LOGINSuara gonggongan anjing yang bersahut-sahutan di kejauhan terdengar seperti sangkakala kematian yang berdentang di tengah sunyinya perkebunan karet Sukabumi. Cahaya senter yang meliuk-liuk di kejauhan, menembus kabut dan rintik hujan, bergerak semakin cepat menanjak menuju rumah semi-permanen tempat mereka bersembunyi."Kita tidak punya pilihan lain, kita harus lari sekarang juga!" desis Fahmi. Suaranya rendah, namun penuh dengan desakan adrenalin yang memuncak. “Maaf Rin, bukannya aku pengecut. Tapi kita kalah jumlah dengan warga.”Fahmi segera menyambar tas ranselnya yang masih tergeletak di lantai kayu. Ia menoleh ke arah Rina yang wajahnya sudah sepucat kertas. Ketakutan yang nyata terpancar dari sepasang mata indahnya. Secara logika, mereka tidak akan pernah bisa menang melawan massa yang tergiur oleh uang seratus juta rupiah. Bagi penduduk di sekitar perkebunan ini, angka seratus juta adalah keajaiban yang bisa mengubah hidup mereka selamanya. Dan bagi Ervan, itu hanyalah rece
SUV hitam itu melaju menembus jalanan aspal yang semakin menyempit dan berlubang. Setelah keluar dari jalur utama yang berisiko, Bram memutuskan untuk memutar jauh, menghindari Cianjur yang merupakan basis keluarga Aqila. Ia membawa mereka ke arah selatan, menuju sebuah wilayah perkebunan karet terpencil di daerah Sukabumi.Suasana malam di sini sangat pekat. Pepohonan karet yang berjejer rapi di sisi jalan tampak seperti barisan raksasa yang mengawasi pelarian mereka. Gerimis mulai turun, menciptakan aroma tanah basah yang kuat menyusup ke dalam kabin mobil."Kita akan aman di sini untuk sementara," ucap Bram sambil memutar setir memasuki sebuah jalan setapak tanah. "Ini rumah singgah milik kenalanku, seorang mandor perkebunan yang sedang bertugas di luar kota. Tidak ada yang tahu tempat ini, bahkan Ervan sekalipun."Bram menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan semi-permanen yang didominasi kayu. Di sekelilingnya hanya ada keheningan, sesekali pecah oleh suara burung malam dan
DUAK! DUAK! Kaca jendela SUV itu bergetar hebat di bawah hantaman kepalan tangan Ervan. Wajah pria itu menempel di kaca, memperlihatkan sorot mata yang bukan lagi seperti manusia, melainkan predator yang baru saja menemukan mangsanya."RINA! KELUAR!" raung Ervan dari luar. Suaranya teredam kaca, tapi kebenciannya terasa menembus hingga ke tulang.Di dalam mobil, Rina mencengkeram lengan Fahmi dengan sangat kuat, hingga kuku-kukunya memutih. Napasnya memburu, matanya tidak bisa lepas dari sosok suaminya yang sedang mengamuk di luar."Kenapa dia bisa ada di sini?" bisik Rina dengan suara yang nyaris hilang. "Apa Toni menjebak kita? Apa dia sengaja kasih tahu Ervan kalau kita di sini?"Bram, yang sudah berada di kursi pengemudi, menatap layar ponselnya yang mati total dengan wajah frustrasi. "Nggak, Rin. Aku rasa Toni nggak bohong. Dia benar-benar membelot.""Terus kenapa Ervan tahu?" cecar Rina lagi, air matanya mulai tumpah."Ponselku," jawab Bram pendek sambil memukul setir. "Sinyal
Di tengah kesunyian yang mencekam dan rasa putus asa yang mulai menggerogoti kewarasan, sebuah getaran mendadak muncul dari saku celana Bram. Ia tersentak, mengira itu hanya halusinasi akibat kelelahan luar biasa. Ia yakin ponselnya sudah mati total sejak beberapa jam lalu. Namun, getaran itu nyata. Dengan tangan gemetar, ia merogoh sakunya dan mendapati layar ponselnya menyala redup, menampilkan angka 2% di pojok baterai, sebuah keajaiban kecil yang muncul di saat yang paling kritis.Layar itu menampilkan nomor yang tidak dikenal. Bram ragu sejenak, mungkinkah ini jebakan lain dari Ervan? Namun begitu, ia tetap menggeser ikon hijau."Halo?" suara Bram parau, hampir tidak terdengar."Bram? Ini Toni."Mendengar nama itu, tubuh Bram menegang seketika. Amarah dan kecurigaan bergejolak di dadanya. Ia segera menjauh beberapa langkah dari Fahmi yang sedang merangkul Rina. "Toni? Mau apa lagi kamu? Dari mana kamu dapat nomor pribadiku?""Aku tahu banyak hal dengan mudah, Bram. Itu pekerjaan
Mobil Mini Cooper milik Claudia melaju membelah kabut malam yang semakin tebal. Di dalam kabin yang kedap suara itu, bau parfum mahal Claudia bercampur dengan aroma keringat dan debu dari pakaian Ervan. Suasana begitu menyesakkan, bukan karena sempitnya ruang, melainkan karena ego dua orang di dalamnya yang saling berbenturan.Ervan menyandarkan kepalanya ke kursi, memejamkan mata mencoba meredam denyut di pelipisnya. Namun, suara Claudia segera membuyarkan ketenangannya."Jadi, kita mulai dari mana, Dokter?" tanya Claudia tanpa menoleh, matanya tetap fokus pada jalanan yang berkelok. "Kamu sudah tahu kan, aku tidak menjemputmu hanya karena rasa iba. Aku mau kita memperjelas kesepakatan kita."Ervan menghela napas berat, matanya terbuka, menatap profil samping wajah Claudia yang tampak keras. "Apa yang kamu mau, Claudia? Uang? Kamu tahu aku bisa memberimu lebih dari yang kamu bayangkan setelah aku membereskan Fahmi."Claudia tertawa sinis, suara tawanya terdengar garing. "Uang? Janga
Suara jangkrik di tengah hutan pinus yang gelap itu seolah mengejek Ervan. Udara malam yang dingin menusuk hingga ke tulang, menembus kemeja mahalnya yang kini kotor oleh tanah dan keringat. Ia menelan ludah, tenggorokannya terasa kering dan perih. Namun, yang lebih menyakitkan dari rasa dingin itu adalah harga dirinya yang terkoyak. Ia benci dipandang rendah."Buka pintunya, Claudia. Aku tidak butuh ejekanmu sekarang," desis Ervan. Suaranya serak, namun masih membawa nada perintah yang kaku.Claudia tidak segera bereaksi. Di balik kaca mobil yang setengah transparan, ia justru mematikan mesin mobilnya. Keheningan hutan seketika menyergap, hanya menyisakan suara detak jantung Ervan yang tak beraturan. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, Claudia bersandar santai di kursi pengemudi, melipat tangan di depan dada, dan menatap Ervan dengan tatapan yang sulit diartikan."Tunggu dulu, Sayang. Jangan terburu-buru," ucap Claudia, suaranya teredam kaca namun tetap terdengar tajam. "Bukan







