Share

5. Anggap saja

Penulis: Leva Lorich
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-31 21:18:05

Di atas ranjang king size yang mewah, Bita tergolek lemah tanpa busana, hanya diselimuti oleh selimut putih hotel yang tebal. Kehangatan selimut itu terasa kontras dengan dinginnya kehampaan yang menjalar di hatinya. Di sampingnya, Gelar yang juga tanpa busana tampak sedang asyik membuka ponsel dan membalas pesan, seolah-olah apa yang baru saja terjadi hanyalah interupsi kecil dalam jadwal hariannya.

Mata Bita nanar menatap langit-langit kamar yang tinggi. Tatapannya kosong, tanpa gairah, tanpa semangat. Batinnya berbisik, suara yang lirih namun menusuk. ‘Aku sudah melakukan itu… Dia sudah menggagahiku.’

Perlahan, air mata Bita menetes, membasahi bantal lembut di bawah kepalanya. Air mata itu adalah luapan dari rasa kecewa, penyesalan, dan kemarahan yang begitu dalam, yang kini bercampur menjadi satu adonan pahit. Ia merasa hancur, terlampau rapuh, dan tertipu.

Ia masih terdiam, pikiran-pikiran buruk mulai berputar di kepalanya. Apakah ini pekerjaan yang ia cari?

Ia merantau ke ibu kota karena kabur dari orang tuanya. Ia ingin menemukan masa depan baru di Jakarta. ‘Apakah Jakarta memang sekeras ini? Apakah ini jalan hidup yang harus kulalui?’ lirih hatinya.

Ia merasa terperangkap, antara harga diri yang telah direnggut dan kenyataan kejam yang harus ia hadapi.

Tiba-tiba, Gelar meletakkan ponselnya di nakas. Ia menoleh ke samping, pandangannya jatuh pada wajah Bita yang basah oleh air mata.

"Kau kenapa?" tanya Gelar, nadanya terdengar terkejut sekaligus acuh tak acuh. "Kenapa menangis?"

Bita tetap diam. Ia tidak sanggup mengeluarkan satu patah kata pun. Tenggorokannya tercekat oleh rasa dongkol dan amarah yang memuncak pada Gelar, pria yang baru saja memaksanya untuk berhubungan badan. Ia tidak ingin berbicara dengannya, tidak ingin menatapnya, bahkan tidak ingin mengakui keberadaannya di sampingnya.

Gelar menunggu sejenak. Karena tidak ada respons, ia melanjutkan, suaranya mengandung sedikit nada provokasi yang tidak ia sadari. "Kau marah padaku? Pada bagian mana yang tidak kau sukai? Apa permainanku kurang kasar dan tidak sesuai dengan ekspektasimu? Apa kau kurang puas?"

Pertanyaan-pertanyaan itu menusuk Bita jauh lebih dalam daripada tindakan Gelar sebelumnya. Gelar berbicara seolah-olah ia baru saja memberikan layanan, dan Bita, sebagai penerima layanan, memiliki hak untuk berkomentar tentang kualitasnya.

Bita menyentak, bangkit sedikit, menopang tubuhnya dengan tangan. Ia menatap Gelar dengan mata penuh kebencian.

"Diam!" bentak Bita. "Jangan ucapkan lagi hal-hal itu. Telingaku sakit mendengarnya."

Gelar tertegun. Ia menyandarkan punggung ke kepala ranjang. Ada sedikit keheranan dalam tatapannya.

"Ada apa? Apa aku salah?" tanya Gelar. Bagi Gelar, situasinya jelas: ia membayar, dan ia mendapatkan apa yang ia bayar.

Bita kembali menoleh cepat ke arah Gelar. Air mata kembali berderai membasahi pipinya. Matanya kini menyala karena amarah.

"Ya! Kau salah besar, Tuan Gelar Aditama yang terhormat," seru Bita. Suaranya bergetar antara isak tangis dan kemarahan yang tertahan. "Kau sudah menodaiku!"

Gelar tampak benar-benar kaget. Ia memandang Bita dengan kebingungan yang nyata.

"Menodai?" Gelar tertawa singkat, tawa yang sinis. "Hei, aku ini membayarmu untuk melakukan itu. Apa maksudmu?"

Bita menggeleng keras. Selimut putih yang menutupi tubuhnya sedikit merosot, namun ia tidak peduli. Seluruh fokusnya kini adalah menyampaikan kebenaran, betapa pun sulitnya itu.

"Membayar? Siapa yang ingin menjual diri? Sudah kukatakan sejak awal, Hendy brengsek itu yang menjebakku!" kata Bita, nada suaranya berubah menjadi putus asa. "Aku datang ke sini untuk pekerjaan, untuk karier. Aku bukan wanita panggilan!"

Gelar menggeleng tak peduli. Ia kembali bersikap dingin dan tidak mau terlibat dalam drama internal. "Sudahlah," katanya. "Aku sudah bilang, itu adalah urusanmu dengan dia, bukan urusanku."

Keduanya kembali terdiam, keheningan mencekam menyelimuti kamar itu, hanya terdengar suara napas yang berat dan isak tangis yang tertahan. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing, Gelar dengan sikapnya yang masa bodoh, dan Bita dengan kehancuran batinnya.

Tak lama kemudian, suara Gelar kembali terdengar, memecah keheningan. Ia mengubah topik, nadanya lebih ingin tahu, ada sedikit empati dari ucapannya.

"Bagaimana kau bisa bertemu dengan Pak Hendy? Kenapa kau menerima pekerjaan marketing bohongan itu?"

Bita menggeleng lemah. “Bukankah tadi kau bilang ini bukan urusanmu? Jadi untuk apa kau kembali membahas itu lagi?“

Gelar terdiam sejenak, berusaha menyusun kata-kata yang lebih bisa diterima Bita. “Anggap saja aku bersimpati. Jadi, kau patut berterima kasih atas perhatianku ini,” ujar Gelar dengan masih mempertahankan karakter arogansinya.

Mata Bita menyipit, hatinya cukup terusik dengan kalimat tersebut. “Sombong sekali kata-katamu, Tuan Gelar Aditama! Apa kau pikir aku begitu rendah dimatamu?“

# #

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjebak Hasrat Terlarang Pria Ibu Kota   147. Simpul Yang Terbuka

    Langkah kaki Bita yang sedang memapah ibunya keluar dari gedung TPI tiba-tiba terhenti. Di ambang pintu yang lebar, ia baru menyadari keberadaan sosok pria yang sedari tadi berdiri mematung di sudut yang remang. Pria itu tersembunyi di balik bayangan pilar beton besar, wajahnya tak jelas terlihat, namun auranya terasa sangat berat dan penuh gejolak emosi.Pak Herman kemudian melangkah maju perlahan. Begitu cahaya lampu neon yang berkedip di langit-langit gedung menerpa wajahnya, Bu Ita seketika tercekat. Napasnya tertahan di tenggorokan, dan seluruh tubuhnya mulai gemetar hebat. Matanya membelalak, menatap wajah Pak Herman seolah-olah ia baru saja melihat hantu dari masa lalu yang paling ia hindari sekaligus ia rindukan.Bita yang merasakan perubahan drastis pada ibunya menjadi heran dan cemas. "Ibu? Ibu kenapa? Ayah, ada apa sebenarnya?" tanya Bita sambil menatap ayahnya dengan penuh tanda tanya.Pak Herman tidak langsung menjawab. Ia menatap Bita dengan tatapan yang sangat dala

  • Terjebak Hasrat Terlarang Pria Ibu Kota   146. Pengkhianat Cinta

    Gelar segera menekan tombol pada radio komunikasinya, memberikan sinyal hijau kepada tim luar. Tak butuh waktu lama, deru langkah kaki sepatu lars terdengar mendekat. Beberapa anak buah Pak Harto yang bertubuh kekar dan berseragam taktis masuk ke dalam gedung dengan senjata siaga. Atas perintah singkat dari Gelar, mereka langsung menyeret para penculik yang sudah tidak berdaya itu keluar gedung. Para penjahat itu dilemparkan ke dalam bak mobil terbuka untuk dibawa ke markas Pak Harto guna interogasi lebih lanjut.Di tengah ruangan yang remang, Jerry dan Sandy bergerak cepat menggunakan pisau lipat untuk memutus tali nilon tebal yang mengikat tangan dan kaki kedua korban. Begitu ikatan terlepas, pintu depan gedung terbuka lebar. Bita berlari masuk dengan napas tersengal, diikuti oleh Pak Harto yang menggendong Thomas dan Thomson di kedua lengannya."Ibu!" teriak Bita pecah.Bita langsung menghambur dan memeluk erat wanita paruh baya yang terduduk lemas itu. Bu Ita, sang ibu, seket

  • Terjebak Hasrat Terlarang Pria Ibu Kota   145. Gedung Pelelangan Ikan

    Iring-iringan mobil SUV hitam itu merayap pelan menembus jalanan setapak yang hanya beralaskan tanah dan kerikil. Lampu kendaraan telah dimatikan sepenuhnya, hanya menyisakan keremangan cahaya bulan yang memandu jalan mereka menuju pesisir. Di dalam kabin mobil utama, suasana terasa sangat dingin dan mencekam. Gelar, Pak Herman, Jerry, dan Sandy duduk melingkar menghadapi sebuah denah sederhana yang digambar Pak Harto di atas secarik kertas."Kita tidak bisa menyerang secara membabi buta. Gedung TPI ini memiliki struktur terbuka di bagian tengah, tapi akses masuknya sangat terbatas," ujar Pak Herman dengan suara rendah namun penuh otoritas.Gelar mengangguk, matanya menatap tajam ke arah denah. "Aku setuju. Kita harus memecah konsentrasi mereka. Jerry dan aku akan mengambil jalur utama. Kami akan masuk dari sisi depan untuk menarik perhatian jika diperlukan, atau melumpuhkan penjaga luar sebelum mereka sempat memberi sinyal.""Lalu bagaimana dengan sisi belakang?" tanya Sandy sambil

  • Terjebak Hasrat Terlarang Pria Ibu Kota   144. Menemui Sahabat

    Pak Herman melangkah menjauh ke sudut perpustakaan yang lebih privat, menjauh dari jangkauan pendengaran Gelar dan Bita. Jemarinya menekan rangkaian nomor yang sudah bertahun-tahun tidak ia hubungi, namun masih tersimpan rapi dalam ingatannya. Begitu sambungan terhubung, nada bicaranya berubah menjadi berat, penuh wibawa yang menunjukkan posisinya sebagai pemimpin besar."Harto? Ini Herman. Aku butuh bantuan besarmu sekarang juga," ujar Pak Herman tanpa basa-basi. "Ada sebuah van hitam yang membawa lari orang dekatku di sekitar Desa Srintil. Tolong kerahkan semua kenalan, jaringan, dan teman-temanmu di sana. Pantau setiap jalan keluar desa. Van seperti itu sangat jarang ada di daerahmu, pasti mudah dikenali oleh warga. Kabari aku secepatnya, aku akan langsung terbang ke Jawa Timur sekarang juga."Setelah menutup telepon dengan ekspresi tegang, Pak Herman berbalik menghampiri Gelar dan Bita yang telah menunggu dengan kecemasan yang terpancar jelas di wajah mereka."Barusan Ayah mengh

  • Terjebak Hasrat Terlarang Pria Ibu Kota   143. Dendam Mucikari

    Gelar menatap Bita dengan dahi berkerut dalam, ada kilat kecemburuan yang tidak mampu ia sembunyikan sepenuhnya meski di tengah situasi genting. "Siapa sebenarnya pria bernama Bono itu, Bita? Mengapa dia masih memiliki nomor pribadimu dan menghubungimu di saat seperti ini?" tanya Gelar dengan nada suara yang sedikit merengut, memperlihatkan sisi posesifnya sebagai seorang suami.Bita yang masih gemetar segera menggelengkan kepala, tangannya menggenggam ponsel itu dengan erat. "Mas, tolong jangan salah paham dulu. Bono tidak sedang mencoba menggodaku atau mencari perhatian. Dia adalah bagian dari masa laluku di desa, dan dia baru saja memberikan kabar yang sangat mengerikan. Ibuku... Ibu kandungku dan ayah tiriku diculik oleh sekelompok orang bersenjata tadi pagi."Mendengar penjelasan itu, Gelar dan Pak Herman secara serempak terlonjak dari kursi mereka. Rasa cemburu di wajah Gelar seketika sirna, digantikan oleh ekspresi ketegangan yang amat sangat. Mereka berdua adalah pria yang

  • Terjebak Hasrat Terlarang Pria Ibu Kota   142. Tanpa Bukti

    Pagi yang seharusnya tenang setelah keberhasilan konferensi pers semalam justru terasa panas di dalam ruang kerja Gelar Aditama.Dengan rahang yang mengeras, Gelar menekan tombol panggil pada ponselnya, menghubungi nomor Hendy yang sudah lama tersimpan dalam daftar hitamnya. Ia tidak ingin membuang waktu. Baginya, martabat Bita adalah segalanya, dan Hendy telah menginjak-injaknya dengan cara yang paling pengecut."Halo, Pak Hendy. Aku yakin kau sedang menonton berita tadi malam," ujar Gelar tanpa basa-basi begitu panggilan tersambung. Suaranya rendah, sarat dengan ancaman yang tertahan.Di ujung telepon, terdengar suara tawa kecil yang kering dan terdengar sangat licik. "Ah, Tuan Aditama yang terhormat. Ada angin apa menelepon seorang pengusaha kecil seperti saya sepagi ini? Berita? Berita yang mana?""Jangan berlagak pening, Pak Hendy. Kau tahu persis berita apa yang aku maksud. Hanya kau yang memiliki foto-foto itu. Hanya kau yang punya akses ke masa lalu kelam yang kau ciptakan se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status