LOGINCleo ikut mendekat dari sisi lain, ia mulai melepas ikat pinggang kulitnya dengan suara klik yang mematikan
"Jangan takut. Kami akan mengajarimu banyak hal yang tidak ada di buku kuliahmu. Pelajaran pertama... kepatuhan." Syifa meringkuk, memeluk lututnya di tengah ranjang. Ia merasa seperti domba kecil yang terkepung oleh dua serigala kelaparan. Ia memejamkan mata rapat-rapat, berharap ini hanya mimpi. "Buka matamu. Lihat siapa yang akan menguasai setiap jengkal tubuhmu malam ini." Tepat saat tangan Cleo mulai menarik paksa kerah seragam Syifa hingga kancing paling atas terlepas, terdengar suara langkah kaki berat dan ketukan keras di pintu kamar. "Tuan Muda! Buka pintunya! Ada panggilan darurat dari rumah sakit mengenai Ibu Syifa!" teriak suara Bi Sumi dari balik pintu dengan nada panik yang luar biasa. Suasana panas yang menyelimuti kamar itu mendadak mendingin saat teriakan Bi Sumi menembus pintu kayu jati yang kokoh. "Siapa yang menyuruhmu naik, hah?! Sialan!" bentak Cleo dengan suara yang menggelegar. "Tuan... maafkan saya, Tuan! Tapi ini darurat. Ibu Syifa mendadak kritis di rumah sakit. Pihak medis baru saja menelepon. Kami takut... kami takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan jika Syifa tidak segera ke sana," ucap Bi Sumi dari balik pintu. "Tuan Muda... saya mohon. Izinkan saya keluar. Saya mohon... hanya Ibu yang saya punya di dunia ini. Jika sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya dan saya tidak ada di sana untuk melihatnya terakhir kali... saya benar-benar akan bunuh diri di depan kalian dan menghantui Tuan berdua selamanya!" "Sialan! Pergi sana! Urus ibumu yang penyakitan itu!" bentak Cleo sambil menendang kaki ranjang dengan keras. Dia kembali merapikan pakaiannya dengan wajah kusut. Syifa tidak menunggu perintah kedua. Ia segera turun dari ranjang dengan kaki lemas. "Dengar baik-baik, Pelayan. Kau dan kami belum selesai. Urusan kita malam ini hanya tertunda, bukan berakhir." Cleo melangkah mendekat, berdiri di samping saudara kembarnya. "Dan satu hal lagi... aku tahu Mama yang membiayai pengobatan ibumu. Jika kau mencoba kabur, atau sengaja berlama-lama di rumah sakit untuk menghindari kami... aku jamin, biaya pengobatan ibumu akan terhenti detik itu juga. Kau tahu apa artinya itu, bukan?" Syifa menelan ludah. Ancaman itu lebih mengerikan daripada apa pun. Mereka tidak hanya mengancam tubuhnya, tapi juga nyawa ibunya. "Paham?!" bentak Cleo lagi. "Pa-paham, Tuan Muda," jawab Syifa terbata. "Sekarang pergi. Sebelum aku berubah pikiran dan membiarkan ibumu mati tanpa melihat wajahmu," usir Zero dingin sambil melepaskan cengkeramannya. Syifa berlari keluar kamar, nyaris menabrak Bi Sumi yang berdiri pucat di depan pintu. Tanpa kata, Bi Sumi segera menarik tangan Syifa menuju tangga, membawa gadis itu menjauh dari zona maut tersebut. * "Bi... Ibu baik-baik saja?" tanya Syifa, setelah melewati lorong rumah sakit dan berhenti tepat didepan ruangan ibunya. "Benar, Nak. Ibumu baik-baik saja, bahkan kondisinya jauh lebih stabil malam ini." Syifa mengernyitkan dahi, bingung bercampur lega. "Lalu... telepon darurat itu? Tadi Bibi bilang Ibu kritis?" "Maafkan Bibi, Syifa. Bibi terpaksa berbohong. Bibi hanya ingin menyelamatkanmu dari Tuan Muda. Bibi tidak tega jika gadis sepolos kamu dijadikan mainan oleh dua pria lapar itu. Sejak dulu mereka memang seperti itu, benar-benar tidak punya etika," ucap Bi Sumi dengan nada geram yang tertahan. "Memangnya... mereka separah itu ya, Bi?" tanya Syifa ragu. Bi Sumi mendengus pelan, seolah sedang mengingat-ingat memori buruk. "Sejak dulu, setiap kali mereka pulang libur kuliah, rumah itu tidak pernah tenang. Mereka sering membawa perempuan ke rumah, dan setiap pagi, kamu tahu apa yang Bibi temukan di kamar mereka?" "Apa, Bi?" tanya Syifa polos. Bi Sumi terkekeh hambar, namun matanya memancarkan rasa jijik. "Pengaman mereka... berserakan di lantai begitu saja. Mereka bahkan tidak repot-repot membuangnya ke tempat sampah. Seolah mereka ingin memamerkan 'kemenangan' mereka pada para pelayan di sana." "Ya ampun, Bi..." Syifa menggelengkan kepala, tangannya menutup mulut karena terkejut. Bayangan tentang apa yang hampir terjadi padanya di ranjang tadi kembali melintas, membuat bulu kuduknya merinding. "Begitulah, Nak. Itulah hasil kalau anak hanya punya harta, tapi tidak dapat perhatian sama sekali," lanjut Bi Sumi sambil menatap kosong ke arah lorong. "Tuan Besar selalu sibuk bekerja, nyonya selalu sibuk dengan teman sosialita nya. Mereka pikir anak-anak hanya butuh kartu ATM, itu cukup, tapi nyata nya, mereka butuh lebih dari itu untuk menjaga moral mereka tetap terjaga. Setelah Memasuki usia Sma, mereka terlihat semakin liar, mereka bahkan pernah menghamili gadis dibawah umur, dan ketahuan menggugurkan nya. Beruntung, orang tua si gadis mau diberi uang tutup mulut, tapi besok-nsok nya lagi, mereka kembali membawa gadis ke rumah, saat nyonya atau tidak dirumah. Bibi rasa mereka hanya haus perhatian, dan merasa sendirian " ""Kasihan juga ya, Bi... Pantas saja mereka jadi kasar begitu," gumam Syifa lirih. Bi Sumi segera menoleh dan menatap Syifa dengan tajam, seolah memperingatkan. "Sudahlah, Syifa. Iba boleh, tapi jangan sampai kamu lengah. Apapun masalah keluarga mereka, tidak seharusnya itu menjadi alasan untuk merusak orang lain atau menjadi 'busuk', Nak. Trauma bukan alasan untuk menjadi jahat. Mungkin mereka memang sudah nakal dari sananya, atau mungkin mereka merasa dunia berhutang pada mereka." "Kamu harus hati-hati, Syifa. Ancaman mereka soal biaya pengobatan ibumu itu serius. Nyonya Hana memegang kendali keuangan, tapi Cleo dan Zero punya cara sendiri untuk menghancurkan hidup seseorang jika mereka mau," Bi Sumi merendahkan suaranya. "Malam ini kamu selamat, tapi besok saat kamu kembali ke rumah itu... kamu akan masuk ke sarang serigala yang sedang marah karena mangsanya lepas." Saat mereka sedang asyik berbicara, ponsel Syifa yang berada di saku seragamnya bergetar hebat. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun isinya membuat wajah Syifa seketika pucat pasi. “Kami tahu Bi Sumi berbohong. Nikmati waktu terakhirmu bersama ibumu malam ini, Syifa. Karena besok pagi, hukumanmu akan dimulai tepat saat kakimu menyentuh lantai rumah kami. Jangan coba-coba lari, atau tabung oksigen ibumu akan kumatikan dari sini.”"Syifa, kamu nggak ke rumah sakit malam ini?" Suara Bi Sumi memecah lamunan Syifa di dapur. Syifa menoleh, mendapati Bi Sumi sudah rapi dengan tas kecil di tangannya. "Nggak, Bik. Bibi mau ke mana?" "Tuan Besar minta Bibi ke villanya sekarang. Ada urusan mendadak," jawab Bi Sumi singkat."Tuan Besar? Kenapa mereka nggak serumah, Bik? Nyonya Hana kan disini." tanya syifa heran.Bi Sumi mendengus pelan, wajahnya tampak enggan bicara banyak."Biasalah, Syifa. Rumah sebesar ini saja isinya dingin, apalagi hati orang di dalamnya. Mereka udah lama punya urusan masing-masing. Bibi jalan dulu, ya. Supir sudah jemput." Suara klakson mobil di depan halaman menyentak Syifa, menyadarkan nya kalau dia kini sendirian. "Mampus aku. Sendirian," bisik Syifa. Jantungnya mulai berdegup kencang. Ia teringat janji gila yang ia buat tadi pagi di meja makan. Niatnya ingin terlihat berani, tapi sekarang nyalinya menciut sampa
"Oh baby, kamu terlihat sangat tampan siang ini. Sudah lama tidak jumpa, Sayang," bisik Nia melihat Zero yang baru saja melangkah memasuki Klub VVIP itu. Tangannya yang lentur terulur manja, melingkar di leher Zero yang baru saja memasuki ruangan. "Nia, kau tetap agresif seperti biasa." Sindirnya. "Mau main denganku?" tawar Nia tanpa basa-basi. Ia sengaja menyingkap gaun mini-nya hingga jauh ke atas paha, memamerkan kulitnya yang berkeringat tipis. "Aku lebih suka barang yang belum disentuh," ucap Zero dingin sambil meraih gelas wiski dari meja dan meneguk nya kasar. "Padahal dulu kamu tergila-gila dengan gerakanku, Sayang. Aku jauh lebih hebat daripada siapa pun di atas ranjang," keluh Nia sambil mengerucutkan bibirnya. "Aku sedang butuh mainan baru, dan kau bukan lagi seleraku," ucap Zero, melepaskan tangan Nia dari lehernya dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Nia berdiri mematung, dadanya naik turun. "Oh, sial... Melihatnya saja aku sudah panas dingin be
Syifa mengunci diri di kamar mandi dapur yang sempit, setelah kedua majikan nya meninggalkannya sendirian. "Aku takut... Aku takut!" gumamnya dengan napas tersengal. Bayangan wajah Zero yang dingin dan seringai Cleo semalam berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Tubuhnya masih terasa kotor, seolah sisa-sisa perlakuan mereka semalam tidak akan pernah benar-benar hilang meski digosok dengan sabun paling keras sekalipun. "Tapi aku tidak punya pilihan," ia menatap pantulannya di cermin buram. Matanya merah, namun ada api yang mulai menyala di sana. "Kalau aku menyerah sekarang, Ibu yang akan mati." Syifa mematikan keran. Keheningan mendadak terasa mencekik. Ia menghirup napas dalam, menelan kembali semua rasa takutnya ke dasar perut. Ia harus melewati ini. Ia harus menjadi "iblis" yang lebih pintar dari mereka. Baru saja ia keluar dari kamar mandi, sebuah bayangan tinggi sudah menunggunya di lorong dapur yang sepi. Cleo. "Bagus sekali. Menangis di pojokan setelah ber
Syifa tersentak bangun. Hal pertama yang ia rasakan adalah lengket yang mengering di wajah dan lehernya. Bau amis yang tajam menyerang indra penciumannya. Ia menyibak selimut, memeriksa pangkal pahanya. Tidak ada darah. Tidak ada rasa sakit robek di sana. "Sialan. Mereka cuma menjadikanku tempat sampah," desisnya. Syifa menyeret langkah ke cermin retak di pojok kamar. Matanya melotot tajam melihat pantulan dirinya. Wajahnya berantakan, jejak putih mengering itu seolah menertawakan harga dirinya. Ia meraih waslap, menggosok kulitnya hingga memerah dan perih. Air matanya tidak keluar. Rasa sedihnya sudah hangus, berganti menjadi amarah yang dingin. "Ibu harus sembuh," gumamnya pada bayangan di cermin. "Apapun taruhannya. Kalau mereka mau main api, aku akan jadi bensinnya." Selesai mandi, Syifa memakai seragam pelayannya, mengancingkannya hingga rapat ke leher. Ia keluar dari paviliun dengan langkah mantap. Di ruang tengah, Cleo dan Zero sudah duduk di meja makan, seolah tidak
"Hei, berhenti diam! Dan nikmati ini sepenuhnya," goda Syifa dengan suara serak, sementara kelopak matanya nyaris terpejam rapat akibat pengaruh alkohol. Syifa menarik kepala Cleo lebih dekat, memaksa pria itu mendekat ke arah dadanya. "Kau ingin apa, hm?" gumam Cleo, merasa tertantang sekaligus terkejut dengan perubahan drastis pelayan di depannya. "Apa Tuan tidak tertarik mencobanya?" bisik Syifa tepat di depan bibir Cleo, aroma alkohol bercampur parfum manis tercium dari napasnya. Cleo tertawa kecil, sebuah tawa rendah yang berbahaya. Ia tidak berniat mengabaikan undangan itu. Sementara itu, Zero membantu Syifa menanggalkan sisa-sisa kain yang menutupi tubuhnya. Kini, tubuh yang beberapa jam lalu mereka hina "berlemak" itu justru terlihat begitu menggiurka. "Hei, Zero! Aku duluan!" ucap Cleo tak sabar. Bibirnya langsung menyerang dengan rakus, bermain di area bukit empuk milik Syifa. Zero tak mau kalah. Dalam posisi terlentang, ia meraih bagian bawah tubuh gadis i
Dalam kegelapan yang menyergap, indra perasa Syifa mendadak menjadi jauh lebih tajam. Ia tidak bisa melihat apa-apa, namun ia bisa merasakan kehadiran dua sosok yang mengurungnya di atas ranjang sempit. "Tuan... hmmm... Apa yang Anda lakukan?" gumam Syifa dengan suara yang tercekik. Sesuatu yang asing memaksa masuk kedalam mulut nya, mendominasi celah bibirnya yang gemetar. Dalam kebutaan itu, satu-satunya pegangan yang ia punya hanyalah pinggiran kasur yang ia remas kuat. "Ini milikku,kau tahu ini bukan? tanpa perlu aku jelaskan," bisik Cleo dengan suara parau yang penuh kemenangan. "Kau tahu, mulut berbisa yang tadi berteriak soal harga diri itu bisa menjadi penenang yang sangat baik bagi kami. Lakukan tugasmu dengan benar jika kau tidak ingin kehilangan 'kesucian' yang kau banggakan itu terlalu cepat malam ini." "Tuan, saya... hmm... saya tidak bisa..." Syifa berusaha memalingkan wajah, namun tangan Cleo mengunci tengkuknya dengan cengkeraman yang tak tergoyahkan.







