Home / Romansa / Terjebak Obsesi Paman Suami / 5. Kecewa Ditinggalkan

Share

5. Kecewa Ditinggalkan

last update publish date: 2026-07-22 10:21:33

Natasha menahan napas. Wajahnya mendadak pucat seolah kehilangan warna.

Bisa-bisanya Bian membahas soal malam terkutuk itu di saat mereka sedang berada di rumah keluarga suaminya?

“M-Maaf, saya nggak mengerti maksud Pak–eh Om… Bian,” elak Natasha, pura-pura tidak paham dengan apa yang pria itu bicarakan.

Satu sudut bibir Bian terangkat samar. Dia menegakkan tubuhnya kembali lalu bersedekap dada.

“Jadi, kenapa tadi pagi meninggalkan saya?”

Deg!

Jantung Natasha terasa seperti ditarik ke bawah perut ketika lagi-lagi Bian membahas soal kejadian itu.

“Sebenarnya apa yang Om bicarakan?” Natasha tertawa hambar untuk menyembunyikan perasaan gugupnya. “Saya sama sekali nggak mengerti.”

“Saya cukup kecewa,” lanjut pria itu dengan suara rendah. “Bayangkan saja, saat bangun tidur, wanita yang semalaman bercinta dengan saya ternyata sudah menghilang.”

Natasha menggigit bibir bawahnya kuat-kuat seraya mencengkeram piring. Matanya terpejam sejenak.

“Saya menyuruh sekretaris saya untuk mencari wanita itu. Tapi….” Tangan Bian terulur ke depan tubuh Natasha, membuat perempuan itu lupa caranya bernapas. “Tapi ternyata dia ada di rumah kakak saya.”

Klik!

Bian mematikan kran yang sejak tadi terus mengalir ke piring di tangan Natasha yang sudah bersih.

“Benar-benar kebetulan yang bagus, bukan?” lanjut Bian, menyeringai samar.

Tenggorokan Natasha tercekat. Bahunya menegang. Dia merasa ingin menghilang dari hadapan pria itu detik ini juga.

Entah mengapa Natasha merasa Bian adalah pria yang berbahaya.

“Natasha!” seru Ratu dari kejauhan. “Natasha!”

Refleks Natasha bergeser sedikit menjauh dari Bian. Diam-diam dia menghela napas lega karena Ratu datang di waktu yang tepat.

“Iya!” timpal Natasha sambil menaruh piring ke rak.

Dia akan berbalik, tapi ucapan Bian selanjutnya membuat tubuhnya menegang.

“Saya ingin kamu tahu kalau… kabur dari saya adalah keputusan yang keliru,” bisik pria itu dengan senyuman tipis yang kembali tersungging di bibirnya, sebelum akhirnya dia melangkah dengan tenang menuju mesin kopi.

Natasha menelan saliva dengan berat. Apa maksudnya kalimat itu?

“Natasha!” Ratu masuk ke dapur dengan ekspresi jengkel. “Kenapa sih nggak nyahut dipanggil-panggil dari tadi?”

Natasha menoleh. “Aku lagi cuci piring. Ada apa?”

“Setrikain baju aku buat besok,” titah Ratu tanpa segan. “Bajunya udah aku taruh di ruang laundry.”

“Kenapa nggak Mbak Ira yang setrika?”

Natasha bertanya karena urusan laundry adalah tugasnya salah satu ART mereka bernama Ira.

“Mbak Ira lagi sibuk urusin baju Kak Shireen sama Mas Naufal.”

“Kenapa nggak kamu sendiri yang melakukannya?” Suara Bian tiba-tiba terdengar begitu tenang, menginterupsi percakapan mereka.

Ratu tampak terkejut seolah baru menyadari kehadiran Bian di depan mesin kopi. “Um… bisa aja sih, Om. Tapi aku ada tugas buat mata kuliah besok.”

“Bajumu tanggung jawabmu, bukan orang lain,” timpal Bian tanpa menoleh, sembari menunggu mesin kopi itu menggiling biji kopi yang sudah dimasukkan ke dalam sana.

Mendengarnya, Natasha merasa cukup terkejut. Sebab ini kali pertama di kediaman ini ada seseorang yang dengan berani membela dirinya–walaupun Natasha tidak yakin apakah Bian tengah membelanya atau hanya sedang bersikap sebagai penengah.

Ratu menatap Natasha semakin jengkel. “Iya sih, Om. Tapi selama ini Natasha baik banget mau bantuin aku. Dia juga ikhlas kok, Om, ngelakuinnya. Iya, ‘kan, Sha?”

Natasha menghela napas pelan. “Aku ke laundry sekarang,” ucapnya akhirnya.

Bukan. Natasha bukan sedang mengiyakan pertanyaan Ratu barusan.

Dia hanya ingin menghindari Bian. Jadi pergi ke laundry adalah satu-satunya alasan saat ini.

Sebelum benar-benar keluar dari dapur, Natasha sempat mendengar Bian berkata pada Ratu, “Dia lebih tua darimu. Jaga sikapmu.”

Natasha mencengkeram pakaiannya di sisi tubuh, sebelum akhirnya pergi dari dapur menuju ruang laundry di area belakang.

Dia menemukan keranjang pakaian milik Ratu lalu membawanya ke meja setrika. Dengan tubuh lelah dia mulai menyetrika pakaian tersebut.

Natasha tidak pernah mengira dirinya akan hidup seperti ini.

Satu tahun yang lalu, ibunya mengalami kecelakaan setelah pulang dari pasar dini hari. Kondisinya mengenaskan dan harus menjalani operasi di bagian kepala.

Sedangkan biaya operasi sangatlah besar, dan Natasha tidak punya tabungan sebanyak itu.

Dia juga tidak memiliki saudara yang bisa dipinjami uang.

Natasha pernah menemui ayahnya–yang saat ini hidup mewah dengan istri barunya yang kaya raya, untuk meminta bantuan. Akan tetapi Natasha ditolak mentah-mentah.

Bahkan ayahnya sama sekali tidak mau mengakuinya sebagai putri kandung. Dia menyuruh satpam untuk mengusir Natasha dari rumah mewah itu.

Di saat sedang kelimpungan, Natasha bertemu Haikal di rumah sakit, yang juga tengah dirawat saat itu.

Haikal mengajak Natasha menikah demi mendapatkan warisan dari sang kakek, dan Haikal berjanji akan membantu biaya pengobatan ibu Natasha.

Tanpa banyak berpikir, Natasha langsung menyetujuinya. Tanpa tahu bahwa kehidupan yang menyedihkan sudah menunggu di depan mata.

“Ternyata sudah satu tahun,” gumam Natasha seraya meletakkan pakaian Ratu yang sudah selesai dia setrika, di lemari khusus pakaian Ratu di ruang laundry.

Kemudian keluar dari ruangan tersebut sembari memijat bahunya yang pegal dan tegang. Dia merasa benar-benar lelah.

Di saat yang sama ponselnya berdering, menampilkan nama Haikal di layar.

“Iya, Mas?” sapa Natasha sesaat setelah mengangkat panggilan tersebut.

“Di mana kamu?” tanya Haikal ketus.

“Aku habis dari ruang laundry, Mas.”

“Buatkan aku kopi! Sekarang!”

Tut!

Sambungan terputus secara sepihak.

Natasha menghela napas lelah, lalu menuju dapur.

Sesaat kemudian dia membawa kopi itu ke ruang tamu yang hanya menyisakan Haikal dan Bian.

“Istrimu hanya bekerja di rumah?” tanya Bian dengan tenang, membuat tangan Natasha yang menaruh kopi di meja sempat terdiam sepersekian detik.

“Nggak, Om. Dia kerja.” Haikal mengambil kopi itu dan menyeruputnya.

“Di?”

“Di kantor pusat.”

Satu alis Bian terangkat samar.

“Tapi cuma staf administrasi, sih,” lanjut Haikal, “dia bisa masuk ke sana karena dia bagian dari keluarga kita.”

Natasha menghela napas pelan. Haikal selalu bilang padanya kalau bukan karena statusnya sebagai menantu keluarga Wijaya, Natasha sudah pasti langsung ditolak di Wijaya Group.

Bian diam sejenak, mengangguk samar. Kemudian melirik arlojinya sekilas. “Aku pulang,” katanya sambil bangkit dan mengancingkan jas hitamnya.

Tanpa sengaja Natasha melirik pria itu.

Tetapi Natasha menyesal melakukannya karena Bian tengah menatap ke arahnya. Tatapan dinginnya membuat udara di sekitar Natasha menyempit.

“Sampai jumpa lagi,” ucap Bian tenang.

Sontak Natasha menunduk untuk menghindari tatapan Bian.

Entah pada siapa kalimat itu ditujukan, tetapi entah mengapa Natasha merasa… Bian sedang berbicara padanya?

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
~kho~
waaahh roman²nya, si bian jd bos nih di kantor pusat
goodnovel comment avatar
NING
Thor. Buat Bian baik sama Natasha ya. Jd pelindung dia. Jangan dingin dan kaku sikap Bian dg Natasha. Kasihan. Jangan kejam kejam Thor hehehe
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   50. Perasaan yang Tumbuh Liar

    Natasha mundur perlahan. Perasaannya semakin tidak nyaman. “S-Saya rasa Bapak tidak perlu memberi saya hadiah apa-apa,” ucapnya terbata-bata.Sekarang Natasha mengerti ‘hadiah’ apa yang Bian maksud.Perlahan Bian memutar tubuhnya. Menatap Natasha dengan tatapan marah yang membuat nyali Natasha seketika menciut.“Tapi saya bukan orang yang suka ingkar janji,” ucap Bian seraya maju menghampiri Natasha. “Kalau saya sudah mengatakannya, saya akan menepati janji saya.”Natasha semakin mundur menghindarinya. Jantungnya berdegup kencang. “Bapak terlihat marah sama saya. Apa saya melakukan kesalahan?”Satu sudut bibir Bian terangkat tipis. Alih-alih menjawab, tangannya justru menarik pinggang Natasha hingga wanita itu menabrak tubuhnya.Natasha terkesiap. Belum sempat dia menghindar, Bian sudah lebih dulu menyambar bibirnya lalu menciumnya dengan kasar.Terlalu kasar sampai membuat Natasha kewalahan.Tangan Natasha memberontak, berusaha menghentikan ulah pria itu.Namun Bian semakin erat mem

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   49. Penolakan

    “Apa yang kamu harapkan dari pertemuan ini? Pernikahan?” tanya Bian datar seraya menatap Giselle lurus-lurus.Tatapan itu membuat Giselle tidak nyaman. Giselle mengakui mata pria itu tampak begitu indah dan nyaris membuat hatinya meleleh. Namun manik coklatnya terasa mengintimidasi.Dan Giselle mengakui bahwa Bian Arkananta Wijaya adalah pria paling tampan dan berkharisma yang pernah dia temui dari keluarga kalangan atas seperti mereka.“Orang tua kita merencanakan perjodohan ini tentu saja dengan harapan kita menikah,” jawab Giselle dengan senyuman lembut.“Sayang sekali, saya tidak tertarik dengan pernikahan.”Giselle terkejut. Lalu terkekeh-kekeh anggun. “Ah, Anda blak-blakan sekali, Pak Bian.”“Saya lebih suka bicara jujur dari awal daripada memberimu harapan.”“Jadi, saya ditolak?” Giselle mengerjap, tak menyangka sosok pria yang duduk di hadapannya itu begitu dingin dan sulit ditebak.Bian tak langsung menjawab. Dia masih menatap Giselle tanpa ekspresi.Bian mengakui bahwa wanit

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   48. Misi Berhasil

    Hari Sabtu siang, Natasha pergi menemani Bian menghadiri pameran seni sekaligus untuk mempertemukan Bian dengan Giselle.Dari jarak yang cukup jauh, Natasha memperhatikan Bian yang kini tengah mengobrol dengan salah seorang koleganya.Bahkan, meski ruangan ini dipenuhi para pengusaha muda yang tampan dan berkharisma, sosok Bian adalah yang paling menonjol di antara mereka.Bian tampak penuh wibawa, dingin dan sulit didekati.Ngomong-ngomong, Natasha jadi teringat dengan malam saat dia tidur di penthouse Bian.Setelah ciuman yang Natasha anggap cukup lembut itu Bian tidak bicara apa-apa lagi soal keluarganya. Dan Natasha pun berakhir tidur dalam pelukan pria itu hingga pagi.Sekarang Natasha mengerti apa yang membuat Bian tidak tertarik dengan pernikahan.Bian melihat bahwa pernikahan adalah sumber ketidakbahagiaan ibunya.Natasha menghela napas pelan.Pada saat yang sama, dari kejauhan Bian meliriknya, yang membuat Natasha seketika menahan napas. Bahkan dengan tidak tahu malunya jantu

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   47. Menunjukkan Kelemahan

    “Pak Bian, kenapa Bapak membawa saya ke rumah Bapak?”“Kamu menginap di sini malam ini.”Natasha terkejut mendengarnya. Dia langsung menatap Bian dengan tatapan penuh protes.“Pak, tapi saya harus pulang.”“Pulang?” Bian yang tengah melepas dasinya seketika berhenti, tatapannya beralih pada Natasha dengan datar. “Sejak kapan kamu menganggap rumah itu sebagai tempatmu pulang?”Pertanyaan itu membuat Natasha tertegun. Sejujurnya satu-satunya tempat untuk pulang di dunia ini hanya pelukan ibunya.Natasha tak pernah merasa benar-benar pulang ketika di rumah mertuanya. Rumah itu justru menjadi medan perang baru setelah seharian Natasha berkutat dengan pekerjaan.“Saya menantu di rumah itu, saya tetap punya kewajiban untuk pulang ke sana,” jawab Natasha pada akhirnya.Bian mengembuskan napas kasar. “Kaivan menyuruhmu istirahat. Saya yakin, kalau kamu pulang ke rumah mertuamu, kamu tidak akan istirahat dengan benar.”Kali ini Natasha membeku mendengar ucapan Bian yang di luar dugaan itu.Bia

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   46. Perhatian

    Natasha tidak menyangka Bian akan memanggil dokter untuk memeriksanya.Padahal dia tidak mengeluhkan kondisi kesehatannya pada Bian. Tetapi tanpa banyak bicara pria itu langsung memanggil dokter, yang datang tak sampai dua puluh menit kemudian.Natasha meremas jari jemarinya. Dia tidak bisa memungkiri bahwa sikap Bian membuat hatinya terenyuh.Selama ini, selain ibunya, hampir tidak ada orang yang benar-benar memperhatikan kondisinya sedetail itu.“Apa saja keluhan yang kamu rasakan?” tanya seorang dokter muda yang tampan dan ramah, seraya menempelkan stetoskop di telinga.Posisi Natasha sendiri sudah berbaring di atas sofa. “Pusing, lemas sama kepala nyeri, Dok,” ujarnya apa adanya.“Oke. Aku periksa dulu.”Pria itu memeriksa tekanan darah Natasha seraya meraba denyut nadi di pergelangan tangannya.Bian yang berdiri di dekat mereka mengalihkan tatapannya dari wajah Natasha ke arah tangan dokter muda itu. Sudut matanya berkedut.Sorot mata Bian semakin tajam ketika dia melihat laki-la

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   45. Memaksanya Datang

    “Bagaimana aku mengaturnya?” gumam Natasha seraya memandangi jadwal Bian di akhir pekan nanti yang terpampang pada layar iPad.Jemarinya menekan pelipis yang terasa berdenyut. Sejak bangun tidur pagi tadi Natasha merasa tubuhnya tidak sesegar biasanya.Semalaman pikirannya sibuk mencari cara untuk membawa Bian ke perjodohan yang diatur oleh Wira.Natasha mengembuskan napas. Lalu dia melihat di akhir pekan Bian hanya memiliki satu jadwal, yaitu menghadiri pameran seni dari salah satu seniman ternama di dunia.Setelah berpikir sejenak, Natasha pun meraih ponselnya lalu membuka pesan yang dikirimkan Wira pagi tadi.Wira mengirim alamat pertemuan Bian dengan perempuan bernama Giselle, serta nomor telepon Giselle sendiri.Natasha terdiam sesaat, tiba-tiba perasaan tidak nyaman itu kembali menghantuinya.‘Tidak! Aku tidak boleh begini. Aku harus membuat Pak Bian bertemu lalu menikah dengan Giselle,’ batin Natasha, sebelum akhirnya dia mendial nomor telepon perempuan itu.“Selamat siang. Maa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status