Share

7. Seperti Malam Itu

Penulis: Rosa Uchiyamana
last update Tanggal publikasi: 2026-08-02 20:08:11

Natasha terbelalak. Apa dia tidak salah dengar? Yang Bian inginkan adalah dirinya?

Dirinya?!

“Bapak gila?! Saya istri keponakan Bapak!” sentak Natasha tanpa sadar.

Sorot mata Bian seketika berubah kelam.

Menyadari dirinya sudah bicara kasar, Natasha buru-buru menunduk menghindari tatapan dingin Bian.

“Maaf. Saya sudah bicara kasar sama Bapak. Saya terlalu kaget mendengar ucapan Bapak yang menurut saya nggak masuk akal.”

Bian mundur satu langkah. “Kamu membutuhkan saya,” ujarnya dengan suara rendah yang justru membuat bulu kuduk Natasha berdiri.

“Saya nggak mengerti maksud Bapak.”

“Seperti malam itu.” Bian mengerjap tenang. “Kamu membutuhkan pertolongan. Dan hanya saya yang bisa membantumu.”

Kening Natasha mengernyit, berusaha mencerna kata-kata Bian yang sulit dipahami.

Baik. Malam itu Natasha memang butuh pertolongan karena tubuhnya sangat tersiksa.

Tetapi saat ini Natasha merasa tidak membutuhkan bantuan apapun dari paman suaminya itu.

Natasha menaikkan pandangan, menatap Bian yang sudah kembali ke kursi kerjanya.

“Saya tidak membutuhkan Bapak,” tegas Natasha meyakinkan.

Bian tidak langsung menjawab. Dia hanya membuka berkas di atas mejanya seolah percakapan mereka barusan tidak berarti apa-apa.

“Benarkah?”

“Benar.”

Pria itu mengangguk singkat, membuat Natasha semakin tidak mengerti dengan sikapnya.

“Kalau begitu kamu bisa mulai bekerja.” Bian meletakkan berkas tersebut tanpa menoleh pada Natasha. “Ini daftar pekerjaan yang harus kamu lakukan.”

Natasha menghela napas pelan. Pada akhirnya dia mendekati meja. Menatap Bian dengan penuh kebingungan. Lalu dengan ragu diambilnya berkas itu.

Walaupun berada di divisi administrasi terasa jauh lebih baik. Walaupun dia tidak mau berurusan dengan Bian lagi.

Tetapi Natasha sadar dirinya tidak punya pilihan lain, selain menerima keputusan menjadi asisten pribadi Bian.

“Baik. Kalau begitu saya izin keluar dan mulai bekerja sekarang,” pamit Natasha.

Dia membungkuk hormat. Lalu berbalik menuju pintu. Rasanya dia ingin segera menghilang dari pandangan Bian.

“Natasha.”

Natasha menahan napas, tangannya yang akan memutar knop pintu seketika terhenti.

Cara pria itu memanggil namanya entah mengapa membuat Natasha takut sekaligus gelisah.

“Iya, Pak?” Terpaksa Natasha kembali menoleh, membuatnya tanpa sengaja bersitatap dengan tatapan dingin Bian.

“Saya tidak suka orang baru mencari saya ketika sudah kehabisan pilihan.”

Kening Natasha mengernyit. Lagi-lagi pria itu membahas soal ‘bantuan’.

Tetapi Natasha hanya mengangguk dan berkata singkat, “Baik, Pak.”

Lalu Natasha membuka pintu dan keluar dari ruangan itu seraya menghela napas lega, seolah-olah dia baru saja keluar dari kandang seekor predator.

“Natasha, mulai sekarang itu ruanganmu,” ucap Raditya sembari menunjuk sebuah ruangan yang berada tepat di samping ruangan CEO.

“Ruangan saya?”

“Ya. Kamu bisa bekerja di sana. Kalau Pak Bian membutuhkanmu, dia akan memanggilmu.”

Natasha mengangguk. Setelah Raditya meninggalkannya, Natasha pun masuk ke ruangan tersebut.

Ruangan itu tidak begitu besar dan dindingnya terbuat dari kaca. Sementara mejanya menghadap ke arah ruangan Bian. Sehingga saat Natasha duduk di sana, tatapannya langsung tertuju pada pria itu.

Bian masih duduk di balik meja kerjanya. Wajahnya menunduk pada sebuah berkas. Sesekali pria itu mengernyit. Sesekali mencoret berkas tersebut.

Natasha menghela napas panjang. Lalu menggeleng ketika teringat dengan percakapan mereka beberapa saat yang lalu.

Sebelum akhirnya Natasha berusaha fokus mempelajari daftar tugas yang diberikan Bian.

Saat Natasha sudah mulai fokus, ponselnya berdering. Menampilkan nomor telepon rumah sakit.

Natasha ragu sejenak, lalu mengangkat panggilan tersebut.

“Selamat siang.”

“Selamat siang, Bu Natasha. Kami ingin menginformasikan bahwa tagihan perawatan ibu Anda harus segera dilunasi.”

Natasha seketika menegakkan tubuh.

“Kondisi ibu Anda semakin kritis dan dokter perlu melakukan tindakan medis sesegera mungkin. Tanpa pembayaran, pihak rumah sakit tidak bisa melakukan tindakan tersebut.”

Natasha tercenung, menggigit bibir bawahnya dengan gelisah. “Baik,” gumamnya, sesaat kemudian panggilan berakhir.

Dadanya seketika diserang rasa sesak.

Haikal adalah orang pertama yang Natasha hubungi saat itu juga.

Namun panggilannya ditolak.

Natasha tidak menyerah. Dia kembali memanggil nomor suaminya. Kembali ditolak.

Sesaat kemudian Haikal mengirim pesan.

Mas Haikal: Aku lagi sibuk. Jangan meneleponku terus menerus.

Natasha tercenung sesaat, lalu memberanikan diri membalas Haikal.

Natasha: Mas, rumah sakit telepon lagi. Kalau kamu nggak bisa bayar, bisa pinjami aku aja? Aku akan menggantinya walaupun mungkin butuh waktu lama.

Haikal: Cari sendiri, Sha. Manfaatin handphone kamu buat cari pinjaman online. Jangan ngandelin aku terus.

Natasha mencengkeram ponselnya. Dadanya terasa semakin sesak seperti diremas ribuan tangan tak kasat mata.

‘Kamu membutuhkan saya.’

Kata-kata Bian beberapa saat yang lalu terngiang begitu saja di telinga Natasha.

Dia menaikkan pandangannya ke arah Bian.

Tetapi detik itu juga Natasha menyesal melakukannya karena di saat yang sama pria itu tengah menatapnya dengan tatapan dingin.

Natasha seketika menunduk. Menggeleng cepat.

Tidak.

Dia tidak akan meminta bantuan pria itu. Natasha tidak ingin berurusan terlalu jauh dengannya.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
~kho~
kasian natasha...
goodnovel comment avatar
april_hi
Lanjut thor
goodnovel comment avatar
NING
Kasihan kamu Nat
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   59. Mulai Curiga

    “Babe, kamu tahu Natasha dan Om Bian ada di sini?”Haikal yang baru saja keluar dari kamar mandi menjawab, “Iya, Honey. Om Bian ada konferensi dan dia bawa Natasha. Kamu tahu sendiri Natasha itu asisten pribadinya Om Bian.”Haikal menghampiri Stella yang duduk di tepian ranjang, lantas mencium bibirnya sejenak. “Kenapa kamu tahu mereka ada di Singapura?”“Tadi aku ketemu Natasha di cafe.”“Mereka menginap di hotel ini juga?” tanya Haikal terkejut.“Iya, kayaknya begitu.” Stella mengerutkan kening. “Kenapa kamu kayak kaget begitu?”“Kalau Om Bian ada di hotel ini dan bertemu aku, dia pasti bertanya-tanya kenapa aku ada di sini.”Haikal mengembuskan napas lalu duduk di samping Stella.Stella langsung memeluknya dan mengusap dada Haikal dengan seduktif. “Kan kamu bisa bilang kamu lagi memantau proses syuting untuk iklan terbaru Wijaya Land.”Ya, itu memang benar. Stella sebagai Brand Ambassador Wijaya Land memang sedang syuting di Singapura.Namun, tentu saja kedatangan Haikal ke sini bu

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   58. Mengaguminya

    Natasha menggeliat. Tetapi dia merasakan tubuhnya terkunci oleh sesuatu yang berat dan keras. Kemudian dia membuka kelopak matanya yang terasa lengket.Seketika Natasha menahan napas karena pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah Bian yang masih terlelap dengan damai.Perlahan Natasha menunduk, dia mendapati tubuhnya tenggelam dalam pelukan lengan kekar dan besar milik pria itu.Bahkan mereka masih sama-sama tampil polos setelah sesi terakhir percintaan panas mereka–yang entah untuk ke berapa kalinya malam itu.Pipi Natasha seketika memanas ketika memori tadi malam kembali berkeliaran di kepalanya.Dia pun mendongak, memandangi setiap inci wajah Bian yang terpahat sempurna. Lekukan samar di tengah bibir bawahnya membuat bibir pria itu terlihat… seksi?Jantung Natasha seketika berdebar-debar saat teringat semalaman penuh bibir itu menciumnya.Natasha kembali menunduk, perlahan jemarinya terulur pada dada Bian yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang membuatnya terlihat semakin gagah

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   57. Tak Akan Berhenti

    Sesaat setelah pintu kamar tertutup, Bian memenjarakan Natasha di daun pintu. Dia kembali melahap rakus bibirnya. Melanjutkan ciuman yang sempat terjeda sejak turun dari mobil hingga keluar dari lift.Ciuman panas itu membuat kaki Natasha gemetar dan nyaris kehilangan tenaga. Tubuhnya terasa limbung dan lemas.Natasha seketika lupa dengan rasa sedih yang sempat dialaminya. Kini yang memenuhi benaknya hanya pria ini, seakan-akan Bian telah berhasil mencuri seluruh dunianya.“Saya bantu melepas jas Bapak,” ucap Natasha dengan napas terengah-engah saat Bian menempelkan dahi mereka.Dengan jemari gemetar, Natasha melepaskan jas hitam dari tubuh pria itu. Lalu melepaskan butir demi butir kancing kemeja putihnya, meski beberapa kali jarinya sempat terpeleset.Kemeja itu akhirnya terlempar. Natasha menelan saliva ketika pemandangan di hadapannya berubah menjadi dada bidang yang dipenuhi otot-otot liat.Bayangan tubuh kekar itu yang berada di atasnya dan menggagahinya membuat jantung Natasha

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   56. Di Atas Langit Singapore

    Percakapan Bian dengan empat orang pengusaha itu berakhir tak lama setelah Natasha pergi.Bian pun keluar dari restoran itu, melangkah tenang mengikuti jejak Natasha yang tadi sempat dia perhatikan dari dalam restoran.Perempuan itu pergi ke arah taman. Bian ingin tahu, apa yang dilakukan Natasha saat dia sedang sendirian?Tak butuh waktu lama sampai akhirnya Bian menemukan sosok perempuan bertubuh mungil tersebut.Bian berhenti melangkah tak jauh darinya saat dia melihat Natasha tersenyum sembari mendongak menatap pepohonan raksasa yang berwarna-warni.Lagi-lagi senyuman itu seolah menghipnotisnya. Membuat Bian terpaku dan enggan memalingkan pandangan ke arah lain.Ada apa dengan dirinya?Kenapa senyuman perempuan itu begitu mengganggu?Bahkan Bian tidak mengerti dengan detak jantungnya yang tiba-tiba meningkat dua kali lebih cepat.Sial. Belum pernah Bian merasa tidak nyaman seperti ini sebelumnya.Bian tidak tahu apa nama dari perasaan yang amat sangat mengganggunya itu.Namun, sen

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   55. Satu Kamar

    “Maaf, satu kamar?” Natasha mengerjap. “Maksud Anda, kamar untuk saya dan Pak Bian hanya tersedia satu?”“Benar, Nona. Kami mohon maaf, salah satu kamar dalam reservasi Anda terpaksa kami batalkan karena kendala teknis,” jawab sang resepsionis dalam bahasa Inggris, wajahnya menunjukkan penyesalan.“Apa tidak ada kamar lain yang masih kosong?”“Kami sudah mencarikan kamar pengganti, Nona. Tetapi hotel sedang dalam kondisi penuh.”Setelah memastikan bahwa Natasha benar-benar tidak bisa mendapat kamar pengganti, Natasha pun berjalan dengan langkah gontai menghampiri Bian.Dia lantas menjelaskan mengenai masalah tersebut kepada pria itu.“Tidak masalah. Kita bisa tidur berdua di kamar yang sama,” ujar Bian santai.“Apa?” Natasha terbelalak. Lalu melambaikan tangannya di udara dengan cepat. “Tidak, Pak. Saya rasa tidak perlu. Saya akan mencari hotel lain di sekitar sini.”“Baik. Tapi biayanya kamu yang menanggung sendiri.”Natasha seketika mengatupkan bibirnya. Lagi-lagi pria itu mulai ber

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   54. Cantik

    “Jangan malu-maluin selama di Singapura. Ingat, Sha, kamu itu bawa nama keluarga. Jadi jangan bikin nama Wijaya malu.”“Aku memang belum pernah ke luar negeri, Mas. Tapi aku nggak mungkin melakukan hal-hal bodoh dan memalukan di sana.”“Bagus kalau kamu mengerti.”Natasha menghela napas panjang ketika teringat dengan percakapannya dan Haikal pagi tadi.Seperti biasa, Haikal selalu memandang rendah dirinya. Seolah-olah Natasha tidak becus dalam segala hal.‘Aku ingin hidup bebas,’ batin Natasha tiba-tiba.Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa Natasha ingin bercerai dan terbebas dari keluarga suaminya itu.Namun, Natasha berpikir dua kali untuk melakukannya. Karena dia merasa berhutang budi kepada Haikal.Kalau bukan karena bantuan Haikal, dulu ibunya mungkin sudah tidak tertolong.Sementara itu Natasha masih harus melakukan perannya sebagai istri Haikal, sampai pria itu resmi mendapatkan warisan dari kakeknya.“Apa yang kamu pikirkan?”Natasha tersentak dan keluar dari lamunannya saat menden

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status