat yang agak jauh, mengedar pandangan dari sudut ruangan yang hiruk-pikuk dengan suara musik mendayu-dayu. Dia tak lupakan tragedi pria mabuk yang nyaris membuatnya malu. Dia memperhatikan saja bagaimana pesta berlangsung, dan seperti apa penampakan sang putra mahkota pemilik Emers Corp yang ramai diperbincangkan terlebih oleh kaum hawa. Mungkin saja dia bisa menjalin hubungan baik dalam hal bisnis. Tak berapa lama, harapan Abby terwujud. Garry Emerson sebagai pemilik perusahaan Emers Corp naik ke atas panggung, memperkenalkan putranya yang akan menjabat sebagai CEO dari perusahaan miliknya sendiri sekaligus anak perusahaan Emers Corp. “Aku akan perkenalkan pewaris gen-ku yang sangat membanggakan. Dia yang selama ini mengurus perusahaannya di Saint Orleans sembari menjalani pendidikan masternya, akhirnya mulai membuka pikiran untuk kembali dan menjaga ayahnya yang sudah tua ini.” Semua tamu riuh tertawa mendengar kelakar pria itu. “Kemarilah, Nak. Zachary Emerson. Dia putraku.” Zachary Emerson yang disebutkan oleh pria bertubuh tambun itu kemudian maju ke depan, disambut sorak-sorai beberapa pemuda yang merupakan sahabatnya. Lainnya mengiring langkah Zachary dengan tepuk tangan yang meriah. Namun, tidak dengan Abigail. Dia memutar tubuh dan melangkah keluar dari ruang pesta sebelum memastikan seperti apa penampakan seorang Zachary Emerson dari jarak dekat. Dia berubah pikiran dan memilih untuk hengkang dari acara itu. Lagi pula, dia sudah sempat melihat Zac dari dekat beberapa jam lalu. Jadi, sudah cukup rasa penasarannya untuk hari ini. Setidaknya dia sudah mengisi buku tamu dan membiarkan mereka mengetahui nomor yang mungkin bisa mereka hubungi nanti. Untuk saat ini dia ingin sendiri.Tak banyak yang menyangka akan hal ini, termasuk Gin saat salah satu orang kepercayaan Zac, yang dia sebut sebagai salah satu pria yang dapat dia andalkan untuk membantu menemukan Alice, adalah orang yang tak asing bagi keluarga Genovhia.Kedua mata Gin nyaris mencelus kala pria itu memasuki ruangan dan melepaskan topi serta mantel coklat khas yang selalu dia gunakan bahkan setiap kali bertemu Abby.“Tuan Thompson?” gumam Gin, masih tak percaya dengan apa yang dia lihat. Apakah ini artinya pria itu telah mengkhianati kakaknya?“Hai, Tuan Muda Genovhia,” sapa pria itu kala melihat Gin ada di ruangan bersama yang lain. Hanya Gin yang dia kenali, maka kepada lainnya, dia hanya sedikit membungkukkan badan. “Apa yang bisa kubantu, Tuan Emerson?”Pria itu segera sigap menanyakan tugas yang akan Zac berikan padanya. Sementara itu, Gin yang merasa dijebak dalam hal ini, segera bangkit dan menarik kerah kemeja pria yang belum sempat duduk di kursinya dan menyeretnya keluar dari ruangan tanpa h
“Sid? Apa yang kau lakukan di sini?” cecar Monica pada sang kakak yang juga tertangkap sama sepertinya. Duduk di sebuah kursi di dalam ruangan temaram yang hanya diterangi lampu bohlam. “Sudah kukatakan, kau berjaga di markas. Mengapa kau melakukan kebodohan semacam ini?”“Bagaimana denganmu? Kau sendiri juga tertangkap. Apa yang ingin kau katakan, hm?”Monica bungkam saat Sidney menembaknya dengan kalimat sarkastik yang jelas kebenarannya. Entah mimpi apa semalam sampai-sampai rencana mereka berdua gagal total. Bahkan belum juga mereka mendapatkan apa yang mereka mau—setidaknya memberi pelajaran pada Abby—dia sudah tertangkap.“Aku tahu mengapa kau di sini.” Monica menambahkan, mengalihkan pertanyaan sang kakak tanpa ada niat menjawab. Retorika seperti itu tak penting untuk dia tanggapi. “Kau pasti tak percaya padaku, karena itu kau mengikutiku. Jujur saja.”“Aku–“ Sidney tak mampu memberikan respon cepat atas tuduhan sang adik. Memang benar, itulah kenyataannya.Wajar kalau dia ragu
“Apakah kau sudah mendapat kabar dari Jude?” tanya Abby yang masih terus mencemaskan Alice yang menghilang dan Jude yang tak juga kunjung memberi kabar. Gin hanya menggeleng.Dia juga tengah menanti berita yang Jude janjikan. Dia berulang kali menawarkan bantuan, tetapi ditolak oleh pria itu. Dia akan menyelamatkan Alice sementara Gin harus menjaga Abby.Hari telah petang, tak mungkin rasanya jika pria itu memberikan kabar. Kalau pun mereka sudah berada di lokasi, pasti tengah menyusun siasat pembebasan terhadap Alice.“Aku akan mencarinya,” ujar Abby yang kemudian bangkit, tetapi segera dihadang oleh Gin dan Zac yang sudah mengetahui berita mengenai hilangnya Alice.“Abby, biarkan Dokter Gregory yang melakukannya. Dia memintaku untuk menjagamu, karena dia merasa kalau kau pun tengah diincar.”“Siapa yang mengincarku? Mereka tak akan menemukan apa-apa dariku.”Abby jelas salah. Jika yang dia maksud adalah harta, banyak hal yang bisa didapatkan darinya. Begitu pula dengan dirinya sendi
Abby terbelalak, tak percaya kalau Garry mengetahui identitasnya. Selama beberapa tahun dia bisa melenggang bebas tanpa ada seorang pun tahu, tetapi sekarang tampaknya adalah akhir dari petualangannya demi membalaskan dendam.Tergagap dan tak bisa mengungkapkan kalimat apa pun saking terkejutnya, Abby hanya menatap nyalang pria di hadapannya.“Mengapa kau begitu terkejut?” tanya Pria itu. “Aku telah lama mencarimu. Kau hilang seperti ditelan bumi. Juga ayahmu.”“Apa yang kau inginkan? Kau sudah menghancurkan keluargaku, sekarang apa yang kau inginkan?”Ekspresi Garry seketika berubah kala mendengar tuduhan Abby. Dia menggeleng samar, tetap tak alihkan tatapan yang tak bisa Abby terjemahkan.“Apa maksudmu? Apakah terjadi sesuatu pada kalian?”Abby menggeleng tak percaya. Pria ini benar Garry Emerson, bukan? Mengapa dia seolah tak mengingat perbuatannya sendiri? Ataukah itu hanyalah sandiwara agar Abby tidak melakukan tindakan lebih jauh terhadap mereka?Atau mungkin saja justru mereka
“Hhmph!” Seorang wanita memekik keras, tetapi tak ada suara atau kata-kata yang keluar selain racauan tak jelas karena mulutnya tertutup sebuah plester saat ini.Tangan dan kakinya terikat, matanya ditutup dengan sehelai kain yang diikatkan cukup erat sehingga dia tak bisa melihat apa pun meski dengan cara cerdik yang biasa dia gunakan setiap kali menghadapi masalah serupa.Hal semacam ini bukan hal baru baginya. Namun, kali ini, dia sepertinya berhadapan dengan orang yang cukup lihai dan telah lama melakukan kejahatan yang sama.“Apakah kau sudah memeriksa ponselnya?” tanya sebuah suara bariton yang dalam dan dia tak kenali sama sekali. Dia sempat curiga sebelumnya, berpikir kalau Jude-lah yang ada di balik ini semua. Namun, dia harus akui kalau pikirannya salah.“Sudah, Tuan. Tidak ada apa pun di sana. Hanya jadwal pernikahan Abigail Genovhia seperti yang Nona inginkan,” jawab lainnya.“Baiklah. Kalau begitu kita bisa bergerak sekarang. Tepat seperti permintaan Nona Marra, bahwa kit
“Al, apakah Jude ikut mengiringi Gin?” tanya Abby, yang membuat Alice, yang tengah berada di seberang, mengerutkan kening.“Ada apa, Abby? Apakah ada masalah?”“Tidak. Aku hanya memastikan. Kupikir dia akan menyertai ayahku dan Gin. Aku mencemaskan mereka.”“Oh, kupikir ada sesuatu telah terjadi,” jawab Alice tenang. “Mulanya aku menyangka kalau dia akan ikut. Namun, katanya, dia tidak punya kewenangan. Dia akan pergi kalau itu adalah Selena.”Abby mengangguk, merasakan perasaan yang bercampur aduk. Dia cemas kalau nanti, di hari pernikahannya, Gin tak datang karena urusan yang belum selesai. Atau yang lebih buruk, jika terjadi sesuatu terhadapnya.“Abby, hey ... semua akan baik-baik saja. Percayalah.” Abby mengangguk, meski sadar kalau Alice tak akan bisa melihatnya. “Apakah kau membutuhkan teman? Aku baru saja membuat pie apel. Aku bisa membawakannya untukmu.”Alice tampak berbinar, begitu pula dengan Abby. Ditemani oleh sahabat yang selalu ada di setiap perjuangan, tak mungkin akan
Dendam memang mampu mengubah segalanya. Itu benar. Bahkan Abby yang sebelumnya memiliki harga diri tinggi, tak pernah menginginkan sesuatu jika itu bukan atas hasil usahanya, berubah seratus delapan puluh derajat. Pemberian Zac bahkan lebih dari besar, jika boleh dia katakan. Saham sebuah perusah
Alice tiba di apartemennya dan segera mengambil ponsel. Puluhan pesan dan panggilan tak terjawab sudah berderet di sana. Dari Jude, siapa lagi? Dia enggan berurusan dengan orang yang berpotensi mengganggu pekerjaannya, tetapi Jude ... dia memiliki apa yang Alice butuhkan. Sebuah stabilitas. “Hey,
Secercah cahaya menyeruak dari celah tirai yang membuat seorang lelaki menggumam. Dia berusaha menutupi matanya yang merasa terganggu karena silau. “Abby, tutup jendelanya! Kau mengganggu tidurku saja,” gumamnya, sebelum kemudian menyadari kalau suasana bahkan suhu di ruangan itu berbeda dengan k
“Apa yang kau lakukan di sini, Abby? Dan mengapa kau membawaku pergi? Aku harus mengatakan pada Monica terlebih dahulu agar dia tidak mencariku,” ujar Gin yang tak terima dengan sikap Abby yang langsung saja menariknya keluar dari pusat perbelanjaan, sementara Alice yang baru selesai membayar semua







