LOGINBita menggeleng pelan, lalu sedetik kemudian tangisnya pecah tak terbendung. Ia menangkupkan kedua tangan di wajahnya, berusaha meredam isak tangis yang menyesakkan dada. Pertanyaan Gelar barusan seolah menghantam benteng pertahanan terakhirnya. Selama lima tahun ini, ia selalu membayangkan momen ini dalam mimpinya, namun kenyataan yang ada di depan mata terasa jauh lebih mengaduk-aduk perasaan. Bita pun tak tahu harus menjawab apa; ia terjebak di antara rasa sakit masa lalu dan kerinduan yang membuncah.Gelar merasa hatinya tersayat melihat kerapuhan wanita di hadapannya. Ia memberanikan diri beranjak dari kursinya, lalu berdiri di samping Bita dan memegang bahunya dengan lembut namun pasti, mencoba menyalurkan kekuatan yang ia miliki."Bita, aku janji... ini adalah pernikahan terakhirku. Tidak akan ada lagi rahasia, tidak akan ada lagi orang ketiga. Kita akan menua bersama di sini, atau di mana pun kau mau, membesarkan Thomas dan Thomson sebagai orang tua yang utuh," ucap Gelar deng
Gelar mengerutkan kening, bingung dengan arah pembicaraan Bita. "Apa maksudmu, Bita? Aku ayah mereka, aku berhak—""Berhak apa?" potong Bita dengan suara yang bergetar hebat. "Aku tidak mau Thomas dan Thomson justru merusak hubunganmu dengan Mbak Rima! Aku sudah cukup menderita dengan perasaan bersalah karena telah menjadi orang ketiga. Aku tidak mau anak-anakku tumbuh besar dengan menyandang status sebagai anak hasil perselingkuhan yang menghancurkan rumah tangga orang lain! Biarkan kami di sini, biarkan mereka tumbuh tanpa tahu siapa ayahnya, asalkan mereka tenang!"Gelar tertegun, lalu ia menghela napas panjang, menyadari bahwa Bita belum tahu kenyataan yang sesungguhnya. Ia meraih tangan Bita yang sedang mencengkeram meja, menahannya dengan lembut agar wanita itu sedikit lebih tenang."Bita, dengarkan aku baik-baik," ujar Gelar dengan suara yang sangat dalam. "Tidak ada hubungan yang harus dijaga dengan Rima. Aku sudah resmi bercerai dengannya lima tahun yang lalu, tepat setelah a
Gelar menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu di kafetaria itu, matanya tak sedetik pun lepas dari wajah Bita yang tampak gelisah. Ada ribuan pertanyaan yang menyesaki dadanya, namun ia mencoba mengatur napas agar tidak menakuti wanita yang baru saja ia temukan kembali ini. Suasana kafetaria yang tadinya terasa asing, kini mendadak menjadi saksi bisu dari pertemuan yang telah ia impikan selama ribuan malam."Kamu ke mana saja selama ini, Bita? Aku sudah seperti orang gila mencari jejakmu dari Bali hingga ke pelosok Jakarta, tapi kamu seolah lenyap ditelan bumi," tanya Gelar dengan nada suara yang rendah, namun sarat akan kegetiran yang mendalam.Bita mendengus pendek, ia memalingkan wajahnya ke arah jendela, enggan membalas tatapan intens pria di hadapannya. "Itu bukan urusanmu lagi, Mas. Ke mana aku pergi dan bagaimana aku bertahan hidup adalah hak pribadiku sejak aku memutuskan untuk keluar dari lingkaran masalahmu," jawab Bita dengan ketus.Gelar tidak marah, ia justru m
Refleks, Gelar memutar tubuhnya. Ia berdiri tegak, membiarkan matanya menangkap sosok wanita yang baru saja berbicara. Seketika itu juga, dunia seolah berhenti berputar. Oksigen di sekitar mereka terasa menghilang. Mata Gelar membulat hebat, ia mematung seolah baru saja melihat sebuah keajaiban yang mustahil.Wanita di hadapannya pun tak kalah terkejut. Langkahnya terhenti seketika. Botol air mineral yang ia bawa hampir jatuh dari genggamannya. Wajahnya yang cantik dan kini terlihat jauh lebih matang itu mendadak pucat pasi. Bibirnya bergetar, mencoba merangkai kata yang tertahan di tenggorokan."Bita...?" bisik Gelar dengan suara lirih yang sarat akan kepedihan, rindu, dan rasa tidak percaya. Air mata hampir saja meluncur dari sudut matanya yang lelah.Wanita itu, yang memang benar adalah Bita, menatap Gelar dengan tatapan yang sulit diartikan; ada rasa takut, rindu yang tertahan, namun juga sebuah luka lama yang kembali terbuka."Mas Gelar..." ucap Bita dengan suara yang hampir tak
Dua hari telah berlalu sejak pertemuan tidak sengaja di taman kota, namun bayang-bayang wajah Thomas dan Thomson seolah telah mengakar di benak Gelar Aditama. Pagi itu, kawasan Trawas tampak lebih sibuk dari biasanya. Bendera-bendera umbul-umbul berwarna keemasan berkibar di sepanjang jalan menuju sebuah bangunan megah yang berdiri kokoh di lereng bukit. Hari ini adalah hari peresmian hotel terbaru miliknya yang diberi nama Hotel BG Trawas.Bagi para kolega bisnis dan wartawan, inisial "BG" mungkin dianggap sebagai singkatan dari Business Group atau Best Glory. Namun, jauh di lubuk hati Gelar yang paling dalam, dua huruf itu adalah monumen rasa sakit sekaligus harapan. BG melambangkan Bita dan Gelar. Nama itu adalah ungkapan rindu yang ia pahat pada beton dan kaca, sebuah pesan botol yang ia hanyutkan ke samudera nasib, berharap suatu saat Bita—wanita yang telah lima tahun menghilang tanpa jejak—akan melihatnya dan tahu bahwa ia masih menunggu.Acara peresmian itu berjalan sangat meri
Gelar Aditama masih berdiri mematung di pinggir jalan, membiarkan embusan angin malam Trawas yang dingin menerpa wajahnya. Tatapannya tertuju pada lampu belakang mobil SUV hitam yang perlahan menghilang di balik tikungan jalan pegunungan yang menanjak. Ada semacam kekosongan yang mendadak menghampiri dadanya saat kedua bocah itu pergi, sebuah perasaan ganjil yang tidak mampu ia jelaskan dengan nalar.Ia kembali merogoh ponsel dari saku jaketnya, membuka galeri foto, dan memperbesar gambar Thomas serta Thomson yang baru saja ia ambil. Jantungnya berdegup kencang. Ia mengamati setiap inci wajah bocah-bocah itu; bentuk telinga mereka, lekukan rahang yang tegas, hingga sorot mata yang seolah begitu familiar.'Kemiripan ini... tidak mungkin hanya sekadar kebetulan,' gumam Gelar dengan suara rendah.Pikirannya mulai bekerja dengan sangat cepat, menyusun kepingan teka-teki yang baru saja ia temukan. Ia mencoba mengingat kembali percakapannya dengan kedua pengasuh tadi. 'Kawasan vila Trawas,







