Share

Dia

Author: Risya Petrova
last update Last Updated: 2025-09-25 22:29:50

Belum sempat Rina membuka suara lagi untuk menanyakan maksud ucapan Fahmi, apa yang akan diinginkannya besok, suara langkah tergesa terdengar. Seorang perawat menghampiri, mengetuk pintu pelan.

“Ibu Rina,” suster itu menunduk sopan, “ibu Anda, Bu Ratna, sudah dipindahkan ke ruang rawat. Kondisinya lebih stabil sekarang.”

Degup jantung Rina yang tadi kacau sedikit reda. Ia mengangguk cepat. “Iya … terima kasih, Suster.” Ia bangkit, hampir melupakan Fahmi yang masih duduk di samping. Tanpa banyak pikir, ia mengikuti suster itu dengan langkah tergesa. Fahmi bangun dan berjalan di belakangnya, matanya tak lepas dari punggung Rina yang tampak rapuh sekaligus kuat.

Setibanya di ruang rawat, Rina langsung terpaku. Ibunya, Bu Ratna, terbaring lemah dengan selang oksigen yang masih menempel, mata terpejam. Wajahnya pucat, namun napasnya jauh lebih teratur dibanding ketika tadi di IGD.

“Mama ….” Suara Rina bergetar. Ia maju perlahan, lalu duduk di sisi ranjang. Jemarinya menggenggam tangan ibu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Menyedihkan

    Suara besi yang bergesekan dengan aspal itu terdengar seperti lonceng kematian yang ditarik pelan. “Srak ... srak ... srak ….” Ervan menyeret tongkat besinya dengan langkah santai, namun auranya begitu mengintimidasi. Di bawah temaram lampu sorot mobil, wajah Ervan tampak seperti porselen putih yang retak, pucat, dan mengerikan dengan senyum yang tidak sampai ke mata.Senyuman yang mengintimidasi."Turun, Rina," suara Ervan terdengar tenang, namun ada getaran kemarahan yang tertahan di sana. "Atau aku benar-benar akan menghancurkan kepala penulis ini di depan matamu."Di dalam mobil, napas Rina terasa sesak. Ia mencengkeram lengan jaket Fahmi. Ia sungguh ketakutan. Bukan hanya takut untuk dirinya sendiri. Namun ia takut nyawa Fahmi terancam.Di samping mereka, Bram yang tadi keluar dari mobil masih berdiri mematung setelah membisikkan sesuatu ke telinga Toni.Toni, si pria bertangan besi itu, tampak tertegun. Matanya menyipit, menatap Bram dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia m

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Obesesi

    Mereka sampai di lantai bawah, namun langkah mereka terhenti di ruang tamu. Toni, si pria dingin bertangan besi, sudah berdiri di sana dengan dua orang anak buahnya. Ia sedang menyesap sebatang rokok, menatap Fahmi dan Rina dengan pandangan meremehkan."Mau ke mana, Tuan Penulis?" tanya Toni tenang. "Dokter Ervan sudah membayar mahal untuk memastikan Nyonya Rina pulang malam ini.""Minggir!" Fahmi memasang posisi pasang, meski ia tahu ia bukan tandingan pria di depannya."Fahmi, di belakangmu!" teriak Rina.Salah satu anak buah Toni menerjang dari arah dapur. Fahmi menghindar, namun ia terkena pukulan telak di perutnya yang membuatnya tersungkur. Rina berteriak, hendak menolong, namun lengannya ditarik kasar oleh Toni."Lepaskan aku! Dasar binatang!" Rina meronta, mencoba mencakar wajah Toni.Tepat saat keadaan terasa buntu, sebuah lampu sorot mobil tiba-tiba menyala dari arah pintu samping yang tembus ke garasi. Suara deru mesin mobil off-road milik Bram menggelegar. Mobil itu mundur

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Serangan

    Dung! Dung! Dung!Suara hantaman tongkat besi Ervan pada pintu kamar kayu itu terdengar seperti lonceng kematian. Setiap dentuman membuat debu-debu halus jatuh dari langit-langit villa, seiring dengan jantung Rina yang serasa ingin melompat keluar dari dadanya. Ia meringkuk di sudut tempat tidur, mendekap erat kaos oversize yang dikenakannya, seolah kain itu bisa melindunginya dari murka suaminya."Fahmi, buka pintunya!" raung Ervan dari luar. Suaranya tidak lagi terdengar seperti manusia, melainkan seperti binatang buas yang sedang kelaparan. "Kamu pikir bisa bersembunyi di balik pintu ini selamanya? Aku tahu apa yang kalian lakukan di dalam sana! Aku akan menghancurkan tangan yang sudah berani menyentuh istriku!"Fahmi berdiri di depan pintu, kedua tangannya menahan lemari kecil yang ia geser untuk membarikade jalan masuk. Napasnya memburu, peluh dingin membasahi keningnya. Ia menoleh ke arah Rina, mencoba memberikan tatapan menenangkan meski tangannya sendiri gemetar hebat."Rin,

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Mengambil kembali "milikku"

    Bibir Fahmi mendarat di atas permukaan bibir Rina dengan lembut, dan perlahan tapi pasti melumatnya.Gerakannya pelan, lembut namun pasti. Setiap sentuhan Fahmi terasa seperti obat bagi luka batinnya, bukan hanya sekedar nafsu. Di saat momen mulai memanas, di saat mereka benar-benar berada di ambang penyerahan diri yang paling intim.BZZZT ... BZZZT ... BZZZT ....Sebuah getaran kuat terasa dari saku celana jogger yang dikenakan Rina. Saku itu terjepit di antara tubuh mereka, membuat getarannya terasa begitu nyata dan mengganggu.Rina tersentak. Sensasi panas yang tadi menyelimutinya seolah disiram air es seketika. Fahmi pun menghentikan gerakannya, wajahnya yang penuh gairah kini berubah menjadi bingung."Ponselmu?" tanya Fahmi dengan napas yang masih berat.Rina mengangguk pelan, jantungnya berdegup kencang karena rasa takut yang tiba-tiba muncul kembali. Dengan tangan gemetar, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel yang tadi sempat ia matikan namun tampaknya menyala kembali ka

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Sentuhan yang menenangkan

    Kayu bakar di dalam perapian meletup pelan, mengeluarkan percikan api kecil yang menari-nari di balik jeruji besi. Cahaya jingga dari api itu memantul di wajah Rina, memberikan rona hangat pada kulitnya yang saat ini terlingat sangat pucat. Di luar, angin Puncak menderu, menggoyangkan dahan-dahan pohon pinus yang menghasilkan suara desis seperti bisikan alam. Namun, di dalam ruangan itu, waktu seolah-olah dipaksa berhenti demi memberikan ruang bagi dua jiwa yang sedang dahaga akan ketenangan.Fahmi berjalan kembali dari arah dapur membawa dua cangkir teh melati yang uapnya masih mengepul tipis. Ia meletakkan cangkir-cangkir itu di meja rendah, lalu duduk kembali di samping Rina di atas karpet bulu yang tebal."Minumlah, Rin. Ini akan sedikit menghangatkanmu," ucap Fahmi lembut.Rina meraih cangkir itu dengan kedua tangannya, mencari kehangatan dari keramik yang panas. Ia menghirup aroma melati yang menenangkan, mencoba mengusir sisa-sisa trauma dari cengkeraman Ervan yang seolah masi

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Dilacak keberadaan

    BRAAAKKKK!Suara benturan logam yang mengerikan memecah kesunyian malam di kompleks tersebut. Ervan tidak menunggu gerbang itu terbuka sempurna. Ia memaksakan moncong mobilnya masuk, membuat sisi kanan mobilnya menghantam pintu gerbang besi yang kokoh itu.Percikan api keluar saat logam bergesek dengan logam. Bodi mobil sedan mahal itu tergores dalam, dan pintu gerbang otomatisnya langsung macet dengan posisi miring, mengeluarkan suara derit yang menyayat telinga sebelum akhirnya mesinnya mati total karena rusak parah.Ervan tidak peduli. Ia menghentikan mobilnya di tengah halaman dengan posisi asal-asalan, hampir menabrak air mancur di depan teras. Ia keluar dari mobil, membanting pintunya hingga bergetar, dan berjalan menuju pintu utama rumah dengan langkah yang gemetar karena amarah yang memuncak.Membiarkan pintu gerbang yang rusak itu begitu saja. Ia masuk ke dalam rumah, langsung menuju bar kecil di sudut ruang tamu. Ia menuangkan wiski ke dalam gelas dengan tangan yang bergeta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status