Mag-log in“Ini buat aku, ya?” Serena langsung menatap mangkuk yang dibawa Ares dengan mata berbinar. Ia begitu percaya diri mengira mi di dalam mangkuk itu memang disiapkan untuk dirinya. Ares yang mendengar pertanyaan itu melirik Serena. Melihat ekspresi gadis yang begitu percaya diri, padahal belum tentu makanan itu untuknya, Ares hanya mengangkat sebelah alis. “Pede banget.” Seketika, wajah Serena berubah cemberut. Bibirnya mengerucut, menunjukkan kekesalannya. “Ih, aku kira buat aku,” gerutunya pelan. Ares tidak menanggapi. Ia justru duduk sambil meletakkan mangkuknya di atas meja. Serena melirik mangkuk itu, lalu kembali menatap Ares. “Terus, buat aku mana?” Ares mendongak dan menatapnya datar. “Ya tinggal bikin. Apa susahnya?” Serena langsung menggerutu. Wajahnya semakin cemberut, persis anak kecil yang tidak dituruti keinginannya. “Ih, aku mau, ya. Kamu yang bikinin,” rengeknya dengan nada manja. Ares menatap Serena datar. “Emang siapa kamu, hah? Enak banget nyuruh-nyuruh
Serena masih terbaring di sofa. Tatapannya tertuju pada langit-langit apartemen dengan pandangan kosong. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan, terutama tentang sampai kapan ia harus berada di tempat ini. Ares bahkan mengambil ponselnya, membuatnya tidak bisa menghubungi siapa pun atau sekadar mencari kesibukan untuk mengusir rasa bosan.Serena mengembuskan napas pelan. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa selain berdiam diri di sofa sambil menunggu waktu berlalu.“Bosan banget,” gerutu Serena pelan.Tiba-tiba, Serena tersentak ketika mendengar suara pintu kamar Ares terbuka.Ia langsung memejamkan mata dan kembali berpura-pura tidur sebelum Ares sempat menyadari bahwa dirinya sudah terbangun sejak tadi.Tak lama kemudian, Ares keluar dari kamar dengan langkah santai. Pria itu hanya mengenakan celana pendek, sementara satu tangannya sibuk menggosok rambutnya yang sedikit berantakan.Tatapannya langsung tertuju pada Serena yang masih berbaring di sofa. Ia memperhatikan gadis i
Malam harinya, sekitar pukul delapan lewat, Ares kembali ke apartemennya setelah menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Begitu masuk, ia mendapati apartemennya gelap. Ares sempat berpikir bahwa Serena mungkin sudah kabur. Namun, ia merasa gadis itu tidak mungkin pergi begitu saja. Serena tidak memiliki kartu akses apartemennya, dan tidak mungkin juga gadis itu nekat melompat dari balkon hanya untuk melarikan diri. Ares mencari sakelar, lalu menyalakan lampu. Pandangannya langsung tertuju pada Serena yang tertidur pulas di sofa panjang. Mochi duduk di atas perut gadis itu sambil menjilati bulunya sendiri. Ares terdiam sejenak, menatap Serena. Ada sedikit rasa iba yang muncul, tetapi ia segera mengalihkan pandangan dan berjalan menuju kamarnya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat kedua kaki Serena yang berada di ujung sofa. Kulitnya tampak kemerahan, bahkan beberapa bagian terlihat melepuh akibat kuah bakso yang tumpah tadi. Ares baru menyadari hal itu. Ares mendekat, lalu
Ares terus menarik Serena memasuki apartemennya tanpa memedulikan protes gadis itu sama sekali. Cengkeramannya pada lengan Serena tetap erat saat ia membawanya melewati lobi, memasuki lift, hingga menyusuri koridor menuju unit apartemennya. Serena terus berusaha melepaskan diri, tetapi Ares sama sekali tidak menggubrisnya. Begitu tiba di depan pintu apartemennya, Ares segera membukanya dan menarik Serena masuk dengan kasar. Pria itu langsung melepaskan cengkeramannya, membuat tubuh mungil Serena oleng hingga terjatuh ke sofa. Serena spontan berpegangan pada dudukan sofa, lalu mendongak menatap Ares dengan wajah tegang dan tatapan penuh kebencian. “Aku udah bilang aku nggak mau di sini. ARES!” bentak Serena dengan suara yang meninggi. “Kenapa? Kenapa, hah?! Apa karena kejadian semalam itu? Iya?” tanya Ares dengan suara yang tak kalah tinggi. Tatapannya tertuju tajam pada Serena. Ada kemarahan yang jelas terpancar dari wajahnya, berbeda dari sikap dingin yang biasa diperlihatkannya
“Serena, kamu kenapa?” tanya Virgo panik. Virgo kemudian mengalihkan pandangannya kepada pria yang berdiri di hadapan mereka. Ia tidak mengenal pria itu, tetapi dari tatapan tajamnya dan reaksi Serena yang terlihat ketakutan, Virgo bisa merasakan bahwa kedatangan pria tersebut membawa masalah. Siapa dia? Mengapa Serena sampai ketakutan seperti itu? Sementara itu, Ares hanya tersenyum tipis dengan tatapan yang semakin tajam. “Kenapa kamu di sini?” tanya Serena ketus, meskipun bibirnya masih bergetar. Ares mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa? Memang nggak boleh?” balasnya datar. “Katanya kerja, ternyata malah sibuk makan berduaan sama pria simpanan.” Mendengar itu, rahang Serena mengeras. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. “Maksud kamu apa, hah? Berani-beraninya kamu bilang dia pria simpanan!” seru Serena yang mulai emosi. “Dia itu teman aku, Ares! Teman kerja aku!” bentaknya. “Lagian, kenapa kalau aku lagi makan berdua dengannya? Pria lain, memangnya kenapa?” Se
Di dalam mobil, Ares sedang mengemudi bersama Bianca. Mereka tengah menuju mal atas permintaan Bianca yang sejak tadi ingin menghabiskan waktu bersama Ares. Sepanjang perjalanan, Ares lebih banyak diam dengan pandangan lurus ke depan. Sementara itu, Bianca sesekali mengajaknya berbicara, meskipun pria itu hanya menanggapi seperlunya. Mobil mereka akhirnya berhenti di persimpangan ketika lampu lalu lintas berubah merah. Sambil menunggu lampu kembali hijau, Bianca tanpa sengaja melirik ke luar jendela. Pandangannya tertuju pada sebuah warung bakso di seberang jalan. Namun, bukan warung itu yang membuatnya tertegun. Di sana, ia melihat Serena sedang duduk bersama seorang pria yang tidak dikenalnya. Keduanya tampak menikmati makanan mereka. Bahkan, Serena terlihat tertawa lepas mendengar sesuatu yang dikatakan pria di hadapannya. Bianca mengerjap beberapa kali, memastikan bahwa dirinya tidak salah melihat. Setelah yakin, ia segera menoleh ke arah Ares. “Ares, itu bukannya Serena, y







