Share

Bab 5. Tiba-tiba diajak pulang

Penulis: Neny nina
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-10 10:43:43

Selena dan Siti sudah berjalan melewati pasar tradisional. Dari semua tempat yang ia kunjungi, dia tidak menemukan makanan yang enak. Atau sekedar aroma makanan enak yang biasa ia hirup dan makan selama berada di dunia. Tapi perutnya yang mulai keroncongan karena tadi dia tidak sarapan, meronta mintak diisi.

"Ayo kita makan dulu," ajak Selena.

"Baiklah Nyonya. Aku juga sudah lapar."

Mereka pergi ke sebuah kedai nasi. Mereka memilih restoran mewah.

"Mau makan apa, Nona?" tanya pelayan kedai.

"Berikan kami makanan andalan restoran ini."

"Baik Nyonya," kata pelayan itu dan bergegas ke dapur restoran untuk memberitahu koki agar menyiapkan menu andalan restoran itu.

Tidak berapa lamanya, pelayan datang untuk mengantarkan makanan kepada mereka. Banyak menu yang terhidang di atas meja. Tapi semua itu tidak menggugah seleranya. Bagaimanapun Selena tetap mengisi perutnya yang lapar. Mereka berdua makan makanan itu.

Saat mereka sedang makan, terdengar ada keributan di dapur restoran, setelah bunyi barang yang jatuh.

"Dasar kurang ajar. Beraninya kamu menjatuhkan bumbu rahasia restoran."

"A_ ampuni saya Tu_tuan. Saya tidak sengaja menjatuhkannya. Saya berjanji, akan bekerja lebih giat lagi untuk menggantinya," mohonnya dengan suara bergetar.

"Hahaha ...ganti? Dengan apa kamu akan menggantinya? Bahkan dengan nyawamu sendiri, takkan bisa kau ganti!" hardik seorang laki-laki yang diketahui adalah menejer restoran itu.

Plak ...plak ...plak! Suara pukulan bersahutan dengan suara tangisan seorang perempuan.

Tidak tahan mendengar suara gaduh dan kekerasan itu, Selena berdiri dan berlari ke arah dapur. Siti terlambat melarang nyonyanya. Wajahnya pucat karena mencemaskan keselamatan Selena.

Setelah berada di sisi Selena, dia berusaha menarik Selena. Akan tetapi, Selena buru-buru menghadang menejer itu dan membantu wanita yang sedang terzalimi itu.

"Ada apa ini? Berhenti!" bentak Selena. Sedangkan pengunjung yang lain hanya menjadi pengamat. Mereka tidak ada yang berani ikut campur.

"Siapa kamu? Jangan ikut campur kamu Nona cantik! Atau kamu juga akan saya pukul!" hardiknya.

"Oh ya? Kamu berani pukul saya? Ayo sini!"

"Nona cantik! Kamu adalah pelanggan kami. Sebaiknya tidak ikut campur dengan urusan saya dengan pelayan saya. Atau saya akan memukulmu!"

"Lepaskan wanita itu. Kamu harusnya menghargai wanita, karena kamu juga terlahir dari seorang wanita."

Selena membantu wanita itu berdiri.

"Pelayan ini sudah melakukan kesalahan fatal."

"Kesalahan apa yang dilakukannya hingga kamu tega memukulnya?!"

"Dia sudah menghancurkan botol bumbu rahasia yang harganya sangat mahal."

"Bumbu rahasia?"

"Jadi, makanan yang saya makan tadi tidak memakai bumbu rahasia?"

"Tidak! Jika tidak memakai bumbu itu, rasa makanan hanya akan terasa biasa saja. Berbeda jika ada racikan bumbu rahasia itu, setiap orang yang makan akan ketagihan untuk makan. Mereka akan berhenti makan jika perut mereka sudah benar-benar kenyang."

"Oo. Pantas saja setiap orang yang datang ke sini badannya gemuk semua," batin Selena.

Kini nada bicara Selena mulai melunak.

"Ya, Baiklah. Dia memang salah. Tapi memukul wanita itu melanggar hukum. Kamu tidak boleh memperlakukan wanita semena-mena."

"Berani kamu ya mengajari saya tentang bagaimana memperlakukan wanita?"

Menejer itu melayangkan sebuah tamparan ke muka Selena. Selena sudah tahu kalau menejer itu akan menamparnya. Maka dengan sigap dan anggun Selena melayangkan sebuah tendangan yang tepat mengenai perut menejer restoran. Tubuh menejer itu langsung terpental hingga menabrak dinding. Langsung sampai terjengkang di depan meja yang sedang berisi piring makanan yang belum kosong. Semuanya tumpah ke lantai. Sebagian isinya berlumuran di wajah dan pakaiannya.

Siti terkejut melihat kekuatan nyonyanya sedahsyat itu. Bahkan mulutnya sampai menganga, matanya juga terbuka lebar. Bahkan semua pengunjung yang menjadi penonton terpekik dan berhamburan keluar dari dalam restoran.

"Kok semakin kurus, semakin kuat?" gumamnya. Kemudian dia tersenyum dan mengangkat dua jempolnya kepada Selena.

Menejer itu meringis kesakitan. Ia berdiri sempoyongan dan mengambil pisau dari pinggangnya hendak menghantamkan ke arah Selena. Tiba-tiba seseorang berkelebat menghantam tangannya, sehingga pisau itu terjatuh tanpa disadari menejer itu.

Menejer itu ternganga melihat tangannya yang tiba-tiba kosong. Dua orang pemuda sudah mengapit tubuhnya.

Zarek berjalan percaya diri menghampiri Selena.

"Kamu tidak apa-apa?"

"Ya. Saya baik-baik saja. Terima kasih karena sudah menolong saya." Lalu Selena mengabaikan Zarek dan bertanya kepada wanita yang di sebelahnya.

"Nona, kamu baik-baik saja?"

"Iya, Nyonya. Terima kasih sudah menolong saya."

"Tapi kamu tidak usah lagi bekerja di sini. Kalau kamu tetap di sini, dia akan tetap menyiksamu."

"Ke mana saya harus pergi? Di dunia ini saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi, Nyonya. Lagi pula, saya hanya seorang budak. Kalaupun saya mau, saya tetap tidak bisa pergi dari sini," ucapnya lirih.

"Sudahlah! Jangan campuri urusan orang lain. Sebaiknya kamu ikut aku pulang!" Zarek menarik tangan Selena. Tapi Selena menghentakkannya.

"Tidak mau! Bukankah kamu sudah mengusir saya? Saya tidak mau ikut ke neraka itu lagi."

"Kamu harus ikut! Di sini tidak aman untukmu! Kamu tidak terbiasa hidup menggelandang. Aku kasihan kepadamu."

"Hidup menggelandang? Kasihan?" Selena tertawa menyedihkan.

"Sungguh bodoh sekali pemilik tubuh ini menyukai laki-laki seperti ini. Aku juga bodoh karena mengagumi tokoh ini sebelumnya," batin Selena.

"Aku akan buktikan kalau aku bisa hidup di luar rumahmu dengan terhormat tanpa bantuanmu," tolak Selena.

Zarek geram. Ia mengepalkan tangannya.

"Kamu ..."

"Sebaiknya kamu kembali kepada selingkuhanmu! Bukankah dia sedang hamil? Bagaimana kalau terjadi sesuatu kepadanya? Bagaimana kalau ia tahu Kamu di sini bersama saya? Pasti perasaannya akan terluka, dan kandungannya akan bermasalah kan?"

"Selena! Dia itu istriku juga. Kamu tidak seharusnya cemburu kepadanya. Dia sudah berbaik hati kepadamu. Tapi kamu selalu berburuk sangka kepadanya. Buang semua pikiran burukmu! Supaya kita bisa hidup rukun bersama-sama. Toh dia juga ingin kamu menjadi ibu dari anaknya kelak."

"Tapi aku tidak sudi menjadi ibu dari anaknya!"

"Selena! Keras hati sekali kamu!"

Selena berjalan ke arah menejer yang sedang meringis kesakitan tanpa mempedulikan Zarek lagi.

"Berapa harga pelayanmu? Saya akan membelinya."

"Ha?" Dia terpana heran menatap Selena dan Zarek yang ada di belakang Selena secara bergantian.

"Saya tidak punya hak untuk menjual pelayan! Kalau Nyonya mau membelinya, Nyonya bisa langsung bicara dengan Tuan saya!"

"Kalau begitu, antar saya menemui tuanmu!"

"Tuan Zarek ada di sini, Nyonya."

"Biar saja dia di sini. Kamu tidak perlu takut. Antar saya menemui tuanmu. Saya akan membeli seorang pelayan."

"Tuan Zareklah pemilik tempat ini, Nyonya," katanya dengan hormat dan takut.

"Apa?!" Selena berbalik melihat Zarek yang berdiri tersenyum di belakangnya.

"Jika aku tidak datang ke sini, aku tidak akan tahu kalau suamiku punya bisnis restoran dan seenaknya menghukum pelayan jika melakukan kesalahan!"

"Sekarang aku akan membayar pelayan itu. Kamu ambil emas ini. Ini lebih dari cukup untuk membayar seorang pelayan!"

Selena menyerahkan satu emas batangan ke tangan Zarek yang ia ambil dari dalam tas bajunya.

Semua orang terpana dan takjub melihat bongkahan emas yang diserahkan Selena kepada Zarek. Mereka belum pernah melihat emas sebesar itu.

"Wah kaya sekali Nona ini ya?" bisik mereka.

Namun harga diri Zarek merasa tertindas. Mukanya merah saat Selena menarik tangannya dan meletakkan satu batang emas di telapak tangannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 8.

    Bab 8: Mendapatkan Bantuan "Aku akan menghajar orang yang berani menyentuh properti keluargaku dengan paksa!" gumam Eden dengan suara rendah namun penuh amarah. Langkahnya berat menapak tanah, mata menyala dengan kemarahan saat melihat pintu rumah kosong yang sudah dikenalnya sejak kecil terbuka lebar. Namun langkahnya terhenti seketika saat seorang wanita keluar sambil membawa mesin pembersih. Cahaya matahari menyinari rambutnya yang berkilau, wajahnya cantik seperti bidadari yang memancarkan kehangatan di tengah kesunyian. Selama hidupnya di kota itu, Eden belum pernah melihat sosok seindah itu. "Mimpi apa aku semalam..." gumamnya seraya mengucek matanya meskipun tidak terasa gatal. Wajahnya yang tadinya memerah karena marah kini mulai memerah karena pemalu. "Apa dia orangnya yang mengambil rumah ini?" tanya Eden dengan suara yang jauh lebih lembut dari biasanya, bahkan ia tidak sadar kalau tangannya yang tadinya mengepalkan tinju sudah mulai rileks. "Iya, Bos! Tadi ada dua or

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 7

    Rumah Kosong   "Sekarang kita mau kemana, Nyonya? Apa kita akan kembali ke rumah orang tua Nyonya?" tanya Siti, matanya penuh kekhawatiran. Selena menatap jauh, ingatan tentang cerita yang pernah dia baca menghampiri. Di dalamnya, bahkan mayat sang tokoh tak pernah diterima oleh keluarganya—akhirnya hanya Siti yang setia menguburkannya di tengah hutan dan merasakan kehilangan yang mendalam. Bagaimana mungkin dia akan kembali dengan status yang belum jelas? "Untuk sekarang, kita tidak akan kembali ke sana, Siti. Kita akan mulai dari nol, membangun kehidupan baru di sini." "Iya, Nyonya! Kita pasti bisa!" ucap Siti dengan semangat yang sedikit meredakan kesedihan di hati Selena. "Saya juga akan mengikuti dan selalu mendukung Nyonya!" suara lain menyela. Wanita yang baru saja diselamatkan itu berdiri tegak di sisi mereka. "Siapa nama kamu?" tanya Selena dengan lembut. "Nama saya Yesi, Nyonya."

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 6

    Mentari tengah hari memancarkan panasnya seolah ingin mencairkan segala yang ada di bawahnya. Keringat seperti mutiara kecil mulai menetes dari ubun-ubun Selena, mengalir perlahan di lehernya yang terlihat lembut, menjalar ke arah dadanya—menambah pesona wanita berambut panjang yang biasanya terlihat anggun itu. Zarek menelan liur tanpa sadar, mata terfokus pada kulit putihnya yang kini mengkilap karena dibasahi keringat.Namun, rasa terbakar di dadanya akibat harga diri yang terinjak membuat darahnya mendidih. Matanya yang biasanya tajam kini memerah karena amarah, dan dengan gesaan kasar, dia melemparkan batangan emas ke lantai restoran—suara "KLENG!" menggema di ruangan itu."Jangan anggap kamu cantik saja bisa seenaknya menghina diriku!" Suaranya tercekik karena menahan kemarahan, giginya terkunci rapat. Tapi Selena hanya menatapnya dengan wajah yang tetap tenang."Siapa bilang aku menghina kamu? Aku cuma membayarkan harga untuk membebaskan pelayan yang sedang ditindas oleh orang

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 5. Tiba-tiba diajak pulang

    Selena dan Siti sudah berjalan melewati pasar tradisional. Dari semua tempat yang ia kunjungi, dia tidak menemukan makanan yang enak. Atau sekedar aroma makanan enak yang biasa ia hirup dan makan selama berada di dunia. Tapi perutnya yang mulai keroncongan karena tadi dia tidak sarapan, meronta mintak diisi."Ayo kita makan dulu," ajak Selena."Baiklah Nyonya. Aku juga sudah lapar."Mereka pergi ke sebuah kedai nasi. Mereka memilih restoran mewah."Mau makan apa, Nona?" tanya pelayan kedai."Berikan kami makanan andalan restoran ini.""Baik Nyonya," kata pelayan itu dan bergegas ke dapur restoran untuk memberitahu koki agar menyiapkan menu andalan restoran itu.Tidak berapa lamanya, pelayan datang untuk mengantarkan makanan kepada mereka. Banyak menu yang terhidang di atas meja. Tapi semua itu tidak menggugah seleranya. Bagaimanapun Selena tetap mengisi perutnya yang lapar. Mereka berdua makan makanan itu.Saat mereka sedang makan, terdengar ada keributan di dapur restoran, setelah b

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab 4. Tiba-tiba Diusir

    Salah seorang kepercayaan Zarek datang memberikan perintah langsung dari Zarek."Dimana nyonya Selena," tanya Riker kepada Siti. "Saya di sini." Selena sudah berdiri di depannya dengan sebuah tas besar yang berisi baju dan perlengkapannya."Anda siapa?" tanya pria itu dengan kening berkerut karena heran. Namun hati kecilnya memuji kecantikan wanita yang mengaku sebagai Selena."Saya Selena. Ada apa?""Dari suaranya benar nyonya Selena. Tapi kenapa badannya bisa kurus dalam semalam?" batinnya"Iya. Ini adalah Nyonya Selena. Nyonya minum ramuan pelangsing yang bisa membuat butuhnya langsing dalam semalam," beber Siti memastikan kalau yang dihadapannya adalah betul Selena."Ah. Biarinlah. Mau dia Nyonya atau bukan, yang penting dia juga akan pergi dari rumah ini," batinnya lagi."Ok. Saya mendapat perintah dari tuan Zarek. Demi keselamatan calon pewaris yang sedang dikandung Nyonya Liana, terpaksa Nyonya Selena harus pergi dari rumah ini.""Katakan pada Zarek. Aku memang akan pergi dari

  • Terjebak Di Tubuh Istri Gendut Tuan Sultan   Bab3. Kejutan selanjutnya ( Tiba-tiba menjadi langsing)

    Waktu terus berputar. Obat pelangsing yang diminum Selena sebelum tidur, mulai bekerja saat Selena sedang terlelap.Di alam mimpi, Selena berada di tempat sebelum ia terdampar ke dunia Fiksi. Dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri perselingkuhan Damian dengan Lili sahabat karibnya. Mereka asik bercumbu di dalam kamar kost kekasihnya itu. Karena tidak tahan mendengar suara desahan kenikmatan dua manusia yang sedang dirasuki hawa nafsu itu, Selena menendang pintu kostan itu. Jika dengan kekuatan biasa, pintu itu tidak akan terbuka. Yang ada kakinya akan merasa sakit. Tapi karena dia punya ilmu bela diri dan tenaga dalam yang kuat, pintu itu terbuka. Dua orang yang sedang bertelanjang tampak terkejut dan segera meraih selimut untuk menutup tubuh mereka."Zizi! Ini hanya kekilafanku. Maaf, Sayang ...."Zizi, melemparkan kue ulang tahun yang sudah ia siapkan untuk memberi kejutan Demian tepat di mukanya. Mukanya belepotan oleh kue tart yang berwarna putih bercampur dengan coklat. Apa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status