MasukPrang!
Salah satu cangkir di atas nampan yang bergetar itu terjatuh ke lantai.
Natasha terkesiap. Semua pasang mata di ruangan itu sontak menoleh ke arahnya.
“Maaf.” Natasha buru-buru berjongkok dan menaruh nampan di lantai, lalu meraih satu persatu serpihan beling dengan tangan gemetar.
Rupanya benar, dia salah masuk kamar tadi malam.
Pria yang menghabiskan malam dengannya bukan Pak Candra.
Melainkan… paman suaminya sendiri!
Dada Natasha terasa bergemuruh dan sesak. Dia menunduk semakin dalam berusaha menghindari tatapan Bian.
Di antara semua tatapan mata di ruangan itu, Natasha merasakan tatapan Bian seperti sedang mengulitinya.
“Ya Tuhan, Non.” Bik Yati mendekat. “Biar saya yang bersihin, Non. Nanti tangan Non Nata berdarah.”
“Nggak usah dibantu, Yati,” ucap Kartika–ibu mertua Natasha, dengan suara dingin. “Biarin aja dia bertanggung jawab atas kecerobohannya sendiri.”
Bik Yati tampak serba salah. Tetapi Natasha langsung mengangguk menenangkan.
“Nggak apa-apa, Bik. Tolong pinjam lapnya aja, ya,” ucap Natasha tanpa berani menoleh ke arah sofa.
Dia khawatir Bian mengenali dirinya lalu membocorkan rahasia mereka tadi malam kepada suami dan keluarganya.
Di sisi lain, kening Bian tampak berkerut samar. Dia mengalihkan tatapannya dari perempuan itu ke arah kakak iparnya.
“Siapa dia?”
Natasha menahan napas mendengar suara berat dan dalam itu, yang membuat dia semakin yakin bahwa suara itu sama dengan suara yang tadi malam berbisik di telinganya.
“Dia….” Kartika berdehem pelan, dengan enggan dia mengakui, “Istri Haikal.”
Kerutan di kening Bian semakin dalam. Keterkejutan melintas di manik mata coklatnya sepersekian detik.
“Istrimu?” Tatapan Bian beralih pada Haikal.
Haikal yang sejak tadi menatap Natasha dengan jengkel, mengangguk malas.
“Iya, Om. Tapi ya gitu, nggak di mana-mana dia suka malu-maluin. Kayak sekarang.”
Satu alis Bian menukik samar. Ujung matanya melirik Natasha yang kini tengah mengelap air yang tumpah di lantai.
“Aduh, maaf ya, Bian. Baru aja datang sudah ada masalah di sini.” Kartika melirik Natasha sekilas. “Lain kali Kakak akan ajarin dia cara bersikap yang benar di rumah ini.”
Natasha sendiri hanya bisa menghela napas mendengarnya. Walaupun hatinya sakit tapi Natasha berusaha untuk tidak peduli.
Dia pun bangkit berdiri setelah membersihkan serpihan beling dan mengelap air teh.
“Saya akan mengganti teh yang baru,” ucap Natasha sebelum berbalik badan.
“Natasha!” panggil Ratu, adik bungsu Haikal yang masih kuliah semester enam.
Natasha terpaksa memutar tubuhnya walaupun dia ingin segera menghindari Bian–yang masih menatapnya.
“Ada apa, Ratu?”
“Bikinin aku es kopi dong! Gulanya jangan terlalu banyak,” perintah Ratu, seperti memberi perintah pada pembantu, bukan meminta tolong pada kakak ipar.
“Sekalian potongin buah buat aku,” timpal Shireen, adik pertama Haikal yang berusia 27 tahun, 2 tahun lebih tua dari Natasha.
Natasha menipiskan bibirnya, berusaha menutupi rasa lelahnya.
“Iya,” jawabnya, sebelum kemudian kembali ke dapur sambil mencengkeram nampan.
Tatapan Bian mengikuti setiap langkah perempuan itu dengan tatapan sulit diartikan.
“Bukankah di rumah ini ada pembantu?” Bian menoleh pelan ke arah Kartika dan Haikal, bergantian. “Kenapa kalian menyuruh dia?”
Langkah Natasha sempat melambat mendengar kata-kata Bian.
Kartika tersenyum tipis. “Namanya juga mendidik menantu, Bian. Kalau nggak dibiasakan, nanti dia akan lupa diri.”
“Mama benar, Om,” timpal Haikal tanpa merasa bersalah sedikit pun. “Biar dia tahu kalau menjadi bagian dari keluarga kita itu nggak semudah yang dia bayangkan.”
Natasha masuk ke dapur. Dia langsung menarik dan mengembuskan napasnya berulang kali, berusaha meredakan detak jantungnya yang tak karuan.
Rasanya dia tidak pernah setakut ini ketika bertemu seseorang.
Bukan hanya karena tatapan Bian yang dingin, tetapi Natasha juga takut pria itu akan melaporkan perbuatannya tadi malam di depan keluarga besar.
Jika itu terjadi, bukan hanya nama Natasha yang buruk, tetapi dia juga akan kehilangan biaya pengobatan ibunya.
Setelah menenangkan diri beberapa saat, Natasha bergegas membuat ulang teh hangat, minuman pesanan Ratu serta memotong buah untuk Shireen.
Kemudian Natasha kembali ke ruang tamu.
Dia meletakkan satu persatu minuman di atas meja, sambil berusaha mengabaikan kehadiran Bian.
Entah mengapa Natasha merasa tatapan pria itu nyaris membolongi kepalanya. Lalu Natasha kembali ke dapur.
Ketika makan malam berlangsung beberapa saat kemudian, Natasha duduk di samping Haikal dan makan dengan canggung.
Berkali-kali dia merasakan tatapan Bian terus tertuju padanya. Natasha mendadak kehilangan selera makan. Telapak tangannya mulai berkeringat dingin.
Di meja makan itu mereka mengobrol ringan. Namun Natasha tidak pernah diajak ikut bicara, kehadirannya seperti makhluk tak kasat mata.
Selesai makan malam, semua orang meninggalkan ruang makan. Kecuali Natasha.
Dia membawa piring kotor ke wastafel lalu mencucinya. Berbagi tugas dengan Bik Yati yang merapikan meja makan.
Tiba-tiba Natasha mendengar suara derap langkah seseorang yang mendekat.
“Bik, sisa piring kotornya tolong simpan di sini aja, ya,” ucap Natasha, yang mengira orang yang datang itu adalah Bik Yati.
Lalu, sebuah gelas kotor diletakkan di wastafel oleh seseorang di belakang Natasha.
Namun tangan itu bukan tangan milik Bik Yati, melainkan tangan kokoh yang dibalut jas hitam.
Itu… Bian?
Tenggorokan Natasha tercekat.
Punggungnya menegang tanpa berani menoleh ke belakang.
“Tadi malam itu,” bisik Bian yang menunduk di dekat telinga Natasha. “Malam yang sangat panas, bukan?”
***
“Mas, sudah ada tagihan dari rumah sakit. Kapan Mas Haikal akan membayarnya?”Natasha memberanikan diri bertanya pada Haikal setelah kemarin siang mendapat email tagihan biaya pengobatan ibunya dari pihak rumah sakit.Haikal mendengus. “Kamu masih minta aku membayarnya?”“Itu perjanjian kita dari awal ‘kan, Mas?”“Sekarang tidak lagi!” tegas Haikal seraya menatap Natasha dengan tajam. “Kamu sudah membuat aku gagal dapat investasi dari Pak Chandra. Jadi jangan harap aku masih mau menanggung biaya pengobatan ibumu.”Natasha terhenyak. “Mas! Terus gimana dengan ibuku?”“Bukan urusanku.”Bibir Natasha terbuka hendak bersuara kembali, tetapi Haikal sudah pergi dari hadapannya dan sempat membanting pintu.Natasha seketika terdiam. Mengingat jatuh tempo tagihan itu yang tinggal beberapa hari lagi membuatnya sesak.Jika tidak segera dilunasi, pihak rumah sakit akan menghentikan beberapa fasilitas perawatan yang selama ini diterima ibunya.Tapi dari mana Natasha bisa mendapat uang sebanyak itu
Natasha menahan napas. Wajahnya mendadak pucat seolah kehilangan warna.Bisa-bisanya Bian membahas soal malam terkutuk itu di saat mereka sedang berada di rumah keluarga suaminya?“M-Maaf, saya nggak mengerti maksud Pak–eh Om… Bian,” elak Natasha, pura-pura tidak paham dengan apa yang pria itu bicarakan.Satu sudut bibir Bian terangkat samar. Dia menegakkan tubuhnya kembali lalu bersedekap dada.“Jadi, kenapa tadi pagi meninggalkan saya?”Deg!Jantung Natasha terasa seperti ditarik ke bawah perut ketika lagi-lagi Bian membahas soal kejadian itu.“Sebenarnya apa yang Om bicarakan?” Natasha tertawa hambar untuk menyembunyikan perasaan gugupnya. “Saya sama sekali nggak mengerti.”“Saya cukup kecewa,” lanjut pria itu dengan suara rendah. “Bayangkan saja, saat bangun tidur, wanita yang semalaman bercinta dengan saya ternyata sudah menghilang.”Natasha menggigit bibir bawahnya kuat-kuat seraya mencengkeram piring. Matanya terpejam sejenak.“Saya menyuruh sekretaris saya untuk mencari wanita
Prang!Salah satu cangkir di atas nampan yang bergetar itu terjatuh ke lantai.Natasha terkesiap. Semua pasang mata di ruangan itu sontak menoleh ke arahnya.“Maaf.” Natasha buru-buru berjongkok dan menaruh nampan di lantai, lalu meraih satu persatu serpihan beling dengan tangan gemetar.Rupanya benar, dia salah masuk kamar tadi malam.Pria yang menghabiskan malam dengannya bukan Pak Candra.Melainkan… paman suaminya sendiri!Dada Natasha terasa bergemuruh dan sesak. Dia menunduk semakin dalam berusaha menghindari tatapan Bian.Di antara semua tatapan mata di ruangan itu, Natasha merasakan tatapan Bian seperti sedang mengulitinya.“Ya Tuhan, Non.” Bik Yati mendekat. “Biar saya yang bersihin, Non. Nanti tangan Non Nata berdarah.”“Nggak usah dibantu, Yati,” ucap Kartika–ibu mertua Natasha, dengan suara dingin. “Biarin aja dia bertanggung jawab atas kecerobohannya sendiri.”Bik Yati tampak serba salah. Tetapi Natasha langsung mengangguk menenangkan.“Nggak apa-apa, Bik. Tolong pinjam la
“Ikut aku!”Haikal mencekal pergelangan tangan Natasha yang baru saja tiba di rumah. Lalu membawanya masuk ke kamar mereka.“Kamu mau buat perusahaan aku bangkrut, Natasha?!” cecar pria itu dengan tatapan penuh amarah.Kening Natasha berkerut. “Apa maksud kamu, Mas?”“Kenapa kamu nggak datang ke kamar Pak Candra?!” bentak Haikal.“Apa? Aku–”“Padahal aku nggak bercanda waktu aku bilang akan menghentikan biaya pengobatan ibumu!” Haikal menatap Natasha tajam.Natasha menggeleng cepat. “Nggak, Mas. Aku mohon jangan. Tadi malam aku–”“Apa?!” sela Haikal cepat, tanpa memberi kesempatan pada Natasha untuk bicara.“Mau cari alasan apa? Kamu nggak dengar perintahku? Padahal apa susahnya temani dia satu malam! Tapi kamu malah pergi dan menghancurkan rencanaku!”Haikal menonjol dinding di samping kepala Natasha, membuat Natasha berjengit dengan mata terpejam sejenak.Natasha terdiam dengan linglung.Jelas-jelas tadi malam dirinya masuk ke kamar investor itu, bahkan Natasha harus menanggung rasa
Natasha terhenyak ketika pria itu memenjarakannya di dinding dan mengunci kedua pergelangan tangannya di sisi kepala.“Lebih cepat dari dugaan saya,” bisik pria itu, yang membuat Natasha mendongak menatapnya dengan tatapan takut dan panik.Hingga dia temukan wajah tegas seorang pria. Alisnya tebal, hidung mancung dan bibir penuhnya memiliki belahan kecil di tengah bibir bawah.Sementara mata kelamnya memandang lurus dengan ekspresi datar yang sulit ditebak.Belum sempat Natasha mencerna apa yang terjadi, pria itu sudah lebih dulu membenamkan bibirnya ke ceruk lehernya. Melumatnya pelan.“Ah!”Tanpa sadar, desahan itu keluar dari bibir Natasha.Natasha buru-buru menggigit bibir bawahnya seraya mendorong dada pria itu agar berhenti menyentuhnya.“A-Apa yang Anda lakukan?”Napas Natasha semakin berat. Tubuhnya yang panas bergerak semakin gelisah.“Menurutmu…,” bisik pria itu seraya menjepit dagu Natasha dengan jemarinya. “Untuk apa saya menyewamu?”Kening Natasha berkerut. Dia tidak meng
“Malam ini temani Pak Candra di hotel, serahkan tubuhmu padanya.”Wajah Natasha seketika menegang mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut suaminya.“A-apa maksud Mas? Kenapa… kenapa Mas nyuruh aku menyerahkan tubuhku ke investor itu?”“Karena kamu masih perawan.”“Apa?” Natasha membelalak. Dadanya seketika diserang rasa sesak. “Apa sebenarnya yang sedang Mas Haikal bicarakan?”“Dengar, Sha.” Haikal mencondongkan tubuhnya ke arah Natasha yang duduk di hadapannya. “Aku butuh dana besar untuk perusahaanku. Dan satu-satunya investor yang sanggup menggelontorkan dananya dalam waktu dekat cuma Pak Candra. Kamu harus bantu aku sekali ini saja!” tegasnya, tak ingin dibantah.“Dengan menyerahkan tubuhku?”“Ya.”Perut Natasha terasa mencelos. Dia masih bisa menerima perlakuan tidak adil dari suaminya selama satu tahun mereka menikah.Natasha tetap bersabar dan berusaha menjadi istri yang baik, sekalipun Haikal tidak pernah menganggapnya sebagai seorang istri.Namun, permintaannya m







