FAZER LOGINKabar baiknya, Kath tidak jadi mati.
Namun kabar buruknya dia malah berakhir diintrogasi. Dalam keadaan bangun dari pingsan--- setelah ditusuk jarum suntik yang Kath yakini berisi obat bius dari Sean, Kath mendapati dirinya berada di kamar tidur yang pastinya bukan kamar tidur Lilian yang sebelumnya dia tinggali. Ditambah, dia juga mendapati Sean dan Leo duduk di atas sofa berhadapan dengan ranjang yang dia tiduri, menatap ke arah dirinya dengan pandangan intimidasi. Kath tertawa dalam hati sembari mengutuk kebodohannya karena sudah membeberkan satu rahasia yang dia ketahui dalam novel. Seharusnya dia diam saja dan terus bertingkah seperti Lilian polos yang tidak tau apa-apa. Ya mau bagaimana lagi, perilaku asli Kath tidak dapat berubah dalam waktu cepat. Jika ada orang yang melawannya Kath juga bisa melawan--- hal ini sudah menjadi hukum alam dalam kehidupannya. "Jadi lo udah tau?" Kath menggeleng cepat mendengar pertanyaan Leo dan sebisa mungkin tidak berbicara satu kata pun. Kalau keceplosan lagi ujungnya Kath bakalan gak selamat. Sean berdecih karena menyadari kebohongan Kath. "Nyesal gue gak rekam perkataan dia barusan," tambah Sean mulai memanas-manasi keadaan. Kalau lempar orang ke jurang dosa gak sih? Rasanya Kath ingin melakukan pembuatan tersebut pada Sean. "Lilian, kita gak bakalan bunuh lo sekarang kalau lo ngomong jujur." Leo menengahi. Iya, memang gak sekarang. Bisa saja besok atau beberapa jam kemudian, atau bisa jadi beberapa menit kemudian, atau lebih parah beberapa detik setelah Kath membeberkan apa yang dia ketahui mengenai rencana pembunuh mereka terhadap Lilian. Kath menatap Leo lalu Sean yang raut wajahnya masih tetap kesal--- entah karena alasan apa yang pasti Kath tidak peduli, begitu terus secara berulang. Dalam kegiatannya tersebut, Kath tengah menimbang pilihan apa yang tepat dia lakukan di saat seperti ini. Setelah beberapa lama berkalut dalam pikirannya. Kath pada akhirnya bersuara, menyampaikan apa yang ingin dia ucapkan. "Kalian mau hak waris gue di keluarga Emanuel 'kan? Kalau gitu ambil aja, terus sekalian aja seluruh aset milik Emanuel yang gue pegang. Perusahaan? Gue siap tanda tangan pengalihan saham ke kalian berdua." Setelah berkata demikian Kath langsung beranjak dari tempat tidur dan langsung melangkah menuju ke arah Sean maupun Leo. "Tapi tolong, gue gak mau mati. Ada banyak yang harus gue lakukan. Setidaknya biarin gue tua terlebih dahulu, sekiranya sampe umur gue 100 tahun." Semua ini dia lakukan agar nyawanya selamat. Soal duit dia masih bisa cari, jadi tukang parkir bahkan rela Kath jabanin. Tetapi jika nyawa sudah melayang Kath tidak dapat lagi mencarinya. Leo maupun Sean menatap datar ke arah Kath yang sudah berada di hadapan mereka. Seketika itu pula mereka terbahak setelah mendengar permintaan Kath yang ingin sekali hidup. "Lo kira bakal se-simple itu?" tanya Sean. "Balas dendam kita ke keluarga Emanuel lebih dari itu." Leo beranjak dari sofa lalu menyentuh dagu Kath sembari menatap gadis itu dengan intens. "Coba bayangkan bagaimana terpuruknya kepala keluarga Emanuel ketika melihat salah satu anak mereka mati? Kemudian diikuti dengan anak-anaknya yang lain hingga dia tidak lagi memiliki penerus?" "Kami tidak ingin harta keluarga Emanuel, Lilian. Kami hanya ingin ayahmu merasakan apa yang kami rasakan, kehilangan anggota keluarga satu persatu bukanlah perkara yang mudah!" ucap Sean dengan teriakan keras, melanjutkan perkataan Leo barusan. Telinga Kath berdenging, jantungnya berdetak cukup kencang saat otaknya refleks mengingat alasan lebih jelas mengapa Lilian dibunuh. Benar, Lilian dibunuh untuk menjadi efek ganjaran bagi Reandra--- kepala keluarga Emanuel sekarang sekaligus ayah dari Lilian beserta dua saudaranya. Setelah Lilian meninggal, mereka menargetkan anak bungsu Reandra yaitu Kritaka yang merupakan tokoh perempuan utama sebagai target yang akan dihilangkan nyawanya. Hingga kemudian dari situlah kisah cinta segitiga mereka pun dimulai. Kritika yang tidak rela kakak perempuannya dibunuh secara keji oleh Leo dan Sean menuntut balas dengan membiarkan kedua pria itu mendekatinya, lalu secara tersembunyi juga merencanakan pembunuhan kepada mereka. Alhasil Kritaka, Sean dan juga Leo memiliki tujuan yang sama dengan target yang berbeda. Memikirkan segala hal yang rumit sontak membuat kepala Kath mendadak pusing. "Gue gak mau dibunuh--- oleh kalian ataupun orang lain." Tubuh Kath merosot turun ke lantai, terduduk dengan raut wajah shock di sana, "Gue cuma mau hidup tenang." ucapnya dengan intonasi datar. Kath baru sadar, kematian Lilian bukanlah akhir dari segalanya. Kematian Lilian adalah permulaan dimana neraka sebenarnya terjadi. Jika Kritaka tidak berhasil untuk melindungi dirinya, semua saudara Lilian dipastikan akan mati, meninggalkan Reandra seorang diri. Membayangkannya saja sudah membuat Kath merinding karena meratapi nasibnya dan juga keluarga Emanuel. "Apakah dengan balas dendam orang yang kalian sayang akan kembali?" refleks Kath bertanya, dengan posisi menunduk melihat lantai. Akal sehatnya tidak berjalan sekarang, bahkan dia tidak lagi peduli dengan reaksi dua malaikat mautnya saat mendengar pertanyaannya barusan. "Gue juga pernah kehilangan orang yang gue sayang. Tetapi, seberapa lama gue bersedih, seberapa deras air mata gue jatuh--- dan juga sejauh mana gue lari dari kenyataan. Mereka tidak akan pernah kembali." Di ingatannya, Kath masih mengingat jelas kematian orang tuannya, di mana saat itu dia harus menegarkan diri sendiri tanpa ada satupun orang yang membantunya. Tetapi, walaupun dia mencoba tegar. Terdapat rasa pedih yang amat membekas dan keinginan agar papa dan mamanya kembali. Sayangnya, setiap kali dia mengungkapkan keinginan tersebut dalam hati ataupun dalam teriakan menyayat hati, orang tuanya tetap tidak akan kembali ke dunia ini. Tanpa sengaja Kath meneteskan air mata--- setelah mengingat masa kalutnya sekaligus mengingat mengenai masa depannya yang lebih menyakitkan. Sibuk dengan menenangkan hatinya agar tidak menangis, Kath merasa seseorang menepuk pundaknya lalu mengelusnya lembut. Hal ini sontak membuat gadis itu terhenyak dan menatap ke sosok pria yang menyentuhnya. Pria itu Leo, dengan senyuman manisnya menatap ke arah Kath. Sebelum Kath mendengar Leo berbicara, dia terlebih dahulu mendengar suara Sean yang tengah terburu-buru--- tampak Sean sibuk memakai arlojinya dan juga aksesoris lainnya. "Gue ada pemotretan 15 menit lagi jadi gak bisa lama-lama di sini." Sebelum pergi Sean kembali berucap, "Gue bakalan tunggu kabar tentang nasib kak Lilian di tangan kita nanti." Sontak saja Kath kembali dilanda ketakutan, refleks dengan perlahan dia menyeret tubuhnya mundur hingga sentuhan Leo pada bahunya terlepas. Setelah kepergian Sean, kini hanya tinggal Leo dan Kath di kamar. "Kalian tetap pada keputusan awal?" tanya Kath, dalam artian dia masih mempertanyakan mengenai nasibnya. Senyum Leo semakin melebar hingga membuat bibir pria itu seperti tengah menyeringai. "Menurut lo apa yang dilakukan pencuri ketika ketahuan mencuri oleh pemilik rumah?" Kath menjawab pertanyaan Leo dengan gelengan lemah, keringat dingin sudah mengalir deras dari tubuh Kath menandakan bahwa dia ketakutannya sudah mencapai titik tertinggi sekarang. "Pilihannya ada dua." Leo berjongkok, menyamai tinggi pria itu dengan posisi Kath yang terlihat tengah tersungkur di lantai. "Kabur dari rumah atau bunuh saksi mata." Setelah mengatakan kalimat barusan tak khayal Kath bergedik ketika Leo tiba-tiba saja tertawa. "Menurut lo pilihan apa yang harus gue pilih sekarang?" tanya pria itu setelah selesai tertawa. Tanpa pikir panjang Kath menjawab, "Lo bisa kabur, dengan begitu segalanya akan berjalan seperti sedia kala." "Tanpa mendapatkan apapun setelah berjuang?" Kath terdiam, tidak tau lagi harus menjawab apa. Pikirannya mendadak buntu akibat intimidasi dari Leo. "Kalau lo milih kabur, gue bakalan kabur," telak, Leo pun akhirnya bangkit dan menatap angkuh pada Kath yang berada di bawahnya. "Gue bakalan kabur dengan membawa satu-satunya harta berharga dari pemilik rumah." Seingat Kath, satu-satunya harta yang paling berharga di keluarga Emanuel adalah perusahaan yang telah mereka kembangkan puluhan tahun--- walaupun dengan cara kotor yang menyebabkan kerugian bagi banyak pesaingnya. "Lo mau perusahaan? Gue bakalan bant..." ucapan Kath terputus ketika Leo bergerak menggendongnya dan mendudukkannya di sofa yang pria itu duduki sebelumnya. Setelah melakukan itu, Leo berlutut di hadapan Kath sembari mengelus pelan sebelah wajah Kath yang Kath rasa juga ikut dimandikan keringat karena ketakutan yang tengah melanda dirinya. "Yaitu lo Lilian, lo yang akan gua bawa untuk gue miliki sendiri." Seketika Kath tersentak dalam kaget setelah mendengar penuturan Leo, Dalam pikirannya dia menebak bahwa hidupnya tidak akan baik-baik saja. Karena tepat setelah Leo mengikrarkan kalimat yang baru saja Kath dengar, kehidupan tenang yang didambakan Kath dengan segera akan sirna dan membekas menjadi fantasinya semata.Kabar baiknya, Kath tidak jadi mati.Namun kabar buruknya dia malah berakhir diintrogasi.Dalam keadaan bangun dari pingsan--- setelah ditusuk jarum suntik yang Kath yakini berisi obat bius dari Sean, Kath mendapati dirinya berada di kamar tidur yang pastinya bukan kamar tidur Lilian yang sebelumnya dia tinggali. Ditambah, dia juga mendapati Sean dan Leo duduk di atas sofa berhadapan dengan ranjang yang dia tiduri, menatap ke arah dirinya dengan pandangan intimidasi.Kath tertawa dalam hati sembari mengutuk kebodohannya karena sudah membeberkan satu rahasia yang dia ketahui dalam novel. Seharusnya dia diam saja dan terus bertingkah seperti Lilian polos yang tidak tau apa-apa.Ya mau bagaimana lagi, perilaku asli Kath tidak dapat berubah dalam waktu cepat. Jika ada orang yang melawannya Kath juga bisa melawan--- hal ini sudah menjadi hukum alam dalam kehidupannya."Jadi lo udah tau?"Kath menggeleng cepat mendengar pertanyaan Leo dan sebisa mungkin tidak berbicara satu kata pun.Kalau
Saat Sean sedang menikmati bibir Kath secara sepihak, suara dering ponsel terdengar. Hal ini sontak membuat Sean menghentikan kegiatannya--- yang membuat Kath ingin sekali sujud syukur sekarang.Jika kegiatan ini terus dilanjutkan Kath yakin pasti akan terjadi sesuatu yang paling tidak dia inginkan. Cukup pikirannya yang tidak suci, Kath tidak ingin tubuhnya ikut tidak suci pula.Ya walaupun, secara harfiah tubuh Lilian sudah sering di 'pake' oleh Sean maupun Leo tetapi kenyataannya yang ada dalam tubuh ini sekarang kan adalah Kath yang notabenenya menganggap bahwa hal yang berbau intim adalah tindakan yang sangat tidak lumrah terjadi."Shit, kalau lo nelpon gue cuma mau kasih tau hal yang gak penting. Gue pecat lo!"Kath terlonjak kaget, dia bahkan tidak sadar bahwa Sean sudah menjauh dari tubuhnya dan tengah duduk di kursi bar yang sebelumnya pria itu duduki."Kenapa gak bilang sebelumnya, Bangsat?" Setelah mengatakan kalimat tersebut dengan keras, Sean segera memakai jasnya dan s
"Jadi nama gue Lilian Emanuel?"Mungkin jika ada orang yang melihatnya sekarang, Kath akan disangka gila karena berbicara dengan cermin. Tetapi untung saja, setelah dirinya bangun dari pingsan tidak ada satupun manusia yang berada di rumah.Mengenai dua orang pria yang Kath tebak sebagai Leo dan Sean, mereka telah pergi entah kemana, meninggalkan Kath di atas tempat tidur tanpa membantu sama sekali.Shit! Setidaknya mereka bisa menemaninya sampai dia bangun dan menjelaskan segalanya tanpa harus membuat Kath menerka-nerka hingga membuat kepalanya pusing ketulungan.Dasar tidak tau diri, makinya.Tapi mau bagaimana lagi, Leo dan Sean adalah tokoh favoritnya di novel secret dark. Walaupun sudah diberikan title sebagai kang nginep yang mau untungnya saja--- dalam artian hanya menikmati tubuh Lilian saja namun tetap saja Kath masih mengidolakan mereka.Akh, Kath sukses berdilema ria.Di satu sisi Kath ingin menikmati keindahan dua pria yang wajahnya lebih tampan dari semua pria yang Kath k
"Sumpah, gue kasian banget sama Lilian. Ya gue tau kematiannya bakalan jadi alasan kemunculan si pemeran utama, tapi ya masa harus terbunuh sama dua male lead sekaligus?!" "Mana mereka sering tidur bareng, bahkan udah fix jadi kang nginep. Bukannya balas budi, eh malah nusuk dari belakang." "Keselnya lagi, setelah Lilian mati si Leo malah ambil alih hak waris Lilian di keluarga Emanuel. Ya gue tau dia cuma pengen balas dendam aja ke keluarga Emanuel karena udah buat keluarganya sengsara dulu. Tapi ya gak bunuh si Lilian juga kali, masa cewek gak bersalah jadi korban." Kathryn Sandjaya atau lebih akrab dipanggil Kath memandang ketiga temannya yang tengah beradu pendapat mengenai chapter terbaru novel berjudul Secret Dark yang tengah tenar di salah satu situs baca novel online tanpa minat sama sekali. Dia sebenarnya tidak tergiur memperdebatkan nasib tokoh sampingan bernama Lilian yang dianggap teman-temannya sebagai tokoh paling ngenes di Secret Dark--- terlebih karena dirinya yang







