Share

6. Menginginkanmu

last update publish date: 2026-07-22 10:22:12

“Mas, sudah ada tagihan dari rumah sakit. Kapan Mas Haikal akan membayarnya?”

Natasha memberanikan diri bertanya pada Haikal setelah kemarin siang mendapat email tagihan biaya pengobatan ibunya dari pihak rumah sakit.

Haikal mendengus. “Kamu masih minta aku membayarnya?”

“Itu perjanjian kita dari awal ‘kan, Mas?”

“Sekarang tidak lagi!” tegas Haikal seraya menatap Natasha dengan tajam. “Kamu sudah membuat aku gagal dapat investasi dari Pak Chandra. Jadi jangan harap aku masih mau menanggung biaya pengobatan ibumu.”

Natasha terhenyak. “Mas! Terus gimana dengan ibuku?”

“Bukan urusanku.”

Bibir Natasha terbuka hendak bersuara kembali, tetapi Haikal sudah pergi dari hadapannya dan sempat membanting pintu.

Natasha seketika terdiam. Mengingat jatuh tempo tagihan itu yang tinggal beberapa hari lagi membuatnya sesak.

Jika tidak segera dilunasi, pihak rumah sakit akan menghentikan beberapa fasilitas perawatan yang selama ini diterima ibunya.

Tapi dari mana Natasha bisa mendapat uang sebanyak itu dalam waktu dekat?

Tubuh Natasha mendadak lemas. Lalu dia melangkah gontai keluar dari kamar dan berangkat ke kantor menggunakan ojek online.

Setibanya di kubikelnya beberapa saat kemudian, Natasha mendengar hampir seluruh karyawan yang dia lewati membicarakan CEO baru Wijaya Group yang baru bertugas hari ini menggantikan Wira Wijaya–kakeknya Haikal.

Namun Natasha tidak tertarik dengan pembahasan itu. Kepalanya justru dipenuhi satu pertanyaan “bagaimana caranya mendapat uang sebanyak itu dengan cepat?”, tetapi dia tak kunjung mendapatkan jawaban.

Siang harinya setelah istirahat makan siang, kepala divisi tiba-tiba memanggil Natasha ke dalam ruangannya, membuat Natasha bertanya-tanya kesalahan apa yang dilakukan dirinya kali ini?

“Mulai hari ini, tempat kerjamu bukan di sini lagi,” ucap wanita bernama Indah itu dengan datar, membuat Natasha terhenyak.

“K-Kenapa, Bu? Kenapa saya dipecat? Apa saya melakukan kesalahan?”

“Kamu menjadi asisten pribadi CEO mulai siang ini.”

Mata Natasha seketika terbelalak. “Apa? Asisten pribadi?” ulangnya tak percaya.

“Ya.”

“T-Tapi kenapa saya tiba-tiba diangkat jadi asisten pribadi?”

“Entahlah. Saya juga nggak mengerti kenapa Pak Arkananta pilih kamu.” Indah berdecak lidah. “Sekarang pergi temui Pak Arkananta di ruangannya kalau kamu nggak mau dipecat.”

Jadi, nama CEO baru itu Arkananta?

Natasha bertanya-tanya dalam hati sambil melangkah keluar dengan penuh kebingungan.

Dia tidak terlalu mengenal keluarga Wijaya. Jadi dia tidak tahu anak atau cucu Wijaya yang ke berapa pria bernama Arkananta itu.

Pada akhirnya Natasha pergi menuju ruangan CEO seperti yang diperintahkan Indah.

Walaupun keputusan itu sangat mengejutkan dan cukup tidak masuk akal, tetapi Natasha tidak bisa menolak. Dia sangat membutuhkan pekerjaan dan tidak ingin dipecat.

Setibanya di depan ruangan sang CEO, seorang pria bernama Raditya yang merupakan sekretaris CEO itu, membukakan pintu untuk Natasha dan menyuruhnya masuk.

Natasha menghela napas dalam-dalam. Telapak tangannya berkeringat dingin. Lalu melangkah memasuki ruangan tersebut.

Dia disambut aroma woody yang familiar, yang mengingatkannya pada seseorang.

Tidak!

Natasha menggeleng pelan. Di dunia ini pasti banyak sekali pria yang memakai parfum yang sama, pikirnya.

Tanpa berani menaikkan pandangannya, Natasha berhenti melangkah di depan meja sang CEO.

“Selamat siang, Pak. Perkenalkan saya Natasha Samantha. Saya baru saja mendapat kabar bahwa saya diangkat menjadi asisten pribadi Bapak,” ujarnya dengan ramah dan sopan.

Hening.

Tidak ada tanggapan apapun dari CEO di hadapannya.

Hanya suara kertas yang dibalik yang terdengar menggema di ruangan sunyi dan dingin itu.

Kening Natasha berkerut. Lalu dia kembali mengulangi ucapannya.

Namun, masih tidak ada jawaban.

Natasha mulai merasa canggung. Dia mengangkat wajahnya perlahan, memastikan apakah CEO itu mendengarnya atau tidak.

Begitu pandangannya bertemu dengan pria yang duduk di balik meja tersebut, seluruh tubuh Natasha seketika membeku. Dunia di sekitarnya seolah berhenti berputar.

Manik coklat pria itu tengah menatapnya lurus-lurus.

“Om Bian?!” gumamnya dengan mata terbelalak.

Satu sudut bibir Bian terangkat samar. “Sepertinya kamu masih ingat saya.”

Natasha langsung menundukkan wajah. Tangannya kembali berkeringat.

“Maaf, saya tidak tahu kalau CEO baru Wijaya Group adalah Om–maksud saya Pak Bian.”

Bian menutup berkas di hadapannya tanpa mengalihkan pandangannya dari Natasha. Tatapan dingin dan tenang yang membuat kepala Natasha semakin tertunduk.

“Kamu bisa langsung bekerja mulai hari ini.”

Natasha menelan saliva. Dia merasa ada yang tidak beres. “Kenapa saya?”

Satu alis Bian terangkat. “Karena saya yang memilihmu.”

Jawaban itu membuat Natasha seketika terdiam. Kedua tangannya saling meremas di depan perut. Natasha sempat berharap dia tidak lagi bertemu dengan Bian. Namun takdir berkata lain. Pria itu justru menjadi atasannya.

“Apa tidak bisa kalau saya tetap di divisi administrasi?” tawar Natasha memberanikan diri. Sebab dia tidak mau berhadapan dengannya setiap hari.

Sorot mata Bian menggelap sepersekian detik. “Bisa,” jawabnya tenang. Lalu beranjak dari kursinya. Melangkah pelan menghampiri wanita itu dan berdiri di hadapannya.

Natasha refleks mundur satu langkah. “Benarkah? Saya bisa tetap di posisi saya sekarang?”

“Ya.” Bian maju satu langkah.

Natasha menahan napas. Dia kembali mundur.

Tapi Bian terus mempersempit jarak di antara mereka hingga punggung Natasha hampir menyentuh dinding.

“K-Kalau begitu saya–”

“Tapi saya tidak akan membiarkan itu terjadi,” sela Bian tenang dan datar, membuat Natasha seketika terhenyak.

“Kenapa?” Natasha kini benar-benar terpenjara antara dinding dan tubuh tinggi besar pria itu.

Bian diam sejenak. Kepalanya sedikit tertunduk menatap wajah Natasha dengan tatapan sulit diartikan. Kedua tangannya tersembunyi di saku celana.

“Malam itu, kamu sendiri yang datang kepada saya, Natasha.”

Mata Natasha seketika membulat. Dia benar-benar tak menyangka Bian akan mengatakan hal itu dan kembali membahas soal malam tersebut. 

“Baik.” Natasha memejamkan matanya sejenak. “Saya akui bahwa malam itu saya datang ke kamar Bapak dan menghabiskan malam bersama, tapi semua itu terjadi karena kesalahan. Jadi, bisakah Bapak melupakannya?”

“Melupakannya?” Bian mengerjap pelan. “Saya tidak bisa melupakannya. Bagaimana kamu akan bertanggung jawab untuk itu?”

Natasha sedikit terperangah. Kenapa dia yang harus bertanggung jawab?

Udara di sekitar Natasha terasa semakin menyempit karena kehadiran pria itu yang begitu dekat membuatnya terintimidasi.

Tangan Natasha yang dingin mencengkeram roknya perlahan. “S-Sebenarnya apa yang Bapak inginkan?”

Kedua sudut bibir pria itu terangkat tipis. “Kamu.”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   6. Menginginkanmu

    “Mas, sudah ada tagihan dari rumah sakit. Kapan Mas Haikal akan membayarnya?”Natasha memberanikan diri bertanya pada Haikal setelah kemarin siang mendapat email tagihan biaya pengobatan ibunya dari pihak rumah sakit.Haikal mendengus. “Kamu masih minta aku membayarnya?”“Itu perjanjian kita dari awal ‘kan, Mas?”“Sekarang tidak lagi!” tegas Haikal seraya menatap Natasha dengan tajam. “Kamu sudah membuat aku gagal dapat investasi dari Pak Chandra. Jadi jangan harap aku masih mau menanggung biaya pengobatan ibumu.”Natasha terhenyak. “Mas! Terus gimana dengan ibuku?”“Bukan urusanku.”Bibir Natasha terbuka hendak bersuara kembali, tetapi Haikal sudah pergi dari hadapannya dan sempat membanting pintu.Natasha seketika terdiam. Mengingat jatuh tempo tagihan itu yang tinggal beberapa hari lagi membuatnya sesak.Jika tidak segera dilunasi, pihak rumah sakit akan menghentikan beberapa fasilitas perawatan yang selama ini diterima ibunya.Tapi dari mana Natasha bisa mendapat uang sebanyak itu

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   5. Kecewa Ditinggalkan

    Natasha menahan napas. Wajahnya mendadak pucat seolah kehilangan warna.Bisa-bisanya Bian membahas soal malam terkutuk itu di saat mereka sedang berada di rumah keluarga suaminya?“M-Maaf, saya nggak mengerti maksud Pak–eh Om… Bian,” elak Natasha, pura-pura tidak paham dengan apa yang pria itu bicarakan.Satu sudut bibir Bian terangkat samar. Dia menegakkan tubuhnya kembali lalu bersedekap dada.“Jadi, kenapa tadi pagi meninggalkan saya?”Deg!Jantung Natasha terasa seperti ditarik ke bawah perut ketika lagi-lagi Bian membahas soal kejadian itu.“Sebenarnya apa yang Om bicarakan?” Natasha tertawa hambar untuk menyembunyikan perasaan gugupnya. “Saya sama sekali nggak mengerti.”“Saya cukup kecewa,” lanjut pria itu dengan suara rendah. “Bayangkan saja, saat bangun tidur, wanita yang semalaman bercinta dengan saya ternyata sudah menghilang.”Natasha menggigit bibir bawahnya kuat-kuat seraya mencengkeram piring. Matanya terpejam sejenak.“Saya menyuruh sekretaris saya untuk mencari wanita

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   4. Tatapan Mendebarkan

    Prang!Salah satu cangkir di atas nampan yang bergetar itu terjatuh ke lantai.Natasha terkesiap. Semua pasang mata di ruangan itu sontak menoleh ke arahnya.“Maaf.” Natasha buru-buru berjongkok dan menaruh nampan di lantai, lalu meraih satu persatu serpihan beling dengan tangan gemetar.Rupanya benar, dia salah masuk kamar tadi malam.Pria yang menghabiskan malam dengannya bukan Pak Candra.Melainkan… paman suaminya sendiri!Dada Natasha terasa bergemuruh dan sesak. Dia menunduk semakin dalam berusaha menghindari tatapan Bian.Di antara semua tatapan mata di ruangan itu, Natasha merasakan tatapan Bian seperti sedang mengulitinya.“Ya Tuhan, Non.” Bik Yati mendekat. “Biar saya yang bersihin, Non. Nanti tangan Non Nata berdarah.”“Nggak usah dibantu, Yati,” ucap Kartika–ibu mertua Natasha, dengan suara dingin. “Biarin aja dia bertanggung jawab atas kecerobohannya sendiri.”Bik Yati tampak serba salah. Tetapi Natasha langsung mengangguk menenangkan.“Nggak apa-apa, Bik. Tolong pinjam la

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   3. Paman Suamiku

    “Ikut aku!”Haikal mencekal pergelangan tangan Natasha yang baru saja tiba di rumah. Lalu membawanya masuk ke kamar mereka.“Kamu mau buat perusahaan aku bangkrut, Natasha?!” cecar pria itu dengan tatapan penuh amarah.Kening Natasha berkerut. “Apa maksud kamu, Mas?”“Kenapa kamu nggak datang ke kamar Pak Candra?!” bentak Haikal.“Apa? Aku–”“Padahal aku nggak bercanda waktu aku bilang akan menghentikan biaya pengobatan ibumu!” Haikal menatap Natasha tajam.Natasha menggeleng cepat. “Nggak, Mas. Aku mohon jangan. Tadi malam aku–”“Apa?!” sela Haikal cepat, tanpa memberi kesempatan pada Natasha untuk bicara.“Mau cari alasan apa? Kamu nggak dengar perintahku? Padahal apa susahnya temani dia satu malam! Tapi kamu malah pergi dan menghancurkan rencanaku!”Haikal menonjol dinding di samping kepala Natasha, membuat Natasha berjengit dengan mata terpejam sejenak.Natasha terdiam dengan linglung.Jelas-jelas tadi malam dirinya masuk ke kamar investor itu, bahkan Natasha harus menanggung rasa

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   2. Malam Panas

    Natasha terhenyak ketika pria itu memenjarakannya di dinding dan mengunci kedua pergelangan tangannya di sisi kepala.“Lebih cepat dari dugaan saya,” bisik pria itu, yang membuat Natasha mendongak menatapnya dengan tatapan takut dan panik.Hingga dia temukan wajah tegas seorang pria. Alisnya tebal, hidung mancung dan bibir penuhnya memiliki belahan kecil di tengah bibir bawah.Sementara mata kelamnya memandang lurus dengan ekspresi datar yang sulit ditebak.Belum sempat Natasha mencerna apa yang terjadi, pria itu sudah lebih dulu membenamkan bibirnya ke ceruk lehernya. Melumatnya pelan.“Ah!”Tanpa sadar, desahan itu keluar dari bibir Natasha.Natasha buru-buru menggigit bibir bawahnya seraya mendorong dada pria itu agar berhenti menyentuhnya.“A-Apa yang Anda lakukan?”Napas Natasha semakin berat. Tubuhnya yang panas bergerak semakin gelisah.“Menurutmu…,” bisik pria itu seraya menjepit dagu Natasha dengan jemarinya. “Untuk apa saya menyewamu?”Kening Natasha berkerut. Dia tidak meng

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   1. Salah Kamar

    “Malam ini temani Pak Candra di hotel, serahkan tubuhmu padanya.”Wajah Natasha seketika menegang mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut suaminya.“A-apa maksud Mas? Kenapa… kenapa Mas nyuruh aku menyerahkan tubuhku ke investor itu?”“Karena kamu masih perawan.”“Apa?” Natasha membelalak. Dadanya seketika diserang rasa sesak. “Apa sebenarnya yang sedang Mas Haikal bicarakan?”“Dengar, Sha.” Haikal mencondongkan tubuhnya ke arah Natasha yang duduk di hadapannya. “Aku butuh dana besar untuk perusahaanku. Dan satu-satunya investor yang sanggup menggelontorkan dananya dalam waktu dekat cuma Pak Candra. Kamu harus bantu aku sekali ini saja!” tegasnya, tak ingin dibantah.“Dengan menyerahkan tubuhku?”“Ya.”Perut Natasha terasa mencelos. Dia masih bisa menerima perlakuan tidak adil dari suaminya selama satu tahun mereka menikah.Natasha tetap bersabar dan berusaha menjadi istri yang baik, sekalipun Haikal tidak pernah menganggapnya sebagai seorang istri.Namun, permintaannya m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status