Mag-log inAruna berkali-kali menelan ludah saat langkahnya mengikuti Baskara memasuki salah satu ballroom hotel ternama di ibu kota. Ruangan itu memiliki langit-langit tinggi dan lampu kristal yang berkilauan. Dentingan gelas, suara obrolan rendah, dan alunan musik klasik mengisi udara, namun semua itu tidak mampu meredakan kegugupan Aruna.
Tatapan para tamu yang berbalik ke arah mereka semakin membuat Aruna merasa kecil. Mereka semua pasti orang kaya dan penting. Berbagai bisikan mulai terdengar begitu Baskara dengan percaya diri memperkenalkannya.
Tangan Baskara yang melingkari pinggang Aruna terasa hangat, tapi itu tidak cukup untuk meredakan kegugupannya. Apalagi saat mereka melewati beberapa tamu, Aruna bisa merasakan tatapan mereka menyelidik, penuh rasa ingin tahu.
“Itu istrinya?” bisik seseorang.
“Katanya sih karyawan di kantornya sendiri,” sahut yang lain.
“Kudengar dia hamil duluan…” tamu yang lain menimpali.
Semakin masuk ke dalam keramaian, semakin Aruna merasa ia tidak pantas berada di tempat itu. Kini perutnya diremas kuat seiring dengan rasa gugup yang semakin tidak tertahankan. Sayangnya, Aruna harus menahan apa pun yang ia rasakan. Malam ini ia harus bersandiwara menjadi istri seorang Baskara yang bahagia.
“Izinkan aku memperkenalkan istriku. Aruna,” ujar Baskara dengan suara tenang namun penuh ketegasan, memperkenalkan Aruna kepada beberapa rekan bisnisnya.
Aruna tersenyum kecil, meskipun ia bisa merasakan detak jantungnya berpacu cepat.
Beberapa orang mencoba basa-basi, sisanya hanya bisa menatap dan berbisik. Meski begitu, Aruna berusaha membalas dengan senyuman canggung, meski ia merasa semua pasang mata seolah sedang menilai dan menghakiminya.
Tidak lama, seorang wanita mendekat dengan langkah anggun. Gaun berpotongan mahal membalut tubuhnya yang indah. Senyum ramah terukir di wajahnya, meskipun ada sesuatu yang membuat Aruna merasa tidak nyaman dari gerak-gerik wanita itu.
"Halo, Baskara," sapa sang wanita dengan nada lembut namun mengandung sesuatu yang tersirat. Gadis itu kemudian beralih pada Aruna. “Kamu… Aruna, ya?”
Aruna mengangguk sopan. Wanita itu lantas beralih lagi pada Baskara, melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang Aruna tidak mengerti, membuatnya semakin merasa seperti orang asing di antara mereka.
“Jadi ini alasan kamu membatalkan kesepakatan keluarga kita?” tanya gadis itu pada Baskara.
Tatapan Baskara tetap tenang saat menjawab, suaranya terdengar datar namun memiliki intensi lain. Aruna masih tidak mengerti apa yang keduanya katakan, tapi dari gerak-gerik dua orang itu, Aruna bisa melihat bahwa mereka memiliki hubungan atau setidaknya mengenal satu sama lain sejak lama.
Obrolan dua orang itu membuat Aruna merasa semakin tersisih. Entah kenapa ia merasa sedang menjadi objek pembicaraan meski tidak mengerti bagaimana. Ia juga merasa kehadirannya di sini lebih sebagai pajangan daripada sebagai istri Baskara.
Karena merasa semakin tidak nyaman, Aruna beralasan harus pergi ke toilet. Secepat kilat ia berjalan menjauh menuju toilet, berusaha menenangkan diri sejenak dari atmosfer yang begitu menyesakkan.
***
Aruna menatap bayangannya di cermin, mencoba mengatur napas yang terasa berat. Tangannya bertumpu di tepi wastafel, berusaha meredakan kegugupan dan perasaan tidak nyaman yang sejak tadi menggelayutinya. Ia tidak menyangka acara ini menjadi sangat sulit.
Tiba-tiba, suara langkah kaki mendekat. Aruna menoleh dan melihat wanita tadi masuk ke dalam toilet dengan langkah anggun. Wanita itu berdiri di sebelahnya, juga menatap cermin sambil merapikan riasannya.
"Aku Tania," katanya tiba-tiba, dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Mata mereka bertemu lewat pantulan di cermin.
Aruna langsung mengenali nama itu. Tania—wanita yang seharusnya dijodohkan dengan Baskara.
Jantungnya berdetak lebih cepat, tapi ia tetap berusaha menjaga ekspresinya agar tetap tenang.
"Aku tahu siapa kamu," jawab Aruna pelan.
“Baskara yang memberitahumu?”
Aruna menggeleng.
Tania melangkah lebih dekat hingga berdiri di hadapan Aruna. Tubuhnya menjulang mendominasi, berbanding terbalik dari Aruna yang sejak tadi menunduk, merasa gugup dan takut akan situasinya.
“Begini, Aruna. Kamu telah merebut apa yang jadi milikku. Tapi, tidak apa-apa, aku masih coba memberimu kesempatan. Mungkin kamu memang tidak tahu situasinya.” Tania berkata dengan santai namun nadanya mengintimidasi.
Aruna tidak menjawab, bibirnya terkatup.
Melihat diam Aruna, Tania bicara lagi. “Ini peringatanku yang pertama dan terakhir, tinggalkan Baskara.”
“T-tapi aku istrinya,” ucap Aruna saat ia akhirnya menemukan keberanian untuk bicara.
Tania mendengus. Kedua tangannya terlipat di depan dada. “Kita lihat saja nanti, Aruna. Memangnya kamu pikir kamu pantas menjadi istrinya?”
“Baskara sendiri yang memilihku,” ucap Aruna lagi, kali ini lebih berani dari sebelumnya.
Hal itu tentu saja membuat Tania naik pitam. “Dasar wanita rendahan!” umpatnya kesal.
Tanpa Aruna sadari, Tania menadahkan air ke tangannya lalu menyiram Aruna hingga tubuh dan wajah gadis itu basah.
Aruna menjerit, terkejut dengan serangan yang dilancarkan Tania. Setelah itu, Tania berjalan keluar dari toilet tanpa menghiraukan lagi Aruna.
Bibir Aruna bergetar menahan emosi saat ia berdiri di depan cermin, menatap bayangannya yang kacau dan basah. Tania telah berhasil mempermalukannya, dan ia hanya bisa diam. Meski ingin melawan, Aruna tahu ia tidak boleh membuat keributan yang lebih besar.
Menghela napas, Aruna menegakkan punggungnya dan melangkah keluar toilet dengan hati-hati. Namun, begitu ia kembali memasuki ruangan utama, tatapan-tatapan mulai menghujani dirinya. Beberapa tamu saling berbisik, sebagian bahkan menatapnya semakin sinis.
Aruna menundukkan wajah, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh. Ini memalukan. Baskara pasti akan memarahinya setelah pria itu memperingatkan Aruna untuk tidak membuat dirinya malu.
Tiba-tiba, Baskara menghampiri dengan ekspresi dingin dan tajam, matanya langsung menangkap kondisi Aruna yang basah kuyup.
"Apa yang terjadi?" suara pria itu nyaris seperti erangan.
Aruna menggeleng cepat, tidak ingin memperumit keadaan. "Tidak apa-apa, aku hanya—"
Namun, matanya tanpa sadar melirik ke arah Tania yang tengah berdiri di sudut ruangan, berbincang dengan beberapa orang sambil diam-diam melihat ke arah Aruna yang menjadi pusat perhatian karena kondisinya.
Baskara mengikuti arah tatapan Aruna, lalu rahangnya mengatup keras. Tanpa berpikir dua kali, pria itu menghampiri Tania dengan langkah cepat dan penuh amarah.
Para tamu mulai menyadari perubahan suasana. Beberapa orang melirik ke arah Baskara dan Tania dengan penasaran, bisik-bisik kembali terdengar di antara mereka.
"Baskara, ada apa?" tanya Tania polos, seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi.
Hanya saja Aruna bisa melihat tatapan Baskara tajam seperti belati saat pria itu berhadapan dengan Tania. "Jangan pura-pura bodoh, Tania." Suaranya rendah, namun penuh ancaman. "Apa yang kamu lakukan pada istriku?"
Kening Tania mengerut. “Aku tidak melakukan apa pun. Mungkin istrimu saja yang gegabah? Dia pasti tidak terbiasa dengan pesta semewah ini karena berasal dari kalangan bawah. Kamu seharusnya mencari istri yang lebih baik, Baskara. Dia tidak selevel denganmu, denganku, dengan kita–”
Belum selesai Tania bicara, Baskara menggenggam pergelangan wanita itu dan mencengkramnya keras. Tania mengaduh dan minta dilepaskan, namun Baskara malah semakin mencengkram dan menatap gadis itu dengan tatapan membunuh.
“Jangan pernah kamu mengganggu istriku atau kamu akan rasakan sendiri akibatnya!” desis Baskara kemudian.
Ketika Aruna membuka matanya, dunia terasa lembut dan asing. Cahaya matahari menyelinap melalui tirai rumah sakit yang putih, menimbulkan bias hangat di sekujur wajahnya. Bau antiseptik yang biasanya membuatnya mual kini terasa menenangkan. Ia sempat berpikir mungkin ini hanya mimpi, sampai suara itu terdengar.“Aruna…” Nada itu serak, namun familiar.Ia menoleh perlahan. Di sisi ranjang, duduk seseorang dengan wajah letih, mata merah, dan senyum yang berusaha bertahan di antara luka yang belum benar-benar sembuh.Baskara.“Hey,” sapanya pelan, nyaris berbisik.Aruna tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap pria itu, mencoba memahami betapa banyak hal yang sudah mereka lalui—pengkhianatan, kehilangan, amarah, darah, tangis. Lalu keheningan.Baskara menunduk, menatap jemari Aruna yang terkulai di atas selimut. Ia menggenggamnya perlahan, seolah takut sentuhannya bisa menghancurkan perempuan itu lagi. “Aku… minta maaf,” katanya, suaranya pecah di tengah ruang sunyi. “Aku gagal menjagamu
“Operasinya berjalan lancar. Namun pasien belum sadarkan diri. Semoga saja secepatnya pasien sadar dan pemulihannya berjalan baik.” seorang dokter memberitahu Baskara setelah penantian berjam-jam di depan ruang operasi. “Syukurlah,” desah Baskara yang menahan napasnya entah sejak kapan. Anindya di sampingnya juga ikut lega. Ia bahkan sampai kembali menangis. “Terima kasih banyak dokter,” ucapnya penuh syukur. “Kalau begitu, saya permisi,” pamit sang dokter meninggalkan tempatnya. Baskara bisa bernapas sedikit lega meski ia belum sepenuhnya tenang setelah semua kejadi
Udara di ruangan itu tiba-tiba berubah berat, bukan lagi hanya karena kabut hujan dan bau kayu lembap, tapi karena logam dingin yang bersinar di bawah lampu. Arga mengangkat senjata dengan gerakan yang tenang dan pasti, matanya tak lagi menerangi ruangan; mereka memancarkan sesuatu yang hanya bisa disebut keheningan sebelum badai.“Aku tidak main-main Baskara,” ujar Arga dengan suara dingin.Anindya menjerit kecil dan meringkuk di belakang kakaknya. Aruna melangkah satu langkah maju, mencoba menjadi perisai antara adiknya dan pistol yang menodong mereka. Adrenalin menyalak dalam tubuhnya, bukan ketakutan kosong, tetapi sesuatu yang tajam dan terfokus. Ia harus melindungi adiknya.Baskara melangkah maju, rahang mengeras. “Arga, jangan lakukan ini,” katanya. “Kita bisa bicara —&rdqu
Udara di dalam rumah tua itu terasa menebal, pekat seperti kabut yang menempel pada kulit. Hujan di luar semakin deras, menabuh ritmenya di atap seng, membuat setiap langkah terasa bergema seribu kali. Lampu minyak di sudut ruang menyorot wajah-wajah yang terkunci dalam lingkaran. Arga satu sisi, berdiri dengan tenang tapi matanya berkobar, Baskara di depan pintu, otot-otot rahangnya tegang, lalu Aruna menggenggam Anindya, tubuh adiknya masih bergetar.Arga mengangkat dagu, memberi jarak dramatis, seolah ingin memberi mereka kesempatan menyerap apa yang akan ia ucapkan. Suaranya ketika akhirnya keluar, halus tapi menusuk, seperti air yang menetes di ruang kosong sampai nada gemanya memaksa.“Kalian tahu betapa senangnya aku ada di tempat ini sekarang. Akhirnya aku bisa menunjukkan siapa diriku sebenarnya setelah bertahun-tahun hidup dalam dusta, menjadi p
Langit malam tampak kelabu, seolah ikut menahan napas bersama seluruh ketegangan di rumah itu. Aruna duduk di tepi ranjang, tubuhnya condong ke depan, menatap layar ponsel Baskara yang dari tadi tak berhenti bergetar. Di luar kamar, suara langkah-langkah tim Baskara terdengar sibuk, mereka baru saja kembali membawa kabar baru.Aruna kembali keluar dan bergabung bersama Baskara.“Kami menemukan lokasi ponsel itu, tapi lokasinya agak janggal,” lapor Rafi.Aruna menegakkan tubuh, jantungnya langsung berdegup cepat. “Di mana?”“Daerah pinggiran, sekitar dua jam dari sini.” Rafi lanjut menjelaskan. Ia menunjukkan tab dengan peta dengan tanda merah. &ld
“Nomornya nggak aktif, Mas.” Suara Aruna terdengar serak, hampir putus di ujung. Ia baru menurunkan ponselnya setelah panggilan kesekian kali berujung nada sambung mati.Baskara berdiri di depan jendela besar ruang tamu rumah peninggalan Oma, menatap halaman yang basah karena hujan sore tadi. Lengannya terlipat di dada, tapi rahangnya tegang. “Coba lagi,” katanya datar.“Aku udah coba. Nomornya nggak aktif, pesannya juga nggak dibalas.”Aruna memandangi layar ponselnya, jari-jarinya bergetar. “Dia nggak mungkin tiba-tiba ngilang gini. Biasanya Arga selalu menjawab teleponku.”Baskara menarik napas panjang, lalu berbalik. “Justru itu masalahnya.”Ia meraih ponselnya s







