Share

Bab 6

Author: Neny nina
last update Last Updated: 2026-01-21 18:47:05

Mentari tengah hari memancarkan panasnya seolah ingin mencairkan segala yang ada di bawahnya. Keringat seperti mutiara kecil mulai menetes dari ubun-ubun Selena, mengalir perlahan di lehernya yang terlihat lembut, menjalar ke arah dadanya—menambah pesona wanita berambut panjang yang biasanya terlihat anggun itu. Zarek menelan liur tanpa sadar, mata terfokus pada kulit putihnya yang kini mengkilap karena dibasahi keringat.

Namun, rasa terbakar di dadanya akibat harga diri yang terinjak membuat darahnya mendidih. Matanya yang biasanya tajam kini memerah karena amarah, dan dengan gesaan kasar, dia melemparkan batangan emas ke lantai restoran—suara "KLENG!" menggema di ruangan itu.

"Jangan anggap kamu cantik saja bisa seenaknya menghina diriku!" Suaranya tercekik karena menahan kemarahan, giginya terkunci rapat. Tapi Selena hanya menatapnya dengan wajah yang tetap tenang.

"Siapa bilang aku menghina kamu? Aku cuma membayarkan harga untuk membebaskan pelayan yang sedang ditindas oleh orang bawahmu!"

Kata-kata Selena yang kasar ditutupi dengan lantunan suara lembutnya seperti air yang menyiram lautan amarahnya. Tiba-tiba saja ada rasa akrab yang menyambar dirinya, seolah membawa dia kembali ke masa lalu yang tidak bisa dia ingat dengan jelas. Zarek terpaku. Tak tahu harus berkata apalagi.

"Siti," panggil Selena dengan nada tegas, "ajak dia keluar dari sini. Uang tebusan sudah kubayar. Mau diterima atau tidak, itu urusannya. Emas itu bahkan cukup untuk membangun restoran ini dua kali lipat besarnya. Nanti setelah kita pergi, pasti ada yang ambil kok."

Zarek terkejut mendengar kata-katanya yang lugas namun penuh dengan sindiran itu. "Perempuan ini bukan hanya pintar, tapi juga semakin berani melawan aku. Untung sekarang kamu sudah cantik. Kalau enggak, aku bakalan siksa kamu hari ini," gumamnya dalam hati. Hatinya semakin memanas. Dia tidak ingin menunjukkan kelemahannya.

"Apa kamu mengira aku kekurangan uang?!" teriaknya.

"Kamu memang tidak kekurangan uang—hanya saja kekurangan hati nurani. Sudah cukup! Jangan sok sombong. Kalau tidak mau menerima emas itu, berikan saja pada istrimu! Dia pasti akan sangat senang!"

Zarek terhenyak mendengar kata-kata kasar yang tak pernah keluar dari mulut Selena sebelumnya. Seolah dia melihat sosok orang lain yang tinggal di dalam tubuhnya. Selain itu, ada sedikit rasa bersalah yang merayap di dalam hatinya karena melihat perubahan sikap Selena.

"Apa kamu tidak mau pulang karena Liana?!"

"Itu salah satunya. Tapi yang utama—kamu sudah berkali-kali mengusirku dari rumahmu! Kamu belum lupa kan?"

"Tapi biasanya kamu tidak pernah mau pergi. Kenapa sekarang jadi keras kepala?"

Selena mendongakkan dagunya, mengangkat alis dengan tatapan heran, dan berdiri dengan tangan di pinggang.

"Jadi kamu berharap aku terus mengemis cinta padamu walau kamu selalu mengusirku?! Bukankah itu terlalu menyakitkan?"

Zarek terkejut. "Rupanya sesakit itu perasaannya," pikirnya sambil menatap Selena dengan pandangan yang berbeda.

"B-bukan begitu... kamu tetap istriku. Apa kata orang kalau kamu berkeliaran di luar rumah?"

"Kalau begitu—ceraikan aku saja!"

Permintaan itu keluar begitu saja dari mulut Selena tanpa ragu. Kedua mata Zarek melotot lebar secara otomatis, dan dia segera melompat menjawab:

"Saya tidak akan pernah menceraikanmu! Bawa saja pelayan itu kalau kamu mau! Tapi kamu harus pulang bersamaku sekarang! Jangan salah sangka—kalau kamu minta cinta, aku bisa berikan lebih dari itu! Asal jangan kata cerai." Darahnya berdebar kencang, tapi dia berusaha tetap tampak tenang dan berwibawa.

"Jangan harap! Aku tidak akan pernah kembali ke rumahmu itu!" Selena berbalik badan dan mulai melangkah keluar.

Pria bermata tajam itu tidak bisa tinggal diam melihat wanita miliknya pergi bersama orang yang baru saja ditebusnya. Dengan cepat dia menarik lengan Selena dari samping, membuatnya terpeleset dan jatuh ke pelukannya. Tanpa pikir panjang, bibirnya mencium bibir indah Selena dengan pasti. Selena ingin melawan, tapi hati kecilnya seolah ingin membiarkan hal itu terjadi. Hingga detik berikutnya ia teringat akan perlakuan Zarek terhadap tubuh yang ia tempati. Hatinya memanas. Matanya melotot ke arah Zarek. Sehingga dengan berat hati Zarek herus melepaskan bibirnya dari bibir Selena.

Zarek merasakan kemesraan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya—seolah dunia berhenti berputar. Begitu juga dengan Selena, yang tak bisa menyangkal kehangatan sesaat itu.

"Itu tidak sengaja. Aku hanya tidak ingin kamu jatuh ke lantai yang keras," ujar Zarek dengan nada sedikit tergesa-gesa setelah melihat tatapan marah Selena.

Selena hanya diam tanpa menjawab. Kalau saja dia tidak tahu bagaimana Zarek pernah menyakiti pemilik tubuh ini, pasti dia akan sangat menikmati momen indah itu bersama tokoh yang selalu dia kagumi. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia melangkah pergi meninggalkan Zarek.

Sebelum pergi, dia sempat melontarkan kata-kata, "Dasar tukang ngeles!"

"Apa?!" Zarek bingung, menaikkan satu alisnya mencoba mencerna kata-kata "Ngeles!" Selena mengabaikannya.

"Ayo kita pergi," katanya kepada Siti dan pelayan yang baru saja diselamatkannya.

"Kalau kamu benar-benar pergi sekarang—jangan harap aku akan memintamu lagi untuk pulang! Ini yang terakhir kalinya!" Suara Zarek terdengar keras dan penuh ancaman. Selena acuh—bahkan tidak menoleh sedikitpun.

"Benar-benar pergi? Ini aneh sekali. Biasanya dia tidak mau pergi meskipun aku usir berkali-kali. Bahkan dia rela hanya tinggal di kamarnya asal bisa melihatku. Kenapa sekarang bertingkah seperti ini? Apakah dia benar-benar ingin menjauh, atau hanya merajuk?" pikir Zarek sambil menatap arah pintu restoran yang sudah tertutup.

"Baiklah... aku akan lihat sampai mana kamu bisa menjauh dariku."

Dia berdiri tak bergerak di tempatnya, masih berharap Selena akan kembali dan menyesali tindakannya. "Dalam hitungan tiga dia pasti balik! Satu... dua... ti-ti-tiga..." Tapi harapannya hanyalah khayalan belaka—wanita itu tidak pernah kembali lagi.

"Tidak datang kembali?" rasa kehilangan yang luar biasa menyambar hatinya. Wajahnya tiba-tiba lesu, dan ada rasa sakit yang tak berdarah menyiksa dirinya. Sebelumnya dia selalu berharap Selena pergi jauh dari kehidupannya, tapi saat itu benar-benar terjadi, dia merasakan kesepian yang luar biasa seolah ada bagian dirinya yang hilang.

Saat rasa sepi dan kebingungan masih bergelut dalam dirinya, manajer restoran mendekatinya dengan hati-hati. "Tuan... bagaimana dengan bumbu andalan kita yang sudah tidak bisa dipakai lagi?"

Zarek berpikir sejenak. Ada rasa putus asa yang mendalam, tapi dia tidak akan membiarkan restorannya bangkrut hanya karena stok bumbu habis dan masalahnya dengan Selena.

"Tenang saja. Istriku yang membuat bumbu itu," katanya dengan senyum yang sedikit bangga. Manajer pun langsung tersenyum lega mendengarnya. Riker juga tersenyum lega melihat tuannya sudah bisa mengendalikan emosinya yang tadi sempat memanas.

Tanpa berlama-lama, Zarek segera bergegas pulang, diikuti oleh Riker dan para pengawal yang lain.

Begitu tiba di rumah, dia disambut dengan sangat mesra oleh istri siri kesayangannya, Liana. Biasanya sentuhan dan senyumnya selalu membuat hati Zarek merasa nyaman. Tapi kali ini, semua itu terasa seperti air tawar yang tidak memberikan rasa manis sedikit pun bagi hatinya yang sedang gelisah.

Tanpa banyak basa-basi, dia segera meminta Liana untuk membuat bumbu andalan(rahasia) lagi.

"Sayang... ada kejadian di restoran kita," ujar Zarek.

"Ada apa ya, Sayang?" tanya wanita itu dengan nada pura-pura cemas.

"Bumbu andalan yang kamu buat sudah habis semua."

Liana hampir tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Dia langsung membayangkan jumlah uang yang bisa dia dapatkan dari penjualan bumbu andalan itu. Padahal sebenarnya bukan dia yang membuatnya.

"Wah bagus dong Sayang! Itu berarti restoran kita untung banyak ya?" Katanya bersemangat.

"Iya, untungnya memang banyak. Ini untukmu." Zarek menyerahkan sebatang emas murni yang sebelumnya diberikan Selena. "Tapi kamu harus segera membuat bumbu itu lagi. Kalau tidak, restoran kita bisa tutup."

"Ah mudah saja! Nanti aku akan suruh si gendut—"

Bukan hanya Zarek, Rikerpun terkejut mendengar perkataan Liana. Tapi hanya Zarek yang bisa bertanya.

"Apa?! Apa maksudmu?! Jadi bumbu andalan kita selama ini bukan buatanmu?! Selena yang sebenarnya membuatnya?!"

Liana langsung terdiam dan menutup mulutnya dengan tergesa-gesa—dia tidak sengaja menyebut nama Selena.

"B-bukan begitu, Sayang... maksudku, kalau aku buat bumbu andalan kita yang lezat itu, kak Selena pasti akan mencicipinya sampai puas. Karena rasanya memang enak dan juga lezat, Itu sebabnya kalau aku mau buat bumbu itu, orang pertama yang aku ingat pasti kak Selena," terangnya dengan cepat sambil mencoba menenangkan Zarek.

"Ya sudah, kamu buatlah bumbunya sekarang. Aku pergi dulu. Ada urusan lain yang harus segera ditangani." Zarek segera pergi meninggalkan Liana sendirian di ruangan itu.

"Untung saja aku bisa menenangkannya untuk saat ini. Tapi bagaimana kalau aku tidak bisa membuat bumbu itu? Padahal yang benar-benar tahu cara membuatnya sudah tidak tinggal di sini, dan aku juga tidak pernah bertanya padanya tentang resepnya!" pikir Liana dengan hati yang mulai penuh kekhawatiran.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 58

    Mereka sampai di kediaman Sastrada Wijaya. Sebuah rumah besar bergaya tradisional kuno yang sangat mewah dan asri. Di atas gerbang ada papan nama yang bertuliskan Kediaman Adipati Sastrada Wijaya."Ini rumah saya Tuan. Ayo mampir dulu. Saya akan kenalkan Tuan kepada ayahanda saya.""Em." Sultan Zarek berjalan beriringan dengan wanita itu. Sedangkan Riker mengikuti dari belakang.Sepanjang jalan sampai ke depan pintu, Zarek memperhatikan semua pelayan dan penjaga. Mereka semuanya terlihat aneh. Seperti tidak ada yang menghargai gadis itu. Riker juga merasakan hal yang sama."Tuan. Kalau dilihat dari tatapan para pekerja dan pelayan rumah ini, sepertinya mereka semua membenci nona ini," bisik Riker di telinga Zarek saat Zarek melambatkan sedikit jalannya."Aku juga merasakannya," jawab Zarek.Pintu besar terbuka lebar. Sepasang suami istri yang berpakaian bangsawan datang menghampiri mereka dengan berurai air mata. Tapi gadis di samping Zarek tidak terharu sama sekali melihat kesedihan

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 57

    Nyonya Ratih menemui Selena di taman. Dia membuang semua rasa malunya yang ketahuan bermalam di hotel bersama tuan Matias."Selena. Ada apa tadi mencariku?" tanyanya dengan suara yang kaku.Selena tersenyum. "Maaf, Nyonya. Tadi saya tidak sengaja. Saya terburu-buru ingin memperlihatkan surat dari tuan Sultan Zarek.""Dari Zarek?" tanyanya cemas. Semenjak sultan Zarek datang, dia belum bertemu dengannya secara langsung."Iya." Selena menyerahkan selembar kertas yang sudah dibacanya lebih dulu.Nyonya Ratih mengambil dan membaca surat itu. Setelahembacanya, Seketika kakinya lemas. Dia terduduk di kursi taman di samping Selena. Mukanya merah. Matanya berkaca-kaca. Dadanya terasa berat. Dia sedih dan bingung dengan apa yang akan terjadi antara dia dan lelaki yang dikiranya selama ini adalah anak kandungnya.Sedangkan di pasar yang ramai, sultan Zarek berjalan tanpa tujuan. Terkadang ia menabrak beberapa pengunjung pasar. Karena dia bukan orang sembarangan, tak ada yang berani menegur ata

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 56

    "Aku wanita yang sangat malang, Nak. Aku akan bercerai dengan suamiku."Selena terkejut mendengar pernyataan nyonya Ratih. "Kenapa bisa begitu? Apa Nyonya dan Tuan Sultan ada masalah?"Air mata Nyonya Ratih menitik. Dadanya bergetar. Mulutnya terasa berat untuk menceritakan, tapi hatinya ingin menceritakan semuanya."Ayahanda Sultan Zarek berselingkuh."Selena terdiam. Dia memeluk tubuh nyonya Ratih yang bergetar hebat."Apa kamu tahu apa yang lebih menyakitkan, Nak?""Apa?" tanya Selena lirih."Zarek adalah anaknya bersama perempuan itu."Zarek yang menguping percakapan mereka dari balik pintu, terduduk. Lututnya tak sanggup menopang tubuhnya karena menerima kejutan yang besar."Siapa wanita itu, Nyonya?"Zarek menajamkan telinga. Ia ingin tahu siapa orang yang telah melahirkannya."Dia adalah orang yang sudah bekerja sangat lama di rumahku. Dia... Upik."Air mata luruh dari pelupuk mata Zarek. "Jadi orang yang membesarkan aku selama ini bukanlah orang yang melahirkan aku?" batin Z

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 55

    "Andika?""Apa Yang Mulia mengenalnya?" tanya Selena."Dia adalah adik bungsuku.""Kenapa kau ingin menghabisiku?" tanya raja dengan kening berkerut."Haha, ha, ha! Dasar bodoh! Apa kau lupa? Sudah berapa kali orangku berusaha membunuhmu di dalam istana? Itu semua atas perintahku. Aku yang memberi mereka jalan untuk masuk. Jika tidak, bagaibagaimana bisa mereka masuk kedalam istanamu dengan pengawasan yang ketat?""Jadi itu semua ulahmu, Dek?""Berhenti memanggilku dengan panggilan itu! Apa kamu pikir aku tidak tahu siapa dirimu? Kamu hanyalah iblis yang menyamar menjadi kakakku! Cepat katakan di mana keberadaan kakakku!" bentak laki-laki tampan yang masih sangat muda itu di bawah ancaman pedang sakti Selena.Kening raja mengernyit."Apa yang kamu katakan. Aku ini kakakmu. Aku bukan iblis seperti yang kau curigai.""Iblis tetaplah iblis. Kau takkan mengatakan di mana keberadaan kakakku. Jadi sebaiknya kubunuh saja kamu sekarang."Lelaki itu mengeluarkan sebuah senjata kecil yang ia am

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 54

    "Sistem. Tolong mundurkan waktu." Sebuah layar hologram kembali muncul di depannya."Syukurlah," batin Selena. Ia segera menekan angka. Tapi permintaannya ditolak.Dia kembali berbisik dalam hati."Sistem bantu aku.""Halo Selena. Maaf saya terlambat. Apa yang terjadi?""Entahlah. Aku takut akan hal lain, tapi yang terjadi justru diluar dugaanku. Aku berada diantara dua dunia.""Baiklah. Aku mengerti aku bisa mengembalikanmu ke dua jam yang lalu. Aku tidak bisa memindahkanmu ke dunia nyata karena levelmu masih belum mencukupi.Dua jam yang lalu berarti saat ia masih berada di kerajaan Samudra.Ia menarik napas lega."Ok. Tidak masalah." Seketika ia berada di halaman kerajaan. Ia hendak menaiki tangga delman. Liontinnya juga masih utuh."Aku kembali ke sini," batinnya. Ia bersorak dan memeluk Arya. Akhirnya aku bisa bertemu kamu lagi," katanya dengan rasa haru yang tak terkira.Arya membalas pelukan Selena dengan hangat. "Selena. Aku pikir kamu akan lebih senang tinggal di kerajaan in

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   53

    Selena menoleh. Mantannya menatap tak percaya melihat orang yang berdiri di gerbang istana."Raja!"Ia yang sudah menaikkan sebelah kaki ke tangga delman segera turun dan membungkuk dalam. Arya dan Sultan Zarek ikut membungkuk, meski raut wajah keduanya jelas tak senang."Yang Mulia. Mengapa Anda keluar?" tanya Selena hati-hati.Raja tersenyum samar. Ia mengenakan pakaian rakyat biasa, jubah cokelat kusam dan sepatu kulit berdebu. Namun wibawanya tak bisa disembunyikan."Aku akan ikut denganmu.""Tapi… bagaimana dengan istana?""Aku sudah menunjuk wakilku untuk menjaga takhta."Sultan Zarek, penguasa wilayah perbatasan yang namanya menggema hingga ke padang tandus Gurun Merath, menegang. Arya pun memalingkan wajah, jelas keberatan."Oh. Kebetulan sekali, Yang Mulia," ujar Selena, mencoba mengalihkan ketegangan. "Anda bisa tinggal di hotel saya.""Aku akan menyewa hotelmu.""Dengan senang hati, Yang Mulia."Raja melangkah mendekat dan, tanpa ragu, menggenggam tangan Selena. Hangat. T

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status