Share

Istri kedua Papanya Fahmi

Author: Risya Petrova
last update Huling Na-update: 2025-11-16 21:31:04

Rina memandangi punggung Fahmi, punggung yang biasanya tegak dan penuh percaya diri, kini terasa rapuh dan menyembunyikan luka yang dalam. Ia menghela napas, rasa cemasnya kini berganti menjadi empati dan keinginan untuk menenangkan.

Dengan hati-hati, Rina berjalan mendekat dan ikut duduk di tepi pusara, tepat di sebelah Fahmi. Tanah di sana sejuk. Ia melihat Fahmi sudah menangkupkan kedua tangan, mulai memanjatkan doa dalam diam.

Rina pun ikut memejamkan mata, mengirimkan doa tulus untuk kete
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Menyusul ke apertement

    Sementara itu, di rumah Bondan.Di ruang tengah yang hangat, Rina masih menatap Fahmi dengan jantung yang berdegup kencang. Penjelasan Fahmi tentang nama "Fadlan Gumilang" dan gitar yang hilang membuat kepalanya pening."Mi ... apa maksudmu?" tanya Rina dengan suara bergetar. "Kenapa kamu bilang nama mu juga ... maksudku, nama Papamu juga Fadlan Gumilang?"Fahmi menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca. Ia menggenggam tangan Rina yang sedingin es. "Rin, ayahku pergi saat aku SMP. Ibu selalu bilang ayahku pergi dan tidak kembali. Tapi aku sangat tau kalau nama ayahku itu Fadlan Gumilang.”Rina menggeleng, mencoba menolak kenyataan yang mulai terbentuk di benaknya. "Tidak mungkin ... Fadlan itu nama yang umum, Mi. Banyak orang bernama Fadlan!""Tapi gitar itu, Rin," sela Fahmi. "Gitar akustik dengan ukiran inisial 'FG' di bagian bawahnya. Kamu pernah bilang itu gitar kesayangan Papamu. Dan gitar itu adalah gitar yang sama dengan gitar milik ayahku. Gitar yang ikut pergi bersama keper

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Menghabisi

    Di dalam apartemen mewah yang terletak di lantai dua puluh itu, udara mendadak terasa tipis, seolah-olah sistem ventilasi berhenti bekerja tepat saat Ervan melangkahkan kaki masuk. Claudia terus mundur dengan langkah gontai, kakinya yang gemetar terasa lemas hingga pinggulnya menabrak pinggiran meja rias berbahan marmer yang dingin. Botol-botol parfum bermerek miliknya saling bersentuhan, menciptakan bunyi denting halus yang justru terdengar seperti lonceng kematian yang berdentang di telinganya.Ervan melangkah maju dengan gerakan yang sangat tenang, namun aura yang dipancarkannya begitu mengintimidasi hingga atmosfer ruangan terasa membeku. Tatapannya tidak lagi menyimpan sisa-sisa kasih sayang sebagai seorang kekasih atau rekan kerja.Matanya kini seperti mata pemangsa yang sedang membedah mangsanya di atas meja operasi, mencari titik terlemah untuk dihancurkan."Kenapa, Claudia? Kenapa kamu tiba-tiba memihak mereka dan mengkhianati pria yang sudah mengangkat derajatmu?" tanya Erv

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Kebenaran terungkap

    Jakarta Selatan, Pukul 02.00 WIB.Rumah Bondan terasa sangat sunyi. Rumah itu bergaya minimalis dengan pagar tinggi yang tertutup rapat. Setelah memastikan kondisi aman, mereka masuk ke dalam. Rina langsung dipandu oleh Fahmi untuk duduk di ruang tengah.Bondan bergerak menuju dapur, mengambil beberapa kotak makanan siap saji dari kulkas dan menghangatkannya di microwave. Bau harum nasi goreng dan pasta instan mulai memenuhi ruangan, sedikit memberikan rasa normal di tengah situasi yang kacau."Makanlah sedikit, Rin. Kamu butuh tenaga," ujar Fahmi sambil menyodorkan sepiring nasi goreng hangat.Rina menerima piring itu, namun ia hanya mengaduk-aduknya tanpa nafsu. Pikirannya tidak bisa beralih dari satu hal. Setelah memaksakan dua suap masuk ke kerongkongannya yang terasa kering, ia meletakkan kembali piring itu di meja."Sekarang, ceritakan padaku," kata Rina, matanya menatap Fahmi, Bram, dan Bondan bergantian. "Apa yang ada di dalam flashdisk itu? Jangan bilang aku harus menunggu sa

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Perhitungan dengan Claudia

    Laju mobil SUV hitam itu terasa sangat kencang, mesinnya menderu rendah saat membelah kegelapan jalan tol yang lengang menuju arah Jakarta. Di dalam kabin yang kedap suara, kesunyian mendadak menjadi sangat pekat, seolah oksigen di sana telah digantikan oleh kecemasan yang menyesakkan. Rina masih menyandarkan kepalanya di bahu Fahmi, membiarkan kehangatan tubuh pria itu menjadi jangkar di tengah badai yang baru saja ia lalui. Namun, matanya yang sembab dan memerah menatap lurus ke arah kursi depan, menuntut jawaban yang tak kunjung keluar dari bibir pria yang sangat dicintainya itu."Apa isi flashdisk itu, Mi? Kenapa Ervan sangat takut sampai dia kehilangan akal sehatnya seperti tadi?" tanya Rina sekali lagi. Suaranya kecil, parau karena terlalu banyak menangis, namun ada nada ketegasan yang tidak bisa diabaikan. Ia bukan lagi wanita yang bisa ditenangkan hanya dengan pelukan. Ia ingin tahu kebenaran yang membuat hidupnya jungkir balik.Fahmi terdiam seribu bahasa. Ia bisa merasakan

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Sedikit lagi kita bisa bersama

    Pintu darurat di lantai dasar terbuka. Rina terengah-engah, peluhnya membasahi dahi dan punggungnya. Ia kini berada di area lorong belakang yang mengarah langsung ke halaman parkir. Suasana di sini cukup sepi, hanya ada beberapa ambulans yang terparkir.Rina berlari melintasi lahan parkir yang luas, mencoba bersembunyi di balik barisan mobil-mobil yang berjejer rapi. Ia terus menoleh ke belakang, takut melihat sosok Ervan yang mengejarnya.Di saat yang bersamaan, lift di lobi utama terbuka. Ervan melangkah keluar dengan langkah lebar. Ia tidak berlari, namun auranya begitu dominan hingga orang-orang yang berpapasan dengannya otomatis menyingkir. Ia berjalan lurus ke arah pintu keluar rumah sakit, matanya menyisir setiap sudut halaman parkir.Tepat saat Rina hampir mencapai gerbang samping, sebuah SUV hitam besar melaju kencang masuk ke halaman rumah sakit, menerjang pembatas keamanan yang baru saja diperbaiki. Ban mobil itu berdecit keras di atas aspal.Rina terkejut. Ia menghentikan

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Dianggap tikus

    Cahaya kecil dari korek api gas itu menari-nari di dinding semen tangga darurat yang dingin, menciptakan bayangan panjang yang meliuk-liuk seperti jemari hantu. Ervan menyipitkan mata, bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang tampak begitu mengerikan di tengah kegelapan yang pekat. Ia tahu Rina ada di sana, terperangkap di antara beton-beton bisu ini. Ia bisa mencium aroma ketakutan yang menguar. Aroma manis dari keputusasaan atau mungkin itu hanya imajinasinya yang sudah mulai terobsesi untuk mengendalikan wanita itu sepenuhnya. Baginya, pengejaran ini bukan lagi sekadar mencari istri yang membangkang, melainkan sebuah permainan kekuasaan yang harus ia menangkan."Rina ... jangan mempersulit keadaan. Kamu hanya akan lelah sendiri. Kamu tahu aku tidak suka membuang-buang waktu untuk permainan kucing-kucingan seperti ini," suara Ervan terdengar begitu tenang, sangat kontras dengan situasi yang mencekam. Ia berbicara seolah sedang membujuk seorang anak kecil yang tengah merajuk, nam

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status