Share

Bab 2: Melawan Ego

Penulis: Mautenta
last update Terakhir Diperbarui: 2024-12-01 21:59:47

Raka kemudian turun dan menghampiri Arini. “Udah aku duga bakal kayak gini. Lebih baik kamu masuk mobil dulu, aku bakal jelasin semuanya. Ada hal yang perlu kamu tahu, tentang suamimu dan keluarganya.”

Raka Adiputra. Dia tampak berbeda, lebih dewasa, dengan tatapan yang penuh urgensi. Mata mereka bertemu, dan dalam sekejap, Arini merasakan denyut jantungnya berdetak lebih cepat. Jelas Arini terkejut ketika mendapati teman yang sempat dekat dengannya tiba-tiba muncul di hadapannya setelah lama tak berjumpa.

Namun menyadari ucapan pria ini barusan, Arini jelas merasa penasaran. “Tunggu dulu. Apa maksudmu? Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Arini, dengan wajah yang terlihat begitu bingung.

Raka menatap Arini, ekspresinya serius, bahkan sedikit khawatir. “Sebaiknya masuk ke dalam mobil dulu. Kita bicara di dalam.”

Belum sempat Arini melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja kepalanya terasa begitu pusing. Telinganya berdengung, nyaring, seolah gendang telinganya tertusuk, nyaris membuatnya tak bisa mendengar apa-apa lagi.

Hingga akhirnya perlahan pandangan matanya buyar, dalam hitungan detik tubuhnya melemah dan kesadarannya pun hilang. Arini pingsan.

“Arini! Rin!” Raka yang menangkap tubuh mungil wanita ini, berusaha untuk menyadarkannya. Tapi tubuh Arini benar-benar lemah.

***

Arini bangun dengan mata mengerjap-ngerjap. Dia berusaha mengumpulkan kesadarannya, sambil memperhatikan sekitar. Ini bukan kamarnya. Tempat ini terasa begitu asing.

“Di mana ini?” batinnya mempertanyakan.

Tak lama Arini teringat dengan peristiwa terakhir ketika dirinya kabur dari rumah dan bertemu dengan teman lamanya secara tiba-tiba. Sontak dia langsung bangun, dan terduduk. Tapi kepalanya masih terasa begitu pusing.

“Akhirnya kamu bangun juga. Apa kamu baik-baik aja?” tanya Raka sambil mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Arini, memastikan keadaan wanita ini.

Suara itu membuat Arini terkesiap. Ia menoleh, mendapati Raka sedang duduk kursi di dekat jendela besar, yang berada di samping kasurnya.

“Ra-Raka? I-ini di mana? Apa yang sebenarnya terjadi?”

Raka memberikan segelas air putih yang ada di meja nakas, dan memberikannya pada Arini. “Minum dulu. Tadi kamu pingsan. Aku mau membawamu ke rumah sakit, tapi…” Dia menghentikan kalimatnya.

Arini mengambil gelas yang diberikan Raka, lalu meminumnya. “Tapi kenapa?” tanyanya penasaran.

Raka menghela nafas. “Jika aku membawamu ke rumah sakit, suamimu pasti akan tahu. Jadi aku bawa ke apartemenku. Bukankah, kamu sengaja kabur dari rumah itu?” Pandangan mata Raka kini menatap ke arah koper yang ada di sisi seberang.

Arini mengikuti arahan mata Raka. Dia merasa malu, karena ketahuan. Tapi ada sesuatu hal yang mengganjalnya.

“Bagaimana kamu bisa tau? Lalu, maksud ucapanmu sebelumnya apa? Tentang suamiku dan keluarganya?” Arini berhati-hati dalam kalimatnya.

Raka menatapnya lama, seolah menimbang-nimbang apakah ia harus menjelaskan. Akhirnya, ia kembali menghela nafas lebih panjang.

“Aku tau, suamimu akan menikah lagi. Dia dijodohkan dengan Saskia Ramadhani, anak konglomerat yang punya pengaruh besar. Perjodohan ini bukan hanya untuk menjaga reputasi keluarga Wiratama, tapi juga untuk menyelamatkan bisnis mereka yang hampir bangkrut.”

Arini terkejut. Dia memandang Raka dengan tatapan bingung. “Apa maksudmu? Dari mana kamu tau tentang hal itu?”

Raka mengambil sebuah amplop dari meja di dekatnya, lalu menyerahkannya pada Arini. “Ini semua bukti. Dokumen tentang bisnis keluarganya. Ada banyak hal yang mereka sembunyikan, termasuk alasan mereka ingin menjodohkan Arga dengan Saskia.”

Arini membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat sejumlah dokumen—laporan keuangan, foto-foto pertemuan rahasia mertuanya, dan bahkan salinan pesan elektronik.

“Mertuamu sudah menyeting ini semua. Dia akan melangsungkan pernikahan Arga dan Saskia dengan pesta mewah, bahkan semua pejabat serta para pengusaha juga diundang. Gak seperti pernikahanmu dengan Arga sebelumnya. Bahkan selama ini, mertuamu menyuruhmu diam, dan gak boleh mengakui sebagai istrinya Arga kan?”

Arini terdiam, dunia seolah runtuh di sekitarnya. Raka benar. Semua yang diucapkan pria ini benar. Justru karena hal ini, Arini merasa begitu sesak di dadanya.

“Kamu tau apa… Gak seharusnya kamu ikut campur…” Arini berusaha menahan rasanya malunya. Dia masih menundukan kepala, memperhatikan foto Saskia yang ada dalam dokumen rahasia. Cantik. Dan itu membuat Arini semakin sakit.

Raka menggenggam tangan Arini. Dia memandang wanita ini lekat-lekat. “Rin… Seharusnya aku gak relain kamu waktu itu. Seharusnya aku sadar, kalau Arga dan keluarganya bukan yang terbaik buatmu. Tapi aku seneng, kamu akhirnya memilih jalan ini.”

Arini melepaskan genggaman tangan Raka. Dia memandanginya dengan tatapan nanar. “Aku masih istrinya, dan Arga masih suamiku, Raka. Jadi jaga ucapanmu,” ujar Arini tegas, meski dengan suara gemetar.

***

Setelah pertemuan keluarga, Arga kembali ke kediamannya. Keadaan pun jadi kacau ketika dia tak mendapati istrinya di rumah ini. “Di mana Arini?! Kenapa nggak ada yang tau dia keluar? Apa kalian nggak punya mata?!” sentaknya memarahi para pelayan rumah.

Para pelayan hanya menundukan kepala. Mereka benar-benar tidak tahu kepergian Arini, karena saat kejadian sudah larut malam dan mereka semua sudah kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat.

Arga berusaha menelpon nomor Arini, tapi sayangnya tidak terhubung. “Sial!” gerutunya. Dia baru ingat jika ponsel Arini rusak karenanya.

Tak lama salah satu penjaga memasuki rumah, dan menjelaskan pada Arga. “Maaf, Tuan. Tadi Nyonya Arini bilang mau menyusul Tuan untuk menginap di hotel. Lalu dia pergi begitu saja.”

Arga mengernyitkan dahi. Kenapa Arini bohong? Apa jangan-jangan… batinnya sudah tidak tenang.

Arga menelpon sopir yang biasa mengantar Arini, tapi pria itu mendadak keluar dari kamar yang ada di dalam rumah ini dengan terburu-buru, sambil mengangkat panggilan majikannya.

“Ada apa Tuan?” tanyanya hati-hati, tahu jika keadaan sedang panas.

Bola mata Arga mendelik. “Apa-apaan ini? Arini pergi gak sama kamu?” teriaknya dengan suara memekakan telinga.

Jelas sopir ini tidak tahu apa-apa. Ketika Arini pergi, dia sudah tertidur. Dia bahkan terbangun karena suara marah-marah Arga.

“Maaf, Tuan. Tapi Nyonya Arini tadi memilih pergi naik taksi.” Penjaga rumah pun kembali menjelaskan.

Arga semakin pusing dengan hal ini. Kepalanya hampir meledak. Pikirannya kacau. Dia mondar-mandir berusaha untuk berfikir kemana harus mencari Arini.

Dalam keadaannya yang terasa kacau ini, ibunya kembali menelepon. Arga menghela nafas panjang. Dia memejamkan mata sejenak, ragu untuk menjawab.

Beberapa kali Arga membiarkan panggilan dari ibunya. Dia benar-benar merasa frustasi. Paham dirinya akan semakin tertekan jika tak mengangkat panggilan ini, akhirnya Arga menyerah. Panggilan pun diangkat.

“Kenapa lama banget sih angkat telponnya?" sentak wanita paruh baya itu.

"Maaf," jawab Arga singkat.

"Inget lho, Arga. Besok kamu sama Saskia harus fitting baju. Pokoknya kamu harus puji-puji dia terus. Buat dia nyaman sama kamu. Mami nggak mau dia kecewa sama kamu. Gimana pun juga, kamu harus ambil hatinya. Dia bakalan jadi menantu istimewa keluarga kita,” oceh Nadira Wiratama panjang lebar.

Arga mengusap wajahnya. Dia berusaha menenangkan diri, dan mencoba bernegosiasi dengan ibunya.

“Mam… Ditunda dulu bisa nggak? Arini… Dia ilang… Gak pamit… Aku harus cari dia dulu, Mam…” Suaranya terdengar begitu putus asa.

“Enak aja ditunda! Gak! Gak bisa! Udah bagus cewek gak tau diri itu pergi. Kamu harusnya bersyukur udah gak ada dia! Lagian dia juga gak menguntungkan untuk kita."

“Tapi, Mam… Aku gak bisa… Harus ada Arini... Bukanya Mami janji gak bakal maksa aku pisah sama dia, jika aku menikah dengan Saskia. Mami udah janji kan gak bakal ganggu dia lagi.” Arga berusaha mengontrol emosinya.

“Iya, tapi ini kan dia yang pergi sendiri. Bukan Mami yang usir. Dan Saskia itu lebih penting! Inget ya Arga! Keluarga kita, perusahaan kita, semua bergantung sama pernikahanmu dengan Saskia. Jadi kamu jangan main-main dengan keputusan yang udah kita sepakati!” Panggilan lalu diputus begitu saja oleh Nadira.

Arga terdiam. Rasanya hidupnya benar-benar kacau. Wanita yang sangat ia cintai kini pergi, dan ia tak tahu di mana keberadaannya. Hal ini jelas membuatnya frustasi. Apa lagi dia dihadapkan pilihan yang sulit antara harus mencari istrinya, atau mempertahankan kesepakatan keluarganya.

Bersambung…

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjebak Pernikahan Sang Pewaris   Bab 13: Pertemuan yang Memanas

    Akhirnya Arini sampai juga di rumah lamanya. Rumah itu masih berdiri, meski catnya mulai pudar dan halamannya dipenuhi daun kering.Begitu melangkah masuk, Arini seperti ditarik kembali ke masa kecilnya. Aroma kayu tua, lemari buku ayahnya, meja makan kecil tempat ibunya biasa menyeduh teh.Berusaha untuk membuyarkan lamunan indahnya itu, Arini berusaha untuk fokus pada tujuannya. Langkah demi langkah, dia berjalan menuju ke kamar kerja ayahnya. Satu persatu laci kerja di sana ia buka, mencari apa pun yang bisa memberi jawaban.Dibalik tumpukan berkas-berkas usang, Arini menemukan sebuah map berisi klipingan berbagai artikel koran.Arini membaca dan berusaha mencerna isi artikel tersebut, namun isinya sungguh menyayat hati. Ayahnya dicap sebagai penjudi, pengkhianat, bahkan orang yang merugikan perusahaannya sendiri tanpa memikirkan karyawannya.“Gak mungkin kan ayahku melakukan semua yang dituduhkan di dalam sini?” ucapnya miris, dan air matanya pun kembali jatuh.Raka yang sedari ta

  • Terjebak Pernikahan Sang Pewaris   Bab 12: Pesan Tak Terduga

    Arini masih terdiam, duduk di depan jendela, memandangi langit mendung. Dia masih teringat bagaimana wajah sedih suaminya.“Apa keputusanku ini tepat?” gumamnya, dengan perasaan penuh keraguan.Di saat dirinya masih bergelut dengan keputusannya, sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Refleks Arini menatap layar kotak itu.Sebuah pesan dari pengirim anonim. Arini kembali mengerutkan dahi.“Apa lagi ini?” Wajahnya terpancar rasa penasaran.Merasa ingin mengetahui lebih lanjut isi pesan yang masuk, Arini pun segera membuka pesan tersebut. Terlihat beberapa kalimat ancaman dan sebuah tautan link di bawahnya.[Sebaiknya kamu pergi dari dunia ini, dan jangan pernah muncul lagi. Kehadiranmu, tidak pernah ada yang menginginkan.]Membaca pesan itu, dada Arini terasa mengencang. Nafasnya seolah tercekat.Rasa penasarannya kembali menyeruak ketika melihat link yang ada di dalam pesan. Ia pun kembali menekan tautan tersebut.Terlihat beberapa artikel lama—koran bertanggal lebih dari dua puluh tahu

  • Terjebak Pernikahan Sang Pewaris   Bab 11: Keputusan Arga

    Arga baru saja melangkahkan kakinya, masuk ke dalam rumah, dengan langkah gontai. Jas yang masih melekat di tubuhnya terasa begitu berat, sama beratnya dengan dadanya yang sesak oleh perasaan bersalah.Rumah itu terasa jauh lebih besar dari biasanya. Sunyi. Dingin. Seolah setiap sudut ikut menghakimi keadaannya.Arga menjatuhkan tubuhnya ke sofa ruang tamu. Pandangannya kosong, tertuju pada jendela besar yang menghadap taman belakang.Lampu taman masih menyala redup, memantulkan bayangan samar pepohonan yang bergoyang tertiup angin malam. Tempat itu, dulu sering menjadi saksi tawa Arini. Kini, hanya menyisakan kenangan yang menusuk.Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menyandarkan kepala ke sandaran sofa.“Bodoh,” gumamnya lirih. “Aku benar-benar bodoh!”Bayangan Arini kembali hadir di kepalanya—tatapan matanya yang berkaca-kaca, suaranya yang bergetar saat berkata ingin berpisah, cara ia menahan tangis agar terlihat kuat. Semua itu menghantam Arga tanpa ampun.Arga mengepalkan tanganny

  • Terjebak Pernikahan Sang Pewaris   Bab 10: Di Ambang Perpisahan

    Raka memperhatikan layar ponselnya yang bergetar di atas meja. Nama Arga terpampang jelas di sana. Rahangnya menegang, tapi ia cepat-cepat menguasai ekspresinya. Arini, yang duduk di seberangnya, ikut melirik sekilas. Ia mengenali nama itu. Tatapan herannya tertuju pada Raka. “Itu, Arga? Suamiku?” tanyanya penuh rasa penasaran. Raka seolah tak mendengar. Ia menghela napas perlahan sebelum meraih ponselnya, lalu dengan sengaja menghindari tatapan Arini. “Aku ke kamar mandi sebentar,” ucapnya singkat, langsung pergi dari pandangan Arini tanpa menunggu respons. Arini mengerutkan kening. Ada sesuatu yang janggal. Ia merasa Raka menyembunyikan sesuatu darinya. Bibirnya sedikit terbuka, seakan ingin memanggil pria itu, tapi urung. Ia malah menatap kosong ke meja, pikirannya penuh dengan pertanyaan. ‘Kenapa Arga menelpon Raka?’ batinnya bertanya-tanya. Di sisi lain, Raka yang kini berdiri di dekat kamar mandi menghela napas berat. Jemarinya menekan tombol jawab dengan sedikit enggan.

  • Terjebak Pernikahan Sang Pewaris   Bab 9: Keluarga atau Cinta?

    Saat Saskia sedang menikmati kemenangan kecilnya, ponselnya bergetar di meja. Nama yang muncul di layar membuatnya tersenyum. Arga Wiratama. “Akhirnya,” gumam wanita ini sambil meraih ponselnya. “Halo, sayang?” sapa Saskia dengan suara manis yang dibuat-buat. “Ada apa? Akhirnya kamu ingat aku?” Namun, suara di seberang tidak seperti yang ia harapkan. “Saskia … aku mohon … aku mohon, kita akhiri saja rencana ini,” ujar Arga dengan nada memelas. Suaranya terdengar putus asa, seperti seseorang yang telah kehilangan semua harapan. Senjata kemenangan Saskia perlahan memudar. Senyumnya menghilang, digantikan oleh amarah yang tiba-tiba terasa mendidih di dada. “Apa maksudmu?” tanya Saskia tajam. “Aku gak bisa terus seperti ini. Aku gak bisa melanjutkan hubungan kita, Saskia,” ujar Arga, nadanya lebih tegas. “Aku minta tolong, hentikan semuanya. Aku gak mau terus terlibat dalam rencana sialan ini!” Jelas hal ini membuat Saskia meradang. “Hentikan ucapanmu, Arga!” bentak Saskia

  • Terjebak Pernikahan Sang Pewaris   Bab 8: Rahasia yang Terkubur

    Langit malam begitu gelap, seperti menutup rapat rahasia yang selama ini tersembunyi dalam kehidupan Arga. Di dalam mobilnya, Arga yang memutuskan untuk mundur sejenak dari Raka, kini terlihat duduk dengan kepala tertunduk. Tangan mencengkeram setir dengan kuat. Merasa masih ingin melampiaskan emosinya. Napasnya memburu, bukan karena lelah fisik, tetapi karena kelelahan batin usai menghadapi Raka. Pertemuan dengan Raka tadi seolah membuka luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh. Kata-kata pria itu masih terngiang di telinganya, menyayat hati dan egonya. "Keberadaanmu itu adalah sumber masalah terbesar dalam hidup Arini." Arga merasakan sesak yang mendesak di dadanya. Semua yang ia lakukan selama ini adalah untuk memperbaiki kesalahan, tetapi entah kenapa, setiap langkahnya justru membawa lebih banyak kehancuran. Di saat ia tenggelam dalam pikirannya, ponselnya kembali bergetar. Nama ibunya kembali muncul di layar. Dengan malas, Arga mengangkat panggilan itu, menyandar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status