/ Romansa / Terjebak Perangkap Sang CEO / 30. Alasan Yang Sebenarnya

공유

30. Alasan Yang Sebenarnya

작가: nesitara
last update 게시일: 2025-03-17 14:57:48

Pagi masih remang-remang saat Aruna melangkah keluar dari kamarnya. Semalaman ia tidak bisa tidur, hanya tenggelam dalam duka dan kesedihan akan nasibnya. Ibunya pergi untuk selamanya dan adiknya tidak ingin lagi berurusan dengannya. Aruna mulai mempertanyakan untuk apa lagi dirinya ada di sini, di penjara emas yang menjebaknya dalam kesengsaraan?

Udara di apartemen terasa sunyi saat Aruna mencari sosok Baskara. Pria itu sudah menunggunya di ruang tamu, duduk di sofa dengan ekspresi yang sulit
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Terjebak Perangkap Sang CEO   102. Rumah yang Damai

    Ketika Aruna membuka matanya, dunia terasa lembut dan asing. Cahaya matahari menyelinap melalui tirai rumah sakit yang putih, menimbulkan bias hangat di sekujur wajahnya. Bau antiseptik yang biasanya membuatnya mual kini terasa menenangkan. Ia sempat berpikir mungkin ini hanya mimpi, sampai suara itu terdengar.“Aruna…” Nada itu serak, namun familiar.Ia menoleh perlahan. Di sisi ranjang, duduk seseorang dengan wajah letih, mata merah, dan senyum yang berusaha bertahan di antara luka yang belum benar-benar sembuh.Baskara.“Hey,” sapanya pelan, nyaris berbisik.Aruna tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap pria itu, mencoba memahami betapa banyak hal yang sudah mereka lalui—pengkhianatan, kehilangan, amarah, darah, tangis. Lalu keheningan.Baskara menunduk, menatap jemari Aruna yang terkulai di atas selimut. Ia menggenggamnya perlahan, seolah takut sentuhannya bisa menghancurkan perempuan itu lagi. “Aku… minta maaf,” katanya, suaranya pecah di tengah ruang sunyi. “Aku gagal menjagamu

  • Terjebak Perangkap Sang CEO   101. Secercah Cahaya itu Kembali

    “Operasinya berjalan lancar. Namun pasien belum sadarkan diri. Semoga saja secepatnya pasien sadar dan pemulihannya berjalan baik.” seorang dokter memberitahu Baskara setelah penantian berjam-jam di depan ruang operasi. “Syukurlah,” desah Baskara yang menahan napasnya entah sejak kapan. Anindya di sampingnya juga ikut lega. Ia bahkan sampai kembali menangis. “Terima kasih banyak dokter,” ucapnya penuh syukur. “Kalau begitu, saya permisi,” pamit sang dokter meninggalkan tempatnya. Baskara bisa bernapas sedikit lega meski ia belum sepenuhnya tenang setelah semua kejadi

  • Terjebak Perangkap Sang CEO   100. Padamnya Cahaya

    Udara di ruangan itu tiba-tiba berubah berat, bukan lagi hanya karena kabut hujan dan bau kayu lembap, tapi karena logam dingin yang bersinar di bawah lampu. Arga mengangkat senjata dengan gerakan yang tenang dan pasti, matanya tak lagi menerangi ruangan; mereka memancarkan sesuatu yang hanya bisa disebut keheningan sebelum badai.“Aku tidak main-main Baskara,” ujar Arga dengan suara dingin.Anindya menjerit kecil dan meringkuk di belakang kakaknya. Aruna melangkah satu langkah maju, mencoba menjadi perisai antara adiknya dan pistol yang menodong mereka. Adrenalin menyalak dalam tubuhnya, bukan ketakutan kosong, tetapi sesuatu yang tajam dan terfokus. Ia harus melindungi adiknya.Baskara melangkah maju, rahang mengeras. “Arga, jangan lakukan ini,” katanya. “Kita bisa bicara —&rdqu

  • Terjebak Perangkap Sang CEO   99. Pencari Kebenaran

    Udara di dalam rumah tua itu terasa menebal, pekat seperti kabut yang menempel pada kulit. Hujan di luar semakin deras, menabuh ritmenya di atap seng, membuat setiap langkah terasa bergema seribu kali. Lampu minyak di sudut ruang menyorot wajah-wajah yang terkunci dalam lingkaran. Arga satu sisi, berdiri dengan tenang tapi matanya berkobar, Baskara di depan pintu, otot-otot rahangnya tegang, lalu Aruna menggenggam Anindya, tubuh adiknya masih bergetar.Arga mengangkat dagu, memberi jarak dramatis, seolah ingin memberi mereka kesempatan menyerap apa yang akan ia ucapkan. Suaranya ketika akhirnya keluar, halus tapi menusuk, seperti air yang menetes di ruang kosong sampai nada gemanya memaksa.“Kalian tahu betapa senangnya aku ada di tempat ini sekarang. Akhirnya aku bisa menunjukkan siapa diriku sebenarnya setelah bertahun-tahun hidup dalam dusta, menjadi p

  • Terjebak Perangkap Sang CEO   98. Berakhirnya Kepura-puraan

    Langit malam tampak kelabu, seolah ikut menahan napas bersama seluruh ketegangan di rumah itu. Aruna duduk di tepi ranjang, tubuhnya condong ke depan, menatap layar ponsel Baskara yang dari tadi tak berhenti bergetar. Di luar kamar, suara langkah-langkah tim Baskara terdengar sibuk, mereka baru saja kembali membawa kabar baru.Aruna kembali keluar dan bergabung bersama Baskara.“Kami menemukan lokasi ponsel itu, tapi lokasinya agak janggal,” lapor Rafi.Aruna menegakkan tubuh, jantungnya langsung berdegup cepat. “Di mana?”“Daerah pinggiran, sekitar dua jam dari sini.” Rafi lanjut menjelaskan. Ia menunjukkan tab dengan peta dengan tanda merah. &ld

  • Terjebak Perangkap Sang CEO   97. Kecurigaan Besar

    “Nomornya nggak aktif, Mas.” Suara Aruna terdengar serak, hampir putus di ujung. Ia baru menurunkan ponselnya setelah panggilan kesekian kali berujung nada sambung mati.Baskara berdiri di depan jendela besar ruang tamu rumah peninggalan Oma, menatap halaman yang basah karena hujan sore tadi. Lengannya terlipat di dada, tapi rahangnya tegang. “Coba lagi,” katanya datar.“Aku udah coba. Nomornya nggak aktif, pesannya juga nggak dibalas.”Aruna memandangi layar ponselnya, jari-jarinya bergetar. “Dia nggak mungkin tiba-tiba ngilang gini. Biasanya Arga selalu menjawab teleponku.”Baskara menarik napas panjang, lalu berbalik. “Justru itu masalahnya.”Ia meraih ponselnya s

  • Terjebak Perangkap Sang CEO   35. Malam Pesta

    Pesta makan malam yang mewah dan dipenuhi orang-orang penting terasa begitu menyesakkan bagi Aruna. Lampu kristal yang berkilauan, suara gelak tawa, dan dentingan gelas anggur hanya menambah pusing di kepalanya. Namun, ia tetap memasang senyum di wajahnya, berpura-pura baik-baik saja.Setiap langka

  • Terjebak Perangkap Sang CEO   33. Obrolan Menenangkan

    “Aruna?” Arga langsung menghampiri sang gadis yang masih berdiri di depan mandi. Keningnya berkerut melihat keadaan sepupunya yang jelas tidak baik-baik saja. “Kamu sakit?”Aruna hanya diam, enggan menjawab. Tubuhnya masih terasa lemas setelah muntah tadi, dan kepalanya masih berdenyut ringan. Ia m

  • Terjebak Perangkap Sang CEO   27. Kabar Mengejutkan

    Aruna berdiri di tepi area gathering, memperhatikan para karyawan yang tertawa dan bersenda gurau sambil menikmati berbagai permainan yang telah disiapkan. Senyum mereka terlihat begitu lepas, seolah dunia ini tidak memiliki beban.Ponsel Aruna tiba-tiba bergetar di sakunya. Aruna melihat nama Anin

  • Terjebak Perangkap Sang CEO   26. Gelisah

    Aruna duduk di sofa ruang tengah, tubuhnya terasa lelah setelah seharian di rumah sakit. Matanya masih sembab, pikirannya terus dipenuhi kondisi ibunya yang semakin memburuk. Belum lagi Adrian yang sepertinya belum ingin menyerah mengganggu Aruna.Tidak lama, Baskara masuk ke dalam apartemen. Pria

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status