LOGIN
Dada besar, tubuh ramping dengan lekuk nyaris sempurna, dan pastinya wajah cantik dengan kulit kencang.
Leon berdiri kaku di depan pintu kamarnya ketika Gito, ayahnya baru saja pulang dari bulan madu dengan istri barunya. Namun, tentu saja pandangan Leon bukan tertuju pada pria 49 tahun itu, melainkan pada Sonya, ibu tiri barunya yang sepertinya lebih cocok dipanggil kakak ketimbang ibu, sebab usianya hanya terpaut 8 tahun darinya. “Leon, mulai hari ini Sonya akan tinggal di rumah ini. Ayah gak peduli mau kamu benci bahkan sampai gak datang di pernikahan kami, tapi kamu harus bersikap baik padanya. Karena sekarang dia ibu kamu,” ujar Gito dengan penuh ketegasan. Leon tersenyum tipis melihat wanita pilihan ayahnya itu. “Mau ngincer harta keluarga ini doang, kan?” ujar Leon pada Sonya. “Leon, jaga ucapanmu! Kamu gak kenal dia, jangan asal menilai!” sahut Gito tak terima. Sementara wanita itu hanya terdiam, tak berani berekspresi lebih. “Ck, semua orang juga tahu. Wanita 28 tahun rela menikah dengan pria 49 tahun yang punya satu anak usia 20 tahun. Buat apa lagi kalau gak mengincar harta?” Leon terkekeh kecil. Sebenarnya, Leon tidak peduli dengan nasib ayahnya karena bagaimanapun juga, ayahnya yang menjadi salah satu penyebab ibunya meninggal. Sejak dulu, Gito senang bermain wanita hingga akhirnya membuat ibu Leon stres dan meninggal. Maka dari itu, Leon semakin merasa benci pada ayahnya sendiri. Hanya saja, dia tetap tidak rela jika harta yang keluarganya kumpulkan malah jatuh ke tangan orang luar. Saat itu juga, Sonya maju satu langkah ke hadapan Leon sambil menatap Leon dengan lembut. “Leon, maaf ya kalau kedatanganku di keluarga kalian mendadak. Tapi, aku memang tulus dengan ayahmu, bukan hanya karena harta seperti yang kamu bilang,” kata Sonya sambil sedikit menundukkan kepalanya, menunjukkan rasa tersinggung. Lalu, dia kembali menatap Leon dengan senyum tipis. “Sekarang, aku nggak akan memaksa kamu untuk langsung percaya, tapi tolong kasih aku kesempatan untuk membuktikan ya?” Leon menatap Sonya sekilas, lalu berdecak pelan. “Dengar itu, Leon. Sonya ini memang wanita baik-baik, jadi berhentilah berprasangka buruk ke dia,” sahut Gito. Lagi-lagi, Leon hanya menghela napas. Pria tua yang gila wanita seperti itu mana bisa membedakan wanita tulus dan tidak. “Udah, gak apa-apa, Mas. Leon pasti butuh waktu.” Sonya mengusap lembut lengan Gito, setelah itu kembali menatap Leon dengan senyum ramah. “Oh iya, aku dengar kamu suka nasi goreng ya? Aku buatin untuk makan malam ya?” Leon semakin merasa muak, dan langsung berkata, “Ck, gak usah sok baik.” Setelah berkata seperti itu, Leon langsung menutup pintu kamarnya dengan agak keras. Leon duduk di tepi ranjang dengan wajah kesal. Akhirnya, dia memilih untuk menghubungi temannya. “Halo, gimana bro? Bokap lo udah pulang sama istri barunya?” tanya Andra dari seberang, teman kuliah Leon yang selalu mempunyai banyak ide gila. “Udah barusan. Masa muka itu cewek sok kalem banget, segala mau bikinin gue nasi goreng,” jelas Leon dengan nada kesal sambil merebahkan tubuhnya di ranjang. “Yah, lagu lama kaset rusak itu mah. Udah gue bilang, cewek kayak gitu modusnya banyak. Lo harus hati-hati,” ujar Andre menasihati. Leon kembali menghela napas, lalu berkata, “Gimana caranya bikin dia keluar dari rumah ini ya? Bokap gue kayak kecintaan banget gitu.” “Gini, gue ada ide cemerlang,” ujar Andre dengan nada serius. “Lo kan ganteng, badan lo juga bagus atletis. Gimana kalau lo coba godain dia, terus lo rekam semuanya buat jadi bukti ke bokap lo.” Mendengar itu, Leon langsung membelalakkan matanya. Dadanya terasa bergemuruh. Itu adalah ide paling gila di dunia ini! “Lo jangan gila, Dra! Masa gue harus godain ibu tiri gue sendiri?!” Andra tertawa di seberang. “Eh, justru itu poinnya. Kalau dia beneran tulus gak cuma ngincer harta, harusnya dia gak akan tergoda, kan? Jadi lo gak perlu kasih bukti apa-apa juga ke bokap lo.” Leon kembali terdiam. Sejujurnya, bagi Leon, itu cukup masuk akal. Hanya saja, dia masih ragu karena hal ini benar-benar berisiko. ‘Kalau dia tulus, pasti gak akan tergoda dan gue bisa langsung berhenti. Niat gue kan bukan jahat, gue cuma gak mau harta yang harusnya bisa buat masa depan gue jadi diambil orang lain’ pikir Leon dalam hati, mencoba merasionalkan rencana itu. Akhirnya, Leon berkata, “Oke, gue akan coba. Tapi kayaknya gue butuh waktu juga, gak bisa langsung. Takut juga gue.” “Haha, santai aja, Bro. Pelan-pelan yang penting siapin kamera,” ujar Andra sambil tertawa. Setelah itu, sambungan telepon terputus. Leon menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran campur aduk. Sampai akhirnya, tanpa sadar dia tertidur. Larut malam, pukul 1 dini hari, tiba-tiba Leon terbangun. Tenggorokannya terasa kering, kepalanya juga menjadi agak pusing. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengambil segelas air di dapur. Rumah itu terasa sunyi, lampu-lampu sudah banyak dimatikan. Sebelum sampai di dapur, Leon melirik ke arah kamar ayahnya sejenak, lalu berdecak pelan. “Puas-puasin,” gumam Leon lirih sambil terus berjalan ke arah kulkas. Dia tahu, pasti bulan madu masih kurang untuk ayahnya yang tak pernah puas dengan wanita. Namun, begitu Leon mengambil sebotol air dingin dari kulkas dan menenggaknya, tiba-tiba muncul sebuah suara. “Leon, kamu belum tidur?” Leon langsung menoleh cepat. Dari arah ruang tengah, Sonya muncul dengan gaun tidur sutra berwarna putih tipis yang nyaris transparan. Lekuk tubuhnya terlihat sangat menggoda di bawah temaram lampu rumah. Bahkan, pakaian dalam renda berwarna merah itu cukup jelas di mata Leon. Glek! Sejenak, Leon seperti dibuat lupa daratan. Namun, sesaat kemudian dia mencoba kembali sadar bahwa itu adalah wanita yang akan merusak statusnya sebagai ahli waris. Dia langsung memalingkan wajahnya. Sonya berjalan mendekat ke arah kulkas dengan tenang, lalu mengambil satu botol minuman lain dari sana. “Tadi aku sudah buat nasi gorengnya, tapi waktu aku ke kamar kamu, ternyata kamu lagi tidur pulas. Aku gak enak untuk bangunin jadinya. Besok pagi akan aku buat nasi goreng yang baru ya,” ujar Sonya sambil menuang air mineralnya ke dalam gelas dan menatap Leon. Leon melirik wanita itu sekilas, tak ingin menjawab. Namun, ide dari Andre tiba-tiba kembali muncul. ‘Sepertinya, ini kesempatanku,’ pikir Leon dalam hati. Namun, belum sempat Leon bergerak, Sonya lebih dulu berjalan ke arah wastafel untuk meletakkan gelas yang sudah ia pakai. Saat itu juga, tiba-tiba Sonya justru tersandung kakinya sendiri, membuat sisa air di dalam gelasnya tersiram tepat ke bagian paha Leon. “Aduh!” pekik Sonya terkejut, tubuhnya terhuyung hingga menabrak Leon.Marlena masih duduk di pangkuan Beni, napasnya perlahan mereda. Batang kejantanan masih tertanam di dalam liang keintimannya. Dia mengusap keringat di pelipis Beni, lalu berbisik dekat telinga pria itu.“Peluk saya dari belakang. Pelan saja.”Beni mengangguk. Marlena mengangkat tubuhnya dengan hati-hati. Batang kejantanan keluar dengan bunyi basah yang lembut. Mereka berbaring miring. Marlena membelakangi Beni, punggung menempel ke dada pria itu. Satu tangan Marlena meraih batang kejantanan dari belakang, menggosokkannya pelan di antara bibir liang keintimannya yang masih sangat licin, lalu mengarahkannya kembali ke pintu masuk.Beni mendorong masuk dengan sangat pelan. Kepala masuk terlebih dahulu. Marlena menghela napas panjang. Kemudian seluruh panjangnya menyusul, sentimeter demi sentimeter, sampai pangkal menempel di kulitnya. Posisi miring membuat sudutnya berbeda. Rasa penuh itu datang lebih merata, lebih dalam, seolah mengisi dari arah yang belum sempat mereka nikmati tadi.Be
Mobil sampai di apartemen. Marlena dan Beni naik ke lantai dua puluh satu tanpa banyak bicara. Begitu masuk unit, Beni langsung merebahkan diri di ranjang Marlena seolah itu sudah menjadi kebiasaannya.“Saya cuma rebahan sebentar, Nona,” katanya.Belum sempat Marlena menjawab, suara ngorok sudah keluar.“GROKK… GROKK…”Marlena menggeleng pelan. Dia masuk kamar mandi, mandi dengan air hangat, membiarkan sisa ketegangan di lift dan ruang rapat luruh bersama busa. Di balik pintu kaca, pikirannya tidak ke Brata atau Petu. Melainkan ke pria yang sedang ngorok di ranjangnya. Pria yang menangkap peluru, menangkis pembunuh, dan tetap saja makan udang dari lantai.Dia ingin memberikan sesuatu. Bukan gaji tambahan. Bukan ucapan terima kasih di koridor. Sesuatu yang lebih pribadi. Karena kali ini, dia yang meminta.Marlena keluar dengan handuk terikat di dada. Beni masih terlentang, mulut sedikit terbuka, ngoroknya teratur. Selimut hanya menutupi pinggang ke bawah. Marlena mendekat, duduk di tep
"SAKIT!" teriak salah satu pria.Beni memukul punggung mereka berdua dengan telapak tangannya. Dua pria itu langsung tersungkur ke lantai lift. Wajah mereka menahan nyeri. Satu memegangi kepala, satu lagi memegangi punggung.Marlena berdiri terpaku. "Beni! Kamu tidak apa-apa?""Aku tidak apa-apa, Nona. Cuma telapak tangan saya agak panas. Itu efek nyambut peluru. Biasa."Beni menatap dua pria yang terkapar. "Siapa yang menyuruh kalian?"Mereka tidak menjawab. Hanya erangan kesakitan."Aku tanya sekali lagi. Siapa yang menyuruh?""Kami tidak akan bicara," jawab salah satu pria itu.Beni menatap Marlena. "Nona, ini orang keras kepala. Saya butuh cara lebih.""Kalau tidak mau bicara, kita serahkan ke polisi," kata Marlena."Sebentar, Nona. Saya punya cara lain." Beni menggenggam liontin di lehernya. "Kakek Piyama, saya tukar poin. Kekuatan penyiksa tingkat satu. Sekarang juga."Liontin itu bergetar pelan. Energi mengalir ke telapak tangan Beni. Dia merasakan jari-jarinya seperti memegang
Tibo menatap pemandangan itu. Lalu dia tertawa. Tawanya keras, memenuhi ruangan."HAHAHA! Itu pengawalmu?!"Para pemegang saham ikut tertawa. Beberapa menutup mulut, beberapa terbahak-bahak. Brata bahkan ikut tersenyum sinis.Marlena merasakan wajahnya panas. "Dia... dia hanya sedang beristirahat.""Beristirahat? Dia tidur dengan air liur sampai membanjiri meja! Itu bukan pengawal, itu tukang tidur!"Tibo bangkit dan berjalan ke pintu. Dia membuka pintu lebar-lebar supaya semua orang bisa melihat dengan jelas. "Lihat! Pengawal saya berdiri tegak menjaga nyawa saya. Sementara pengawal Anda tidur seperti bayi. Bahkan mungkin mimpinya tentang makan bakso!"Tawa makin keras. Beni masih tidur. Air liurnya makin banyak.Marlena menghentakkan kakinya pelan. Dia ingin membangunkan Beni, tapi itu justru akan mempermalukan dirinya lebih jauh. Tapi ia kemudian teringat semua pertolongan Beni. Pria itu memang tidur sembarangan. Tapi di balik itu semua, dia selalu ada saat dibutuhkan."Tibo, terim
Sambil makan, Beni menyuruh Hadi Jaya membelikan jarum akupuntur. Hadi Jaya langsung memerintahkan asistennya. Sementara itu, Beni menghabiskan semua buah dan kue di meja. Marlena hanya bisa geleng-geleng kepala.Setelah jarum datang, Beni mulai memeriksa istri Hadi Jaya. Kemampuan penyembuh tingkat lanjut yang baru saja dia aktifkan dari poin liontin bekerja. Beni bisa melihat titik-titik energi di tubuh wanita itu."Bu, tenang saja. Ini cuma seperti ditusuk jarum kecil. Nanti juga enak.""Enak?" istri Hadi Jaya bingung."Ya. Seperti dipijat. Tapi dari dalam."Beni menusukkan jarum ke beberapa titik. Tangannya bergerak cepat. Darah mulai keluar dari mulut dan pori-pori istri Hadi Jaya. Hadi Jaya panik."Kenapa keluar darah?!""Tenang, Pak. Itu darah kotor. Penyakitnya ikut keluar."Beberapa menit kemudian, istri Hadi Jaya merasakan tubuhnya yang semula lemas kini menjadi ringan. Wajahnya berseri. Dia menatap Beni dengan takjub."Saya... saya merasa seperti baru. Saya tidak sakit lagi
Beni keluar dari kamar Sonya dengan langkah pelan. Sonya sudah tertidur pulas, dia terlihat puas, dengan senyum tipis di wajahnya.Beni menutup pintu perlahan, lalu berjalan menyusuri koridor menuju tangga.Begitu sampai di lobi, Beni langsung berhenti. Marlena duduk di sofa dengan tangan terlipat di depan dada. Wajahnya dingin, matanya menatap Beni seperti ingin menusuk."Nona Marlena? Tumben menunggu di sini," sapa Beni canggung.Marlena berdiri. "Naik mobil. Sekarang.""Nada suaranya ketus, Beni tidak tahu apa yang terjadi. Dia mengikuti Marlena keluar kos dan masuk ke mobil.Marlena duduk di sisi jendela, menatap ke luar, dan sama sekali tidak menoleh ke arah Beni. Sopir sudah siap di balik kemudi. Mobil melaju pelan meninggalkan halaman kos."Nona, apa ada masalah? Kok kelihatan kesal?" tanya Beni.Marlena diam."Kalau saya salah, bilang dong. Jangan diam saja. Saya jadi takut nih."Marlena masih diam."Jangan-jangan Nona belum makan. Makanya marah. Kalau lapar, bilang. Kita mamp
Sabtu ini terasa seperti mimpi demam yang tak pernah berakhir, di mana setiap detik di rumah besar itu dipenuhi dengan ketegangan erotis yang tak terucapkan antara Leon dan Sonya.Gito, ayah Leon, menghabiskan hari liburnya dengan santai—membaca koran di teras pagi hari, menonton pertandingan sepak
Hari ini, Leon memutuskan untuk mengubah rutinitasnya, berharap bisa mengalihkan pikiran dari kegelisahan yang semakin menjadi. Sejak malam sebelumnya, bayangan Sonya menghantuinya seperti hantu, mengikuti setiap gerak-geriknya di kelas, di kantin, bahkan di tidurnya. "Aku perlu hiburan," gumamnya
Leon tidak peduli. Tangannya mulai bergerak, dengan lembut tapi kuat meremas pinggul Sonya, menariknya semakin dekat sampai tubuh mereka menempel. "Tenang, Ayah belum pulang," bisiknya, bibirnya berpindah ke leher Sonya, mencium dan menjilati kulit lembut di sana dengan gerakan lambat, meninggalkan
Pagi ini, sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui tirai kamar Leon, membangunkannya dari tidur yang gelisah. Malam sebelumnya terasa seperti mimpi indah yang manis... sentuhan Sonya, desahannya, aroma kulitnya masih melekat di ingatannya. Namun kini, saat Leon membuka mata, kekhawatiran mera







