Home / Romansa / Terjebak Obsesi Paman Suami / 4. Tatapan Mendebarkan

Share

4. Tatapan Mendebarkan

last update publish date: 2026-07-22 10:19:32

Prang!

Salah satu cangkir di atas nampan yang bergetar itu terjatuh ke lantai.

Natasha terkesiap. Semua pasang mata di ruangan itu sontak menoleh ke arahnya.

“Maaf.” Natasha buru-buru berjongkok dan menaruh nampan di lantai, lalu meraih satu persatu serpihan beling dengan tangan gemetar.

Rupanya benar, dia salah masuk kamar tadi malam.

Pria yang menghabiskan malam dengannya bukan Pak Candra.

Melainkan… paman suaminya sendiri!

Dada Natasha terasa bergemuruh dan sesak. Dia menunduk semakin dalam berusaha menghindari tatapan Bian.

Di antara semua tatapan mata di ruangan itu, Natasha merasakan tatapan Bian seperti sedang mengulitinya.

“Ya Tuhan, Non.” Bik Yati mendekat. “Biar saya yang bersihin, Non. Nanti tangan Non Nata berdarah.”

“Nggak usah dibantu, Yati,” ucap Kartika–ibu mertua Natasha, dengan suara dingin. “Biarin aja dia bertanggung jawab atas kecerobohannya sendiri.”

Bik Yati tampak serba salah. Tetapi Natasha langsung mengangguk menenangkan.

“Nggak apa-apa, Bik. Tolong pinjam lapnya aja, ya,” ucap Natasha tanpa berani menoleh ke arah sofa.

Dia khawatir Bian mengenali dirinya lalu membocorkan rahasia mereka tadi malam kepada suami dan keluarganya.

Di sisi lain, kening Bian tampak berkerut samar. Dia mengalihkan tatapannya dari perempuan itu ke arah kakak iparnya.

“Siapa dia?”

Natasha menahan napas mendengar suara berat dan dalam itu, yang membuat dia semakin yakin bahwa suara itu sama dengan suara yang tadi malam berbisik di telinganya.

“Dia….” Kartika berdehem pelan, dengan enggan dia mengakui, “Istri Haikal.”

Kerutan di kening Bian semakin dalam. Keterkejutan melintas di manik mata coklatnya sepersekian detik.

“Istrimu?” Tatapan Bian beralih pada Haikal.

Haikal yang sejak tadi menatap Natasha dengan jengkel, mengangguk malas.

“Iya, Om. Tapi ya gitu, nggak di mana-mana dia suka malu-maluin. Kayak sekarang.”

Satu alis Bian menukik samar. Ujung matanya melirik Natasha yang kini tengah mengelap air yang tumpah di lantai.

“Aduh, maaf ya, Bian. Baru aja datang sudah ada masalah di sini.” Kartika melirik Natasha sekilas. “Lain kali Kakak akan ajarin dia cara bersikap yang benar di rumah ini.”

Natasha sendiri hanya bisa menghela napas mendengarnya. Walaupun hatinya sakit tapi Natasha berusaha untuk tidak peduli.

Dia pun bangkit berdiri setelah membersihkan serpihan beling dan mengelap air teh.

“Saya akan mengganti teh yang baru,” ucap Natasha sebelum berbalik badan.

“Natasha!” panggil Ratu, adik bungsu Haikal yang masih kuliah semester enam.

Natasha terpaksa memutar tubuhnya walaupun dia ingin segera menghindari Bian–yang masih menatapnya.

“Ada apa, Ratu?”

“Bikinin aku es kopi dong! Gulanya jangan terlalu banyak,” perintah Ratu, seperti memberi perintah pada pembantu, bukan meminta tolong pada kakak ipar.

“Sekalian potongin buah buat aku,” timpal Shireen, adik pertama Haikal yang berusia 27 tahun, 2 tahun lebih tua dari Natasha.

Natasha menipiskan bibirnya, berusaha menutupi rasa lelahnya.

“Iya,” jawabnya, sebelum kemudian kembali ke dapur sambil mencengkeram nampan.

Tatapan Bian mengikuti setiap langkah perempuan itu dengan tatapan sulit diartikan.

“Bukankah di rumah ini ada pembantu?” Bian menoleh pelan ke arah Kartika dan Haikal, bergantian. “Kenapa kalian menyuruh dia?”

Langkah Natasha sempat melambat mendengar kata-kata Bian.

Kartika tersenyum tipis. “Namanya juga mendidik menantu, Bian. Kalau nggak dibiasakan, nanti dia akan lupa diri.”

“Mama benar, Om,” timpal Haikal tanpa merasa bersalah sedikit pun. “Biar dia tahu kalau menjadi bagian dari keluarga kita itu nggak semudah yang dia bayangkan.”

Natasha masuk ke dapur. Dia langsung menarik dan mengembuskan napasnya berulang kali, berusaha meredakan detak jantungnya yang tak karuan.

Rasanya dia tidak pernah setakut ini ketika bertemu seseorang.

Bukan hanya karena tatapan Bian yang dingin, tetapi Natasha juga takut pria itu akan melaporkan perbuatannya tadi malam di depan keluarga besar.

Jika itu terjadi, bukan hanya nama Natasha yang buruk, tetapi dia juga akan kehilangan biaya pengobatan ibunya.

Setelah menenangkan diri beberapa saat, Natasha bergegas membuat ulang teh hangat, minuman pesanan Ratu serta memotong buah untuk Shireen.

Kemudian Natasha kembali ke ruang tamu.

Dia meletakkan satu persatu minuman di atas meja, sambil berusaha mengabaikan kehadiran Bian.

Entah mengapa Natasha merasa tatapan pria itu nyaris membolongi kepalanya. Lalu Natasha kembali ke dapur.

Ketika makan malam berlangsung beberapa saat kemudian, Natasha duduk di samping Haikal dan makan dengan canggung.

Berkali-kali dia merasakan tatapan Bian terus tertuju padanya. Natasha mendadak kehilangan selera makan. Telapak tangannya mulai berkeringat dingin.

Di meja makan itu mereka mengobrol ringan. Namun Natasha tidak pernah diajak ikut bicara, kehadirannya seperti makhluk tak kasat mata.

Selesai makan malam, semua orang meninggalkan ruang makan. Kecuali Natasha.

Dia membawa piring kotor ke wastafel lalu mencucinya. Berbagi tugas dengan Bik Yati yang merapikan meja makan.

Tiba-tiba Natasha mendengar suara derap langkah seseorang yang mendekat.

“Bik, sisa piring kotornya tolong simpan di sini aja, ya,” ucap Natasha, yang mengira orang yang datang itu adalah Bik Yati.

Lalu, sebuah gelas kotor diletakkan di wastafel oleh seseorang di belakang Natasha.

Namun tangan itu bukan tangan milik Bik Yati, melainkan tangan kokoh yang dibalut jas hitam.

Itu… Bian?

Tenggorokan Natasha tercekat.

Punggungnya menegang tanpa berani menoleh ke belakang.

“Tadi malam itu,” bisik Bian yang menunduk di dekat telinga Natasha. “Malam yang sangat panas, bukan?”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
~kho~
panas... panas. panas dingin iya itu si natasha skrg, wkwkkwk
goodnovel comment avatar
NING
Bian harus tau thor kalau apa yang dilakukan Natasha adalah karna keterpaksaan. Dia diancam.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   111. Hukuman

    Natasha terbangun dari tidurnya saat dia merasakan usapan lembut di pipinya.Ketika matanya terbuka, pemandangan pertama yang dia dapati adalah ibunya yang tengah menatapnya.Natasha sempat membeku. Tatapan itu terasa begitu lembut dan hangat. Padahal sebelumnya Mutia bahkan enggan melihatnya.“Ibu ganggu tidur kamu, ya?” tanya Mutia lembut.Natasha bangkit. “Nggak, Bu. Ada apa?”“Makan dulu. Kamu ‘kan belum makan siang.” Mutia mengelus puncak kepala Natasha, yang membuat Natasha lagi-lagi membeku.“Ibu kenapa? Sepertinya aku sedang bermimpi?” gerutu Natasha.Seulas senyum penuh rasa bersalah terbit di wajah Mutia. Perlahan dia menarik Natasha ke dalam pelukannya.“Maafin Ibu, Nak.”“Ibu….”“Ibu sudah mendiamkanmu tanpa memberi kamu kesempatan untuk menjelaskan semuanya pada Ibu,” ujar Mutia lirih seraya mengusap-usap punggung Natasha. Air matanya terjatuh. Betapa malangnya nasib putrinya selama ini. “Maafin Ibu.”Mata Natasha terasa memanas. Dia balas memeluk Mutia dengan erat. Natas

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   110. Bertanggung Jawab

    Natasha memaklumi jika ibunya marah dan kecewa. Tetapi melihat sang ibu terus menerus mendiamkannya membuat Natasha merasa benar-benar sedih dan bersalah.Mutia menolak bicara dengannya. Bahkan keesokan harinya Mutia meminta mereka keluar dari rumah Bian.Karena tak ingin membuat ibunya semakin marah, akhirnya Natasha membawanya pulang ke rumah mereka.Tetapi diam-diam Bian menyewa beberapa bodyguard untuk berjaga di rumah Natasha, karena khawatir media masih akan terus mengejar mereka.Siang ini, Natasha membawa segelas air minum dan beberapa butir obat ke dalam kamar ibunya. Tetapi yang dia dapati ibunya justru tengah tidur sambil membelakanginya.“Ibu, minum obat dulu, ya,” ucap Natasha pelan seraya menaruh nampan di atas nakas. Kemudian duduk di tepian ranjang. “Sudah waktunya Ibu minum obat.”Namun, Mutia tetap bergeming. Natasha tertunduk lesu karena sampai saat ini ibunya masih mendiamkannya. Dia yakin ibunya tidak benar-benar tidur.“Maafin aku, Bu. Aku sudah mengecewakan Ibu.

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   109. Berubah

    “Kenapa kamu pergi tanpa memberitahu saya? Bukankah sudah saya bilang untuk tetap diam di rumah sebelum masalah ini mereda?” cecar Bian setibanya mereka di dalam mobil.Namun, Natasha seolah tidak mendengarkan omelan pria itu.Dia justru sibuk menggulir berbagai artikel di ponselnya sambil berusaha mencerna fakta yang baru saja dia dengar.Jadi Stella yang menyebarkan foto-foto dirinya dan Bian?Lalu, Bian membalas mereka dengan menyebarkan berita perselingkuhan Stella dan Haikal?Semua kenyataan itu membuat kepala Natasha terasa penuh. Semua peristiwa itu terjadi dalam sekejap.“Natasha!”Seruan Bian membuat Natasha terhenyak. Dia langsung menaikkan pandangannya ke arah Bian yang tengah menatapnya dengan tegas.“Ada apa? Apa tadi Bapak bicara sesuatu?”Bian tidak langsung menjawab. Dia merampas ponsel Natasha terlebih dahulu dan mengeceknya sekilas. “Jangan membuka situs web apapun dan media sosial. Berita di luar sana tidak baik untuk kalian.”Kalian? Maksudnya dirinya dan janinnya?

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   108. Kemarahan

    [Natasha, di mana kamu sekarang?][Bukankah sudah saya bilang untuk tidak keluar dari rumah?]Natasha menghela napas panjang seraya menatap layar ponselnya yang tengah menampilkan pesan dari Bian.Kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas tanpa membalas pesan tersebut. Bahkan Natasha mengabaikan panggilan yang masuk dari Bian setelahnya.Pandangan Natasha lurus ke depan, menatap jalanan dengan tatapan marah.Jika itu bukan Stella, Natasha tidak akan semarah ini. Namun karena perempuan yang berselingkuh dengan Haikal selama ini ternyata Stella, Natasha tak bisa lagi menahan emosinya.Natasha benar-benar muak. Stella seakan tidak pernah puas merebut sesuatu dalam hidup Natasha. Selain merebut ayahnya dan suaminya, Stella bahkan berniat merebut Bian darinya.Seolah-olah Stella ingin menghancurkan apapun yang Natasha miliki.Tak lama kemudian taksi yang ditumpangi Natasha berhenti di depan sebuah gedung apartemen.Natasha mengepalkan tangannya sejenak, sebelum akhirnya turun dan masuk ke

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   107. Serangan Balik

    “Apa Ayah yang melakukannya?” Bian menatap Wira dengan tatapan tajam.Setelah membawa Natasha dan ibunya ke penthouse-nya, Bian langsung menemui ayahnya dengan marah. Wira adalah orang pertama yang Bian curigai telah menyebarkan rumor tersebut.Wira yang kini berdiri membelakangi Bian mengembuskan napasnya dengan berat. “Apa menurutmu Ayah akan melakukan sesuatu sejahat itu padamu?”“Ayah pernah mengancam saya dengan ancaman yang sama,” timpal Bian dingin. “Bukankah wajar kalau saya mencurigai Ayah?”Perlahan Wira memutar tubuhnya menghadap Bian. Terdiam cukup lama seraya menatapnya datar. “Bukan Ayah yang melakukannya.”Kening Bian mengernyit tipis. Meski hubungan mereka tidak dekat, tetapi Bian tahu bahwa ayahnya tidak sepenuhnya berbohong.Wira mungkin kejam dalam caranya mempertahankan kekuasaan, tetapi jika dia ingin menghancurkan hubungan Bian dengan Natasha, pria tua itu tidak akan menyangkalnya seperti sekarang. Wira pasti akan mengakuinya.Bian mengepalkan tangan. Jika bukan

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   106. Skandal

    Raut muka Natasha pagi itu tampak begitu ceria. Dia memasak sarapan dengan hati bahagia karena akhirnya bisa membuat sarapan lagi untuk ibunya.“Bos kamu itu sepertinya orang yang baik ya, Nak,” ucap Mutia yang duduk di kursi roda sambil memperhatikan Natasha.Senyuman di wajah Natasha sempat memudar sepersekian detik. Dadanya seketika berdebar-debar tapi juga terasa sesak di waktu yang sama begitu mengingat pria itu.“Iya, Bu. Pak Bian memang baik,” ucap Natasha pada akhirnya. Walaupun sebenarnya pria itu begitu menyebalkan dan dingin. “Mungkin karena Nata istri keponakannya Pak Bian.”“Beliau sudah menikah?”“Belum, Bu. Katanya Pak Bian nggak tertarik dengan pernikahan.”Kening Mutia mengernyit seraya memperhatikan ekspresi Natasha yang berubah saat membahas Bian.Sementara itu Natasha sendiri merasa gugup, dia takut ibunya mencurigai sesuatu di antara dirinya dan Bian.Bahkan sampai saat ini Natasha tidak tahu bagaimana caranya memberitahukan kehamilannya pada sang ibu. Natasha tak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status