LOGINNatasha terbelalak. Apa dia tidak salah dengar? Yang Bian inginkan adalah dirinya?
Dirinya?!
“Bapak gila?! Saya istri keponakan Bapak!” sentak Natasha tanpa sadar.
Sorot mata Bian seketika berubah kelam.
Menyadari dirinya sudah bicara kasar, Natasha buru-buru menunduk menghindari tatapan dingin Bian.
“Maaf. Saya sudah bicara kasar sama Bapak. Saya terlalu kaget mendengar ucapan Bapak yang menurut saya nggak masuk akal.”
Bian mundur satu langkah. “Kamu membutuhkan saya,” ujarnya dengan suara rendah yang justru membuat bulu kuduk Natasha berdiri.
“Saya nggak mengerti maksud Bapak.”
“Seperti malam itu.” Bian mengerjap tenang. “Kamu membutuhkan pertolongan. Dan hanya saya yang bisa membantumu.”
Kening Natasha mengernyit, berusaha mencerna kata-kata Bian yang sulit dipahami.
Baik. Malam itu Natasha memang butuh pertolongan karena tubuhnya sangat tersiksa.
Tetapi saat ini Natasha merasa tidak membutuhkan bantuan apapun dari paman suaminya itu.
Natasha menaikkan pandangan, menatap Bian yang sudah kembali ke kursi kerjanya.
“Saya tidak membutuhkan Bapak,” tegas Natasha meyakinkan.
Bian tidak langsung menjawab. Dia hanya membuka berkas di atas mejanya seolah percakapan mereka barusan tidak berarti apa-apa.
“Benarkah?”
“Benar.”
Pria itu mengangguk singkat, membuat Natasha semakin tidak mengerti dengan sikapnya.
“Kalau begitu kamu bisa mulai bekerja.” Bian meletakkan berkas tersebut tanpa menoleh pada Natasha. “Ini daftar pekerjaan yang harus kamu lakukan.”
Natasha menghela napas pelan. Pada akhirnya dia mendekati meja. Menatap Bian dengan penuh kebingungan. Lalu dengan ragu diambilnya berkas itu.
Walaupun berada di divisi administrasi terasa jauh lebih baik. Walaupun dia tidak mau berurusan dengan Bian lagi.
Tetapi Natasha sadar dirinya tidak punya pilihan lain, selain menerima keputusan menjadi asisten pribadi Bian.
“Baik. Kalau begitu saya izin keluar dan mulai bekerja sekarang,” pamit Natasha.
Dia membungkuk hormat. Lalu berbalik menuju pintu. Rasanya dia ingin segera menghilang dari pandangan Bian.
“Natasha.”
Natasha menahan napas, tangannya yang akan memutar knop pintu seketika terhenti.
Cara pria itu memanggil namanya entah mengapa membuat Natasha takut sekaligus gelisah.
“Iya, Pak?” Terpaksa Natasha kembali menoleh, membuatnya tanpa sengaja bersitatap dengan tatapan dingin Bian.
“Saya tidak suka orang baru mencari saya ketika sudah kehabisan pilihan.”
Kening Natasha mengernyit. Lagi-lagi pria itu membahas soal ‘bantuan’.
Tetapi Natasha hanya mengangguk dan berkata singkat, “Baik, Pak.”
Lalu Natasha membuka pintu dan keluar dari ruangan itu seraya menghela napas lega, seolah-olah dia baru saja keluar dari kandang seekor predator.
“Natasha, mulai sekarang itu ruanganmu,” ucap Raditya sembari menunjuk sebuah ruangan yang berada tepat di samping ruangan CEO.
“Ruangan saya?”
“Ya. Kamu bisa bekerja di sana. Kalau Pak Bian membutuhkanmu, dia akan memanggilmu.”
Natasha mengangguk. Setelah Raditya meninggalkannya, Natasha pun masuk ke ruangan tersebut.
Ruangan itu tidak begitu besar dan dindingnya terbuat dari kaca. Sementara mejanya menghadap ke arah ruangan Bian. Sehingga saat Natasha duduk di sana, tatapannya langsung tertuju pada pria itu.
Bian masih duduk di balik meja kerjanya. Wajahnya menunduk pada sebuah berkas. Sesekali pria itu mengernyit. Sesekali mencoret berkas tersebut.
Natasha menghela napas panjang. Lalu menggeleng ketika teringat dengan percakapan mereka beberapa saat yang lalu.
Sebelum akhirnya Natasha berusaha fokus mempelajari daftar tugas yang diberikan Bian.
Saat Natasha sudah mulai fokus, ponselnya berdering. Menampilkan nomor telepon rumah sakit.
Natasha ragu sejenak, lalu mengangkat panggilan tersebut.
“Selamat siang.”
“Selamat siang, Bu Natasha. Kami ingin menginformasikan bahwa tagihan perawatan ibu Anda harus segera dilunasi.”
Natasha seketika menegakkan tubuh.
“Kondisi ibu Anda semakin kritis dan dokter perlu melakukan tindakan medis sesegera mungkin. Tanpa pembayaran, pihak rumah sakit tidak bisa melakukan tindakan tersebut.”
Natasha tercenung, menggigit bibir bawahnya dengan gelisah. “Baik,” gumamnya, sesaat kemudian panggilan berakhir.
Dadanya seketika diserang rasa sesak.
Haikal adalah orang pertama yang Natasha hubungi saat itu juga.
Namun panggilannya ditolak.
Natasha tidak menyerah. Dia kembali memanggil nomor suaminya. Kembali ditolak.
Sesaat kemudian Haikal mengirim pesan.
Mas Haikal: Aku lagi sibuk. Jangan meneleponku terus menerus.
Natasha tercenung sesaat, lalu memberanikan diri membalas Haikal.
Natasha: Mas, rumah sakit telepon lagi. Kalau kamu nggak bisa bayar, bisa pinjami aku aja? Aku akan menggantinya walaupun mungkin butuh waktu lama.
Haikal: Cari sendiri, Sha. Manfaatin handphone kamu buat cari pinjaman online. Jangan ngandelin aku terus.
Natasha mencengkeram ponselnya. Dadanya terasa semakin sesak seperti diremas ribuan tangan tak kasat mata.
‘Kamu membutuhkan saya.’
Kata-kata Bian beberapa saat yang lalu terngiang begitu saja di telinga Natasha.
Dia menaikkan pandangannya ke arah Bian.
Tetapi detik itu juga Natasha menyesal melakukannya karena di saat yang sama pria itu tengah menatapnya dengan tatapan dingin.
Natasha seketika menunduk. Menggeleng cepat.
Tidak.
Dia tidak akan meminta bantuan pria itu. Natasha tidak ingin berurusan terlalu jauh dengannya.
***
Natasha terbangun dari tidurnya saat dia merasakan usapan lembut di pipinya.Ketika matanya terbuka, pemandangan pertama yang dia dapati adalah ibunya yang tengah menatapnya.Natasha sempat membeku. Tatapan itu terasa begitu lembut dan hangat. Padahal sebelumnya Mutia bahkan enggan melihatnya.“Ibu ganggu tidur kamu, ya?” tanya Mutia lembut.Natasha bangkit. “Nggak, Bu. Ada apa?”“Makan dulu. Kamu ‘kan belum makan siang.” Mutia mengelus puncak kepala Natasha, yang membuat Natasha lagi-lagi membeku.“Ibu kenapa? Sepertinya aku sedang bermimpi?” gerutu Natasha.Seulas senyum penuh rasa bersalah terbit di wajah Mutia. Perlahan dia menarik Natasha ke dalam pelukannya.“Maafin Ibu, Nak.”“Ibu….”“Ibu sudah mendiamkanmu tanpa memberi kamu kesempatan untuk menjelaskan semuanya pada Ibu,” ujar Mutia lirih seraya mengusap-usap punggung Natasha. Air matanya terjatuh. Betapa malangnya nasib putrinya selama ini. “Maafin Ibu.”Mata Natasha terasa memanas. Dia balas memeluk Mutia dengan erat. Natas
Natasha memaklumi jika ibunya marah dan kecewa. Tetapi melihat sang ibu terus menerus mendiamkannya membuat Natasha merasa benar-benar sedih dan bersalah.Mutia menolak bicara dengannya. Bahkan keesokan harinya Mutia meminta mereka keluar dari rumah Bian.Karena tak ingin membuat ibunya semakin marah, akhirnya Natasha membawanya pulang ke rumah mereka.Tetapi diam-diam Bian menyewa beberapa bodyguard untuk berjaga di rumah Natasha, karena khawatir media masih akan terus mengejar mereka.Siang ini, Natasha membawa segelas air minum dan beberapa butir obat ke dalam kamar ibunya. Tetapi yang dia dapati ibunya justru tengah tidur sambil membelakanginya.“Ibu, minum obat dulu, ya,” ucap Natasha pelan seraya menaruh nampan di atas nakas. Kemudian duduk di tepian ranjang. “Sudah waktunya Ibu minum obat.”Namun, Mutia tetap bergeming. Natasha tertunduk lesu karena sampai saat ini ibunya masih mendiamkannya. Dia yakin ibunya tidak benar-benar tidur.“Maafin aku, Bu. Aku sudah mengecewakan Ibu.
“Kenapa kamu pergi tanpa memberitahu saya? Bukankah sudah saya bilang untuk tetap diam di rumah sebelum masalah ini mereda?” cecar Bian setibanya mereka di dalam mobil.Namun, Natasha seolah tidak mendengarkan omelan pria itu.Dia justru sibuk menggulir berbagai artikel di ponselnya sambil berusaha mencerna fakta yang baru saja dia dengar.Jadi Stella yang menyebarkan foto-foto dirinya dan Bian?Lalu, Bian membalas mereka dengan menyebarkan berita perselingkuhan Stella dan Haikal?Semua kenyataan itu membuat kepala Natasha terasa penuh. Semua peristiwa itu terjadi dalam sekejap.“Natasha!”Seruan Bian membuat Natasha terhenyak. Dia langsung menaikkan pandangannya ke arah Bian yang tengah menatapnya dengan tegas.“Ada apa? Apa tadi Bapak bicara sesuatu?”Bian tidak langsung menjawab. Dia merampas ponsel Natasha terlebih dahulu dan mengeceknya sekilas. “Jangan membuka situs web apapun dan media sosial. Berita di luar sana tidak baik untuk kalian.”Kalian? Maksudnya dirinya dan janinnya?
[Natasha, di mana kamu sekarang?][Bukankah sudah saya bilang untuk tidak keluar dari rumah?]Natasha menghela napas panjang seraya menatap layar ponselnya yang tengah menampilkan pesan dari Bian.Kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas tanpa membalas pesan tersebut. Bahkan Natasha mengabaikan panggilan yang masuk dari Bian setelahnya.Pandangan Natasha lurus ke depan, menatap jalanan dengan tatapan marah.Jika itu bukan Stella, Natasha tidak akan semarah ini. Namun karena perempuan yang berselingkuh dengan Haikal selama ini ternyata Stella, Natasha tak bisa lagi menahan emosinya.Natasha benar-benar muak. Stella seakan tidak pernah puas merebut sesuatu dalam hidup Natasha. Selain merebut ayahnya dan suaminya, Stella bahkan berniat merebut Bian darinya.Seolah-olah Stella ingin menghancurkan apapun yang Natasha miliki.Tak lama kemudian taksi yang ditumpangi Natasha berhenti di depan sebuah gedung apartemen.Natasha mengepalkan tangannya sejenak, sebelum akhirnya turun dan masuk ke
“Apa Ayah yang melakukannya?” Bian menatap Wira dengan tatapan tajam.Setelah membawa Natasha dan ibunya ke penthouse-nya, Bian langsung menemui ayahnya dengan marah. Wira adalah orang pertama yang Bian curigai telah menyebarkan rumor tersebut.Wira yang kini berdiri membelakangi Bian mengembuskan napasnya dengan berat. “Apa menurutmu Ayah akan melakukan sesuatu sejahat itu padamu?”“Ayah pernah mengancam saya dengan ancaman yang sama,” timpal Bian dingin. “Bukankah wajar kalau saya mencurigai Ayah?”Perlahan Wira memutar tubuhnya menghadap Bian. Terdiam cukup lama seraya menatapnya datar. “Bukan Ayah yang melakukannya.”Kening Bian mengernyit tipis. Meski hubungan mereka tidak dekat, tetapi Bian tahu bahwa ayahnya tidak sepenuhnya berbohong.Wira mungkin kejam dalam caranya mempertahankan kekuasaan, tetapi jika dia ingin menghancurkan hubungan Bian dengan Natasha, pria tua itu tidak akan menyangkalnya seperti sekarang. Wira pasti akan mengakuinya.Bian mengepalkan tangan. Jika bukan
Raut muka Natasha pagi itu tampak begitu ceria. Dia memasak sarapan dengan hati bahagia karena akhirnya bisa membuat sarapan lagi untuk ibunya.“Bos kamu itu sepertinya orang yang baik ya, Nak,” ucap Mutia yang duduk di kursi roda sambil memperhatikan Natasha.Senyuman di wajah Natasha sempat memudar sepersekian detik. Dadanya seketika berdebar-debar tapi juga terasa sesak di waktu yang sama begitu mengingat pria itu.“Iya, Bu. Pak Bian memang baik,” ucap Natasha pada akhirnya. Walaupun sebenarnya pria itu begitu menyebalkan dan dingin. “Mungkin karena Nata istri keponakannya Pak Bian.”“Beliau sudah menikah?”“Belum, Bu. Katanya Pak Bian nggak tertarik dengan pernikahan.”Kening Mutia mengernyit seraya memperhatikan ekspresi Natasha yang berubah saat membahas Bian.Sementara itu Natasha sendiri merasa gugup, dia takut ibunya mencurigai sesuatu di antara dirinya dan Bian.Bahkan sampai saat ini Natasha tidak tahu bagaimana caranya memberitahukan kehamilannya pada sang ibu. Natasha tak







