Share

8. Penghangat Ranjang

Penulis: Rosa Uchiyamana
last update Tanggal publikasi: 2026-08-03 20:29:54

Sudah hampir satu jam Natasha berdiri di depan lobi CloudX. Tetapi pria yang ditunggunya tak kunjung keluar.

CloudX adalah perusahaan startup milik ibu tirinya, yang kini dikelola ayahnya. Natasha memberanikan diri datang ke CloudX malam ini. Berharap ayahnya mau menolongnya.

“Ayah,” gumam Natasha saat akhirnya dia melihat ayahnya keluar dari lobi dan diikuti oleh sekretaris serta asisten pribadinya.

Natasha meremas tangannya sejenak. Sebelum akhirnya memberanikan diri mendekat.

“Ayah.”

Langkah kaki pria itu seketika terhenti. Ekspresi wajahnya berubah muram saat melihat kedatangan Natasha.

“Ayah, bisa kita bicara?” pinta Natasha dengan canggung.

Rahardian membuang napasnya kasar. “Saya tidak punya waktu.”

Natasha tercenung sesaat. Ayahnya masih sama. Masih menganggap Natasha orang lain.

“Sebentar saja.”

“Pulanglah,” ucap Rahardian dingin. Lalu pergi meninggalkan Natasha.

Tak ingin menyerah, Natasha bergegas menyusulnya sambil berkata cepat, “Kondisi Ibu sedang kritis. Aku butuh biaya agar dokter bisa segera melakukan tindakan. Aku berharap Ayah mau meminjamkan–”

Kata-kata Natasha seketika terhenti saat Rahardian tiba-tiba berhenti berjalan dan menatap Natasha semakin dingin.

“Ibumu sudah bukan urusan saya lagi,” tegas Rahardian, “dan mulai sekarang jangan pernah menemui saya kalau tidak ada urusan penting.”

Natasha termenung. Dadanya terasa nyeri seperti ditikam belati berulang kali.

Rahardian kembali meninggalkan Natasha tanpa terlihat bersalah sedikit pun.

“Papa!” seru seorang perempuan dari arah lain.

Natasha memperhatikan ekspresi ayahnya yang seketika berubah hangat dan lembut saat menatap Stella–putri dari istri barunya.

“Sayang, kenapa malam-malam di sini? Bukannya kamu harus istirahat untuk syuting besok?”

Rahardian menghampiri Stella kemudian memeluknya.

“Aku kebetulan lewat dan aku ingin ketemu Papa. Aku kangen Papa,” kata Stella sembari melirik Natasha sekilas.

“Kamu benar-benar anak yang manis.” Rahardian tertawa sembari mengusap puncak kepala Stella.

Lantas keduanya pergi menghampiri mobil yang sudah terparkir di depan lobi.

Hati Natasha terluka hingga berdarah-darah melihat pemandangan itu.

Natasha lupa bagaimana rasanya dipeluk oleh ayah kandungnya sendiri.

Terakhir kali dia mendapat tatapan lembut dan hangat seperti itu saat dirinya berusia 7 tahun, sebelum dia dibuang.

Dulu, Rahardian pergi meninggalkan Natasha dan istrinya, lalu menikahi kekasihnya yang saat itu sudah memiliki anak yang sama-sama berusia 7 tahun.

Dan anak itu adalah Stella. Yang juga anak kandung Rahardian.

Tangan Natasha terkepal. Dia memandangi mobil ayahnya yang perlahan menjauh dengan pandangan memburam.

***

Keesokan harinya.

Natasha menatap Bian dari balik dinding kaca yang memisahkan ruangan mereka. Pria itu tampak sibuk dengan pekerjaannya.

Tangan Natasha meremas ujung rok. Dia membutuhkan uang itu.

Sangat membutuhkannya.

Setelah ditolak Haikal dan ayahnya, Natasha terpikir untuk meminta bantuan Bian.

Namun bagaimana mungkin dia meminta bantuan pria itu setelah dengan tegas mengatakan bahwa dirinya tidak membutuhkan bantuannya?

Seharian itu pikiran Natasha dipenuhi kebimbangan. Dadanya berat dan sesak.

Semakin lama memikirkannya, semakin Natasha sadar bahwa harga dirinya tidak akan mampu menyelamatkan ibunya.

Akhirnya Natasha bangkit, menarik napas panjang, lalu keluar dari ruangannya.

Tok! Tok! Tok!

Natasha mengetuk pintu ruangan CEO dengan ragu.

“Masuk.”

Menahan napas sesaat, Natasha kemudian melangkah masuk dan berdiri di depan meja Bian.

Pria itu melirik Natasha sekilas. “Ada apa?”

Natasha menggigit bibir bagian dalam, jemarinya saling meremas.

“Saya….” Tenggorokan Natasha tercekat. “Saya ingin meminta bantuan Bapak.”

Bian terdiam, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Manik mata coklatnya mengamati wajah Natasha beberapa saat.

“Bukankah kemarin kamu bilang tidak membutuhkan saya?”

Natasha sedikit menunduk. “Iya.”

“Lalu?”

“Ibu saya kritis. Rumah sakit membutuhkan biaya untuk melakukan tindakan besok,” ujar Natasha, berusaha mengesampingkan harga dirinya.

Bian melipat tangan di dada. Satu sudut bibirnya terangkat samar. “Dan kamu datang kepada saya karena tidak punya pilihan lain?”

Natasha mengepalkan kedua telapak tangannya yang bergetar. Dia tidak menjawab. Dan diamnya sudah menjadi jawaban.

“Kenapa tidak meminta bantuan suamimu?” Bian kembali meraih sebuah berkas, seolah tidak peduli pada permintaan Natasha.

Natasha tak langsung menjawab. Kepalanya sedikit tertunduk, mencoba mencari kata-kata yang tepat agar tidak menjatuhkan harga diri suaminya di depan Bian.

“Mas Haikal sudah membantu saya selama ini. Sekarang saya nggak ingin merepotkannya lagi,” dusta Natasha pada akhirnya.

Satu alis Bian terangkat. “Berapa uang yang kamu butuhkan?”

Natasha kemudian menyebutkan nominal uang yang dibutuhkan.

Bian menutup berkas di hadapannya. Perlahan dia bangkit dan melangkah tenang menghampiri Natasha, membuat Natasha sempat menahan napas ketika jarak di antara mereka menipis.

“Saya akan membantumu.”

Natasha terdiam sepersekian detik, berusaha mencerna kalimat itu.

Detik berikutnya, mata Natasha membulat dan refleks mendongak menatap Bian.

“Bapak mau membantu saya?”

“Ya.”

“Benarkah?” Sorot mata Natasha yang sendu sejak tadi pagi, kini tampak berbinar.

“Tentu.”

Air mata lega hampir terjatuh dari sudut mata Natasha. “Terima kasih,” ucapnya dengan penuh syukur. “Terima kasih Bapak sudah mau membantu saya.”

Bian mengerjap tenang. Matanya memperhatikan wajah Natasha beberapa saat dengan tatapan sulit diartikan, yang membuat nyali Natasha perlahan menciut.

“Tapi tentu saja, Natasha. Tidak ada yang namanya bantuan tanpa syarat.”

Natasha seketika terdiam. Kebahagiaan yang sempat muncul di wajahnya perlahan memudar.

“Apa syaratnya?”

Satu sudut bibir pria itu terangkat samar. “Jadi penghangat ranjang saya,” ujar Bian tenang, yang membuat jantung Natasha seketika mencelos.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
~kho~
awalnya memang menyakitkan sih, harga diri natasha hancur sehancur²nya... tp biarkan nanti waktu yg menjawab.. sibian yg akan termehek², wkwkwkwk
goodnovel comment avatar
Tasy
Welcome bian natasha. Ckckc bian bian haduh mau dikutuk ka ocha kah? Jangan sok2an abis ini bucin sampe kita merinding loh. Wakakak
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   59. Mulai Curiga

    “Babe, kamu tahu Natasha dan Om Bian ada di sini?”Haikal yang baru saja keluar dari kamar mandi menjawab, “Iya, Honey. Om Bian ada konferensi dan dia bawa Natasha. Kamu tahu sendiri Natasha itu asisten pribadinya Om Bian.”Haikal menghampiri Stella yang duduk di tepian ranjang, lantas mencium bibirnya sejenak. “Kenapa kamu tahu mereka ada di Singapura?”“Tadi aku ketemu Natasha di cafe.”“Mereka menginap di hotel ini juga?” tanya Haikal terkejut.“Iya, kayaknya begitu.” Stella mengerutkan kening. “Kenapa kamu kayak kaget begitu?”“Kalau Om Bian ada di hotel ini dan bertemu aku, dia pasti bertanya-tanya kenapa aku ada di sini.”Haikal mengembuskan napas lalu duduk di samping Stella.Stella langsung memeluknya dan mengusap dada Haikal dengan seduktif. “Kan kamu bisa bilang kamu lagi memantau proses syuting untuk iklan terbaru Wijaya Land.”Ya, itu memang benar. Stella sebagai Brand Ambassador Wijaya Land memang sedang syuting di Singapura.Namun, tentu saja kedatangan Haikal ke sini bu

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   58. Mengaguminya

    Natasha menggeliat. Tetapi dia merasakan tubuhnya terkunci oleh sesuatu yang berat dan keras. Kemudian dia membuka kelopak matanya yang terasa lengket.Seketika Natasha menahan napas karena pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah Bian yang masih terlelap dengan damai.Perlahan Natasha menunduk, dia mendapati tubuhnya tenggelam dalam pelukan lengan kekar dan besar milik pria itu.Bahkan mereka masih sama-sama tampil polos setelah sesi terakhir percintaan panas mereka–yang entah untuk ke berapa kalinya malam itu.Pipi Natasha seketika memanas ketika memori tadi malam kembali berkeliaran di kepalanya.Dia pun mendongak, memandangi setiap inci wajah Bian yang terpahat sempurna. Lekukan samar di tengah bibir bawahnya membuat bibir pria itu terlihat… seksi?Jantung Natasha seketika berdebar-debar saat teringat semalaman penuh bibir itu menciumnya.Natasha kembali menunduk, perlahan jemarinya terulur pada dada Bian yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang membuatnya terlihat semakin gagah

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   57. Tak Akan Berhenti

    Sesaat setelah pintu kamar tertutup, Bian memenjarakan Natasha di daun pintu. Dia kembali melahap rakus bibirnya. Melanjutkan ciuman yang sempat terjeda sejak turun dari mobil hingga keluar dari lift.Ciuman panas itu membuat kaki Natasha gemetar dan nyaris kehilangan tenaga. Tubuhnya terasa limbung dan lemas.Natasha seketika lupa dengan rasa sedih yang sempat dialaminya. Kini yang memenuhi benaknya hanya pria ini, seakan-akan Bian telah berhasil mencuri seluruh dunianya.“Saya bantu melepas jas Bapak,” ucap Natasha dengan napas terengah-engah saat Bian menempelkan dahi mereka.Dengan jemari gemetar, Natasha melepaskan jas hitam dari tubuh pria itu. Lalu melepaskan butir demi butir kancing kemeja putihnya, meski beberapa kali jarinya sempat terpeleset.Kemeja itu akhirnya terlempar. Natasha menelan saliva ketika pemandangan di hadapannya berubah menjadi dada bidang yang dipenuhi otot-otot liat.Bayangan tubuh kekar itu yang berada di atasnya dan menggagahinya membuat jantung Natasha

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   56. Di Atas Langit Singapore

    Percakapan Bian dengan empat orang pengusaha itu berakhir tak lama setelah Natasha pergi.Bian pun keluar dari restoran itu, melangkah tenang mengikuti jejak Natasha yang tadi sempat dia perhatikan dari dalam restoran.Perempuan itu pergi ke arah taman. Bian ingin tahu, apa yang dilakukan Natasha saat dia sedang sendirian?Tak butuh waktu lama sampai akhirnya Bian menemukan sosok perempuan bertubuh mungil tersebut.Bian berhenti melangkah tak jauh darinya saat dia melihat Natasha tersenyum sembari mendongak menatap pepohonan raksasa yang berwarna-warni.Lagi-lagi senyuman itu seolah menghipnotisnya. Membuat Bian terpaku dan enggan memalingkan pandangan ke arah lain.Ada apa dengan dirinya?Kenapa senyuman perempuan itu begitu mengganggu?Bahkan Bian tidak mengerti dengan detak jantungnya yang tiba-tiba meningkat dua kali lebih cepat.Sial. Belum pernah Bian merasa tidak nyaman seperti ini sebelumnya.Bian tidak tahu apa nama dari perasaan yang amat sangat mengganggunya itu.Namun, sen

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   55. Satu Kamar

    “Maaf, satu kamar?” Natasha mengerjap. “Maksud Anda, kamar untuk saya dan Pak Bian hanya tersedia satu?”“Benar, Nona. Kami mohon maaf, salah satu kamar dalam reservasi Anda terpaksa kami batalkan karena kendala teknis,” jawab sang resepsionis dalam bahasa Inggris, wajahnya menunjukkan penyesalan.“Apa tidak ada kamar lain yang masih kosong?”“Kami sudah mencarikan kamar pengganti, Nona. Tetapi hotel sedang dalam kondisi penuh.”Setelah memastikan bahwa Natasha benar-benar tidak bisa mendapat kamar pengganti, Natasha pun berjalan dengan langkah gontai menghampiri Bian.Dia lantas menjelaskan mengenai masalah tersebut kepada pria itu.“Tidak masalah. Kita bisa tidur berdua di kamar yang sama,” ujar Bian santai.“Apa?” Natasha terbelalak. Lalu melambaikan tangannya di udara dengan cepat. “Tidak, Pak. Saya rasa tidak perlu. Saya akan mencari hotel lain di sekitar sini.”“Baik. Tapi biayanya kamu yang menanggung sendiri.”Natasha seketika mengatupkan bibirnya. Lagi-lagi pria itu mulai ber

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   54. Cantik

    “Jangan malu-maluin selama di Singapura. Ingat, Sha, kamu itu bawa nama keluarga. Jadi jangan bikin nama Wijaya malu.”“Aku memang belum pernah ke luar negeri, Mas. Tapi aku nggak mungkin melakukan hal-hal bodoh dan memalukan di sana.”“Bagus kalau kamu mengerti.”Natasha menghela napas panjang ketika teringat dengan percakapannya dan Haikal pagi tadi.Seperti biasa, Haikal selalu memandang rendah dirinya. Seolah-olah Natasha tidak becus dalam segala hal.‘Aku ingin hidup bebas,’ batin Natasha tiba-tiba.Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa Natasha ingin bercerai dan terbebas dari keluarga suaminya itu.Namun, Natasha berpikir dua kali untuk melakukannya. Karena dia merasa berhutang budi kepada Haikal.Kalau bukan karena bantuan Haikal, dulu ibunya mungkin sudah tidak tertolong.Sementara itu Natasha masih harus melakukan perannya sebagai istri Haikal, sampai pria itu resmi mendapatkan warisan dari kakeknya.“Apa yang kamu pikirkan?”Natasha tersentak dan keluar dari lamunannya saat menden

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status