Share

Perasaan Reinald

Author: Nafelluve
last update publish date: 2026-09-14 10:46:48

Hana masih menatap layar ponselnya ketika Reinald mengembalikan pandangannya pada jalan di depan.

Penjelasan mengenai Arvanta Konsultan memang sudah cukup membuat pikirannya lega, tetapi entah mengapa ada sesuatu yang jauh lebih mengganggunya sekarang.

Bukan lagi tentang dokumen itu. Melainkan tentang bagaimana Reinald terus memperhatikannya sejak percakapan tadi.

“Kenapa?”

Hana akhirnya menoleh. “Kau dari tadi melihat ke arahku terus.”

“Aku hanya sedang memastikan kau baik-baik saja.”

“Kalau
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Keinginan Reinald

    Hana tengah menyusun beberapa buku di sudut ruangan yang mulai ia gunakan sebagai tempat menyimpan barang-barangnya di apartemen Reinald. Sebagian pakaian dan perlengkapan pribadinya memang sudah berpindah, tetapi masih ada beberapa barang di rumah Surya yang belum sempat dibawa.Reinald muncul dari arah kamar dengan dua cangkir kopi. Ia meletakkan salah satunya di meja kecil, lalu memperhatikan Hana yang sedang berusaha merapikan susunan buku di rak.“Kau sudah mulai memenuhi apartemenku dengan barang-barangmu,” komentarnya.Hana menoleh sambil tersenyum. “Bukankah itu memang yang kau inginkan?”“Aku tidak mengeluh.” Reinald mendekat dan mengambil sebuah buku dari tangan Hana. “Justru aku senang. Rasanya tempat ini semakin terlihat seperti rumah.”Hana mengambil cangkir kopi. “Kalau begitu, jangan protes kalau nanti barangku semakin banyak.”“Aku akan menyediakan ruangan tambahan kalau perlu.”“Kau berlebihan.”“Untukmu, sepertinya memang begitu.”Reinald meletakkan buku itu di rak,

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Makan Malam Keluarga

    Hana masih memikirkan undangan makan malam dari keluarga Karissa. Pertemuan itu sebenarnya bukan hal baru baginya, tetapi kali ini ia tahu akan ada keputusan yang benar-benar mengakhiri hubungan bisnis lama antara keluarga Wijaya dan keluarga Karissa.“Besok kau tidak perlu menyiapkan sesuatu yang berlebihan,” kata Reinald ketika mereka memasuki mobil. “Kita hanya datang untuk menghadiri penandatanganan dokumen dan makan malam setelahnya.”Hana memasang sabuk pengaman. “Aku memang tidak berniat datang dengan persiapan khusus. Aku hanya berharap semuanya berjalan lancar.”“Aku juga. Setelah besok, aku ingin urusan itu benar-benar selesai.”Reinald mulai menjalankan mobil, tetapi beberapa saat kemudian tangannya berpindah untuk menggenggam jemari Hana. Sikap itu sudah sering ia tunjukkan sejak Harsa kembali, seolah ada kebutuhan baru dalam dirinya untuk terus memastikan Hana berada di dekatnya.“Kau masih memikirkan Harsa?” tanyanya tiba-tiba.Hana menoleh. “Kenapa kau kembali membahas

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Bertemu Harsa

    Hana baru saja selesai merapikan rambut ketika Reinald keluar dari kamar. Pria itu sudah mengenakan kemeja dan celana bahan, tetapi belum memasang jam tangannya karena sejak tadi sibuk memperhatikan Hana yang sedang memilih tas.“Kau sudah siap?” tanyanya.Hana mengangguk. “Sebentar lagi. Aku hanya perlu mengambil dompet.”Reinald mengambil tas yang terletak di atas sofa, lalu menyerahkannya kepada Hana. “Aku sudah mengatur jadwalku. Setelah mengantarmu, aku akan kembali ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.”“Kau tidak perlu menunggu terlalu lama. Aku juga tidak tahu berapa lama pembicaraan kami nanti.”“Aku tidak keberatan menunggu.” Reinald menatapnya sejenak. “Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja setelah bertemu dengannya.”Hana mendekat dan merapikan kerah kemeja pria itu. “Aku akan baik-baik saja. Kau juga harus berusaha tidak memasang wajah seperti orang yang sedang mengantar kekasihnya menemui mantan yang hendak merebutnya kembali.”Reinald mengangkat sebe

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Ketemu Harsa Lagi

    “Aku sudah memutuskan sesuatu tentang janji kita dulu,” ulang Harsa. “Aku tidak ingin terus menunda pembicaraan ini. Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan langsung padamu.”Hana menarik napas pelan. “Kalau memang ada yang ingin kau bicarakan, kita bisa bertemu. Tapi aku ingin kau memahami bahwa keadaannya sudah berbeda sekarang.”“Aku mengerti. Aku hanya ingin kau mendengarnya langsung dariku.”Hana menyebutkan waktu yang memungkinkan untuk bertemu, lalu mengakhiri panggilan setelah Harsa menyetujuinya. Begitu layar ponselnya mati, Reinald langsung melepaskan genggamannya dan memasukkan satu tangan ke saku celana.“Apa maksudnya janji kalian?” tanyanya.Hana menatapnya. “Aku juga belum tahu. Dia hanya mengatakan ingin menyampaikan sesuatu.”“Dan kau tetap akan menemuinya?”“Aku ingin mendengar apa yang sebenarnya ingin dia katakan. Setelah itu, aku bisa menyampaikan keputusanku dengan jelas.”Reinald tertawa pendek tanpa kegembiraan. “Aku berharap kau tidak perlu bertemu denganny

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Keputusan Harsa

    Mobil Reinald akhirnya berhenti di halaman apartemen. Sepanjang perjalanan tadi, pria itu beberapa kali menggenggam tangan Hana, seolah masih belum puas memastikan perempuan itu berada di sampingnya. Bahkan ketika mesin mobil sudah dimatikan, Reinald belum juga melepaskan jemarinya.“Masih memikirkan Harsa?” tanyanya.Hana dengan cepat menolehkan kepalanya. “Aku sedang memikirkan banyak hal, bukan hanya dia.”“Termasuk aku yang terlalu sering membicarakannya?”Hana tersenyum kecil. “Nah, termasuk itu.”Reinald menghela napas, lalu mengusap punggung tangan Hana. “Aku tidak ingin menjadi pria yang terus-menerus mencurigai pasangannya sendiri. Tapi setiap kali mengingat dia pernah berjanji akan menikahimu, rasanya aku ingin segera memastikan semua orang tahu bahwa kau sekarang bersamaku.”“Kau tidak perlu mengumumkannya pada siapa pun, Reinald.”“Aku tahu. Tapi terkadang aku juga ingin melakukannya.”Hana tertawa pelan sebelum akhirnya turun dari mobil. Reinald mengambil tasnya dan berja

  • Terjebak Pesona Presdir Muda   Semakin Posesif

    Hana baru saja merapikan beberapa dokumen di mejanya ketika Reinald muncul di ambang pintu. Pria itu tidak langsung masuk seperti biasanya, melainkan berdiri sejenak sambil memperhatikan Hana yang masih sibuk dengan pekerjaannya.“Kau belum selesai?” tanya Reinald.Hana mengangkat wajah, lalu melirik jam di pergelangan tangannya. “Sebentar lagi. Ada beberapa berkas yang harus kuperiksa sebelum diserahkan kepada Dimas.”Reinald masuk dan meletakkan sebuah paper bag di atas meja. Hana mengenali logo toko roti yang beberapa kali mereka kunjungi bersama.“Apa ini?”“Bekal untukmu. Kau tadi bahkan belum sempat sarapan dengan benar.”Hana tersenyum kecil. “Aku sudah makan roti di rumah.”“Setengah potong,” sahut Reinald cepat. “Aku melihatnya sendiri.”Hana tertawa pelan. Belakangan ini, Reinald memang semakin memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya, tetapi ada sesuatu yang berbeda sejak Harsa kembali. Perhatian itu terasa sedikit lebih besar. Seolah Reinald ingin memastikan tidak ada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status