LOGINPagi menyapa Yogyakarta dengan cahaya matahari yang menyelinap malu-malu di balik tirai sutra Diamond Suite Hotel JogjaJaya. Udara pegunungan yang terbawa hingga ke jantung kota memberikan kesegaran tersendiri bagi siapa pun yang menghirupnya. Gelar terbangun lebih dulu, menatap wajah Bita yang tampak begitu damai dalam tidurnya. Meskipun malam tadi mereka tidak melakukan hal sakral yang biasa dilakukan pasangan pengantin baru pada umumnya, Gelar sama sekali tidak merasa kecewa. Baginya, bisa melihat Bita bernapas dengan tenang tepat di sampingnya sudah merupakan kemenangan terbesar dalam hidupnya.Perlahan, Bita membuka matanya. Ia tersenyum tipis saat mendapati Gelar sedang menatapnya tanpa kedip. "Sejak kapan Mas bangun?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur yang justru terdengar sangat seksi di telinga Gelar."Cukup lama untuk menyadari betapa beruntungnya aku memilikimu kembali," jawab Gelar sambil mengecup kening Bita lembut.Bita beranjak dari tempat tidur dengan seman
Meskipun tawaran untuk menyusuri keindahan Yogyakarta terdengar sangat menggoda, Bita perlahan menggelengkan kepalanya. Ia meletakkan sendoknya, menatap piring gudeg yang tinggal separuh dengan tatapan yang kembali menerawang. Keramaian Malioboro yang tadi sempat menghiburnya kini mendadak terasa terlalu bising dan menyesakkan. Ada sebuah beban yang tak kasat mata namun terasa sangat berat, menariknya untuk kembali ke dalam kesunyian."Mas, maafkan aku," ujar Bita lirih, suaranya hampir tenggelam di antara suara pengamen jalanan yang membawakan lagu cinta di kejauhan. "Sepertinya aku belum siap untuk pergi ke tempat-tempat wisata yang ramai. Aku merasa lebih aman jika kita di kamar saja. Aku ingin benar-benar menenangkan diri dan melepaskan semua kecemasan ini."Gelar menatap Bita dengan tatapan yang sangat dalam. Ia bisa melihat ada pergulatan hebat di balik mata indah istrinya. Alih-alih merasa kecewa karena rencana jalan-jalannya ditolak, Gelar justru meraih tangan Bita dan menggen
Bita menggelengkan kepalanya dengan cepat, jemarinya meremas kain bajunya sendiri. "Maaf, Mas... maafkan aku," suaranya terdengar serak. "Aku... aku tiba-tiba teringat Mbak Rima. Aku merasa seperti sedang mencuri sesuatu yang bukan milikku. Aku merasa seperti wanita jahat yang sedang bersenang-senang di atas luka wanita lain.""Bita, dengarkan aku," ujar Gelar sambil melangkah pelan, mencoba menenangkan suasana. "Rima adalah masa lalu yang kelam. Dia mengkhianatiku, dia yang menghancurkan rumah tangga kami sendiri. Kamu bukan pencuri, kamu adalah takdir yang datang untuk menyelamatkanku dari kehampaan itu. Kenapa kamu harus merasa bersalah padanya?""Aku… aku tahu itu, Mas. Tapi… dia seperti menghantuiku. Aku takut, Mas. Aku.. aku…” Bita tak bisa menyelesaikan perkataannya. Bahunya berguncang hebat, kemudian ia menangis.Gelar menghela napas panjang, ia menyadari bahwa luka psikis yang dialami Bita jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan. Pengorbanan Bita selama lima tahun bukan hanya
Suasana di dalam Diamond Suite Hotel JogjaJaya terasa begitu tenang dan intim. Cahaya jingga dari matahari yang mulai tenggelam di cakrawala Yogyakarta menyelinap masuk melalui jendela besar, menyiram ruangan itu dengan nuansa romantis yang hangat. Bita baru saja meletakkan koper kecilnya di dekat lemari pakaian besar yang terbuat dari kayu jati berukir, namun sebelum ia sempat merapikan isinya, ia merasakan sepasang lengan kekar melingkar erat di pinggang rampingnya.Gelar memeluknya dari belakang, menyandarkan wajahnya di lekukan leher Bita yang jenjang dan berbau harum aroma vanila. Napas hangat pria itu terasa menggelitik kulitnya, membuat bulu kuduk Bita meremang seketika."Aku sangat merindukanmu, Sayang. Kamu tidak tahu betapa beratnya melewati malam-malam tanpa kehadiranmu selama lima tahun ini," bisik Gelar dengan suara bariton yang rendah dan sarat akan emosi. "Sekarang sudah sah, kan, kalau aku memanggilmu 'sayang'? Kita benar-benar sudah menjadi suami istri yang sah di ma
Mengingat kembali lembaran masa lalu, Bita sering kali merasa seolah sedang bermimpi di siang bolong. Sabita yang dulu adalah seorang gadis desa yang malang, yang terpaksa melarikan diri ke Jakarta dengan napas tersengal karena ketakutan akan dijual oleh ibu kandungnya sendiri dan bapak sambungnya kepada seorang rentenir demi melunasi hutang. Kala itu, ia datang ke ibu kota hanya bermodalkan nyali dan sejuta harapan sederhana agar bisa bertahan hidup dan menemukan kesuksesan. Kini, semua impian itu bukan hanya menjadi nyata, melainkan melampaui apa yang pernah ia bayangkan dalam doa-doa paling rahasianya.Bita kini bukan lagi gadis pelarian. Ia telah berdiri tegak sebagai pewaris tunggal Hermanto Grup milik Pak Herman, ayah angkat yang begitu memuliakannya. Tak cukup sampai di situ, statusnya kini telah resmi menjadi Nyonya Gelar Aditama, istri dari pemilik Aditama Grup yang memayungi puluhan hotel mewah di seluruh pelosok Nusantara. Bita telah bertransformasi menjadi sosok wanita y
Malam itu, di dalam mobil yang melaju membelah dinginnya jalanan Trawas, suasana terasa sangat kontras. Di kursi belakang, Thomas dan Thomson tampak sibuk bercanda, sementara di kursi depan, keheningan yang canggung menyelimuti Gelar dan Bita. Bita sebenarnya merasa cukup kesulitan untuk memberikan penjelasan yang masuk akal kepada kedua putranya tentang siapa sebenarnya sosok pria yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan mereka ini. Ia khawatir jika ia berterus terang bahwa Gelar adalah ayah kandung mereka, anak-anak itu akan mengalami kebingungan emosional yang hebat karena selama lima tahun mereka hanya mengenal sosok ibu dan kakek angkat.Gelar yang menyadari kekalutan pikiran Bita, segera memberikan sebuah usulan saat mereka berbicara berdua setelah sampai di halaman vila. "Bita, biarkan ini berjalan perlahan. Kamu tidak perlu menceritakan tentang hubungan darah itu sekarang. Katakan saja pada mereka bahwa 'Om Baik' akan menikah denganmu. Biarkan mereka mengenal aku sebagai calon ay







