Beranda / Romansa / Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga / Bab 3 - Terjebak Dilantai Tiga

Share

Bab 3 - Terjebak Dilantai Tiga

Penulis: Pipin
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-11 13:44:37

​"Mau lari ke mana? Hah? Kau kira ada yang bisa membantumu di rumah seluas ini? Tidak ada, Sayang," gumam Cleo pada syifa yang terlihat beranjak dari posisi semula. "Kemarilah... apa kami tidak cukup menarik untuk pelayan sepertimu? Aku akan memberikan sedikit cara memoles diri. Olahraga menyenangkan yang akan membuat tubuhmu sedikit lebih baik, dan... berkeringat."

​Syifa melangkah mundur, kakinya terasa lemas seperti jeli. "Kalian... kalian mau apa?" tanya Syifa, suaranya bergetar hebat. Matanya bergerak liar mencari jalan keluar, namun pintu utama sudah dikunci rapat oleh Zero.

​Dalam hitungan detik, sebelum Syifa sempat berbalik untuk berlari, sebuah tangan kekar menyambar pinggangnya. Cleo menariknya dengan kasar, namun Zero lebih cepat bertindak. Dengan kekuatan yang tak terbendung, Zero mengangkat tubuh Syifa dan menyampirkannya di pundak tegapnya seperti karung beras.

​"Lepas! Lepas! Lepaskan aku, Tuan! Ini pelecehan!" bentak Syifa histeris. Ia memukul-mukul punggung keras Zero dengan tinjunya, menendang-nendang udara dengan kaki yang gemetar. Namun, bagi Zero, perlawanan itu tak lebih dari sekadar tepukan nyamuk.

"Aromamu wangi juga... aroma putus asa yang manis," gumam Zero pelan, suaranya bergetar di punggung Syifa, membuat gadis itu merinding ngeri.

Mereka menaiki tangga marmer menuju lantai atas. Setiap langkah Zero terasa seperti dentuman palu yang menghancurkan harapan Syifa. Cleo berjalan di belakang mereka, bersiul santai seolah mereka hanya sedang membawa mainan baru ke kamar bermain.

​Brak!

​Pintu kamar utama terbuka dan tertutup dengan bantingan keras. Zero menjatuhkan Syifa ke atas lantai karpet yang tebal. Syifa segera bangkit, merangkak mundur hingga punggungnya menabrak dinding dingin. Matanya menatap horor ke arah pintu yang kini dikunci rapat oleh Cleo.

​"Kalian gila! Nyonya Hana tidak akan tinggal diam jika tahu apa yang kalian lakukan!" teriak Syifa, mencoba membawa nama majikannya sebagai tameng terakhir.

​"Mama?" Cleo tertawa renyah. "Mama justru mengirimmu ke sini untuk memastikan kami 'betah' di rumah, bukan? Dia tahu persis apa yang dibutuhkan dua putranya yang sudah lama tertahan di asrama."

​Syifa tidak mendengarkan lagi. Insting bertahan hidupnya mengambil alih. Ia melihat jendela besar di sudut kamar yang sedikit terbuka. Tanpa pikir panjang, ia berlari sekencang mungkin, memanjat bingkai jendela dengan napas tersengal. Namun, saat kepalanya melongok ke luar, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.

​"Astaga..." batin Syifa lemas.

Kamar ini berada di lantai tiga. Di bawah sana hanya ada hamparan kolam renang batu alam dan lantai beton yang keras. Melompat dari sini bukan sekadar nekat, itu adalah bunuh diri. Harapannya runtuh seketika.

​"Mau kabur?" Suara Cleo terdengar tepat di belakang telinganya. Syifa berjengit, hampir terjatuh ke luar jika tangan Cleo tidak dengan sigap memeluk pinggangnya dan menariknya kembali ke dalam kamar. "Lebih baik kita sama-sama cari hiburan di dalam sini daripada kau menjadi mayat di bawah sana, Syifa."

​Cleo mendorongnya ke arah ranjang king size yang mendominasi ruangan. Syifa jatuh terduduk, air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh membasahi pipi. Ia menatap kedua pria itu dengan tatapan memohon.

​"Tuan! Dengar... saya minta maaf. Saya mengaku lancang, saya minta maaf atas ucapan saya tadi. Tolong... lepaskan saya," ucap Syifa tersedu-sedu. Ia mencoba merapatkan pakaiannya yang sedikit berantakan.

​Pikirannya melayang pada hal-hal mengerikan. Ia teringat adegan-adegan dewasa yang pernah tak sengaja ia tonton di situs terlarang—hal yang ia anggap sebagai referensi jauh untuk masa depannya bersama suami sah kelak. Tapi kini, bayangan itu menjadi nyata di depan matanya, bukan dengan satu orang yang ia cintai, melainkan dengan dua pria busuk yang memandangnya seperti sepotong daging.

​"Maaf tidak cukup untuk membungkam mulut pedasmu itu, Syifa," Zero mendekat, melepas kemeja hitamnya satu per satu, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang liat dan atletis. "Kau bilang kau ingin dihargai atas kerja kerasmu? Mari kita lihat seberapa keras kau bisa bekerja untuk memuaskan kami berdua."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 11 - Kau ingin penonton adegan ini?

    ​"Syifa, kamu nggak ke rumah sakit malam ini?" Suara Bi Sumi memecah lamunan Syifa di dapur. ​Syifa menoleh, mendapati Bi Sumi sudah rapi dengan tas kecil di tangannya. "Nggak, Bik. Bibi mau ke mana?" ​"Tuan Besar minta Bibi ke villanya sekarang. Ada urusan mendadak," jawab Bi Sumi singkat."Tuan Besar? Kenapa mereka nggak serumah, Bik? Nyonya Hana kan disini." tanya syifa heran.Bi Sumi mendengus pelan, wajahnya tampak enggan bicara banyak."Biasalah, Syifa. Rumah sebesar ini saja isinya dingin, apalagi hati orang di dalamnya. Mereka udah lama punya urusan masing-masing. Bibi jalan dulu, ya. Supir sudah jemput." ​Suara klakson mobil di depan halaman menyentak Syifa, menyadarkan nya kalau dia kini sendirian. ​"Mampus aku. Sendirian," bisik Syifa. Jantungnya mulai berdegup kencang. Ia teringat janji gila yang ia buat tadi pagi di meja makan. Niatnya ingin terlihat berani, tapi sekarang nyalinya menciut sampa

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 10 - Bukan mainan

    ​"Oh baby, kamu terlihat sangat tampan siang ini. Sudah lama tidak jumpa, Sayang," bisik Nia melihat Zero yang baru saja melangkah memasuki Klub VVIP itu. Tangannya yang lentur terulur manja, melingkar di leher Zero yang baru saja memasuki ruangan. ​"Nia, kau tetap agresif seperti biasa." Sindirnya. ​"Mau main denganku?" tawar Nia tanpa basa-basi. Ia sengaja menyingkap gaun mini-nya hingga jauh ke atas paha, memamerkan kulitnya yang berkeringat tipis. ​"Aku lebih suka barang yang belum disentuh," ucap Zero dingin sambil meraih gelas wiski dari meja dan meneguk nya kasar. ​"Padahal dulu kamu tergila-gila dengan gerakanku, Sayang. Aku jauh lebih hebat daripada siapa pun di atas ranjang," keluh Nia sambil mengerucutkan bibirnya. ​"Aku sedang butuh mainan baru, dan kau bukan lagi seleraku," ucap Zero, melepaskan tangan Nia dari lehernya dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. ​Nia berdiri mematung, dadanya naik turun. "Oh, sial... Melihatnya saja aku sudah panas dingin be

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 9 - Bakpao beracun

    Syifa mengunci diri di kamar mandi dapur yang sempit, setelah kedua majikan nya meninggalkannya sendirian. ​"Aku takut... Aku takut!" gumamnya dengan napas tersengal. ​Bayangan wajah Zero yang dingin dan seringai Cleo semalam berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Tubuhnya masih terasa kotor, seolah sisa-sisa perlakuan mereka semalam tidak akan pernah benar-benar hilang meski digosok dengan sabun paling keras sekalipun. ​"Tapi aku tidak punya pilihan," ia menatap pantulannya di cermin buram. Matanya merah, namun ada api yang mulai menyala di sana. "Kalau aku menyerah sekarang, Ibu yang akan mati." ​Syifa mematikan keran. Keheningan mendadak terasa mencekik. Ia menghirup napas dalam, menelan kembali semua rasa takutnya ke dasar perut. Ia harus melewati ini. Ia harus menjadi "iblis" yang lebih pintar dari mereka. ​Baru saja ia keluar dari kamar mandi, sebuah bayangan tinggi sudah menunggunya di lorong dapur yang sepi. Cleo. ​"Bagus sekali. Menangis di pojokan setelah ber

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 8 - Racun dalam Perjanjian

    Syifa tersentak bangun. Hal pertama yang ia rasakan adalah lengket yang mengering di wajah dan lehernya. Bau amis yang tajam menyerang indra penciumannya. Ia menyibak selimut, memeriksa pangkal pahanya. Tidak ada darah. Tidak ada rasa sakit robek di sana. ​"Sialan. Mereka cuma menjadikanku tempat sampah," desisnya. ​Syifa menyeret langkah ke cermin retak di pojok kamar. Matanya melotot tajam melihat pantulan dirinya. Wajahnya berantakan, jejak putih mengering itu seolah menertawakan harga dirinya. Ia meraih waslap, menggosok kulitnya hingga memerah dan perih. Air matanya tidak keluar. Rasa sedihnya sudah hangus, berganti menjadi amarah yang dingin. ​"Ibu harus sembuh," gumamnya pada bayangan di cermin. "Apapun taruhannya. Kalau mereka mau main api, aku akan jadi bensinnya." Selesai mandi, ​Syifa memakai seragam pelayannya, mengancingkannya hingga rapat ke leher. Ia keluar dari paviliun dengan langkah mantap. Di ruang tengah, Cleo dan Zero sudah duduk di meja makan, seolah tidak

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 7 - Tanda disekujur tubuh

    ​"Hei, berhenti diam! Dan nikmati ini sepenuhnya," goda Syifa dengan suara serak, sementara kelopak matanya nyaris terpejam rapat akibat pengaruh alkohol. ​Syifa menarik kepala Cleo lebih dekat, memaksa pria itu mendekat ke arah dadanya. "Kau ingin apa, hm?" gumam Cleo, merasa tertantang sekaligus terkejut dengan perubahan drastis pelayan di depannya. ​"Apa Tuan tidak tertarik mencobanya?" bisik Syifa tepat di depan bibir Cleo, aroma alkohol bercampur parfum manis tercium dari napasnya. ​Cleo tertawa kecil, sebuah tawa rendah yang berbahaya. Ia tidak berniat mengabaikan undangan itu. Sementara itu, Zero membantu Syifa menanggalkan sisa-sisa kain yang menutupi tubuhnya. Kini, tubuh yang beberapa jam lalu mereka hina "berlemak" itu justru terlihat begitu menggiurka. ​"Hei, Zero! Aku duluan!" ucap Cleo tak sabar. Bibirnya langsung menyerang dengan rakus, bermain di area bukit empuk milik Syifa. ​Zero tak mau kalah. Dalam posisi terlentang, ia meraih bagian bawah tubuh gadis i

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 6 - Tuan.. saya belum selesai

    Dalam kegelapan yang menyergap, indra perasa Syifa mendadak menjadi jauh lebih tajam. Ia tidak bisa melihat apa-apa, namun ia bisa merasakan kehadiran dua sosok yang mengurungnya di atas ranjang sempit. ​"Tuan... hmmm... Apa yang Anda lakukan?" gumam Syifa dengan suara yang tercekik. ​Sesuatu yang asing memaksa masuk kedalam mulut nya, mendominasi celah bibirnya yang gemetar. Dalam kebutaan itu, satu-satunya pegangan yang ia punya hanyalah pinggiran kasur yang ia remas kuat. ​"Ini milikku,kau tahu ini bukan? tanpa perlu aku jelaskan," bisik Cleo dengan suara parau yang penuh kemenangan. "Kau tahu, mulut berbisa yang tadi berteriak soal harga diri itu bisa menjadi penenang yang sangat baik bagi kami. Lakukan tugasmu dengan benar jika kau tidak ingin kehilangan 'kesucian' yang kau banggakan itu terlalu cepat malam ini." ​"Tuan, saya... hmm... saya tidak bisa..." Syifa berusaha memalingkan wajah, namun tangan Cleo mengunci tengkuknya dengan cengkeraman yang tak tergoyahkan. ​

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status