Mag-log inAbby masih memusatkan konsentrasi di depan layar besar di mana tampak tampilan diagram dan grafik yang menunjukkan jumlah dan besaran saham yang sudah terdaftar dalam bursa saham.
Dia tak akan melewatkan kesempatan untuk memperluas kekuasaannya di dunia bisnis dan hal itu harus dia lakukan dengan komitmen yang kuat. Terlebih saat ini, dia memiliki rival baru. Sementara itu, pegawai lainnya akan secara bersamaan melakukan hal yang sama dan ketika nantinya ada salah satu saham yang memiliki prospek bagus, mereka akan dengan segera menghubungi Abby dan melakukan pembelian setelah mendapat persetujuannya. Kali ini, musuhnya bukanlah generasi tua Emerson yang bahkan sudah tak mampu mengangkat kaki tanpa bantuan tongkat, melainkan sang putra mahkota. Zachary Emerson. Meski baginya, Zachary tergolong baru di bidang saham, tetapi Abby tak boleh meremehkannya. “Nona Genovhia, saham di bidang pertambangan telah dimunculkan. Perusahaan mana yang kau incar?” tanya salah satu pegawai melalui saluran telepon. “Menurutku kandidat yang kuyakini akan meroket dalam dua tahun adalah XYZ Company dan Crakz.” “Yang mana yang lebih memungkinkan?” “Keduanya.” “Salah satu saja. Aku mengalokasikan dana untuk dua atau tiga perusahaan dengan bidang yang variatif. Aku tidak ingin hanya di satu bidang usaha saja.” Tak terdengar suara di seberang, yang membuat konsentrasi Abby menjadi terpecah karena menunggu jawaban. Namun, tak berapa lama, pegawainya itu memberikan jawaban. “Crakz. Aku meminta pendapat beberapa pegawai dan menurut pegawai lain, Crakz lebih prospektif.” “Baiklah, bersiap untuk melakukan pembelian dan aku akan segera menyiapkan dana.” Abby kembali memusatkan perhatian, dan menemukan nama perusahaan keluarga Emerson di dalamnya. Tanpa banyak pertimbangan dia membuka dan memeriksa profile perusahaan dan benar saja, saham yang cukup besar tersebut adalah milik Zacamers, perusahaan baru sekaligus anak cabang Emers Corp yang kini dipimpin oleh Zachary Emerson. “Mengapa dia menjual sahamnya? Meski hanya sedikit, tetapi untuk sebuah perusahaan baru, nilai tersebut terbilang cukup besar.” Abby bergumam sembari kemudian berpindah ke layar lain dan memulai penelusuran di laman pencarian. Abby ingin tahu seperti apa cara kerja sang putra mahkota keluarga Emerson ini sehingga dengan sangat berani dan gegabah mengorbankan sahamnya yang bisa dia katakan masih seujung kuku dari miliknya. “Apa rencanamu sebenarnya, Zachary Emerson?” Tanpa berpikir panjang, Abby meng-klik saham milik Zacamers dan kemudian melakukan pembelian keseluruhan. Senyum puas terkembang di wajahnya. “Nona Genovhia, apakah Anda baru saja melakukan pembelian saham Zacamers?” tanya sang asisten yang langsung dia jawab dengan gumaman. “Apakah kau yakin melakukan itu? Tidakkah kau akan merugi? Zacamers tergolong perusahaan baru.” “Aku sudah mempelajari profil mereka dan mereka sudah memiliki perusahaan besar di Saint Orleans, hanya saja mereka melebarkan sayap sampai ke negara tetangga demi untuk mendapatkan keuntungan lebih besar. Kau tak perlu cemas. Aku sudah mempertimbangkan beberapa hal. Jika pun kita merugi, aku masih memiliki segudang rencana cadangan.” Sang asisten hanya mengangguk, karena tak bisa menyanggah. Bagaimana pun kemampuan Abby dalam hal bisnis tak perlu diragukan. Tak mungkin Bizmags akan memasukkannya ke dalam daftar salah satu pebisnis muda sukses jika dia tidak memiliki kualifikasi yang mumpuni. “Kalau begitu aku akan memeriksa lainnya. Kami sudah berhasil mengakuisisi saham Crakz seperti yang Anda minta.” “Bagus. Awasi saham lain seperti yang sebelumnya. Kau pasti tahu mana saja yang sedang kuincar, jadi usahakan kita memenangkan pembelian kali ini. Jangan sampai lepas karena kalian tidak fokus.” “Baik, Nona.” Sang asisten segera keluar dari ruangan dan baru saja Abby hendak memeriksa indeks saham dan keberhasilan mereka terhadap pembelian saham seperti yang biasa dia lakukan, data yang tertera di layar membuatnya tersedak. “Zachary Emerson! Aku harus membuat perhitungan denganmu!” ujarnya sembari mengepalkan tangan dan wajahnya memerah dengan mata tertuju lurus pada layar. *** Abby masih tak habis pikir dengan apa yang dia lihat beberapa jam lalu. Dia yang selama beberapa tahun selalu berhasil menempati urutan pertama untuk pembelian saham dari perusahaan besar, kini justru tergeser oleh seorang amatir. Anak lelaki yang baru lulus bangku perkuliahan dan tak memiliki pengalaman selain mengurus satu perusahaan. Sehebat dan sekuat apa pun keluarganya membanggakannya, Abby tetap menganggap lelaki itu amatiran. “Nona Genovhia, ada seseorang menghubungimu di line dua.” Sang asisten masuk dengan raut wajah panik. “Apakah kau tidak lihat kita sedang menghadapi masalah? Jangan ganggu aku dengan apa pun. Katakan padanya—“ “Ini adalah Zachary Emerson dari Emers Corp.” Abby seketika menghentikan luapan kekesalan yang nyaris dia ledakkan pada sang asisten. Pensil di tangan dia letakkan dan dia tegakkan tubuh demi mendengar apa yang asistennya katakan. “Siapa katamu?” “Zachary Emerson.” “Aku akan menerimanya. Terima kasih.” Abby tak bisa menunggu. Dia segera menerima panggilan yang tampaknya dengan sengaja lelaki itu tujukan padanya. Apa yang ingin dia bicarakan? Apakah mengenai saham? Apakah untuk mengejek kekalahannya? Jika iya, dia akan pastikan tak akan memberikan tanggapan. Baginya, lelaki itu pasti hanya ingin show off. “Halo, apakah ini Abigail Genovhia?” tanya sebuah suara di saluran seberang. Abby kenal betul suara itu. Tanpa perlu bertanya-tanya, dia menyingkirkan sejenak perasaan kesal dan menyambut mangsanya. “Apa yang ingin kau bicarakan?” “Mengapa kau kabur begitu saja dari pesta? Kau bahkan tidak mengucapkan terima kasih atau sekadar mengobrol. Bukan begitu cara mainnya, Nona.” “Apakah hanya itu yang ingin kau katakan? Jika kau sudah selesai bicara, aku akan tutup teleponnya.” “Tunggu! Aku belum selesai. Bisakah kita makan siang bersama? Aku mendengar banyak hal tentangmu serta sepak terjangmu dalam dunia bisnis dan kurasa aku ingin tahu lebih banyak. Anggap saja aku sebagai junior yang ingin mengambil ilmu dari seniornya, yaitu kau.” “Apakah kau sedang mengejekku?” “Apa?” “Kau pikir aku tidak tahu? Kau telah dengan sengaja menjual sahammu agar aku lengah dan tidak memperhatikan pergerakanmu, kan? Lalu setelah memenangkan saham dari perusahaan besar yang kuincar, kau datang untuk memperolokku. Maaf, Tuan Muda Emerson, kurasa kau sudah salah mangsa.” Abby mengakhiri panggilan dan mengetatkan rahang saking kesalnya. Dia sadar telah salah bereaksi, tetapi semua sudah terlanjur. Jika dia sudah kalah, maka mereka akan menganggap kapabilitas Zachary dan perusahaannya akan meroket. Itu tentu saja akan menurunkan miliknya. “Sialan!” Abby meremas erat squishy di tangannya sebagai bentuk pelampiasan amarah atas apa yang baru saja terjadi. Bagaimana dia bisa membalas dendam pada keluarga Emerson jika dalam bursa saham saja dia tergeser oleh anak bau kencur? Tak peduli berapa pun usia Zachary, tetap saja bagi Abby dia adalah seorang amatir. Abby bangkit dan hendak meninggalkan kantor ketika asistennya masuk dan mengabarkan hal lain yang membuat kepalanya seolah berdenyut nyeri. “Nona Genovhia, Tuan Emerson sudah berada di lobi dan dia ingin bertemu dengan Anda. Apakah Anda ingin menemuinya?”Secercah cahaya menyeruak dari celah tirai yang membuat seorang lelaki menggumam. Dia berusaha menutupi matanya yang merasa terganggu karena silau. “Abby, tutup jendelanya! Kau mengganggu tidurku saja,” gumamnya, sebelum kemudian menyadari kalau suasana bahkan suhu di ruangan itu berbeda dengan kamar miliknya. Lelaki itu membuka mata dan menemukan dirinya di atas ranjang putih, tanpa sehelai pakaian pun, dan di sampingnya, seorang gadis tertidur dalam kondisi yang tak jauh berbeda dengannya. Gin beringsut dan hendak turun dari ranjang, terlebih setelah mengingat apa saja yang terjadi malam tadi. Dirinya tidak mabuk, dia seharusnya bisa menolak saat gadis itu naik ke atasnya dan mulai mencumbuinya. Namun, setan dalam dirinya justru berkata sebaliknya. Godaan itu terlalu kuat sehingga dia dengan bodohnya masuk ke dalam perangkap. “Apakah kau akan pergi?” tanya gadis yang rupanya sejak tadi sudah terbangun dan menyadari pergerakan di sisinya. Dia sepertinya tidak merasa asing d
Dendam memang mampu mengubah segalanya. Itu benar. Bahkan Abby yang sebelumnya memiliki harga diri tinggi, tak pernah menginginkan sesuatu jika itu bukan atas hasil usahanya, berubah seratus delapan puluh derajat. Pemberian Zac bahkan lebih dari besar, jika boleh dia katakan. Saham sebuah perusahaan besar yang sejak lama menjadi incarannya, kini sudah tertulis atas namanya. Begitu mudahnya. Dia hanya perlu menggunakan kecantikan, pesona, dan mantra cinta untuk mendapatkan itu semua. Abby tersenyum sembari memandangi berkas di mejanya, hingga tak sadari seseorang masuk dan tanpa permisi segera meraih lembaran itu, ketika menyadari ada yang tidak beres dengan Abby. “Kau berhasil mendapatkan saham ini?” tanya lelaki itu dengan kening mengernyit. Dia jelas tak percaya karena tahu betul bahwa Abby telah kalah pada bursa saham beberapa waktu lalu. Lantas, dari mana dia dapatkan surat-surat berharga itu? “Kau bisa lihat sendiri, kan?” “Bagaimana mungkin? Kau jelas-jelas kalah, Ab
Abby terpaku seketika saat mendengar perkataan Zac yang seolah bertujuan untuk mengusiknya karena dia telah mengetahui banyak hal bahkan rencana untuk menghancurkannya. Akan tetapi, Abby tetap berusaha tak terpengaruh dan menanyakan semua dengan nada bicara yang dia buat setenang mungkin.“Apa maksudmu, Zac? Apakah ada seseorang yang berusaha untuk melakukan hal buruk terhadapmu?” tanya Abby, yang meski ingin sekali menghindari tatapan penuh selidik Zac, tetapi dia kuatkan hatinya untuk tetap memandangi manik kelabu milik lelaki di hadapannya yang masih merapatkan rengkuhan padanya.“Apakah menurutmu pengusaha seperti kita ini aman dari musuh, Abby? Jika memang benar, sungguh, kau sangat polos.”“Oh, ah ... baiklah, aku tahu sekarang. Apakah kau berniat menudingku?” tanya Abby lagi. Kali ini, dia mengeluarkan jurus intimidasi yang selalu berhasil membuat Zac terpengaruh sehingga bertekuk lutut.Jurus itu tak pernah gagal memanipulasi Zac, bahkan detik itu juga, lelaki itu tertunduk da
Ponsel Abby berdering saat dirinya baru saja menginjakkan kaki di apartemen Zac. Pria itu membantunya melepaskan mantel dan kemudian mulai sibuk menyiapkan segalanya, sementara dirinya segera menuju ke balkon untuk menerima panggilan sembari menikmati pemandangan malam dari ketinggian.“Hey, Al. Ada apa? Tumben sekali kau menghubungi selarut ini,” ucap Abby sembari tersenyum, merasa senang menggoda sahabatnya yang hanya mendengkus di saluran seberang.“Jangan bercanda. Aku tahu kau berada di apartemennya, kan? Apa yang kau lakukan di sana, Abby?”“Hey ... ada apa ini? Mengapa sahabatku yang maskulin dan cuek ini berubah begitu perhatian dan cerewet seperti pamanku?” goda Abby. “Apakah kau lupa kalau aku dan pria ini sudah bertunangan? Kau harus mulai terbiasa dengannya.”“Abby, ini berbahaya. Jika kalian bertemu terus-terusan, kau bisa saja jatuh cinta padanya. Apakah kau lupa pada tujuanmu? Jika memang, sekalian saja, jangan melakukannya dan kembalilah ke pelukan Ashton.”“Kau mulai
“Abby, apakah kau baik-baik saja, Nak? Kudengar kau kalah lagi di bursa saham,” ujar seorang pria yang tengah bicara Abby yang sedang berkutat dengan pekerjaannya.Dia sedikit tergesa setelah menghabiskan malam dengan Zac dan malam tadi adalah kali pertama dia bercinta dengan pria yang sudah resmi menjadi kekasihnya itu dengan kemarahan terpendam. Selama ini, dia hanya mencari kenikmatan, tak lebih. Bahkan tak pernah ada cinta.Akan tetapi, malam tadi sungguh berbeda. Sayangnya, Zac justru melihat gejolak dalam diri Abby sebagai gairah membuncah dan membuat pria itu semakin terbakar dalam hasrat dan melakukannya berulang kali.Dia lelah saat ini. Tenaganya habis terkuras.“Dasar Emerson sialan!” umpat Abby lirih sebelum merespon perkataan pria di saluran seberang. “Aku baik-baik saja, Paman. Kekalahan itu memang menyebalkan, terlebih dia adalah tunanganku sekarang. Aku jadi semakin membencinya dan ingin mengakhiri semua saat ini juga.”“Jadi kau masih merencanakan dendam itu?” tanya A
Abby dan Gin tak saling bertegur sapa semenjak pertengkaran yang terjadi di antara keduanya. Mereka hanya melaksanakan tugas sebagai seorang rekan kerja dan percakapan antara mereka hanya mengenai segala hal yang berhubungan dengan bursa saham hari ini.Keduanya berada dalam satu ruangan bersama beberapa orang yang masuk dalam jajaran direksi, tetapi Zac tak tampak di sana.Abby tak masalah akan hal itu, karena meski perusahaannya dan Zac telah menjalin kerja sama, tetap saja, Zac membawa nama Emerson dan harus berdiri di depan untuk memimpin.Akan tetapi, Abby yakin kali ini, Zac akan mengalah padanya dan membiarkannya mendapatkan apa yang dia mau.“Jadi aku dan Gin sudah berunding. Aku akan membagi dana untuknya dan beberapa orang. Kalian akan mendapatkan kesempatan melakukan pembelian satu saham dan pastikan kalian melakukan pembelian terbaik atas nama JA Company dan tidak diperbolehkan melakukan pembelian secara pribadi. Apakah kalian sudah memikirkan perusahaan mana yang akan kal







