Home / Romansa / Terjebak Obsesi Paman Suami / 86. Seharusnya Kamu Marah

Share

86. Seharusnya Kamu Marah

last update publish date: 2026-09-26 22:47:48

Bian bersandar di kursi, satu tangannya bertopang dagu, sementara tangan yang lain mengetuk-ngetukan pulpen di atas meja.

Entah sudah berapa lama dia memandangi Natasha dari balik dinding kaca itu. Bian berusaha memahami apa yang ada di dalam pikiran perempuan itu.

Natasha berubah menjadi pendiam. Bahkan beberapa kali perempuan berusia 25 tahun itu menolak sentuhannya.

Bian merasa tidak nyaman dihindari dan diabaikan olehnya. Bukan marah. Tapi dia justru gelisah.

Bian melirik arloji sejenak, la
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   95. Bertunangan

    Natasha menyeret koper keluar dari rumah mertuanya. Ruang keluarga itu kini tampak kosong dan sepi. Mungkin mereka sudah masuk ke kamar masing-masing.Natasha tidak bertemu dengan siapapun. Bahkan dia tidak melihat mobil Haikal terparkir di depan rumah.Langkah kaki Natasha terhenti sejenak, dia menoleh ke belakang, menatap rumah mewah itu untuk terakhir kalinya.Natasha menghela napas panjang. Akhirnya dia sampai pada hari di mana dia bisa meninggalkan rumah yang penuh dengan luka itu.Natasha melanjutkan kembali langkahnya, lalu masuk ke dalam taksi yang sudah dia pesan beberapa saat lalu.Natasha kemudian menyebutkan alamat rumah barunya kepada sang sopir, rumah yang pernah dia kunjungi bersama Bian tempo hari.Saat mobil mulai meninggalkan tempat tersebut, Natasha akhirnya bisa menghela napas lega.Tangannya terangkat lalu mengusap perutnya yang masih rata.‘Sebentar lagi kita akan hidup bebas,’ batin Natasha seolah tengah mengajak janin di dalam perutnya berkomunikasi.‘Mama janj

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   94. Gugatan Cerai

    Beberapa hari setelah mendapatkan bukti-bukti itu dari Bian, Natasha menjadi lebih banyak merenung dan mencoba berpikir dengan jernih.Natasha tahu apa yang akan dirinya lakukan. Dan dia berusaha memantapkan hati pada keputusan yang akan dia pilih tersebut.“Mbak Natasha?”Suara seorang perempuan yang baru saja menghampirinya mengeluarkan Natasha dari lamunannya.Natasha berdiri, tersenyum. “Selamat sore, Bu Melisa,” sapanya pada pengacara cantik itu sambil menjabat tangannya.Melisa balas tersenyum hangat. “Sudah lama menunggu?”“Tidak terlalu lama kok, Bu.”“Baik. Mari ikut saya.”Natasha mengangguk. Dia meraih tasnya dan memeluk sebuah map di dadanya sambil berjalan mengikuti Melisa menuju ruang rapat.Melisa merupakan salah seorang pengacara yang terkenal di ibu kota. Natasha memutuskan untuk menemui Melisa setelah memikirkan banyak pertimbangan.“Jadi, ada yang bisa saya bantu, Mbak Natasha?” tanya Melisa setelah keduanya duduk berhadapan.Jari jemari Natasha saling meremas. Dia

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   93. Mendapatkan Bukti

    Satu-satunya pemandangan menyenangkan bagi Bian di kala dirinya sibuk dengan pekerjaan adalah ruangan Natasha.Setiap kali Bian menjeda fokusnya, tatapannya refleks tertuju pada perempuan itu.Bian mengembuskan napas kasar, karena lagi-lagi Natasha terlihat pendiam sejak mereka kembali dari rumah sakit tadi.Apa Natasha masih marah padanya gara-gara sikap Bian pada anak kecil itu?Bian bertanya-tanya dalam hati, lantas berpikir sejenak sambil mengetuk-ngetukkan ujung pulpen di atas meja. Sebelum akhirnya dia beranjak dari kursi.Natasha yang tengah sibuk mengetik di komputer, sempat menatap Bian yang keluar dari ruangannya dan berjalan menuju lift tanpa menoleh ke arah Natasha.‘Mau ke mana dia?’ batin Natasha dalam hati.Menghela napas panjang, Natasha pun kembali memfokuskan pandangannya pada layar komputer.Tetapi dia teringat lagi dengan kejadian di rumah sakit tadi. Natasha semakin cemas dan takut saat membayangkan Bian yang suatu saat nanti mungkin akan marah, lalu menyuruhnya u

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   92. Menggemaskan

    “K-Kenapa Bapak bisa menemukan saya di sini?” tanya Natasha gugup sembari berdiri dan menyembunyikan foto hasil USG ke dalam genggamannya.Bian menatap Natasha lamat-lamat. Bisa dia lihat ekspresi wanita itu yang tampak gugup dan panik. “Saya tadi tanya ke perawat, dia melihatmu masuk ke ruangan poli. Apa yang kamu lakukan di sini?”Natasha menggigit bibir bawahnya dengan cemas. Apa yang harus dia katakan? Apakah ini saatnya dia memberitahukan soal kehamilannya kepada Bian?“Saya habis menemui Dokter Willy,” dusta Natasha pada akhirnya, menyebutkan nama dokter yang menangani ibunya.Kening Bian mengernyit. “Kamu tidak sedang membohongi saya, bukan?”“Mana mungkin saya membohongi Bapak.” Natasha seketika tertawa canggung. “Dokter bilang Ibu beberapa hari lagi sudah boleh pulang tapi harus rutin fisioterapi dua kali seminggu.”Natasha tidak berbohong soal kalimat terakhirnya. Tadi dia memang sempat bertemu Dokter Willy saat sedang visit.Bian masih menatap wajah Natasha tanpa beralih ke

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   91. Si Kecil yang Sedang Tumbuh

    “Mas, Ibu pengen ketemu kamu,” ucap Natasha setelah meletakkan secangkir kopi untuk Haikal di atas meja pagi itu.Haikal mengembuskan napas kasar. “Aku masih sibuk. Belum sempat ke rumah sakit.”“Apa nggak bisa nyempatin satu jam aja? Ibu tanya terus mengenai kamu, Mas. Aku sampai bingung harus jawab apa lagi.”“Ya jawab aja aku sibuk, Sha!” ucap Haikal sedikit membentak. “Jangan bikin ribet urusan sesimpel itu.”Natasha mengembuskan napas panjang. Menatap Haikal cukup lama. “Kenapa kamu nggak bisa menghargai Ibu aku sedikit saja sih, Mas? Aku sudah berusaha menghargai keluarga kamu selama ini.”“Iya iya nanti aku ke rumah sakit kalau aku punya waktu.”“Kapan?”“Nggak tahu.” Haikal mengedikkan bahunya singkat.Natasha mengepalkan tangannya. Rasanya percuma dia memohon-mohon pada Haikal. “Apa kamu punya alasan lain kenapa nggak mau menemui Ibu?”Pertanyaan Natasha membuat gelas di tangan Haikal berhenti bergerak.Natasha bisa melihat ada ekspresi aneh dalam sorot mata suaminya itu. Sep

  • Terjebak Obsesi Paman Suami   90. Jangan Menghindar Lagi

    Natasha memejamkan mata, membiarkan Bian menguasai bibirnya. Ciuman itu terasa lembut, seperti ada banyak kata yang ingin Bian ucapkan lewat ciumannya, yang tidak bisa pria itu katakan dengan kata-kata.Tangan Bian yang semula menahan tengkuk, kini mengusap leher jenjang itu. Ibu jarinya mengelus lembut pipi Natasha.Perlahan bibir Bian turun ke lekukan di bawah rahang perempuan itu. Bian menginginkan Natasha untuk waktu yang lama. Sangat lama.Ciumannya beralih ke ceruk leher. Dia tak hanya menginginkan tubuhnya, tapi semua yang ada dalam diri perempuan itu.Bian kembali menaikkan wajahnya, memagut bibir bawah Natasha seraya memejamkan mata. Bisa dia rasakan napas Natasha yang semakin berat.Namun detik berikutnya Natasha tiba-tiba mendorong dada Bian hingga tautan bibir mereka terlepas.“S-Saya harus segera pulang.” Natasha memalingkan wajahnya ke arah lain.Bian tertegun saat melihat mata perempuan itu tampak berkaca-kaca di bawah cahaya lampu jalan.“Kenapa selalu menghindari saya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status