Masuk"Ya sudah, Bi. Ayo kita balik sekarang," ucap Syifa, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. Berusaha menutupi ketakutan akan ancaman dari pria itu.
"Kamu yakin? Kenapa tidak menginap saja di sini menjaga Ibu?" tanya Bi Sumi penuh kekhawatiran. "Tidak apa-apa, Bi. Lagipula ini sudah malam, Ibu butuh istirahat tenang tanpa gangguan. Kita harus kembali sebelum mereka curiga." Ucap Syifa berusaha memaksakan senyuman diwajahnya. "Bagaimana kalau mereka macam-macam lagi?" "Aku bakal jaga diri, Bi. Tenang saja," bohong Syifa. Di dalam hatinya, ia merasa seperti sedang berjalan menuju tiang gantungan. Sesampainya di mansion Dewangga, Syifa segera menyelinap menuju paviliun belakang, tempat kamar para pelayan berada. Ia segera menutup pintu, merebahkan tubuhnya yang terasa remuk di atas kasur tipis, lalu menatap pantulan wajahnya di cermin kecil. "Ya ampun... lelah sekali hidup ini," batin Syifa. Matanya sembab, dan gurat kelelahan tidak bisa disembunyikan lagi. Cklek. Cleo berdiri di sana, menyandarkan tubuhnya pada bingkai pintu sambil memegang sebotol minuman keras yang isinya tinggal setengah. "Tuan... maaf, ada apa ke sini?" Syifa bangkit dengan waspada. "Ada apa? Ini rumahku. Terserah aku ingin melakukan apa pun, di mana pun, tanpa perlu kau tahu alasannya," gumam sebuah suara dari belakang Cleo. Ternyata Zero juga ada di sana, menutup pintu kamar Syifa dengan rapat. Syifa panik. Ia hendak berlari menuju pintu, namun tangan Zero yang dingin dan kuat meraih pergelangan tangannya dengan gerakan secepat kilat. Dalam hitungan detik, Syifa ditarik dan terhempas tepat di pangkuan Zero yang duduk di satu-satunya kursi di kamar itu. "Berbalik..." perintah Zero, suaranya berat dan serak. "Tidak, Tuan... ini terlalu dekat," gumam Syifa, berusaha memberontak, namun kekuatan Zero seperti lilitan ular sanca. "Aku tidak akan melakukan sesuatu yang menyusahkanmu jika kau menurut. Bantu aku saja," bisik Zero tepat di tengkuk Syifa. "Bantu? Bantu apa?" tanya Syifa polos, meski hatinya sudah menebak ke arah mana pembicaraan ini. "Ya... kau bisa merasakannya sendiri, kan? Sesuatu di bawah tempat kau duduk sedang menuntut haknya untuk segera kutuntaskan." Deg. Wajah Syifa memanas hingga ke telinga. Ia merasakan ketegangan yang nyata di bawah sana. Syifa menggeleng kuat-kuat, mencoba melepaskan diri, namun tiba-tiba tangan Zero menjambak rambutnya dengan lembut tapi tegas, menarik kepalanya ke belakang hingga Syifa terpaksa mendongak. Di saat itulah, bibir Zero menyambar bibir Syifa dengan ciuman yang menuntut, penuh rasa lapar yang tertahan. "Tuan... hmmph..." gumam Syifa di sela ciuman itu. Lehernya terasa pegal karena posisi duduk yang membelakangi pria itu. "Tuan! Lepas... leher saya bisa patah kalau begini!" "Kalau begitu, ubah posisi dudukmu, Bodoh!" bentak Zero pelan, namun nadanya sarat dengan gairah yang meledak-ledak. Syifa akhirnya memilih duduk di sampingnya, di pinggiran kursi, tidak berani menatap manik mata pria itu. Tatapan Zero terlalu menakutkan, seolah sanggup menelanjangi jiwanya. Ia takut apa yang selama ini ia jaga dengan susah payah akan hilang malam ini juga. Cleo, yang sejak tadi menonton dari sudut kamar, mendekat dan berlutut di depan Syifa. Ia meletakkan botol minumannya, lalu menatap Syifa dengan tatapan yang sedikit lebih lembut namun tetap manipulatif. "Aku akan memberikanmu seratus juta rupiah. Bagaimana?" tawar Cleo tiba-tiba. Syifa tersentak. Harga dirinya seperti ditampar. "Tuan! Harga diri saya tidak bisa dibeli begitu saja!" bentak Syifa dengan sisa keberaniannya. Zero terkekeh dingin di samping telinganya. "Sekalipun harga dirimu itu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ibumu? Kau pikir biaya rumah sakit itu gratis setelah ini? Mama mungkin membantu sekarang, tapi kami bisa membatalkannya hanya dengan satu telepon." Syifa terdiam. Lidahnya kelu. Ancaman itu adalah belati yang tepat mengenai jantungnya. "Tuan mau apa sebenarnya?" "Kamu," bisik Zero. Tangan Zero mulai merayap ke leher Syifa, mengusap kulitnya yang halus dengan jempolnya yang kasar. Tanpa sadar, tubuh Syifa berkhianat. Ia merasakan gejolak aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sentuhan itu panas, membakar rasa benci di hatinya menjadi sesuatu yang membingungkan. Mata Syifa terpejam, menikmati usapan lembut yang perlahan turun ke tulang selangkangnya. Astaga! Apa yang aku nikmati? Sadar, Syifa! Dia hanya berusaha merayumu untuk menghancurkanmu! batinnya berteriak, namun tubuhnya terasa seberat timah untuk digerakkan. Saat jemari Zero mulai menyusup ke balik pakaiannya, Cleo meraih tangan Syifa yang lain, mengecup telapak tangannya dengan lembut. Syifa terjepit di antara dua hasrat yang membara. "Pilih, Syifa. Menjadi milik kami dengan sukarela dan ibumu selamat, atau kami ambil paksa dan kau akan melihat ibumu diusir dari rumah sakit malam ini juga?" Tiba-tiba, lampu kamar padam total. Dalam kegelapan yang pekat, Syifa merasakan tarikan yang lebih kuat di kedua tangannya. Suara napas Cleo dan Zero terdengar semakin dekat di kedua sisi telinganya. "Karena gelap, kau tidak perlu malu melihat wajahmu sendiri saat kami menyentuhmu," bisik Zero yang disusul oleh suara ritsleting yang dibuka perlahan.Beberapa minggu kemudian, suasana di kediaman utama Dewangga bukannya makin tenang, malah makin gempar. Kabar kehamilan kedua Syifa sukses membuat sang kepala keluarga kehilangan akal sehat bisnisnya dan berubah menjadi pria super protektif yang tak masuk akal. "Mas! Tolong ya, Mas! Aku ini cuma mau turun tangga ke lantai bawah, kamu tidak perlu sampai memesan dan memasang lift di dalam rumah ini, paham?!" tegas Syifa, berdiri di undakan tangga teratas dengan kedua tangan di pinggang. Wajah cantiknya merona merah karena menahan kesal sekaligus geli. Bayangkan saja, baru tadi pagi Syifa berniat jalan-jalan pagi ke taman depan. Namun, Dewangga dengan wajah seriusnya langsung memerintahkan dua perawat pribadi agar Syifa duduk di kursi roda dan didorong sepelan mungkin. "Sayang, dengarkan aku dulu... Tangga ini licin, bagaimana kalau kamu—" "Dan aku tidak butuh perawat pribadi, Mas! Aku ini sedang hamil, bukan nenek-nenek jompo yang sedang sakit sakau! Kalau kamu memang mau kursi rod
"Kita mau ke pernikahan siapa, Sayang?" tanya Dewangga ragu sembari membetulkan jam tangan dimobil. Tidak biasanya Syifa mendadak mengajaknya pergi ke acara pernikahan yang lokasinya jauh dari sirkel bisnis mereka. Syifa hanya tersenyum misterius, menggenggam tangan suaminya erat. "Nanti kamu juga tahu, Mas." Ini adalah pernikahan Safa, kakak kandung Syifa. Kakak perempuan yang selama bertahun-tahun hidupnya hanya menjadi benalu, mengganggu kebahagiaan orang lain, menjadi pelakor, dan selalu menjaga jarak penuh kebencian dengan Syifa. Namun, takdir berkata lain ketika seminggu yang lalu, keduanya tidak sengaja bertemu di sebuah pusat perbelanjaan. Saat itu, Safa mendekat dengan langkah ragu. Sudah berapa tahun lamanya Safa tidak menatap adik kandungnya itu sedekat ini? Di tangannya, terselip sebuah undangan pernikahan sederhana. "Syifa..." panggil Safa lirih sembari menyodorkan undangan itu. "Aku sudah mengunjungi makam Ibu minggu lalu, di sana untuk meminta restu. Dan... seb
Satu tahun setelah duka mendalam melanda Zero, kediaman utama Dewangga tidak lagi diselimuti sunyi yang mencekam. Rumah megah itu kini justru berubah menjadi istana kecil yang penuh dengan keriuhan dan tawa melengking dari tiga anak kecil sekaligus. Ada Anaya yang kini hampir menginjak usia tiga tahun, Aura si bungsu yang terpaut empat bulan di bawahnya, serta si kecil Aruni—putri mendiang Alya dan Zero—yang juga dititipkan di sana selama Zero fokus menata kembali waras dan bisnisnya. Ketiga balita itu sejatinya memiliki babysitter masing-masing yang super ketat. Namun tetap saja, sebagai ibu kandung, ibu sambung, sekaligus—lucunya—menjadi "nenek muda" di usianya yang baru menginjak 24 tahun, Syifa tetap memegang kendali penuh untuk mengawasi mereka, terutama Aruni yang merupakan cucu sambungnya. Sore itu, Syifa baru saja selesai memastikan Aruni meminum susunya saat ia menangkap siluet seorang pria jangkung tegap di ambang pintu masuk utama. "Mas? Kamu sudah pulang?" tanya Syi
Langit di atas pemakaman seolah ikut berduka, diselimuti mendung tebal yang menggantung rendah. Suasana di sekitar gundukan tanah yang masih basah itu penuh dengan isak tangis yang menyayat hati. Di sana, Zero berdiri mematung bagai patung tanpa nyawa. Tak ada lagi air mata yang mengalir di pipinya, tak ada pula suara yang keluar dari bibirnya. Sorot matanya kosong, menatap lurus pada papan nisan bertuliskan nama wanita yang menjadi separuh alasan hidupnya. Di sampingnya, berdiri Hans dan Elia—kedua orang tua Alya—dengan tubuh yang terguncang hebat oleh duka yang teramat dalam. "Kalau bukan karena ulahmu... anak perempuan saya pasti masih hidup sekarang! Dasar laki-laki hina!" teriak Hans tiba-tiba, suaranya parau dan pecah karena amarah yang bercampur dengan rasa kehilangan yang masif. Pria paruh baya itu tidak memedulikan tatapan orang-orang di sekitar pemakaman. Baginya, Zero adalah pelaku tunggal di balik kematian putrinya. Zero hanya diam. Ia sama sekali tidak bergerak, tidak
Pintu ruang operasi akhirnya digeser terbuka. Namun, tidak ada senyum lega dari tim medis. Dokter yang keluar hanya menundukkan kepala dalam-dalam, menepuk bahu Zero pelan sebelum membisikkan kalimat yang seketika merenggut seluruh paksa kewarasan pria itu. Alya tidak bisa diselamatkan. Tapi bayi mereka hidup. Zero dipaksa melangkah masuk ke dalam ruangan yang kini terasa begitu dingin dan asing. Tubuhnya lemas bukan main, seolah-olah seluruh tulang di raganya lolos begitu saja. Kakinya bergetar hebat, terseok-seok meniti lantai semen medis yang menyengat hidung. Zero tidak berteriak. Ia tidak mengamuk. Kehancuran yang sesungguhnya justru tidak menyisakan ruang untuk suara. Ia hanya berjalan lambat, memandangi sosok yang terbaring kaku di atas ranjang operasi dengan selembar kain hijau yang menutupi sebagian dadanya. Wajah itu begitu damai, terlalu damai hingga terlihat sangat kejam bagi Zero. "Al..." Panggil Zero lirih. Suaranya pec
Ciiittt! Ban mobil sport Zero mencicit keras, bergesekan dengan aspal saat ia mengerem mendadak tepat di lobi darurat Rumah Sakit Pusat. Zero langsung keluar dari pintu kemudi, memutari mobil dengan napas memburu dan jantung yang berdegup menggila. Tanpa menunggu bantuan brankar dari petugas yang berlarian, Zero langsung menerobos masuk, menggendong sendiri tubuh Alya keluar dari mobil. Darah. Napas Zero tercekat saat telapak tangannya yang menopang paha dan bagian bawah gaun Alya mendadak terasa basah dan hangat. Di bawah temaram lampu lobi, cairan merah kental mengalir deras, membasahi jok mobil dan kini mengotori kemeja putih yang dikenakan Zero. "Dokter! Suster! Tolong istri saya!" teriak Zero parau, suaranya menggema membelah keheningan koridor instalasi gawat darurat. Tubuh Alya sudah sepenuhnya lemas di dalam dekapannya, kepalanya terkulai pasrah di bahu bidang Zero dengan sisa kesadaran yang timbul tenggelam. P
Dalam kegelapan yang menyergap, indra perasa Syifa mendadak menjadi jauh lebih tajam. Ia tidak bisa melihat apa-apa, namun ia bisa merasakan kehadiran dua sosok yang mengurungnya di atas ranjang sempit. "Tuan... hmmm... Apa yang Anda lakukan?" gumam Syifa dengan suara yang tercekik. Sesuatu
Cleo ikut mendekat dari sisi lain, ia mulai melepas ikat pinggang kulitnya dengan suara klik yang mematikan "Jangan takut. Kami akan mengajarimu banyak hal yang tidak ada di buku kuliahmu. Pelajaran pertama... kepatuhan." Syifa meringkuk, memeluk lututnya di tengah ranjang. Ia merasa seperti
"Mau lari ke mana? Hah? Kau kira ada yang bisa membantumu di rumah seluas ini? Tidak ada, Sayang," gumam Cleo pada syifa yang terlihat beranjak dari posisi semula. "Kemarilah... apa kami tidak cukup menarik untuk pelayan sepertimu? Aku akan memberikan sedikit cara memoles diri. Olahraga menyenangk
"Jangan dimasukkan hati, Syifa," bisik Bi Sumi sambil mengusap bahunya ketika mereka sudah didapur."Tuan muda memang begitu sejak kecil. Keras kepala." Ucap Bi sumi. Syifa hampir mengiris jarinya sendiri kalau dia tidak segera merebut pisau itu."Mereka kenapa harus pulang sih, Bik? Bagaimana kal







