Share

Bab 5 - Tawaran Iblis

Penulis: Pipin
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-11 14:24:19

"Ya sudah, Bi. Ayo kita balik sekarang," ucap Syifa, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. Berusaha menutupi ketakutan akan ancaman dari pria itu.

"Kamu yakin? Kenapa tidak menginap saja di sini menjaga Ibu?" tanya Bi Sumi penuh kekhawatiran.

"Tidak apa-apa, Bi. Lagipula ini sudah malam, Ibu butuh istirahat tenang tanpa gangguan. Kita harus kembali sebelum mereka curiga." Ucap Syifa berusaha memaksakan senyuman diwajahnya.

"Bagaimana kalau mereka macam-macam lagi?"

"Aku bakal jaga diri, Bi. Tenang saja," bohong Syifa. Di dalam hatinya, ia merasa seperti sedang berjalan menuju tiang gantungan.

Sesampainya di mansion Dewangga, Syifa segera menyelinap menuju paviliun belakang, tempat kamar para pelayan berada. Ia segera menutup pintu, merebahkan tubuhnya yang terasa remuk di atas kasur tipis, lalu menatap pantulan wajahnya di cermin kecil.

​"Ya ampun... lelah sekali hidup ini," batin Syifa. Matanya sembab, dan gurat kelelahan tidak bisa disembunyikan lagi.

Cklek.

Cleo berdiri di sana, menyandarkan tubuhnya pada bingkai pintu sambil memegang sebotol minuman keras yang isinya tinggal setengah.

"Tuan... maaf, ada apa ke sini?" Syifa bangkit dengan waspada.

"Ada apa? Ini rumahku. Terserah aku ingin melakukan apa pun, di mana pun, tanpa perlu kau tahu alasannya," gumam sebuah suara dari belakang Cleo.

Ternyata Zero juga ada di sana, menutup pintu kamar Syifa dengan rapat. ​Syifa panik. Ia hendak berlari menuju pintu, namun tangan Zero yang dingin dan kuat meraih pergelangan tangannya dengan gerakan secepat kilat. Dalam hitungan detik, Syifa ditarik dan terhempas tepat di pangkuan Zero yang duduk di satu-satunya kursi di kamar itu.

"Berbalik..." perintah Zero, suaranya berat dan serak.

​"Tidak, Tuan... ini terlalu dekat," gumam Syifa, berusaha memberontak, namun kekuatan Zero seperti lilitan ular sanca.

​"Aku tidak akan melakukan sesuatu yang menyusahkanmu jika kau menurut. Bantu aku saja," bisik Zero tepat di tengkuk Syifa.

​"Bantu? Bantu apa?" tanya Syifa polos, meski hatinya sudah menebak ke arah mana pembicaraan ini.

​"Ya... kau bisa merasakannya sendiri, kan? Sesuatu di bawah tempat kau duduk sedang menuntut haknya untuk segera kutuntaskan."

​Deg.

​Wajah Syifa memanas hingga ke telinga. Ia merasakan ketegangan yang nyata di bawah sana. Syifa menggeleng kuat-kuat, mencoba melepaskan diri, namun tiba-tiba tangan Zero menjambak rambutnya dengan lembut tapi tegas, menarik kepalanya ke belakang hingga Syifa terpaksa mendongak. Di saat itulah, bibir Zero menyambar bibir Syifa dengan ciuman yang menuntut, penuh rasa lapar yang tertahan.

​"Tuan... hmmph..." gumam Syifa di sela ciuman itu.

Lehernya terasa pegal karena posisi duduk yang membelakangi pria itu. "Tuan! Lepas... leher saya bisa patah kalau begini!"

​"Kalau begitu, ubah posisi dudukmu, Bodoh!" bentak Zero pelan, namun nadanya sarat dengan gairah yang meledak-ledak.

​Syifa akhirnya memilih duduk di sampingnya, di pinggiran kursi, tidak berani menatap manik mata pria itu. Tatapan Zero terlalu menakutkan, seolah sanggup menelanjangi jiwanya. Ia takut apa yang selama ini ia jaga dengan susah payah akan hilang malam ini juga.

​Cleo, yang sejak tadi menonton dari sudut kamar, mendekat dan berlutut di depan Syifa. Ia meletakkan botol minumannya, lalu menatap Syifa dengan tatapan yang sedikit lebih lembut namun tetap manipulatif.

​"Aku akan memberikanmu seratus juta rupiah. Bagaimana?" tawar Cleo tiba-tiba.

​Syifa tersentak. Harga dirinya seperti ditampar. "Tuan! Harga diri saya tidak bisa dibeli begitu saja!" bentak Syifa dengan sisa keberaniannya.

​Zero terkekeh dingin di samping telinganya. "Sekalipun harga dirimu itu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ibumu? Kau pikir biaya rumah sakit itu gratis setelah ini? Mama mungkin membantu sekarang, tapi kami bisa membatalkannya hanya dengan satu telepon."

​Syifa terdiam. Lidahnya kelu. Ancaman itu adalah belati yang tepat mengenai jantungnya.

​"Tuan mau apa sebenarnya?"

​"Kamu," bisik Zero.

​Tangan Zero mulai merayap ke leher Syifa, mengusap kulitnya yang halus dengan jempolnya yang kasar. Tanpa sadar, tubuh Syifa berkhianat. Ia merasakan gejolak aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sentuhan itu panas, membakar rasa benci di hatinya menjadi sesuatu yang membingungkan. Mata Syifa terpejam, menikmati usapan lembut yang perlahan turun ke tulang selangkangnya.

​Astaga! Apa yang aku nikmati? Sadar, Syifa! Dia hanya berusaha merayumu untuk menghancurkanmu! batinnya berteriak, namun tubuhnya terasa seberat timah untuk digerakkan.

​Saat jemari Zero mulai menyusup ke balik pakaiannya, Cleo meraih tangan Syifa yang lain, mengecup telapak tangannya dengan lembut. Syifa terjepit di antara dua hasrat yang membara.

​"Pilih, Syifa. Menjadi milik kami dengan sukarela dan ibumu selamat, atau kami ambil paksa dan kau akan melihat ibumu diusir dari rumah sakit malam ini juga?"

Tiba-tiba, lampu kamar padam total. Dalam kegelapan yang pekat, Syifa merasakan tarikan yang lebih kuat di kedua tangannya. Suara napas Cleo dan Zero terdengar semakin dekat di kedua sisi telinganya.

​"Karena gelap, kau tidak perlu malu melihat wajahmu sendiri saat kami menyentuhmu," bisik Zero yang disusul oleh suara ritsleting yang dibuka perlahan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 11 - Kau ingin penonton adegan ini?

    ​"Syifa, kamu nggak ke rumah sakit malam ini?" Suara Bi Sumi memecah lamunan Syifa di dapur. ​Syifa menoleh, mendapati Bi Sumi sudah rapi dengan tas kecil di tangannya. "Nggak, Bik. Bibi mau ke mana?" ​"Tuan Besar minta Bibi ke villanya sekarang. Ada urusan mendadak," jawab Bi Sumi singkat."Tuan Besar? Kenapa mereka nggak serumah, Bik? Nyonya Hana kan disini." tanya syifa heran.Bi Sumi mendengus pelan, wajahnya tampak enggan bicara banyak."Biasalah, Syifa. Rumah sebesar ini saja isinya dingin, apalagi hati orang di dalamnya. Mereka udah lama punya urusan masing-masing. Bibi jalan dulu, ya. Supir sudah jemput." ​Suara klakson mobil di depan halaman menyentak Syifa, menyadarkan nya kalau dia kini sendirian. ​"Mampus aku. Sendirian," bisik Syifa. Jantungnya mulai berdegup kencang. Ia teringat janji gila yang ia buat tadi pagi di meja makan. Niatnya ingin terlihat berani, tapi sekarang nyalinya menciut sampa

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 10 - Bukan mainan

    ​"Oh baby, kamu terlihat sangat tampan siang ini. Sudah lama tidak jumpa, Sayang," bisik Nia melihat Zero yang baru saja melangkah memasuki Klub VVIP itu. Tangannya yang lentur terulur manja, melingkar di leher Zero yang baru saja memasuki ruangan. ​"Nia, kau tetap agresif seperti biasa." Sindirnya. ​"Mau main denganku?" tawar Nia tanpa basa-basi. Ia sengaja menyingkap gaun mini-nya hingga jauh ke atas paha, memamerkan kulitnya yang berkeringat tipis. ​"Aku lebih suka barang yang belum disentuh," ucap Zero dingin sambil meraih gelas wiski dari meja dan meneguk nya kasar. ​"Padahal dulu kamu tergila-gila dengan gerakanku, Sayang. Aku jauh lebih hebat daripada siapa pun di atas ranjang," keluh Nia sambil mengerucutkan bibirnya. ​"Aku sedang butuh mainan baru, dan kau bukan lagi seleraku," ucap Zero, melepaskan tangan Nia dari lehernya dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. ​Nia berdiri mematung, dadanya naik turun. "Oh, sial... Melihatnya saja aku sudah panas dingin be

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 9 - Bakpao beracun

    Syifa mengunci diri di kamar mandi dapur yang sempit, setelah kedua majikan nya meninggalkannya sendirian. ​"Aku takut... Aku takut!" gumamnya dengan napas tersengal. ​Bayangan wajah Zero yang dingin dan seringai Cleo semalam berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Tubuhnya masih terasa kotor, seolah sisa-sisa perlakuan mereka semalam tidak akan pernah benar-benar hilang meski digosok dengan sabun paling keras sekalipun. ​"Tapi aku tidak punya pilihan," ia menatap pantulannya di cermin buram. Matanya merah, namun ada api yang mulai menyala di sana. "Kalau aku menyerah sekarang, Ibu yang akan mati." ​Syifa mematikan keran. Keheningan mendadak terasa mencekik. Ia menghirup napas dalam, menelan kembali semua rasa takutnya ke dasar perut. Ia harus melewati ini. Ia harus menjadi "iblis" yang lebih pintar dari mereka. ​Baru saja ia keluar dari kamar mandi, sebuah bayangan tinggi sudah menunggunya di lorong dapur yang sepi. Cleo. ​"Bagus sekali. Menangis di pojokan setelah ber

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 8 - Racun dalam Perjanjian

    Syifa tersentak bangun. Hal pertama yang ia rasakan adalah lengket yang mengering di wajah dan lehernya. Bau amis yang tajam menyerang indra penciumannya. Ia menyibak selimut, memeriksa pangkal pahanya. Tidak ada darah. Tidak ada rasa sakit robek di sana. ​"Sialan. Mereka cuma menjadikanku tempat sampah," desisnya. ​Syifa menyeret langkah ke cermin retak di pojok kamar. Matanya melotot tajam melihat pantulan dirinya. Wajahnya berantakan, jejak putih mengering itu seolah menertawakan harga dirinya. Ia meraih waslap, menggosok kulitnya hingga memerah dan perih. Air matanya tidak keluar. Rasa sedihnya sudah hangus, berganti menjadi amarah yang dingin. ​"Ibu harus sembuh," gumamnya pada bayangan di cermin. "Apapun taruhannya. Kalau mereka mau main api, aku akan jadi bensinnya." Selesai mandi, ​Syifa memakai seragam pelayannya, mengancingkannya hingga rapat ke leher. Ia keluar dari paviliun dengan langkah mantap. Di ruang tengah, Cleo dan Zero sudah duduk di meja makan, seolah tidak

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 7 - Tanda disekujur tubuh

    ​"Hei, berhenti diam! Dan nikmati ini sepenuhnya," goda Syifa dengan suara serak, sementara kelopak matanya nyaris terpejam rapat akibat pengaruh alkohol. ​Syifa menarik kepala Cleo lebih dekat, memaksa pria itu mendekat ke arah dadanya. "Kau ingin apa, hm?" gumam Cleo, merasa tertantang sekaligus terkejut dengan perubahan drastis pelayan di depannya. ​"Apa Tuan tidak tertarik mencobanya?" bisik Syifa tepat di depan bibir Cleo, aroma alkohol bercampur parfum manis tercium dari napasnya. ​Cleo tertawa kecil, sebuah tawa rendah yang berbahaya. Ia tidak berniat mengabaikan undangan itu. Sementara itu, Zero membantu Syifa menanggalkan sisa-sisa kain yang menutupi tubuhnya. Kini, tubuh yang beberapa jam lalu mereka hina "berlemak" itu justru terlihat begitu menggiurka. ​"Hei, Zero! Aku duluan!" ucap Cleo tak sabar. Bibirnya langsung menyerang dengan rakus, bermain di area bukit empuk milik Syifa. ​Zero tak mau kalah. Dalam posisi terlentang, ia meraih bagian bawah tubuh gadis i

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 6 - Tuan.. saya belum selesai

    Dalam kegelapan yang menyergap, indra perasa Syifa mendadak menjadi jauh lebih tajam. Ia tidak bisa melihat apa-apa, namun ia bisa merasakan kehadiran dua sosok yang mengurungnya di atas ranjang sempit. ​"Tuan... hmmm... Apa yang Anda lakukan?" gumam Syifa dengan suara yang tercekik. ​Sesuatu yang asing memaksa masuk kedalam mulut nya, mendominasi celah bibirnya yang gemetar. Dalam kebutaan itu, satu-satunya pegangan yang ia punya hanyalah pinggiran kasur yang ia remas kuat. ​"Ini milikku,kau tahu ini bukan? tanpa perlu aku jelaskan," bisik Cleo dengan suara parau yang penuh kemenangan. "Kau tahu, mulut berbisa yang tadi berteriak soal harga diri itu bisa menjadi penenang yang sangat baik bagi kami. Lakukan tugasmu dengan benar jika kau tidak ingin kehilangan 'kesucian' yang kau banggakan itu terlalu cepat malam ini." ​"Tuan, saya... hmm... saya tidak bisa..." Syifa berusaha memalingkan wajah, namun tangan Cleo mengunci tengkuknya dengan cengkeraman yang tak tergoyahkan. ​

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status