Share

Penuh dengan Drama

last update Last Updated: 2025-08-25 21:16:05

Suasana seketika menjadi tegang. Nala terdiam, dadanya naik turun menahan napas penuh kemarahan.

Rona merah mewarnai pipinya, membuatnya benar-benar tampak seperti wanita yang didera emosi.

Sementara itu, Liam hanya menatap lurus ke arah meja hijau, tanpa satu pun gerakan yang menunjukkan ia terprovokasi.

Tangan kirinya terkepal di pangkuan, tapi wajahnya tetap tenang. Satu-satunya hal yang ia lakukan hanyalah menghela napas perlahan, seakan menunggu badai ini reda.

Raka menunduk sedikit ke arah Liam lalu berbisik lirih, “Bagus. Biarkan dia meledak sendiri. Kita yang akan menutup dengan pukulan telak.”

Liam menganggukkan kepalanya dengan pelan tanpa mengalihkan pandangannya. Ia tahu bahwa waktunya akan datang.

Bukti-bukti perselingkuhan yang sudah dia serahkan pada Raka akan menjadi senjata pamungkas. Tidak perlu buru-buru, biarkan Nala terjerat oleh kata-katanya sendiri.

Hakim kembali menegaskan aturan sidang. “Sidang hari ini baru dimulai. Kami tidak ingin mendengar teriakan ataupun
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Kania Putri
dih gak pengacara gak Nala drama mulu astaga sumpah pingin liat si Nala di permalukan di muka pengadilan biar mampus lu pada
goodnovel comment avatar
Kania Putri
lagi kak kurang astaga lagi seru wkwkw
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terjebak Gairah Panas Majikanku   Perintah Sarah

    “Jadi, sampai kapan kamu berniat mempertahankan perempuan itu di sini, Rafael?”Pertanyaan Sarah tadi sontak membuat kening Rafael mengkerut.“Perempuan itu?” Rafael mengulang seolah pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan istrinya itu. “Maksudmu Nala?”Sarah menyunggingkan senyum sinis yang jelas tidak mengandung sedikit pun kehangatan.“Jangan pura-pura bodoh, Rafael. Kamu pikir aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau dia masih di sini. Kamu dan dia pernah berhubungan dan aku yakin, kamu pasti masih akan menggunakannya apalagi tahu Nala sudah resmi berpisah dengan Liam!”Rafael memejamkan matanya sejenak sambil memijat keningnya. “Sarah, jangan bawa-bawa urusan pribadi ke perusahaan. Dia sekretarisku. Dia bekerja dengan baik. Aku butuh dia sebagai sekretarisku, bukan sebagai teman tidurku lagi. Aku janji, aku tidak akan melakukan kesalahan itu lagi.”“Tidak, Rafael.” Sarah mengangkat dagunya dan suaranya penuh penekanan.“Kalau memang tujuanmu hanya menjadikan Nala sebagai jal

  • Terjebak Gairah Panas Majikanku   Sayangnya, Bukan itu yang akan Dilakukan

    Langkah sepatu berhak tinggi Sarah berderap di sepanjang koridor kantor keluarga besar itu.Wajahnya dingin, meski matanya berkilat seperti sedang menahan emosi. Begitu ia melihat Rafael yang baru saja keluar dari ruang rapat dengan jas yang masih rapi, Sarah langsung mempercepat langkahnya.“Rafael!” panggilnya kemudian.Rafael menghentikan langkahnya lalu menoleh. Alisnya terangkat tipis, melihat istrinya menghampiri dengan wajah yang jelas menyimpan pertanyaan besar.Sarah berhenti tepat di depannya dan menatap lekat wajah sang suami. “Benarkah?” tanyanya tanpa basa-basi.“Benarkah Nala dan Liam sudah resmi bercerai?”Rafael menatap lekat-lekat wajah Sarah lalu mengangguk sekali. Ekspresinya tidak menunjukkan keterkejutan, seolah dia sudah menduga pertanyaan itu akan keluar dari mulut Sarah.“Ya. Putusan sudah diketuk hakim. Mereka sudah resmi berpisah.”Sarah menghela napasnya dengan panjang namun ekspresinya masih tetap datar sembari menatap kosong ke depan.Rafael menambahkan de

  • Terjebak Gairah Panas Majikanku   Sudahi Dramamu itu

    Suasana halaman depan pengadilan masih ramai setelah putusan sidang cerai Liam dan Nala resmi diketuk palu.Para pengunjung sidang, wartawan, dan bahkan orang-orang yang hanya ingin tahu, masih memenuhi pelataran.Udara terasa tegang, penuh bisik-bisik tentang drama besar yang baru saja diputuskan di ruang sidang.Ardi menghampiri Liam dan menepuk bahu lelaki itu dengan wajah puas. Senyum tipis terukir di bibirnya, seolah ingin mengucapkan sesuatu yang sejak lama terpendam.“Selamat, Liam,” ucap Ardi dengan suara mantap. “Akhirnya selesai juga semua kekacauan ini. Aku salut banget sama kamu, Liam. Sabarmu itu udah di luar batas manusia. Kalau aku jadi kamu, mungkin dari sidang pertama aku udah naik darah. Nala itu drama nggak ada habisnya. Aku sampai tidak bisa bernapas karena mendengarkan drama Nala.”Liam menarik napas dalam, matanya sedikit menerawang seolah mengulang kembali semua momen yang sudah dilewati. Raut wajahnya tetap datar, tapi jelas ada letih yang sulit disembunyikan o

  • Terjebak Gairah Panas Majikanku   Sidang Putusan

    Setelah jeda istirahat satu jam, para pihak kembali duduk di kursi masing-masing.Pengunjung sidang yang sejak tadi menunggu ikut menahan napas, seakan tahu bahwa inilah saat penentuan.Hakim memasuki ruang sidang dengan langkah mantap. Palu diketukkan tiga kali, suara kayu menghantam meja memantul keras di dinding ruangan.“Sidang dilanjutkan,” ucap hakim ketua, suaranya dalam dan menembus keheningan di dalam ruangan itu.Liam lantas duduk tegak, wajahnya tanpa ekspresi, meski jantungnya berdetak kencang.Di sampingnya, kuasa hukumnya tampak percaya diri, sementara di kursi seberang, Nala tampak gelisah.Mata wanita itu merah, entah karena tangis atau amarah, tetapi pandangannya terus tertuju pada Liam dengan tatapan penuh kebencian.Hakim mulai membacakan putusan dengan suara tegas.“Setelah melalui pemeriksaan bukti, keterangan saksi, serta fakta persidangan yang terungkap, majelis hakim menilai permohonan cerai dari pihak penggugat, Saudara Liam, memiliki alasan yang sah secara hu

  • Terjebak Gairah Panas Majikanku   Fakta Tetaplah Fakta

    Waktu sudah menunjuk angka sepuluh pagi.Ruang sidang terasa lebih tegang dari biasanya. Bau kertas, tinta, dan keringat bercampur, mengisi udara pengap yang hanya dipecah oleh suara palu hakim ketika sidang dinyatakan dibuka kembali.Semua mata tertuju pada kursi terdakwa dan penggugat. Hari ini adalah sidang lanjutan, momen yang sudah Liam tunggu—hasil pemeriksaan bukti akan dibacakan.Hakim yang duduk di kursi tinggi itu mengatur kacamatanya. Tatapannya tajam, nada suaranya dingin, membuat semua orang otomatis menahan napas.“Setelah melalui pemeriksaan bukti yang diajukan kedua belah pihak ….”Hakim membuka berkas tebal yang penuh tanda dan coretan, “…pengadilan telah menemukan sejumlah fakta hukum yang relevan.”Nala, yang duduk di kursi tergugat dengan gaun putih sederhana meremas ujung roknya.Wajahnya pucat, tapi matanya berkilat penuh kebencian, seolah menunggu keajaiban yang bisa membalikkan keadaan.Di sisi lain, Liam duduk tegak dengan jas hitam rapi. Dingin, tak menunjukk

  • Terjebak Gairah Panas Majikanku   Pegang Janjiku

    Pintu depan berderit pelan. Langkah kaki berat terdengar memasuki rumah.Ardi yang membuka pintu hanya memberi anggukan singkat, dan Liam masuk dengan ekspresi lelah namun tetap tegas.Jas hitamnya sudah dilepas, dasinya longgar, memperlihatkan kerah kemeja yang sedikit kusut.Begitu mata Evi menangkap sosok Liam, dadanya langsung berdesir.Ada rasa lega sekaligus gentar. Lelaki itu masih sama—dingin, penuh wibawa—namun kehadirannya selalu membawa rasa aman yang tak bisa dia jelaskan.“Mas Liam?” sapa Evi dengan senyum tipis di bibirnya.Liam menatapnya dengan sorot matanya teduh namun keras.Ia berjalan mendekatinya lalu duduk di sofa berseberangan. “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya datar, tapi Evi bisa merasakan ketulusan di balik nada itu.Evi menelan ludahnya mencoba bersikap biasa saja. “Saya baik-baik saja, Mas.Senyumnya hambar, hanya formalitas yang dia perlihatkan agar Liam tidak bertanya banyak tentang kondisinya saat ini.“Mas Ardi dan Mbak Alysa menjaga dan menemani saya di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status