แชร์

Bab 2. Sebuah kejutan pertama

ผู้เขียน: Neny nina
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-10 10:40:33

"Ampun Tuan! Saya tidak akan mengulangi lagi." Elara bersimpuh di kaki Zarek memohon agar kesalahannya diampuni.

"Apa kamu tahu apa hukuman di keluarga ini?"

"Ampuni saya Tuan. Saya tidak akan berani lagi."

"Kamu minta maaf kepada istriku! Jika dia memaafkanmu, kamu akan hidup. Jika tidak, hari ini kamu harus mati."

Elara pucat pasi. Tubuhnya semakin menggigil. Segera dia bersimpuh di kaki Selena untuk meminta ampun.

"Nyonya! Maafkan saya. Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi. Saya tidak berani lagi. Ampuni saya karena sudah memfitnah Nyonya."

"Baiklah! Saya akan mengampunimu, jika kamu mengatakan siapa yang sudah menyuruhmu melakukannya!"

Liana pucat pasi. Jika Elara mengatakan yang sebenarnya, Zarek pasti akan menghukumnya. Atau setidaknya nama baik yang sudah dibangunnya untuk mendapatkan hati Zarek akan rusak. Usahanya selama ini akan sia-sia belaka.

"Maksud Kak Selena apa? Mana mungkin ada yang menyuruhnya? Jangan bilang Kakak ingin menuduhku?!"

"Kenapa? Kamu takut?!"

"Tentu saja tidak! Aku nggak takut. Karena bukan aku yang menyuruhnya," elak Liana cepat.

"Benar Nyonya. Tidak ada yang menyuruh saya. Saya memang bodoh. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Jika Nyonya berkenan memaafkan saya, saya berjanji akan jadi pelayan setia Nyonya mulai saat ini. Dan saya jamin, saya tidak akan menyebarkan masalah ini keluar dari ruangan ini."

"Saya rasa tidak perlu lagi! Kamu sudah mencemarkan nama baik keluarga ini. Jika saja ini hanya menyangkut saya pribadi, tentu saya akan memaafkan kamu. Tapi ini nama baik keluarga besar. Saya tidak mau mengambil resiko."

"Riker! Sebagai Nyonya rumah di keluarga ini, saya perintahkan kamu untuk menghabisi pelayan kurang ajar ini. Berikan mayatnya untuk makanan buaya!"

Sebelum menyanggupi perintah Selena, Ziker melihat ke arah tuannya. Setelah mendapat persetujuan melalui anggukan matanya, Rikerpun berkata, "Saya tidak berani melawan perintah Nyonya. Perintah siap dilaksanakan." Diapun memerintahkan kepada beberapa orang pengawal untuk menyeret pelayan itu. Pelayan itu meronta minta ampun.

"Tidak! Nyonya! Jangan bunuh saya. Ampuni saya. Saya akan mengatakan yang sebenarnya."

Selena menghampirinya dan memegang dagu wanita itu dengan sangat keras.

"Kalau dari tadi kan bagus? Untung kamu belum jadi metong!"

Selena lepaskannya dengan kasar dan berdiri.

"Sekarang katakan dengan suara keras! Siapa yang menyuruhmu memfitnah Nyonya rumah ini!" bentak Selena dengan gaya anggun dan penuh wibawa seorang bangsawan.

Zarek dan pengawalnya menaikkan alis heran saat mendengar kata metong yang diucapkan Selena.

"Kata-kata apa pula itu? Aku baru tahu dia selucu dan sekejam itu. Selain itu, dia juga ternyata cukup pintar," batin Zarek.

"Ini sungguh kejutan besar. Nyonya ternyata sangat cerdas. Andai saja badannya tidak segemuk itu, pasti tuan Zarek akan sangat menyayanginya. Sungguh disayangkan sekali," batin Riker sambil menggelengkan kepala perlahan.

"Nyonya Liana yang menyuruh saya Nyonya," jawabnya sambil menunduk.

"Apa kamu yakin?! Kamu sudah buat satu kesalahan, jangan sampai kamu membuat satu kesalahan lagi!" bentak Selena pura-pura tidak percaya.

"Saya tidak berani berbohong Nyonya. Saya sudah diambang kematian. Untuk apa saya berbohong lagi. Yang saya katakan adalah yang sebenarnya. Saya berani bersumpah Nyonya."

Selena tersenyum miring. Dia tahu pelayan itu tidak berbohong.

"Zarek menampar pelayan itu sekali lagi. Apa maksudmu memfitnah kedua istriku?! Apa kamu benar-benar ingin mati?!"

"Tidak Tuan! Ampun... saya tidak berani, Tuan. Saya mengatakan yang sebenarnya. Nyonya Liana menyuruh saya untuk mencampurkan obat perangsang ke dalam makanan Nyonya Selena, lalu menyuruh seorang laki-laki berbadan gemuk masuk ke kamar Nyonya Selena, agar Tuan Zarek menceraikan Nyonya Selena," beber Elara.

"Dia bohong, Suamiku! Jika memang ada laki-laki di dalam kamar ini, pasti kita akan menemukannya. Tapi nggak ada kan? Jangan-jangan pelayan ini hanya mau mengadu domba kita saja!"

"Saya tidak berani bohong lagi, Tuan. Apalagi mengadu domba."

"Yang dikatakan Elara memang benar! Tadi memang ada laki-laki gemuk seperti yang dikatakan Elara. Dia berusaha untuk menodai aku. Tapi aku berhasil memukulnya. Sayangnya dia melarikan diri."

"Tega sekali kamu Kak Selena! Kakak sengaja kan bersekongkol dengan pelayan ini untuk menjebakku," rengek wanita licik itu seolah dialah yang tersakiti."

"Kakak pasti mencoba memfitnahku agar aku pergi dari rumah ini kan Kak?" Liana mengeluarkan air mata buayanya untuk menambah ekting terintimidasi.

"Hah! Sudahlah! Masalah ini tidak perlu diperpanjang lagi."

Zarek membujuk istri sirinya dan menyandarkan kepalanya kedada bidang Zarek. Selena hanya tersenyum pahit.

"Dasar laki-laki bodoh. Mau saja dibohongi sama wanita bermuka dua itu," umpat Selena dalam hati.

"Sayang! Kamu lagi hamil. Jangan banyak pikiran," bujuk Zarek.

"Selena! Liana sudah menghawatirkan kamu! Seharusnya kamu itu berterima kasih padanya! Bukan malah menuduhnya yang tidak-tidak!"

"Hah! Sudahlah. Kamu itu memang bodoh! Mau saja ditipu sama perempuan iblis seperti dia. Sana keluar kalian! Saya mau istirahat!"

Selena mendorong Zarek dan Liana dengan kasar sampai ke pintu. Setelah memastikan mereka semua keluar dari kamarnya, ia menutup pintu kamarnya rapat.

Selena mendekatkan telinganya ke daun pintu untuk memastikan mereka semua sudah tidak ada di depan pintunya.

"Sayang! Jangan dipikirkan. Kamu sedang hamil muda. Harus banyak ketenangan dan istirahat."

"Temani aku istirahat."

"Kapan aku tidak menemani kamu, Sayangku?"

Terdengar derap langkah kaki menjauh.

"Huf... Lega. Dasar wanita pelakor dan suami menjijikan! Bisa-bisanya dia memanjakan perempuan lain di depan istri sahnya. Karena sekarang aku sudah masuk ke tubuh ini, aku akan menjaga tubuh ini dari wanita iblis itu. Aku nggak boleh memikirkan laki-laki brengsek itu," gumam Selena.

Selena mengeluarkan liontin kalung yang tersembunyi di bajunya. Ia menggosok liontin berwarna biru bening dan berbentuk bulat itu. Seketika cahayanya memancar, sebuah layar transparan terbentang di hadapannya.

"Di sini tertulis tahun. Apa itu berarti aku bisa pergi ke tahun berapapun yang aku inginkan?" batin Selena berbinar. Tapi seketika layar itu mengeluarkan suara seperti suara anak kecil.

"Bisa pergi ke tahun berapapun asal menyelesaikan semua level atau semua bab."

"Ha? Jika aku menyelesaikan semua bab, berarti aku ada di bab terakhir? Padahal seharusnya aku sudah mati di pertengahan bab. Sedangkan Zarek hidup berbahagia dengan wanita siluman itu. Artinya aku harus merubah alurnya," batin Selena.

Dia menyentuh layar itu dan mengetikkan sebuah kata. Secara ajaib, satu botol obat, jarum suntik, multivitamin dan beberapa makanan enak muncul di layar. Dia mengambil semuanya.

"Aku sangat lapar. Tapi badanku sudah gemuk. Aku harus mengurangi porsi makanku mulai dari sekarang. Dia menyimpan kembali beberapa makanan. Ia hanya mengambil satu mangkok sup, lalu menutup layar besar itu kembali dengan menggosok liontin menggunakan jempolnya. Seketika, layar itupun hilang.

"Aku tidak mungkin sering-sering membuka layar dimensi. Karena jika ada yang lihat, akan sangat berbahaya untuk keselamatanku. Di cerita aslinya, jika ada kesalahan yang dilakukan oleh Selena, walaupun sekecil kotoran semut, akan dianggap dosa besar dan mendapat hukuman dari Zarek. Beberapa obat dan vitamin ini setidaknya cukup untuk persiapanku sementara.

Sekarang aku akan minum obat pelangsing ini. Aku akan lihat hasilnya besok pagi. Seberapa manjur obat moderen ini.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 58

    Mereka sampai di kediaman Sastrada Wijaya. Sebuah rumah besar bergaya tradisional kuno yang sangat mewah dan asri. Di atas gerbang ada papan nama yang bertuliskan Kediaman Adipati Sastrada Wijaya."Ini rumah saya Tuan. Ayo mampir dulu. Saya akan kenalkan Tuan kepada ayahanda saya.""Em." Sultan Zarek berjalan beriringan dengan wanita itu. Sedangkan Riker mengikuti dari belakang.Sepanjang jalan sampai ke depan pintu, Zarek memperhatikan semua pelayan dan penjaga. Mereka semuanya terlihat aneh. Seperti tidak ada yang menghargai gadis itu. Riker juga merasakan hal yang sama."Tuan. Kalau dilihat dari tatapan para pekerja dan pelayan rumah ini, sepertinya mereka semua membenci nona ini," bisik Riker di telinga Zarek saat Zarek melambatkan sedikit jalannya."Aku juga merasakannya," jawab Zarek.Pintu besar terbuka lebar. Sepasang suami istri yang berpakaian bangsawan datang menghampiri mereka dengan berurai air mata. Tapi gadis di samping Zarek tidak terharu sama sekali melihat kesedihan

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 57

    Nyonya Ratih menemui Selena di taman. Dia membuang semua rasa malunya yang ketahuan bermalam di hotel bersama tuan Matias."Selena. Ada apa tadi mencariku?" tanyanya dengan suara yang kaku.Selena tersenyum. "Maaf, Nyonya. Tadi saya tidak sengaja. Saya terburu-buru ingin memperlihatkan surat dari tuan Sultan Zarek.""Dari Zarek?" tanyanya cemas. Semenjak sultan Zarek datang, dia belum bertemu dengannya secara langsung."Iya." Selena menyerahkan selembar kertas yang sudah dibacanya lebih dulu.Nyonya Ratih mengambil dan membaca surat itu. Setelahembacanya, Seketika kakinya lemas. Dia terduduk di kursi taman di samping Selena. Mukanya merah. Matanya berkaca-kaca. Dadanya terasa berat. Dia sedih dan bingung dengan apa yang akan terjadi antara dia dan lelaki yang dikiranya selama ini adalah anak kandungnya.Sedangkan di pasar yang ramai, sultan Zarek berjalan tanpa tujuan. Terkadang ia menabrak beberapa pengunjung pasar. Karena dia bukan orang sembarangan, tak ada yang berani menegur ata

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 56

    "Aku wanita yang sangat malang, Nak. Aku akan bercerai dengan suamiku."Selena terkejut mendengar pernyataan nyonya Ratih. "Kenapa bisa begitu? Apa Nyonya dan Tuan Sultan ada masalah?"Air mata Nyonya Ratih menitik. Dadanya bergetar. Mulutnya terasa berat untuk menceritakan, tapi hatinya ingin menceritakan semuanya."Ayahanda Sultan Zarek berselingkuh."Selena terdiam. Dia memeluk tubuh nyonya Ratih yang bergetar hebat."Apa kamu tahu apa yang lebih menyakitkan, Nak?""Apa?" tanya Selena lirih."Zarek adalah anaknya bersama perempuan itu."Zarek yang menguping percakapan mereka dari balik pintu, terduduk. Lututnya tak sanggup menopang tubuhnya karena menerima kejutan yang besar."Siapa wanita itu, Nyonya?"Zarek menajamkan telinga. Ia ingin tahu siapa orang yang telah melahirkannya."Dia adalah orang yang sudah bekerja sangat lama di rumahku. Dia... Upik."Air mata luruh dari pelupuk mata Zarek. "Jadi orang yang membesarkan aku selama ini bukanlah orang yang melahirkan aku?" batin Z

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 55

    "Andika?""Apa Yang Mulia mengenalnya?" tanya Selena."Dia adalah adik bungsuku.""Kenapa kau ingin menghabisiku?" tanya raja dengan kening berkerut."Haha, ha, ha! Dasar bodoh! Apa kau lupa? Sudah berapa kali orangku berusaha membunuhmu di dalam istana? Itu semua atas perintahku. Aku yang memberi mereka jalan untuk masuk. Jika tidak, bagaibagaimana bisa mereka masuk kedalam istanamu dengan pengawasan yang ketat?""Jadi itu semua ulahmu, Dek?""Berhenti memanggilku dengan panggilan itu! Apa kamu pikir aku tidak tahu siapa dirimu? Kamu hanyalah iblis yang menyamar menjadi kakakku! Cepat katakan di mana keberadaan kakakku!" bentak laki-laki tampan yang masih sangat muda itu di bawah ancaman pedang sakti Selena.Kening raja mengernyit."Apa yang kamu katakan. Aku ini kakakmu. Aku bukan iblis seperti yang kau curigai.""Iblis tetaplah iblis. Kau takkan mengatakan di mana keberadaan kakakku. Jadi sebaiknya kubunuh saja kamu sekarang."Lelaki itu mengeluarkan sebuah senjata kecil yang ia am

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 54

    "Sistem. Tolong mundurkan waktu." Sebuah layar hologram kembali muncul di depannya."Syukurlah," batin Selena. Ia segera menekan angka. Tapi permintaannya ditolak.Dia kembali berbisik dalam hati."Sistem bantu aku.""Halo Selena. Maaf saya terlambat. Apa yang terjadi?""Entahlah. Aku takut akan hal lain, tapi yang terjadi justru diluar dugaanku. Aku berada diantara dua dunia.""Baiklah. Aku mengerti aku bisa mengembalikanmu ke dua jam yang lalu. Aku tidak bisa memindahkanmu ke dunia nyata karena levelmu masih belum mencukupi.Dua jam yang lalu berarti saat ia masih berada di kerajaan Samudra.Ia menarik napas lega."Ok. Tidak masalah." Seketika ia berada di halaman kerajaan. Ia hendak menaiki tangga delman. Liontinnya juga masih utuh."Aku kembali ke sini," batinnya. Ia bersorak dan memeluk Arya. Akhirnya aku bisa bertemu kamu lagi," katanya dengan rasa haru yang tak terkira.Arya membalas pelukan Selena dengan hangat. "Selena. Aku pikir kamu akan lebih senang tinggal di kerajaan in

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   53

    Selena menoleh. Mantannya menatap tak percaya melihat orang yang berdiri di gerbang istana."Raja!"Ia yang sudah menaikkan sebelah kaki ke tangga delman segera turun dan membungkuk dalam. Arya dan Sultan Zarek ikut membungkuk, meski raut wajah keduanya jelas tak senang."Yang Mulia. Mengapa Anda keluar?" tanya Selena hati-hati.Raja tersenyum samar. Ia mengenakan pakaian rakyat biasa, jubah cokelat kusam dan sepatu kulit berdebu. Namun wibawanya tak bisa disembunyikan."Aku akan ikut denganmu.""Tapi… bagaimana dengan istana?""Aku sudah menunjuk wakilku untuk menjaga takhta."Sultan Zarek, penguasa wilayah perbatasan yang namanya menggema hingga ke padang tandus Gurun Merath, menegang. Arya pun memalingkan wajah, jelas keberatan."Oh. Kebetulan sekali, Yang Mulia," ujar Selena, mencoba mengalihkan ketegangan. "Anda bisa tinggal di hotel saya.""Aku akan menyewa hotelmu.""Dengan senang hati, Yang Mulia."Raja melangkah mendekat dan, tanpa ragu, menggenggam tangan Selena. Hangat. T

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status