
Terjebak Pernikahan Sang Pewaris
Arini tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah menjadi mimpi buruk setelah menikah dengan Arga, pewaris tunggal keluarga Wiratama. Meski cintanya tulus, statusnya sebagai wanita sederhana tanpa gelar atau harta membuatnya selalu dipandang sebelah mata oleh keluarga suaminya.
Setiap hari, Arini harus menahan luka dari ejekan mertuanya. Hingga suatu malam, Arini menemukan undangan pernikahan suaminya dengan wanita lain bernama Saskia. Wanita yang dianggap keluarga Wiratama sebanding dengan mereka. Jelas hal ini membuat Arini hancur. Ia memutuskan untuk pergi, meninggalkan semua kenangan dan rasa sakit.
Namun, Arga tidak semudah itu melepaskannya. Bertekad membuktikan cintanya, Arga mengejar Arini. Di tengah usahanya, muncul Raka, teman lama Arini yang membuat wanita ini merasa dilindungi dan dihargai.
Arini harus memilih: apakah ia akan memaafkan Arga yang ingin menebus kesalahannya, atau melangkah maju bersama Raka untuk memulai babak baru dalam hidupnya?
Read
Chapter: Bab 13: Pertemuan yang MemanasAkhirnya Arini sampai juga di rumah lamanya. Rumah itu masih berdiri, meski catnya mulai pudar dan halamannya dipenuhi daun kering.Begitu melangkah masuk, Arini seperti ditarik kembali ke masa kecilnya. Aroma kayu tua, lemari buku ayahnya, meja makan kecil tempat ibunya biasa menyeduh teh.Berusaha untuk membuyarkan lamunan indahnya itu, Arini berusaha untuk fokus pada tujuannya. Langkah demi langkah, dia berjalan menuju ke kamar kerja ayahnya. Satu persatu laci kerja di sana ia buka, mencari apa pun yang bisa memberi jawaban.Dibalik tumpukan berkas-berkas usang, Arini menemukan sebuah map berisi klipingan berbagai artikel koran.Arini membaca dan berusaha mencerna isi artikel tersebut, namun isinya sungguh menyayat hati. Ayahnya dicap sebagai penjudi, pengkhianat, bahkan orang yang merugikan perusahaannya sendiri tanpa memikirkan karyawannya.“Gak mungkin kan ayahku melakukan semua yang dituduhkan di dalam sini?” ucapnya miris, dan air matanya pun kembali jatuh.Raka yang sedari ta
Last Updated: 2026-02-05
Chapter: Bab 12: Pesan Tak TerdugaArini masih terdiam, duduk di depan jendela, memandangi langit mendung. Dia masih teringat bagaimana wajah sedih suaminya.“Apa keputusanku ini tepat?” gumamnya, dengan perasaan penuh keraguan.Di saat dirinya masih bergelut dengan keputusannya, sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Refleks Arini menatap layar kotak itu.Sebuah pesan dari pengirim anonim. Arini kembali mengerutkan dahi.“Apa lagi ini?” Wajahnya terpancar rasa penasaran.Merasa ingin mengetahui lebih lanjut isi pesan yang masuk, Arini pun segera membuka pesan tersebut. Terlihat beberapa kalimat ancaman dan sebuah tautan link di bawahnya.[Sebaiknya kamu pergi dari dunia ini, dan jangan pernah muncul lagi. Kehadiranmu, tidak pernah ada yang menginginkan.]Membaca pesan itu, dada Arini terasa mengencang. Nafasnya seolah tercekat.Rasa penasarannya kembali menyeruak ketika melihat link yang ada di dalam pesan. Ia pun kembali menekan tautan tersebut.Terlihat beberapa artikel lama—koran bertanggal lebih dari dua puluh tahu
Last Updated: 2026-02-04
Chapter: Bab 11: Keputusan ArgaArga baru saja melangkahkan kakinya, masuk ke dalam rumah, dengan langkah gontai. Jas yang masih melekat di tubuhnya terasa begitu berat, sama beratnya dengan dadanya yang sesak oleh perasaan bersalah.Rumah itu terasa jauh lebih besar dari biasanya. Sunyi. Dingin. Seolah setiap sudut ikut menghakimi keadaannya.Arga menjatuhkan tubuhnya ke sofa ruang tamu. Pandangannya kosong, tertuju pada jendela besar yang menghadap taman belakang.Lampu taman masih menyala redup, memantulkan bayangan samar pepohonan yang bergoyang tertiup angin malam. Tempat itu, dulu sering menjadi saksi tawa Arini. Kini, hanya menyisakan kenangan yang menusuk.Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menyandarkan kepala ke sandaran sofa.“Bodoh,” gumamnya lirih. “Aku benar-benar bodoh!”Bayangan Arini kembali hadir di kepalanya—tatapan matanya yang berkaca-kaca, suaranya yang bergetar saat berkata ingin berpisah, cara ia menahan tangis agar terlihat kuat. Semua itu menghantam Arga tanpa ampun.Arga mengepalkan tanganny
Last Updated: 2026-02-03
Chapter: Bab 10: Di Ambang PerpisahanRaka memperhatikan layar ponselnya yang bergetar di atas meja. Nama Arga terpampang jelas di sana. Rahangnya menegang, tapi ia cepat-cepat menguasai ekspresinya. Arini, yang duduk di seberangnya, ikut melirik sekilas. Ia mengenali nama itu. Tatapan herannya tertuju pada Raka. “Itu, Arga? Suamiku?” tanyanya penuh rasa penasaran. Raka seolah tak mendengar. Ia menghela napas perlahan sebelum meraih ponselnya, lalu dengan sengaja menghindari tatapan Arini. “Aku ke kamar mandi sebentar,” ucapnya singkat, langsung pergi dari pandangan Arini tanpa menunggu respons. Arini mengerutkan kening. Ada sesuatu yang janggal. Ia merasa Raka menyembunyikan sesuatu darinya. Bibirnya sedikit terbuka, seakan ingin memanggil pria itu, tapi urung. Ia malah menatap kosong ke meja, pikirannya penuh dengan pertanyaan. ‘Kenapa Arga menelpon Raka?’ batinnya bertanya-tanya. Di sisi lain, Raka yang kini berdiri di dekat kamar mandi menghela napas berat. Jemarinya menekan tombol jawab dengan sedikit enggan.
Last Updated: 2025-02-22
Chapter: Bab 9: Keluarga atau Cinta?Saat Saskia sedang menikmati kemenangan kecilnya, ponselnya bergetar di meja. Nama yang muncul di layar membuatnya tersenyum. Arga Wiratama. “Akhirnya,” gumam wanita ini sambil meraih ponselnya. “Halo, sayang?” sapa Saskia dengan suara manis yang dibuat-buat. “Ada apa? Akhirnya kamu ingat aku?” Namun, suara di seberang tidak seperti yang ia harapkan. “Saskia … aku mohon … aku mohon, kita akhiri saja rencana ini,” ujar Arga dengan nada memelas. Suaranya terdengar putus asa, seperti seseorang yang telah kehilangan semua harapan. Senjata kemenangan Saskia perlahan memudar. Senyumnya menghilang, digantikan oleh amarah yang tiba-tiba terasa mendidih di dada. “Apa maksudmu?” tanya Saskia tajam. “Aku gak bisa terus seperti ini. Aku gak bisa melanjutkan hubungan kita, Saskia,” ujar Arga, nadanya lebih tegas. “Aku minta tolong, hentikan semuanya. Aku gak mau terus terlibat dalam rencana sialan ini!” Jelas hal ini membuat Saskia meradang. “Hentikan ucapanmu, Arga!” bentak Saskia
Last Updated: 2025-02-05
Chapter: Bab 8: Rahasia yang TerkuburLangit malam begitu gelap, seperti menutup rapat rahasia yang selama ini tersembunyi dalam kehidupan Arga. Di dalam mobilnya, Arga yang memutuskan untuk mundur sejenak dari Raka, kini terlihat duduk dengan kepala tertunduk. Tangan mencengkeram setir dengan kuat. Merasa masih ingin melampiaskan emosinya. Napasnya memburu, bukan karena lelah fisik, tetapi karena kelelahan batin usai menghadapi Raka. Pertemuan dengan Raka tadi seolah membuka luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh. Kata-kata pria itu masih terngiang di telinganya, menyayat hati dan egonya. "Keberadaanmu itu adalah sumber masalah terbesar dalam hidup Arini." Arga merasakan sesak yang mendesak di dadanya. Semua yang ia lakukan selama ini adalah untuk memperbaiki kesalahan, tetapi entah kenapa, setiap langkahnya justru membawa lebih banyak kehancuran. Di saat ia tenggelam dalam pikirannya, ponselnya kembali bergetar. Nama ibunya kembali muncul di layar. Dengan malas, Arga mengangkat panggilan itu, menyandar
Last Updated: 2025-01-23
Tiba-Tiba Dinikahi Konglomerat
“Menikahlah denganku.”
Tubuh Alana membeku ketika mendengarnya. Satu kalimat itu membuat hidup wanita ini berubah drastis dalam semalam.
Siapa sangka? Kedatangannya ke Hotel Grand Internasional untuk menemukan sang adik, malah membuatnya bertemu dengan Axel Pradipta—Konglomerat ternama yang sedang kehilangan sang pengantin, beberapa saat sebelum acara pernikahan dimulai.
Alana jelas terkejut mendengar kalimat itu keluar dari Axel.
Mereka tak saling kenal.
Axel sengaja menawarkan hal tersebut, demi menyelamatkan nama baik keluarganya, dan juga untuk mempertahankan posisinya sebagai pewaris perusahaan.
Keduanya mengajukan aturan main, yang harus disepakati.
Cukup sederhana.
Mereka tidak boleh saling mencintai, dan jatuh cinta satu sama lain. Tidak ada yang boleh ikut campur untuk urusan pribadi, dan bahkan pernikahan ini harus diakhiri setelah satu tahun.
Hanya saja, takdir berkata lain.
Read
Chapter: Bab 38. Wajah yang Terlihat Jelas“Aku mau mencarinya sekarang juga,” ucap Alana yakin.Axel hendak mencegah, tapi ternyata wanita itu sudah pergi begitu saja, sambil berteriak-teriak memanggil nama adiknya.Axel pun akhirnya membiarkannya. Dia juga ikut mencari, dan menyuruh para pengawalnya untuk tetap mengawasi Alana.Hingga tak terasa, hari semakin gelap. Matahari sudah tenggelam. Dan malam kini semakin larut. Namun Alana masih saja berjalan ke sana kemari di dalam stasiun ini demi mencari adiknya.Axel memperhatikan dari jauh bagaimana Alana tak patah semangat untuk mencari adiknya. Dia hanya bisa menghela nafas, kemudian sengaja mendekatinya.“Sebaiknya kita sudahi hari ini,” ucapnya sembari menghampiri Alana.Alana hanya menoleh sebentar. Lalu tak memperdulikan kembali ucapan pria ini. Dia masih saja berteriak memanggil nama adiknya sambil berjalan menyusuri stasiun tersebut.Axel kini kembali mendekati. Dia langsung meraih tangan wanita ini, dan menegaskan kembali. “Kita pulang sekarang!” sentaknya.Alana lang
Last Updated: 2026-09-02
Chapter: Bab 37. Jejak di StasiunMobil yang membawa Axel dan Alana akhirnya berhenti di depan stasiun. Begitu mobil berhenti sempurna, Alana langsung membuka pintu. Bahkan sebelum pengawal sempat membukakan pintu untuknya, wanita itu sudah turun dan berlari kecil menuju pintu masuk stasiun.“Alana!” panggil Axel.Pria ini benar-benar dibuat panik dengan sikap Alana yang selalu bertindak tanpa berpikir matang. Membuatnya semakin khawatir.Wanita itu berhenti sebentar dan menoleh menatap Axel.“Ayo! Kita harus cepat!”Axel menghela napas. Dia kemudian turun dengan sempurna dari mobil, dan segera menyusul Alana. Beberapa pengawal untungnya sudah bersiap ketika Alana berlari. Mereka berusaha melindungi Alana dan Axel di tengah keramaian orang yang ada di dalam stasiun ini.Alana berhenti berlari. Dia berdiri di tengah keramaian sambil menoleh ke berbagai arah.Stasiun ini nyatanya memang terlihat cukup ramai. Orang-orang berlalu-lalang membawa koper dan tas. Suara pengumuman keberangkatan kereta terdengar dari pengeras
Last Updated: 2026-09-01
Chapter: Bab 36. Menangis Dalam Dekapan“Bisa jadi begitu,” jawab pria ini.Axel menatap layar dengan tatapan tajam. “Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Sebenarnya siapa yang melakukan hal ini?” Pertanyaan demi pertanyaan terus memenuhi benak Axel.“Kemungkinan besar, nomor itu sengaja di daftar atas nama Ardi Wijaya. Tapi jika Tuan Ardi benar melakukan kejahatan, dia tidak mungkin memakai namanya sendiri bukan?” Ucapan pria ini barusan membuat Alana dan Axel tersadar.“Benar juga. Ardi Wijaya tidak mungkin segegabah itu,” pikir Axel meyakinkan diri.“Tapi kenapa?” tanya Alana yang masih kebingungan.“Entahlah. Mungkin seseorang sengaja menjebaknya,” duga Axel kembali.Alana kembali berpikir. “Berarti… Ardi Wijaya, bisa saja tidak tahu apa-apa?”Axel mengangguk tipis. Alana mengerutkan dahi. Sungguh dia tak tahu sebenarnya akhir dari cerita ini.Tak lama Alana kembali teringat dengan adiknya. “Bagaimana dengan nomor Alya?” Alana terlihat tak sabar menantikan jawaban terkait adiknya.Axel kemudian menyerahkan ponsel Alana
Last Updated: 2026-09-01
Chapter: Bab 35. Jadi Milik Siapa?Alana akhirnya menyerahkan ponselnya kepada Axel. Mereka berdua lalu sengaja pergi begitu saja, meninggalkan rumah tua tersebut untuk mencari tahu hal lainnya.Dalam mobil, selama dalam perjalanan, keadaan begitu hening. Tak ada satu orang pun yang membuka suara, membuat keadaan kian menegang.Alana yang duduk di samping Axel terlihat penuh pikiran. Bahkan saat ini kepalanya terasa begitu berat, karena banyak hal dan pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya.Lalu tiba-tiba saja Alana mengeluarkan suara. “Axel,” panggilnya memecahkan keheningan.Axel yang tadinya fokus dengan tablet serta ponsel Alana yang masih di tangannya, kini menoleh menatap wanita ini, tanpa menjawab.Alana memperhatikan ke arah pria di sampingnya beberapa detik. Kemudian kembali mengajukan pertanyaan.“Menurutmu, apa ini semua bisa terungkap?” Alana berharap mendapatkan jawaban yang memuaskan dari pertanyaan ini.Namun Axel hanya menghela nafas. Dia kembali menatap layar tabletnya.“Kita sedang mencari tahu i
Last Updated: 2026-09-01
Chapter: Bab 34. Dua Wanita HilangAxel ikut menatap Alana. Dia juga nampak tak mengerti dengan apa yang terjadi, dan apa hubungannya semua ini dengan Ardi Wijaya.“Apakah Tuan Ardi Wijaya mengenal adikku?” tanya Alana kembali.Axel mengerutkan keningnya sambil menggelengkan kepala. Jujur saja, dia benar-benar tak mengerti dan tak punya gambaran sama sekali terkait hal ini.“Ini tidak masuk akal...” gumam Axel yang nampak begitu kebingungan.Axel pun kini melanjutkan langkahnya. Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tua, diikuti dengan Alana beserta para pengawalnya.Di dalam, beberapa pengawal lainnya sudah bersiap. Salah satu dari mereka membuka pintu ruangan di mana pria operator mereka sembunyikan. Alana dan Axel pun segera masuk ke dalam ruangan itu.Terlihat pria yang bernama Rudi masih terikat di kursi dengan wajah pucat. Dia nampak begitu lemas, dan penuh dengan luka lebam.Alana memperhatikan pria ini. Ada rasa kasihan, namun perasaan amarahnya pun cukup tinggi pada pria tersebut.Dengan tatapan tajam
Last Updated: 2026-08-31
Chapter: Bab 33. Ancaman Tak Terduga“Siapa yang memperbolehkan melakukan hal rendahan seperti itu?!” teriak Axel, dengan rahang yang mengeras.Kepala Pelayan memegangi pipinya. Dia berusaha menahan tangisannya, namun air matanya sudah jatuh begitu saja.“Maaf Tuan… Bukan begitu maksudnya.” Isak tangis pun mulai terdengar dari bibir wanita ini. “Ini demi Nyonya. Dari tadi dia memaksakan diri keluar, tapi tubuhnya terus jatuh. Saya takut dia terluka. Bahkan vas dekat pintu sudah pecah karena tersenggol Nyonya.”Axel terdiam. Dia berusaha menangkap cerita ini, dan menahan emosinya.Alana yang tadinya tak menyadari kehadiran pria ini, sekarang melihat ke arahnya. Begitu melihat Axel, Alana langsung kembali merengek dengan memanggil namanya.“Axel!” Tangisnya kian pecah.Axel buru-buru mendekat. Dia melepaskan ikatan tali yang ada di tangan dan kaki Alana.“Axel… tadi Alya menelponku,” ungkap Alana dengan suara tersenggal karena isak tangis.Dia langsung bangkit ketika tali yang mengikatnya dilepaskan oleh Axel, dan langsu
Last Updated: 2026-08-30