Share

Chapter 3

Author: Shine
last update publish date: 2026-01-10 10:41:03

Kabar baiknya, Kath tidak jadi mati. Namun kabar buruknya dia malah berakhir diintrogasi.

Dalam keadaan bangun dari pingsan--- setelah ditusuk jarum suntik yang Kath yakini berisi obat bius dari Sean, Kath mendapati dirinya berada di kamar tidur yang pastinya bukan kamar tidur Lilian yang sebelumnya dia tinggali. Ditambah, dia juga mendapati Sean dan Leo duduk di atas sofa berhadapan dengan ranjang yang dia tiduri, menatap ke arah dirinya dengan pandangan intimidasi.

Kath tertawa dalam hati sembari mengutuk kebodohannya karena sudah membeberkan satu rahasia yang dia ketahui dalam novel. Seharusnya dia diam saja dan terus bertingkah seperti Lilian polos yang tidak tau apa-apa.

Ya mau bagaimana lagi, perilaku asli Kath tidak dapat berubah dalam waktu cepat. Jika ada orang yang melawannya Kath juga bisa melawan--- hal ini sudah menjadi hukum alam dalam kehidupannya.

"Jadi lo udah tau?"

Kath menggeleng cepat mendengar pertanyaan Leo dan sebisa mungkin tidak berbicara satu kata pun. Kalau keceplosan lagi ujungnya Kath bakalan gak selamat.

Sean berdecih karena menyadari kebohongan Kath.

"Nyesal gue gak rekam perkataan dia barusan," tambah Sean mulai memanas-manasi keadaan.

Kalau lempar orang ke jurang dosa gak sih? Rasanya Kath ingin melakukan pembuatan tersebut pada Sean.

"Lilian, kita gak bakalan bunuh lo sekarang kalau lo ngomong jujur," Leo menengahi.

Iya, memang gak sekarang. Bisa saja besok atau beberapa jam kemudian, atau bisa jadi beberapa menit kemudian, atau lebih parah beberapa detik setelah Kath membeberkan apa yang dia ketahui mengenai rencana pembunuh mereka terhadap Lilian.

Kath menatap Leo lalu Sean yang raut wajahnya masih tetap kesal--- entah karena alasan apa yang pasti Kath tidak peduli, begitu terus secara berulang. Dalam kegiatannya tersebut, Kath tengah menimbang pilihan apa yang tepat dia lakukan di saat seperti ini.

Setelah beberapa lama berkalut dalam pikirannya. Kath pada akhirnya bersuara, menyampaikan apa yang ingin dia ucapkan.

"Kalian mau hak waris gue di keluarga Emanuel 'kan? Kalau gitu ambil aja, terus sekalian aja seluruh aset milik Emanuel yang gue pegang. Perusahaan? Gue siap tanda tangan pengalihan saham ke kalian berdua." Setelah berkata demikian Kath langsung beranjak dari tempat tidur dan langsung melangkah menuju ke arah Sean maupun Leo.

"Tapi tolong, gue gak mau mati. Ada banyak yang harus gue lakukan. Setidaknya biarin gue tua terlebih dahulu, sekiranya sampe umur gue 100 tahun."

Semua ini dia lakukan agar nyawanya selamat. Soal duit dia masih bisa cari, jadi tukang parkir bahkan rela Kath jabanin. Tetapi jika nyawa sudah melayang Kath tidak dapat lagi mencarinya.

Leo maupun Sean menatap datar ke arah Kath yang sudah berada di hadapan mereka. Seketika itu pula mereka terbahak setelah mendengar permintaan Kath yang ingin sekali hidup.

"Lo kira bakal se-simple itu?" tanya Sean.

"Balas dendam kita ke keluarga Emanuel lebih dari itu." Leo beranjak dari sofa lalu menyentuh dagu Kath sembari menatap gadis itu dengan intens. "Coba bayangkan bagaimana terpuruknya kepala keluarga Emanuel ketika melihat salah satu anak mereka mati? Kemudian diikuti dengan anak-anaknya yang lain hingga dia tidak lagi memiliki penerus?"

"Kami tidak ingin harta keluarga Emanuel, Lilian. Kami hanya ingin ayahmu merasakan apa yang kami rasakan, kehilangan anggota keluarga satu persatu bukanlah perkara yang mudah!" ucap Sean dengan teriakan keras, melanjutkan perkataan Leo barusan.

Telinga Kath berdenging, jantungnya berdetak cukup kencang saat otaknya refleks mengingat alasan lebih jelas mengapa Lilian dibunuh.

Benar, Lilian dibunuh untuk menjadi efek ganjaran bagi Reandra--- kepala keluarga Emanuel sekarang sekaligus ayah dari Lilian beserta dua saudaranya. Setelah Lilian meninggal, mereka menargetkan anak bungsu Reandra yaitu Kritaka yang merupakan tokoh perempuan utama sebagai target yang akan dihilangkan nyawanya.

Hingga kemudian dari situlah kisah cinta segitiga mereka pun dimulai.

Kritika yang tidak rela kakak perempuannya dibunuh secara keji oleh Leo dan Sean menuntut balas dengan membiarkan kedua pria itu mendekatinya, lalu secara tersembunyi juga merencanakan pembunuhan kepada mereka. Alhasil Kritaka, Sean dan juga Leo memiliki tujuan yang sama dengan target yang berbeda.

Memikirkan segala hal yang rumit sontak membuat kepala Kath mendadak pusing.

"Gue gak mau dibunuh--- oleh kalian ataupun orang lain." Tubuh Kath merosot turun ke lantai, terduduk dengan raut wajah shock di sana, "Gue cuma mau hidup tenang." ucapnya dengan intonasi datar.

Kath baru sadar, kematian Lilian bukanlah akhir dari segalanya. Kematian Lilian adalah permulaan dimana neraka sebenarnya terjadi. Jika Kritaka tidak berhasil untuk melindungi dirinya, semua saudara Lilian dipastikan akan mati, meninggalkan Reandra seorang diri.

Membayangkannya saja sudah membuat Kath merinding karena meratapi nasibnya dan juga keluarga Emanuel.

"Apakah dengan balas dendam orang yang kalian sayang akan kembali?" refleks Kath bertanya, dengan posisi menunduk melihat lantai. Akal sehatnya tidak berjalan sekarang, bahkan dia tidak lagi peduli dengan reaksi dua malaikat mautnya saat mendengar pertanyaannya barusan.

"Gue juga pernah kehilangan orang yang gue sayang. Tetapi, seberapa lama gue bersedih, seberapa deras air mata gue jatuh--- dan juga sejauh mana gue lari dari kenyataan. Mereka tidak akan pernah kembali."

Di ingatannya, Kath masih mengingat jelas kematian orang tuannya, di mana saat itu dia harus menegarkan diri sendiri tanpa ada satupun orang yang membantunya. Tetapi, walaupun dia mencoba tegar. Terdapat rasa pedih yang amat membekas dan keinginan agar papa dan mamanya kembali.

Sayangnya, setiap kali dia mengungkapkan keinginan tersebut dalam hati ataupun dalam teriakan menyayat hati, orang tuanya tetap tidak akan kembali ke dunia ini. Tanpa sengaja Kath meneteskan air mata--- setelah mengingat masa kalutnya sekaligus mengingat mengenai masa depannya yang lebih menyakitkan.

Sibuk dengan menenangkan hatinya agar tidak menangis, Kath merasa seseorang menepuk pundaknya lalu mengelusnya lembut. Hal ini sontak membuat gadis itu terhenyak dan menatap ke sosok pria yang menyentuhnya.

Pria itu Leo, dengan senyuman manisnya menatap ke arah Kath. Sebelum Kath mendengar Leo berbicara, dia terlebih dahulu mendengar suara Sean yang tengah terburu-buru--- tampak Sean sibuk memakai arlojinya dan juga aksesoris lainnya.

"Gue ada pemotretan 15 menit lagi jadi gak bisa lama-lama di sini." Sebelum pergi Sean kembali berucap, "Gue bakalan tunggu kabar tentang nasib kak Lilian di tangan kita nanti."

Sontak saja Kath kembali dilanda ketakutan, refleks dengan perlahan dia menyeret tubuhnya mundur hingga sentuhan Leo pada bahunya terlepas. Setelah kepergian Sean, kini hanya tinggal Leo dan Kath di kamar.

"Kalian tetap pada keputusan awal?" tanya Kath, dalam artian dia masih mempertanyakan mengenai nasibnya.

Senyum Leo semakin melebar hingga membuat bibir pria itu seperti tengah menyeringai.

"Menurut lo apa yang dilakukan pencuri ketika ketahuan mencuri oleh pemilik rumah?"

Kath menjawab pertanyaan Leo dengan gelengan lemah, keringat dingin sudah mengalir deras dari tubuh Kath menandakan bahwa dia ketakutannya sudah mencapai titik tertinggi sekarang.

"Pilihannya ada dua." Leo berjongkok, menyamai tinggi pria itu dengan posisi Kath yang terlihat tengah tersungkur di lantai.

"Kabur dari rumah atau bunuh saksi mata." Setelah mengatakan kalimat barusan tak khayal Kath bergedik ketika Leo tiba-tiba saja tertawa.

"Menurut lo pilihan apa yang harus gue pilih sekarang?" tanya pria itu setelah selesai tertawa.

Tanpa pikir panjang Kath menjawab, "Lo bisa kabur, dengan begitu segalanya akan berjalan seperti sedia kala."

"Tanpa mendapatkan apapun setelah berjuang?"

Kath terdiam, tidak tau lagi harus menjawab apa. Pikirannya mendadak buntu akibat intimidasi dari Leo.

"Kalau lo milih kabur, gue bakalan kabur," telak, Leo pun akhirnya bangkit dan menatap angkuh pada Kath yang berada di bawahnya.

"Gue bakalan kabur dengan membawa satu-satunya harta berharga dari pemilik rumah."

Seingat Kath, satu-satunya harta yang paling berharga di keluarga Emanuel adalah perusahaan yang telah mereka kembangkan puluhan tahun--- walaupun dengan cara kotor yang menyebabkan kerugian bagi banyak pesaingnya.

"Lo mau perusahaan? Gue bakalan bant..." ucapan Kath terputus ketika Leo bergerak menggendongnya dan mendudukkannya di sofa yang pria itu duduki sebelumnya.

Setelah melakukan itu, Leo berlutut di hadapan Kath sembari mengelus pelan sebelah wajah Kath yang Kath rasa juga ikut dimandikan keringat karena ketakutan yang tengah melanda dirinya.

"Yaitu lo Lilian, lo yang akan gua bawa untuk gue miliki sendiri."

Seketika Kath tersentak dalam kaget setelah mendengar penuturan Leo. Dalam pikirannya dia menebak bahwa hidupnya tidak akan baik-baik saja, karena tepat setelah Leo mengikrarkan kalimat yang baru saja Kath dengar, kehidupan tenang yang didambakan Kath dengan segera akan sirna dan membekas menjadi fantasinya semata.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Dalam Novel   Chapter 30

    Lilian menarik nafas perlahan. Lalu dengan sisas kendali yang dia punya, Lilian mencoba tersenyum manis. Bibirnya melengkung sempurna, matanya sedikit menyipit agar terlihat normal di kamera. Di sampingnya, Leo meraih pinggangnya Lilian, menarik Lilian mendekat. tubuh mereka kini hanya berjarak tipis. Lilian menahan nafas. "Tatap satu sama lain, ya," pinta sang fotografer. Lilian tetap diam beberapa detik. Hingga secara perlahan dirinya mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan manik mata Leo dan saat itu juga, sesat semua suara di sekitar mereka seperti menghilang. "Kamu kaku banget," gumam Leo pelan, dan hanya Lilian yang mendengarkannya. Dengan wajah memelas Lilian berucap, "Aku mau pulang...." Bayangkan saja, sejak tadi Lilian sudah sangat lelah. Di awali dengan memilihh gaun pengantin yang rasanya tidak ada ujungnya. Sampai kemudian, menjelang sore saat ini, dia harus berpose romantis bersama Leo. Klik. Suara kamera berbunyi. Mengabadikan memon yang tidak

  • Terjebak Dalam Novel   Chapter 29

    Keesokan paginya, Lilian terbangun seperti biasa. Namun belum sempat kesadarannya terkumpul sepenuhnya, tubuhnya langsung tersentak kaget karena kehadiran seseorang yang berada di sampingnya. Leo, pria itu terbaring santai di sisinya. Satu tangan menopang kepala, menatapnya dengan senyuman tipis, berlagak seolah mereka memang menghabiskan malam bersama seperti pasangan pada umumnya. Nafas Lilian tercekat, dia tidak salah ingat, kemarin Mira benar-benar mengantarnya pulang ke toko, bahkan setelah itu Lilian sengaja menutup toko lebih awal dan mengurung diri di kamar untuk menghindari kemungkinan orang yang dikenalnya akan datang. Lalu sekarang mengapa Leo ada di sini? "Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Lilian, tubuhnya refleks menjauh. "Aku hanya ingin menjemputmu," jawab Leo santai. "Menjemputku?" "Kamu lupa?" Leo sedikit memiringkan kepalanya, "Hari ini kita cari gaun pernikahan, sekalian foto prewedding." Lilian menatap Leo tajam. Bukankah dia sudah menolak? dan s

  • Terjebak Dalam Novel   Chapter 28

    Lilian kembali ke unit apartemennya yang sudah lama dia tinggalkan, bersama orang yang sama sekali tidak ingin dia temui. Bukan karena benci, melainkan dia tidak ingin hatinya tergoyahkan oleh perasaan lama. Lilian tidak ingin kembali menjadi dirinya yang dulu, dia tidak ingin kembali menjadi Emanuel. Maka dari itu dia harus menanggalkan seluruh hal mengenai Emanuel, termasuk Leo, pria yang duduk di hadapannya yang sangat berkaitan erat dengan keluarganya di masa lalu. Mereka kini berada di ruang tengah duduk saling berhadapan di sofa. sSuasana terasa kaku dipenuhi dengan ketegangan yang belum terselesaikan. Tampak di sisi Leo, Mira-- perempuan itu sebelumnya berada di depan pintu apartemennya, menunggu Leo dan Lilian datang. "Setelah ini, apa yang kamu mau?" tanyanya blak-blakan. Leo terkekeh pelan, seperti tidak percaya dengan situasi yang terjadi saat ini. sosok yang selama ini dia anggap sudah mati kini duduk di depannya, benar-benar bernafas dan berbicara dengannya.

  • Terjebak Dalam Novel   Chapter 27

    Keesokan paginya, tidak seperti biasa Lilian tidak keluar dari kamarnya. Dia tetap berada di kamar pribadinya yang terletak di lantai 2 toko bunga miliknya, duduk santai di atas tempat tidur sambil menyantap semangkuk sereal dengan televisi di depannya yang menayangkan kartun favoritnya. Biasanya di jam seperti ini dia sudah berdiri di depan toko, menyambut pegawai yang datang satu persatu dan membantu membuka etalase atau sekedar berbincang ringan sebelum hari kerja dimulai. Namun hari ini berbeda, di hari peringatan kematiannya Lilian memilih menghindar. Dia tidak ingin mengambil risiko sekecil apapun untuk bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya. Lilian malah di ponsel di sampingnya, layar menampilkan rekaman CCTV toko secara langsung, yang menampilkan para pegawainya yang sudah mulai bekerja seperti biasanya. Mengenai urusan toko Lilian tidak terlalu khawatir. Dia percaya pegawainya mampu melayani pelanggan dengan baik tanpa perlu diawasi secara langsung. Di waktu yang

  • Terjebak Dalam Novel   Chapter 26

    Di belahan kota lain kehidupan berjalan dengan ritmenya sendiri. Lampu studio menyala terang memantul pada lantai putih mengkilap. suara kamera berbunyi bertubi-tubi diiringi arahan fotografer yang tengah memastikan model di depannya bergerak sesuai keinginannya. "Good! Hold that pose, jangan bergerak." Sean berdiri di tengah set pemotretan, mengenakan setelan hitam elegan yang jatuh sempurna di tubuhnya. Ekspresinya begitu profesional, berbeda jauh dari pria flamboyan yang dulu sering dianggap hanya mengandalkan wajah tampan. Kini namanya berada di puncak industri model, wajahnya terpampang di Billboard besar, majalah fashion nasional, hingga kampanye merek-merek ternama. Dia menurunkan dagunya sedikit, mengikuti arahan kamera lalu mengubah pose dengan gerakan halus yang sudah menjadi refleks. "Kita ambil satu pose terakhir!" Beberapa menit kemudian sesi pemotretan selesai. Sean menerima handuk kecil dari staf dan mengusap keringat tipis yang membasahi pelipisnya.

  • Terjebak Dalam Novel   Chapter 25

    Seorang perempuan tertidur di atas kursi goyang, yang dikelilingi oleh deretan pot bunga yang tertata rapi. Aroma tanah basah dan wangi kelopak memenuhi udara di sekitarnya. Sebuah majalah menutupi wajahnya, yang sebelumnya sempat dia buka dan baca sebelum akhirnya tertidur tanpa sadar. "Untuk bunga lilynya perlu kita warnai? Kelihatannya terlalu polos kalau tetap putih, apalagi untuk edisi hari valentine." Suara seseorang memecahkan keheningan, membangunkannya dari tidur singkat. Akibatnya, majalah yang menutupi wajahnya pun terjatuh di pangkuannya. Perempuan itu mengerjakan mata beberapa kali berusaha mengumpulkan kesadarannya. Cahaya sore menyelinap diantara kaca-kaca rumah bunga, jatuh lembut di rambutnya yang sedikit berantakan "Jam berapa sekarang... ?" gumamnya serak. "Jam lima sore. Toko juga sudah hampir tutup, Bu.," jawab karyawan muda di depannya sambil merapikan deretan bunga lily yang baru datang siang tadi. Perempuan itu bangkit perlahan dari kursi goy

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status