LOGINAvery tidak menyukai pagi itu.Bukan karena cuacanya.Bukan karena jalan menuju markas Broken Halos yang licin akibat salju yang baru mencair.Tetapi karena semalaman ia terus memikirkan satu kalimat yang diucapkan Logan melalui radio.Samuel Voss tidak pernah dinyatakan meninggal.Kalimat itu terus berputar di dalam kepalanya seperti roda yang tidak mau berhenti.Jika Samuel tidak pernah meninggal, lalu ke mana pria itu pergi?Dan kenapa seseorang berusaha menghapus keberadaannya dari hampir setiap catatan yang mereka temukan?Oliver mengemudikan truk dalam keheningan yang nyaman. Satu tangannya berada di setir, sementara tangan lainnya sesekali menyentuh punggung tangan Avery yang berada di kursi tengah.Sentuhan kecil.Hampir tidak berarti.Namun cukup untuk membuat Avery merasa sedikit lebih tenang."Aku tidak suka ini," katanya akhirnya."Kau sudah mengatakannya tiga kali.""Aku tetap tidak suka.""Itu tidak berubah."Avery mendengus pelan.Oliver meliriknya sekilas."Logan akan
Oliver tidak bergerak.Ia tetap berdiri di depan jendela, memperhatikan SUV hitam yang terparkir di ujung jalan masuk kabin.Mesinnya sudah mati.Lampunya juga.Namun tak seorang pun keluar.Avery berdiri beberapa langkah di belakangnya."Apa kita mengenalnya?""Tidak."Jawaban itu langsung membuat suasana berubah.Karena Oliver mengenal hampir semua kendaraan yang biasa melewati Grizzly Peak.Truk pengangkut kayu.Petugas kehutanan.Penduduk setempat.Pendaki langganan.Bahkan wisatawan yang terlalu sering tersesat.Jika Oliver berkata tidak mengenalnya, berarti kendaraan itu memang asing.Benar-benar asing.Lima menit berlalu.SUV itu tetap diam.Tidak ada gerakan.Tidak ada suara.Tidak ada tanda-tanda kehidupan.Oliver mengambil jaketnya dari sandaran kursi."Aku akan keluar."Avery ikut berdiri."Aku ikut.""Tidak.""Aku tidak akan bersembunyi di dalam rumah."Oliver menatapnya.Avery membalas tatapan itu tanpa mengalah.Mereka sudah cukup lama bersama untuk mengetahui kapan sebu
Ruangan tetap sunyi beberapa detik setelah Logan membalik buku registrasi itu.Samuel Voss.Nama yang sama.Nama yang muncul di dokumen Nathaniel.Nama yang terukir di batu tua di tengah hutan.Dan sekarang...seorang anggota tim survei yang menghilang empat puluh lima tahun lalu.Austin menjadi orang pertama yang memecah keheningan."Yah."Ia bersandar di kursinya."Itu tidak menyeramkan sama sekali."Tidak ada yang tertawa.Bahkan Austin tampak menganggap leluconnya gagal kali ini.Logan mengambil buku registrasi itu dan kembali membacanya dengan lebih perlahan."Ada lima anggota tim."Jarinya bergerak menyusuri halaman."Dua ahli topografi.""Satu operator radio.""Satu teknisi geologi.""Dan Samuel Voss.""Apa pekerjaannya?" tanya Avery.Logan mengernyit."Itu aneh.""Apa?""Kolom pekerjaannya kosong."Oliver berdiri di dekat jendela.Tatapannya mengarah ke hutan gelap di luar markas."Kosong seperti catatan pengiriman Nathaniel.""Ya."Jawaban Logan terdengar pelan.Terlalu pelan
Tidak ada seorang pun yang langsung berbicara.Mereka berdiri mengelilingi patok tua itu, membiarkan kenyataan baru perlahan meresap ke dalam pikiran masing-masing.Simbol lingkaran bersilang itu nyata.Bukan gambar di atas peta.Bukan coretan di arsip.Bukan petunjuk yang tersimpan dalam surat.Seseorang telah mengukirnya di sini.Di tengah hutan.Bertahun-tahun lalu."Jadi kita tidak sedang mengejar cerita hantu," gumam Austin.Logan meliriknya."Kau ikut sejak kapan?"Austin muncul dari balik batang pinus dengan secangkir kopi di tangannya."Aku bosan menunggu di markas.""Tidak mungkin kau membawa kopi mendaki sejauh ini.""Aku pria penuh bakat.""Aku ingin memukulnya," kata Tristan datar."Aku mendukung ide itu," sahut Oliver.Austin tersenyum bangga seolah baru menerima pujian.Avery menggeleng pelan.Beberapa hal tampaknya memang tidak akan pernah berubah.Logan berjongkok di dekat patok kayu.Dengan hati-hati ia membersihkan lumut yang menempel di permukaan ukiran.Simbol itu
Avery hampir tidak tidur malam itu.Tulisan tangan yang ditemukan di sudut dokumen tua itu terus berputar di dalam kepalanya.Jalur Utara. Rahasia.Tiga kata sederhana.Namun cukup untuk mengubah semuanya.Setiap kali memejamkan mata, Avery membayangkan Nathaniel Nolan duduk di meja yang sama puluhan tahun lalu, menandatangani dokumen yang kini terbentang di dapurnya.Apa yang sebenarnya dia sembunyikan?Dan kenapa?Di sampingnya, Oliver masih tertidur. Salah satu lengannya terentang melewati pinggang Avery, seolah bahkan dalam tidur pria itu tetap memastikan tidak ada yang bisa mengambil sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya.Avery tersenyum kecil.Lalu perlahan melepaskan diri dari pelukannya.Matahari bahkan belum sepenuhnya terbit saat dia turun ke dapur.Kabut pagi menggantung rendah di antara pepohonan pinus.Udara dingin.Sunyi.Damai.Avery menyeduh kopi lalu membuka kembali salinan dokumen yang dibawanya dari toko.Ia memeriksa setiap sudut halaman.Setiap kode.Setiap catat
Logan tiba kurang dari lima menit kemudian.Itu saja sudah cukup menjadi tanda bahwa situasinya serius.Biasanya pria itu akan menyelesaikan apa pun yang sedang dia kerjakan terlebih dahulu sebelum merespons panggilan siapa pun. Namun kali ini pintu ruang arsip langsung terbuka dengan hentakan keras."Apa yang kalian temukan?"Tatapannya berpindah dari Oliver ke Avery.Lalu ke tumpukan dokumen yang memenuhi meja.Avery menggeser beberapa lembar kertas ke arahnya."Ini."Logan mengambil berkas teratas.Keheningan langsung memenuhi ruangan.Satu halaman.Dua halaman.Tiga halaman.Semakin lama dia membaca, semakin dalam kerutan yang muncul di dahinya."Kenapa aku baru melihat ini sekarang?" gumamnya."Karena tidak ada yang pernah mencarinya," jawab Avery.Logan mengangkat kepala."Itu bukan jawaban yang kusukai.""Tapi itu benar."Oliver tetap berdiri di samping Avery.Diam.Mengamati.Menunggu.Seperti biasa.Logan membolak-balik halaman berikutnya."SV-17..."Jarinya mengetuk salah sa







