LOGIN
“Arini, kamu itu gak tau diri banget, sih! Harusnya kamu gak pernah ada di sini! Kalau bukan karena Arga yang baik hati sama kamu, kamu udah ditendang keluar dari rumah ini!”
Kata-kata Nadira, ibu mertua Arini, menggema di benaknya seperti hantaman palu yang memecah beling. Arini terdiam, duduk di tepi ranjang, menggenggam undangan pernikahan yang baru saja dia temukan dengan tangan gemetar. Matanya terpaku pada tulisan indah berwarna emas yang tertera di sana: Arga Wiratama & Saskia Ramadhani. Tangan Arini mengusap lembut nama itu, seolah berharap semua ini hanyalah ilusi. Namun, kenyataan begitu kejam. Nama suaminya kini berdampingan dengan wanita lain, seperti sebuah mimpi buruk yang sulit dihindari. Dadanya sesak, seakan udara yang mengelilinginya menipis. “Padahal aku udah kasih yang terbaik…” gumamnya pelan. Bibirnya bergetar. “Tapi kenapa mereka masih aja begini…” Pikiran Arini berputar pada semua momen pahit yang telah ia lalui. Sejak awal pernikahan mereka, keluarga Arga tidak pernah menerima kehadirannya. Ia adalah anak seorang pegawai biasa, seorang wanita yang dianggap tak layak bersanding dengan putra mahkota keluarga Wiratama. Arini menghela napas dalam, mencoba mengusir rasa sakit yang menggerogoti hatinya. Namun, sebelum ia sempat membiarkan air matanya jatuh, pintu kamar terbuka lebar. “Kita perlu bicara,” suara Arga terdengar dalam dan tegas. Arini mendongak, menatap pria yang berdiri di ambang pintu itu. Kemeja Arga kusut, dasinya longgar, dan wajahnya terlihat letih. Namun tatapannya tetap tajam, penuh tekanan. Arini berusaha menahan tangis. Dia tertawa sinis. “Bicara? Tentang apa? Tentang ini?” Arini mengangkat undangan pernikahan yang dibawanya, dan sengaja menunjukan kepada Arga. Wajah Arga langsung menegang, segera melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar dengan mata membulat tertuju pada undangan tersebut. “Kamu dapat dari mana?” tanyanya serius. “Gak penting aku dapet dari mana.” Arini berdiri, suaranya terdengar gemetar, tapi berusaha untuk tetap tegar. “Harusnya aku yang tanya, kenapa ada undangan kayak gini? Kenapa ada namamu dan Saskia di sana?!” teriak wanita ini, sudah tidak tahan menahan lukanya. Arga menghela napas berat, tangannya terangkat untuk mengusap wajah. “Arini, dengar. Aku bahkan gak tahu soal ini. Keluargaku... mereka yang atur ini semua tanpa sepengetahuanku.” Arini mengangkat alis, lalu tertawa pahit. “Oh, ya? Jadi kamu mau bilang kalau kamu gak terlibat sama sekali? Terus, gimana waktu malam itu? Malam waktu aku dengar kalian membicarakan tentang Saskia, sebagai wanita yang seharusnya menjadi menantu keluarga ini. Apa aku salah dengar? Dan ini sekarang buktinya!” Arga terdiam, menundukkan kepalanya. Ia menggosok tengkuknya, tanda jelas bahwa ia sedang merasa terpojok. “Arini, aku tahu ini sulit dipercaya, tapi… aku terjebak. Aku gak bisa apa-apa. Keluargaku... mereka menekanku. Mereka bilang, ini demi menjaga reputasi perusahaan, dan nama baik keluargaku. Jadi aku mohon… aku mohon kamu mau ngertiin keadaan ini…,” ujar pria ini dengan wajah memelas, sambil meraih tangan Arini. Arini menepis tangan Arga. Dia melangkah mendekat, menatap suaminya dengan tatapan tajam penuh luka. “Kamu suamiku. Kamu pemimpin keluargaku. Apa kamu gak mikirin perasaanku? Kamu biarkan keluargamu yang atur semua ini? Terus di mana harga dirimu?” Arga kembali menghela nafas. “Arini, aku mencintaimu,” bisik Arga, suaranya melembut. “Aku butuh waktu untuk menyelesaikan ini. Aku mau kamu tetap percaya padaku. Jadi please… ngertiin aku… ngertiin kondisiku…” Arini menggeleng pelan, air mata mulai menggenang di sudut matanya. “Aku harus ngertiin gimana lagi, sih? Aku harus percaya apa lagi sama kamu? Kita udah lama menikah, tapi aku selalu saja dihina keluargamu! Kamu bahkan gak pernah membelaku di hadapan mereka!” Arga mencoba mendekat, namun Arini mengangkat tangannya, menghentikannya. “Udah. Cukup. Sekarang aku yang akan buat keputusan. Aku mundur. Aku akan pergi dari sini.” Wajah Arga memucat. “Arini, Jangan. Jangan lakukan itu… Aku akan perbaiki semua. Aku bakal bicara dengan keluargaku tentang hal ini. Tapi, please… kamu jangan pergi…” Di tengah perdebatan suami istri ini, suara ponsel Arini berdering, menghentikan pertengkaran. Arini mengambil ponselnya, dia memperhatikan nama yang tertera di layar. Raka Adiputra. Melihat nama pria yang lama dikenalnya tiba-tiba muncul, jelas membuat Arini merasa terkejut. Dia adalah teman dekatnya yang sudah lama tidak menjalin hubungan dengannya. Arga memperhatikan perubahan di wajah Arini dengan kecurigaan. “Siapa itu?” tanyanya, nadanya dingin. Arini tidak menjawab. Wanita ini masih memperhatikan layar ponselnya. Raut wajahnya memperlihatkan keraguan antara ingin menerima atau menolak panggilan yang baru masuk. Melihat keadaan ini, Arga yang merasa penasaran langsung mengambil ponsel Arini. Hal ini jelas membuat Arini panik. “Kembalikan ponselku!” teriaknya sambil berjinjit, berusaha meraih kembali ponsel miliknya. “Aku cuma mau lihat siapa yang telfon,” sahut Arga sembari mengangkat tangannya tinggi, menjauhkan ponsel ini dari Arini. Mereka berdua berdua saling berebut, sampai tak sengaja Arga menjatuhkan ponsel itu ke lantai. Arini mendelik. Dia langsung menghampiri, dan berjongkok mengambil ponselnya. Layarnya retak, bahkan tak bisa menyala lagi. Jelas hal ini membuat emosi Arini kembali terpancing. “Apa kamu belum puas hancurin hidupku? Sekarang ponselku juga kamu hancurin? Sebenarnya mau kamu itu apa, sih?” teriaknya dengan tangisan yang mulai pecah. Rasanya tidak ada yang berjalan mulus di kehidupannya. Arga jelas merasa bersalah. Dia tidak bermaksud membuat wanitanya sesedih ini. Ingin rasanya menghampiri Arini dan berusaha menenangkan wanita ini. Namun tubuhnya hanya bisa terdiam canggung. Kali ini ponsel Arga yang berdering, terlihat kontak ibunya sedang menelepon. Tak ingin ibunya menunggu lama, Arga langsung mengangkat panggilan itu. “Halo, Mam?” sapa Arga. “Malam ini ada rapat keluarga dengan keluarga Saskia. Kamu nggak lupa ‘kan? Sebaiknya kamu buruan ke sini. Kita berangkat sama-sama.” Suara wanita paruh baya itu terdengar begitu tegas. Tak ingin perbincangannya dengan ibunya di dengar oleh Arini, Arga buru-buru keluar dari kamar. Pria ini meninggalkan istrinya yang masih menangis begitu saja. Bukan dia tidak peduli, tapi panggilan ibunya dianggap lebih penting demi kelangsungan hidup mereka. *** Hingga larut malam Arini masih berusaha untuk menenangkan diri. Dia terlihat duduk, bersandar di tepi kasur, sambil memikirkan nasibnya. Sampai kapan harus begini? Apa yang sebaiknya dilakukan? Pikiran-pikiran ini terus saja memenuhinya. Hingga Arini baru menyadari jika tak ada suara Arga lagi. Dia kemudian keluar kamar, mengecek keadaan rumah. Sepi. Dengan tekad bulat, Arini membuat keputusan besar dalam hidupnya. “Aku harus pergi dari sini. Lebih baik aku pergi, daripada harus terus-terusan seperti ini,” gumamnya yakin. Pakaian pun segera ia kemasi ke dalam koper, dengan langkah pasti, Arini keluar dari rumah megah milik keluarga Wiratama. Arini memastikan tak ada pelayan rumah yang melihatnya. Meskipun setelah ini ia masih harus menghadapi penjaga rumah. “Nyonya Arini mau ke mana?” tanya penjaga heran, sambil memandangi koper yang dibawa majikannya. “Ah, tadi Arga bilang mau menginap di luar. Dia buru-buru ada urusan, jadi aku disuruh nyusul,” ujarnya bohong. Untung saja petugas itu percaya. “Oh gitu. Ini gak diantar sopir aja, Nyonya?” “Gak usah, aku naik taksi aja. Lagian kasihan, Pak Sopir udah tidur. Duluan ya, Pak.” Arini buru-buru keluar dari kawasan rumah ini. Dia sudah tak sanggup lagi berbohong lama-lama, karena memang dirinya tak pandai berbohong. Petugas pun membukakan pintu gerbang. Arini berjalan sembari menyeret kopernya. Langkah demi langkah Arini lewati, hingga dia berada di persimpangan jalan besar. Arini jelas hanya bisa mencari taksi di luar kompleks perumahan. Ponselnya mati, tak bisa untuk memesan. Baru saja Arini celingukan mencari taksi, tiba-tiba saja ada mobil yang berhenti di hadapannya. “Arini!” teriak pemilik mobil, ketika jendelanya diturunkan. Arini mengerjapkan mata, berusaha memandangi orang yang memanggilnya. Sontak bola mata Arini membulat ketika mengetahui orang di dalam mobil itu. “Ra-Raka?” Arini melongo. Dia tak menyangka akan bertemu dengan pria yang beberapa waktu lalu sempat menelponnya, yang juga teman dekatnya. Bersambung…Akhirnya Arini sampai juga di rumah lamanya. Rumah itu masih berdiri, meski catnya mulai pudar dan halamannya dipenuhi daun kering.Begitu melangkah masuk, Arini seperti ditarik kembali ke masa kecilnya. Aroma kayu tua, lemari buku ayahnya, meja makan kecil tempat ibunya biasa menyeduh teh.Berusaha untuk membuyarkan lamunan indahnya itu, Arini berusaha untuk fokus pada tujuannya. Langkah demi langkah, dia berjalan menuju ke kamar kerja ayahnya. Satu persatu laci kerja di sana ia buka, mencari apa pun yang bisa memberi jawaban.Dibalik tumpukan berkas-berkas usang, Arini menemukan sebuah map berisi klipingan berbagai artikel koran.Arini membaca dan berusaha mencerna isi artikel tersebut, namun isinya sungguh menyayat hati. Ayahnya dicap sebagai penjudi, pengkhianat, bahkan orang yang merugikan perusahaannya sendiri tanpa memikirkan karyawannya.“Gak mungkin kan ayahku melakukan semua yang dituduhkan di dalam sini?” ucapnya miris, dan air matanya pun kembali jatuh.Raka yang sedari ta
Arini masih terdiam, duduk di depan jendela, memandangi langit mendung. Dia masih teringat bagaimana wajah sedih suaminya.“Apa keputusanku ini tepat?” gumamnya, dengan perasaan penuh keraguan.Di saat dirinya masih bergelut dengan keputusannya, sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Refleks Arini menatap layar kotak itu.Sebuah pesan dari pengirim anonim. Arini kembali mengerutkan dahi.“Apa lagi ini?” Wajahnya terpancar rasa penasaran.Merasa ingin mengetahui lebih lanjut isi pesan yang masuk, Arini pun segera membuka pesan tersebut. Terlihat beberapa kalimat ancaman dan sebuah tautan link di bawahnya.[Sebaiknya kamu pergi dari dunia ini, dan jangan pernah muncul lagi. Kehadiranmu, tidak pernah ada yang menginginkan.]Membaca pesan itu, dada Arini terasa mengencang. Nafasnya seolah tercekat.Rasa penasarannya kembali menyeruak ketika melihat link yang ada di dalam pesan. Ia pun kembali menekan tautan tersebut.Terlihat beberapa artikel lama—koran bertanggal lebih dari dua puluh tahu
Arga baru saja melangkahkan kakinya, masuk ke dalam rumah, dengan langkah gontai. Jas yang masih melekat di tubuhnya terasa begitu berat, sama beratnya dengan dadanya yang sesak oleh perasaan bersalah.Rumah itu terasa jauh lebih besar dari biasanya. Sunyi. Dingin. Seolah setiap sudut ikut menghakimi keadaannya.Arga menjatuhkan tubuhnya ke sofa ruang tamu. Pandangannya kosong, tertuju pada jendela besar yang menghadap taman belakang.Lampu taman masih menyala redup, memantulkan bayangan samar pepohonan yang bergoyang tertiup angin malam. Tempat itu, dulu sering menjadi saksi tawa Arini. Kini, hanya menyisakan kenangan yang menusuk.Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menyandarkan kepala ke sandaran sofa.“Bodoh,” gumamnya lirih. “Aku benar-benar bodoh!”Bayangan Arini kembali hadir di kepalanya—tatapan matanya yang berkaca-kaca, suaranya yang bergetar saat berkata ingin berpisah, cara ia menahan tangis agar terlihat kuat. Semua itu menghantam Arga tanpa ampun.Arga mengepalkan tanganny
Raka memperhatikan layar ponselnya yang bergetar di atas meja. Nama Arga terpampang jelas di sana. Rahangnya menegang, tapi ia cepat-cepat menguasai ekspresinya. Arini, yang duduk di seberangnya, ikut melirik sekilas. Ia mengenali nama itu. Tatapan herannya tertuju pada Raka. “Itu, Arga? Suamiku?” tanyanya penuh rasa penasaran. Raka seolah tak mendengar. Ia menghela napas perlahan sebelum meraih ponselnya, lalu dengan sengaja menghindari tatapan Arini. “Aku ke kamar mandi sebentar,” ucapnya singkat, langsung pergi dari pandangan Arini tanpa menunggu respons. Arini mengerutkan kening. Ada sesuatu yang janggal. Ia merasa Raka menyembunyikan sesuatu darinya. Bibirnya sedikit terbuka, seakan ingin memanggil pria itu, tapi urung. Ia malah menatap kosong ke meja, pikirannya penuh dengan pertanyaan. ‘Kenapa Arga menelpon Raka?’ batinnya bertanya-tanya. Di sisi lain, Raka yang kini berdiri di dekat kamar mandi menghela napas berat. Jemarinya menekan tombol jawab dengan sedikit enggan.
Saat Saskia sedang menikmati kemenangan kecilnya, ponselnya bergetar di meja. Nama yang muncul di layar membuatnya tersenyum. Arga Wiratama. “Akhirnya,” gumam wanita ini sambil meraih ponselnya. “Halo, sayang?” sapa Saskia dengan suara manis yang dibuat-buat. “Ada apa? Akhirnya kamu ingat aku?” Namun, suara di seberang tidak seperti yang ia harapkan. “Saskia … aku mohon … aku mohon, kita akhiri saja rencana ini,” ujar Arga dengan nada memelas. Suaranya terdengar putus asa, seperti seseorang yang telah kehilangan semua harapan. Senjata kemenangan Saskia perlahan memudar. Senyumnya menghilang, digantikan oleh amarah yang tiba-tiba terasa mendidih di dada. “Apa maksudmu?” tanya Saskia tajam. “Aku gak bisa terus seperti ini. Aku gak bisa melanjutkan hubungan kita, Saskia,” ujar Arga, nadanya lebih tegas. “Aku minta tolong, hentikan semuanya. Aku gak mau terus terlibat dalam rencana sialan ini!” Jelas hal ini membuat Saskia meradang. “Hentikan ucapanmu, Arga!” bentak Saskia
Langit malam begitu gelap, seperti menutup rapat rahasia yang selama ini tersembunyi dalam kehidupan Arga. Di dalam mobilnya, Arga yang memutuskan untuk mundur sejenak dari Raka, kini terlihat duduk dengan kepala tertunduk. Tangan mencengkeram setir dengan kuat. Merasa masih ingin melampiaskan emosinya. Napasnya memburu, bukan karena lelah fisik, tetapi karena kelelahan batin usai menghadapi Raka. Pertemuan dengan Raka tadi seolah membuka luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh. Kata-kata pria itu masih terngiang di telinganya, menyayat hati dan egonya. "Keberadaanmu itu adalah sumber masalah terbesar dalam hidup Arini." Arga merasakan sesak yang mendesak di dadanya. Semua yang ia lakukan selama ini adalah untuk memperbaiki kesalahan, tetapi entah kenapa, setiap langkahnya justru membawa lebih banyak kehancuran. Di saat ia tenggelam dalam pikirannya, ponselnya kembali bergetar. Nama ibunya kembali muncul di layar. Dengan malas, Arga mengangkat panggilan itu, menyandar







