LOGINBab 8: Mendapatkan Bantuan "Aku akan menghajar orang yang berani menyentuh properti keluargaku dengan paksa!" gumam Eden dengan suara rendah namun penuh amarah. Langkahnya berat menapak tanah, mata menyala dengan kemarahan saat melihat pintu rumah kosong yang sudah dikenalnya sejak kecil terbuka lebar. Namun langkahnya terhenti seketika saat seorang wanita keluar sambil membawa mesin pembersih. Cahaya matahari menyinari rambutnya yang berkilau, wajahnya cantik seperti bidadari yang memancarkan kehangatan di tengah kesunyian. Selama hidupnya di kota itu, Eden belum pernah melihat sosok seindah itu. "Mimpi apa aku semalam..." gumamnya seraya mengucek matanya meskipun tidak terasa gatal. Wajahnya yang tadinya memerah karena marah kini mulai memerah karena pemalu. "Apa dia orangnya yang mengambil rumah ini?" tanya Eden dengan suara yang jauh lebih lembut dari biasanya, bahkan ia tidak sadar kalau tangannya yang tadinya mengepalkan tinju sudah mulai rileks. "Iya, Bos! Tadi ada dua or
Rumah Kosong "Sekarang kita mau kemana, Nyonya? Apa kita akan kembali ke rumah orang tua Nyonya?" tanya Siti, matanya penuh kekhawatiran. Selena menatap jauh, ingatan tentang cerita yang pernah dia baca menghampiri. Di dalamnya, bahkan mayat sang tokoh tak pernah diterima oleh keluarganya—akhirnya hanya Siti yang setia menguburkannya di tengah hutan dan merasakan kehilangan yang mendalam. Bagaimana mungkin dia akan kembali dengan status yang belum jelas? "Untuk sekarang, kita tidak akan kembali ke sana, Siti. Kita akan mulai dari nol, membangun kehidupan baru di sini." "Iya, Nyonya! Kita pasti bisa!" ucap Siti dengan semangat yang sedikit meredakan kesedihan di hati Selena. "Saya juga akan mengikuti dan selalu mendukung Nyonya!" suara lain menyela. Wanita yang baru saja diselamatkan itu berdiri tegak di sisi mereka. "Siapa nama kamu?" tanya Selena dengan lembut. "Nama saya Yesi, Nyonya."
Mentari tengah hari memancarkan panasnya seolah ingin mencairkan segala yang ada di bawahnya. Keringat seperti mutiara kecil mulai menetes dari ubun-ubun Selena, mengalir perlahan di lehernya yang terlihat lembut, menjalar ke arah dadanya—menambah pesona wanita berambut panjang yang biasanya terlihat anggun itu. Zarek menelan liur tanpa sadar, mata terfokus pada kulit putihnya yang kini mengkilap karena dibasahi keringat.Namun, rasa terbakar di dadanya akibat harga diri yang terinjak membuat darahnya mendidih. Matanya yang biasanya tajam kini memerah karena amarah, dan dengan gesaan kasar, dia melemparkan batangan emas ke lantai restoran—suara "KLENG!" menggema di ruangan itu."Jangan anggap kamu cantik saja bisa seenaknya menghina diriku!" Suaranya tercekik karena menahan kemarahan, giginya terkunci rapat. Tapi Selena hanya menatapnya dengan wajah yang tetap tenang."Siapa bilang aku menghina kamu? Aku cuma membayarkan harga untuk membebaskan pelayan yang sedang ditindas oleh orang
Selena dan Siti sudah berjalan melewati pasar tradisional. Dari semua tempat yang ia kunjungi, dia tidak menemukan makanan yang enak. Atau sekedar aroma makanan enak yang biasa ia hirup dan makan selama berada di dunia. Tapi perutnya yang mulai keroncongan karena tadi dia tidak sarapan, meronta mintak diisi."Ayo kita makan dulu," ajak Selena."Baiklah Nyonya. Aku juga sudah lapar."Mereka pergi ke sebuah kedai nasi. Mereka memilih restoran mewah."Mau makan apa, Nona?" tanya pelayan kedai."Berikan kami makanan andalan restoran ini.""Baik Nyonya," kata pelayan itu dan bergegas ke dapur restoran untuk memberitahu koki agar menyiapkan menu andalan restoran itu.Tidak berapa lamanya, pelayan datang untuk mengantarkan makanan kepada mereka. Banyak menu yang terhidang di atas meja. Tapi semua itu tidak menggugah seleranya. Bagaimanapun Selena tetap mengisi perutnya yang lapar. Mereka berdua makan makanan itu.Saat mereka sedang makan, terdengar ada keributan di dapur restoran, setelah b
Salah seorang kepercayaan Zarek datang memberikan perintah langsung dari Zarek."Dimana nyonya Selena," tanya Riker kepada Siti. "Saya di sini." Selena sudah berdiri di depannya dengan sebuah tas besar yang berisi baju dan perlengkapannya."Anda siapa?" tanya pria itu dengan kening berkerut karena heran. Namun hati kecilnya memuji kecantikan wanita yang mengaku sebagai Selena."Saya Selena. Ada apa?""Dari suaranya benar nyonya Selena. Tapi kenapa badannya bisa kurus dalam semalam?" batinnya"Iya. Ini adalah Nyonya Selena. Nyonya minum ramuan pelangsing yang bisa membuat butuhnya langsing dalam semalam," beber Siti memastikan kalau yang dihadapannya adalah betul Selena."Ah. Biarinlah. Mau dia Nyonya atau bukan, yang penting dia juga akan pergi dari rumah ini," batinnya lagi."Ok. Saya mendapat perintah dari tuan Zarek. Demi keselamatan calon pewaris yang sedang dikandung Nyonya Liana, terpaksa Nyonya Selena harus pergi dari rumah ini.""Katakan pada Zarek. Aku memang akan pergi dari
Waktu terus berputar. Obat pelangsing yang diminum Selena sebelum tidur, mulai bekerja saat Selena sedang terlelap.Di alam mimpi, Selena berada di tempat sebelum ia terdampar ke dunia Fiksi. Dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri perselingkuhan Damian dengan Lili sahabat karibnya. Mereka asik bercumbu di dalam kamar kost kekasihnya itu. Karena tidak tahan mendengar suara desahan kenikmatan dua manusia yang sedang dirasuki hawa nafsu itu, Selena menendang pintu kostan itu. Jika dengan kekuatan biasa, pintu itu tidak akan terbuka. Yang ada kakinya akan merasa sakit. Tapi karena dia punya ilmu bela diri dan tenaga dalam yang kuat, pintu itu terbuka. Dua orang yang sedang bertelanjang tampak terkejut dan segera meraih selimut untuk menutup tubuh mereka."Zizi! Ini hanya kekilafanku. Maaf, Sayang ...."Zizi, melemparkan kue ulang tahun yang sudah ia siapkan untuk memberi kejutan Demian tepat di mukanya. Mukanya belepotan oleh kue tart yang berwarna putih bercampur dengan coklat. Apa







