Share

Awas saja, Rin!

Author: Risya Petrova
last update Last Updated: 2025-12-09 22:19:18

Ervan menatap nanar ponselnya. Matanya tak lepas dari pesan anonim yang baru masuk.

Nomor Tak Dikenal: [Dokter Ervan, maaf mengganggu selarut ini. Saya mendapatkan nomer dokter dari perawat Claudia. Saya memiliki informasi penting tentang istri dokter - Rina. Sepupu saya mengencani istri Dokter.]

Pesan itu terasa seperti pukulan keras di dadanya. Sebelumnya, ia sudah membaca pesan dari Claudia yang penuh drama, tetapi kali ini, pesan anonim itu terasa lebih nyata, lebih menusuk. Siapa yang meng
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Kebenaran terungkap

    Jakarta Selatan, Pukul 02.00 WIB.Rumah Bondan terasa sangat sunyi. Rumah itu bergaya minimalis dengan pagar tinggi yang tertutup rapat. Setelah memastikan kondisi aman, mereka masuk ke dalam. Rina langsung dipandu oleh Fahmi untuk duduk di ruang tengah.Bondan bergerak menuju dapur, mengambil beberapa kotak makanan siap saji dari kulkas dan menghangatkannya di microwave. Bau harum nasi goreng dan pasta instan mulai memenuhi ruangan, sedikit memberikan rasa normal di tengah situasi yang kacau."Makanlah sedikit, Rin. Kamu butuh tenaga," ujar Fahmi sambil menyodorkan sepiring nasi goreng hangat.Rina menerima piring itu, namun ia hanya mengaduk-aduknya tanpa nafsu. Pikirannya tidak bisa beralih dari satu hal. Setelah memaksakan dua suap masuk ke kerongkongannya yang terasa kering, ia meletakkan kembali piring itu di meja."Sekarang, ceritakan padaku," kata Rina, matanya menatap Fahmi, Bram, dan Bondan bergantian. "Apa yang ada di dalam flashdisk itu? Jangan bilang aku harus menunggu sa

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Perhitungan dengan Claudia

    Laju mobil SUV hitam itu terasa sangat kencang, mesinnya menderu rendah saat membelah kegelapan jalan tol yang lengang menuju arah Jakarta. Di dalam kabin yang kedap suara, kesunyian mendadak menjadi sangat pekat, seolah oksigen di sana telah digantikan oleh kecemasan yang menyesakkan. Rina masih menyandarkan kepalanya di bahu Fahmi, membiarkan kehangatan tubuh pria itu menjadi jangkar di tengah badai yang baru saja ia lalui. Namun, matanya yang sembab dan memerah menatap lurus ke arah kursi depan, menuntut jawaban yang tak kunjung keluar dari bibir pria yang sangat dicintainya itu."Apa isi flashdisk itu, Mi? Kenapa Ervan sangat takut sampai dia kehilangan akal sehatnya seperti tadi?" tanya Rina sekali lagi. Suaranya kecil, parau karena terlalu banyak menangis, namun ada nada ketegasan yang tidak bisa diabaikan. Ia bukan lagi wanita yang bisa ditenangkan hanya dengan pelukan. Ia ingin tahu kebenaran yang membuat hidupnya jungkir balik.Fahmi terdiam seribu bahasa. Ia bisa merasakan

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Sedikit lagi kita bisa bersama

    Pintu darurat di lantai dasar terbuka. Rina terengah-engah, peluhnya membasahi dahi dan punggungnya. Ia kini berada di area lorong belakang yang mengarah langsung ke halaman parkir. Suasana di sini cukup sepi, hanya ada beberapa ambulans yang terparkir.Rina berlari melintasi lahan parkir yang luas, mencoba bersembunyi di balik barisan mobil-mobil yang berjejer rapi. Ia terus menoleh ke belakang, takut melihat sosok Ervan yang mengejarnya.Di saat yang bersamaan, lift di lobi utama terbuka. Ervan melangkah keluar dengan langkah lebar. Ia tidak berlari, namun auranya begitu dominan hingga orang-orang yang berpapasan dengannya otomatis menyingkir. Ia berjalan lurus ke arah pintu keluar rumah sakit, matanya menyisir setiap sudut halaman parkir.Tepat saat Rina hampir mencapai gerbang samping, sebuah SUV hitam besar melaju kencang masuk ke halaman rumah sakit, menerjang pembatas keamanan yang baru saja diperbaiki. Ban mobil itu berdecit keras di atas aspal.Rina terkejut. Ia menghentikan

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Dianggap tikus

    Cahaya kecil dari korek api gas itu menari-nari di dinding semen tangga darurat yang dingin, menciptakan bayangan panjang yang meliuk-liuk seperti jemari hantu. Ervan menyipitkan mata, bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang tampak begitu mengerikan di tengah kegelapan yang pekat. Ia tahu Rina ada di sana, terperangkap di antara beton-beton bisu ini. Ia bisa mencium aroma ketakutan yang menguar. Aroma manis dari keputusasaan atau mungkin itu hanya imajinasinya yang sudah mulai terobsesi untuk mengendalikan wanita itu sepenuhnya. Baginya, pengejaran ini bukan lagi sekadar mencari istri yang membangkang, melainkan sebuah permainan kekuasaan yang harus ia menangkan."Rina ... jangan mempersulit keadaan. Kamu hanya akan lelah sendiri. Kamu tahu aku tidak suka membuang-buang waktu untuk permainan kucing-kucingan seperti ini," suara Ervan terdengar begitu tenang, sangat kontras dengan situasi yang mencekam. Ia berbicara seolah sedang membujuk seorang anak kecil yang tengah merajuk, nam

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Apa tepat waktu?

    Sementara itu, mobil SUV hitam yang dikemudikan Bondan melaju kencang menembus kemacetan malam menuju Bogor. Fahmi duduk di kursi belakang, tangannya mengepal begitu kuat hingga sendi-sendinya memutih.Bram, yang duduk di sampingnya, melirik Fahmi dengan rasa bersalah yang amat dalam. Ia tahu rahasia besar itu.Rahasia bahwa Fahmi dan Rina memiliki ayah yang sama. Rahasia yang bisa menghancurkan jiwa Fahmi lebih parah dari pada penjara mana pun."Bram," suara Fahmi memecah keheningan. "Kenapa kamu diam saja dari tadi? Ada yang kamu sembunyikan lagi?"Bram tersentak. Ia mencoba mengatur ekspresi wajahnya. "Tidak, Mi. Aku cuma memikirkan strategi bagaimana kita bisa masuk ke sana tanpa memicu keributan besar. Ervan punya tim keamanan sendiri di rumah sakit itu.""Aku tidak butuh strategi," geram Fahmi. "Aku cuma butuh Rina keluar dari sana hidup-hidup."Claudia, yang duduk di kursi depan, menoleh ke belakang. "Kita sudah hampir sampai. Aku akan mencoba menghubungi staf yang aku kenal di

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Mati di tangan Ervan

    Lampu ruangan VVIP yang temaram memantul pada ujung jarum suntik yang berkilau perak. Di mata Rina, benda kecil itu tampak seperti taring ular yang siap menyuntikkan bisa mematikan ke dalam aliran darahnya. Bau antiseptik yang biasanya menenangkan, kini terasa mencekik, bercampur dengan aroma parfum mahal Ervan yang mendadak tercium busuk.Ervan melangkah maju dengan ritme yang tenang, seolah sedang melakukan prosedur medis rutin. Namun, kilat di matanya adalah kilat kegilaan."Jangan takut, Sayang," bisik Ervan, suaranya lembut namun sangat dingin. "Ini cuma obat penenang dosis tinggi. Kamu hanya perlu tidur sebentar. Saat kamu bangun nanti, Fahmi sudah tidak ada, Bram sudah diam, dan kita bisa mulai hidup baru tanpa gangguan mereka.""Kamu gila, Ervan! Lepaskan aku!" Rina berteriak, suaranya serak karena ketakutan.Rina mundur hingga punggungnya membentur dinding dingin di sudut ruangan. Ervan semakin dekat, tangan kirinya terulur untuk mencengkram rahang Rina, sementara tangan kana

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status