Share

Bab 7

Author: Lalang Buana
last update publish date: 2026-11-03 09:02:32

“Hah… apa kamu sudah gila? Itu terlalu berbahaya, aku tidak setuju,” Rani kaget mendengar bisikan dari Vino.

“Ayolah! Bantu aku!” pinta Vino.

“Aku tidak mau, resikonya terlalu besar untuk kita. Sabiru tidak akan tinggal diam jika terjadi sesuatu pada wanitanya,” Rani menolak mentah-mentah keinginan Vino yang ingin dibantu balas dendam.

“Ah ya sudahlah…” Vino menyerah.

“Aku sempat melihat Sabiru bersama anak dan istrinya,” cerita Rani.

“Sabiru sudah punya keluarga? Tapi kenapa tidak pernah ada pemberitaan di publik? Aku pikir selama ini dia single,” Vino kaget mendengar cerita Rani.

“Iya, aku melihat sendiri istri dan anaknya hari itu. Aku mendengar anak kecil itu memanggilnya dengan sebutan ‘Papa’,” terang Rani.

“Sabiru benar-benar playboy kelas kakap. Sudah punya keluarga tapi masih suka main wanita, bahkan sebelum kamu kerja di klub, telah banyak wanita yang dikencaninya. Malang sekali nasib sahabatmu yang akan jadi korban selanjutnya.” Vino bicara sambil mengunyah makanan.

“Habiskan dulu makananmu, jangan makan sambil bicara, nanti tersedak!” Rani memperingatkan Vino.

***

“Terima kasih, Sayang! Aku suka tempat ini,” kata Salwa pada Sabiru.

“Sama-sama, Sayang! Apapun akan aku lakukan untuk membuatmu bahagia,” Sabiru mengucapkan janji yang menyentuh hati Salwa.

Dari kejauhan, para pekerja di Ladang Bunga Matahari melihat tingkah laku Sabiru. Mereka saling berbisik membicarakannya.

“Wanita mana lagi yang dibawa Pak Sabiru itu?” tanya seorang pekerja pada pekerja lainnya.

“Entahlah… begitulah kelakuan orang kaya, bisa seenaknya bergonta-ganti wanita meskipun sudah punya istri yang cantik dan setia, aku kasihan pada Bu Stevani,” ucapnya.

“Aku merasa berdosa karena diam melihat perselingkuhan Pak Sabiru selama ini. Kita sudah jahat pada Bu Stevani,” sahut pekerja yang lain.

“Apa tidak sebaiknya kita laporkan saja kejadian ini pada Bu Stevani?” seorang pekerja memberi ide pada rekan-rekannya.

“Jangan cari masalah! Kamu mau kita semua kehilangan pekerjaan? Kalau Pak Sabiru sampai tahu kita yang lapor ke Bu Stevani, tamatlah riwayat kita!” seorang pekerja paling tua di sana menolak ide konyol itu.

“Ah… benar juga!” sahut pekerja yang memberi ide.

“Kalau begitu kita lanjut bekerja saja, tidak usah ikut campur urusan orang lain!” seru pekerja yang lain.

Semua pekerja fokus kepada pekerjaannya masing-masing. Mereka akhirnya mengabaikan Salwa dan Sabiru yang sedang asyik bermesraan di tengah ladang.

Tiba-tiba langit mendung dan air hujan turun rintik-rintik. Salwa merasakan tetesan air pada kulit mulusnya.

“Ah hujan!” serunya pada Sabiru.

Keduanya berlari masuk ke mobil. Di dalam mobil, Sabiru mengambil tissue dan mengelap seluruh tetesan air hujan yang membasahi tubuh Salwa.

“Kamu perhatian sekali,” puji Salwa pada Sabiru.

“Aku tidak ingin kamu sakit karena kehujanan,” jawab Sabiru sambil terus mengeringkan rambut Salwa yang setengah basah.

“Aku begitu beruntung memilikimu,” ucap Salwa.

“Ya, kamu sangat beruntung. Mungkin aku terlahir untuk itu,” kata Sabiru.

“Untuk itu, apa?” Salwa bingung.

“Untuk membuatmu jadi beruntung hahaha,” Sabiru tertawa di tengah ketidaklucuan yang dia ciptakan.

“Candaanmu itu, sangat tidak lucu. Kenapa kamu tertawa?” Salwa merasa aneh.

“Oh… tidak lucu ya? Tapi menurutku lucu. Hmmm… kalau begitu ayo kita cari makan siang!” ajak Sabiru.

Mesin mobil dinyalakan, Sabiru dan Salwa melaju ke sebuah kafe yang lokasinya agak jauh dari Ladang Bunga Matahari. 

“Wah, unik sekali kafenya!” Salwa tertegun melihat bangunan kafe yang terbuat dari kayu.

“Ini kafe baru di daerah sini, makanya aku ingin mencobanya. Aku dengar menunya enak,” terang Sabiru.

“Oh ya? Aku mau nasi sapi lada hitam dan jus alpukat.” Salwa menunjuk daftar menu di hadapannya.

Tanpa keduanya sadari, ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. Matanya mengintai setiap gerak-gerik Sabiru dan dengan ponselnya, dia memotret kebersamaan dua sejoli itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak di Kamar Sang Pejabat   Bab 9

    “Sayang pagi ini aku pergi dulu ya! Bodyguard itu akan datang jam 7 nanti.” Sabiru berpamitan sambil mencium kening Salwa.“Baiklah, kamu juga hati-hati ya!” jawab Salwa.“Pasti.” Sabiru membuka pintu dan pergi meninggalkan Salwa sendirian di dalam unit apartemennya.Salwa melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul 5 pagi. Dia memutuskan untuk tidur lagi sampai bodyguard itu datang.‘Tok tok tok’ suara pintu diketuk oleh seseorang.Salwa mendengar ketukan itu, dia membuka matanya. Dilihatnya jam dinding yang menunjukkan pukul 07.10. Dia melompat dari tempat tidurnya untuk membuka pintu.“Selamat pagi, saya Dion, bodyguard yang sudah Anda sewa melalui aplikasi,” pria di depan pintu itu tersenyum memperkenalkan diri pada Salwa.“Oh… iya, silahkan masuk,” Salwa merasa canggung.Dion melihat Salwa dari ujung kaki ke ujung kepala. Salwa masih memakai baju tidur dan rambutnya berantakan. “Maaf ya, aku bangun tidur.” Salwa malu dan kemudian langsung masuk ke kamar mandi untuk membersi

  • Terjebak di Kamar Sang Pejabat   Bab 8

    “Hmm… makanannya enak sekali,” Salwa mengunyah makanannya sambil memuji cita rasanya.“Iya, aku juga setuju. Ini enak sekali.” Sabiru menanggapi sembari mengunyah makanannya.“Setelah ini kita kemana?” tanya Salwa.“Pulang, kita kan sudah lama di sini. Lebih baik kita istirahat saja di apartemen,” jawab Sabiru.Pria yang mengawasi Sabiru dan Salwa duduk di dalam kafe. Dia berniat mengikuti Sabiru dan memotret semua gerak-geriknya untuk diberikan pada seseorang.Lima belas menit berlalu, Salwa sudah menjinjing tasnya dan bangkit dari kursi. Sabiru memegang kunci mobilnya dan berjalan keluar dari kafe. Pria itu membuntutinya perlahan-lahan.Dengan gerakan cepat, pria tersebut sudah berada di atas motor. Melihat mobil Sabiru melaju, pria tersebut ikut tancap gas berjalan di belakang mobil dengan jarak yang diatur agak jauh supaya tidak mencurigakan.“Akhirnya sampai juga…” kata Sabiru lega saat mobilnya terparkir di basement apartement.Pria misterius itu membuntuti Salwa dan Sabiru samp

  • Terjebak di Kamar Sang Pejabat   Bab 7

    “Hah… apa kamu sudah gila? Itu terlalu berbahaya, aku tidak setuju,” Rani kaget mendengar bisikan dari Vino.“Ayolah! Bantu aku!” pinta Vino.“Aku tidak mau, resikonya terlalu besar untuk kita. Sabiru tidak akan tinggal diam jika terjadi sesuatu pada wanitanya,” Rani menolak mentah-mentah keinginan Vino yang ingin dibantu balas dendam.“Ah ya sudahlah…” Vino menyerah.“Aku sempat melihat Sabiru bersama anak dan istrinya,” cerita Rani.“Sabiru sudah punya keluarga? Tapi kenapa tidak pernah ada pemberitaan di publik? Aku pikir selama ini dia single,” Vino kaget mendengar cerita Rani.“Iya, aku melihat sendiri istri dan anaknya hari itu. Aku mendengar anak kecil itu memanggilnya dengan sebutan ‘Papa’,” terang Rani.“Sabiru benar-benar playboy kelas kakap. Sudah punya keluarga tapi masih suka main wanita, bahkan sebelum kamu kerja di klub, telah banyak wanita yang dikencaninya. Malang sekali nasib sahabatmu yang akan jadi korban selanjutnya.” Vino bicara sambil mengunyah makanan.“Habiska

  • Terjebak di Kamar Sang Pejabat   Bab 6

    “Aku cinta kamu,” Salwa menatap mata Sabiru setelah bercinta semalaman.“Aku juga, Sayang!” Sabiru memeluk tubuh Salwa yang masih berbaring di ranjang.Senyum manis menghiasi wajah keduanya. “Cepat mandi! Aku mau ajak kamu ke suatu tempat.”“Kemana?” tanya Salwa.“Sudah ikut saja, kamu pasti suka,” jawab Sabiru sambil mengelus kepala Salwa.Salwa turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi. Dia membersihkan tubuhnya yang dipenuhi bekas kecupan pria yang dia cintai. Dipandanginya wajah dan tubuhnya di depan cermin.“Ah… ini ulah Sabiru,” kata Salwa berbicara sendiri.Beberapa menit kemudian, Salwa selesai mandi. Dia memakai dress putih yang membuatnya makin terlihat cantik. “Cantik sekali kamu, Sayang! Tunggu ya… aku mau mandi dulu,” Sabiru terpukau melihat kecantikan Salwa.Beberapa menit kemudian, Salwa dan Sabiru keluar dari apartemen. Sabiru membukakan pintu mobilnya untuk Salwa. Dengan tersipu malu, Salwa menatap mata Sabiru sambil masuk ke dalam mobil.Setelah keduanya duduk

  • Terjebak di Kamar Sang Pejabat   Bab 5

    Salwa berangkat kerja ke klub naik taksi. Dia berencana mengambil gajinya dan meminta resign pada managernya seperti saran dari Sabiru. Kota ini bukan tempat yang tepat untuknya. Salwa berniat kembali ke kampung halamannya."Bos, saya mau ambil gaji saya bulan kemarin," kata Salwa saat berada di ruang manager."Ini gaji kamu beserta bonusnya. Saya kasih lebih karena kerja kamu bagus," jawab sang manager.Setelah amplop gaji itu ada di tangan Salwa, dia menghitungnya. Jumlahnya lumayan besar karena diberi tambahan bonus. Belum lagi uang simpanan Salwa yang diberi tip langsung oleh pengunjung, jumlahnya sudah lumayan untuk mengirimi keluarganya di kampung."Terima kasih, Bos. Tapi, bulan ini saya mau resign," ucap Salwa sambil menatap wajah managernya."Resign?!" si manager kaget."Kamu baru kerja satu bulan. Saya sudah kasih kamu bonus besar dibandingkan pekerja yang lain. Tolong kamu pertimbangkan lagi! Zaman sekarang cari kerja di luar sana susah," bujuk Vino agar Salwa mengurungkan

  • Terjebak di Kamar Sang Pejabat   Bab 4

    Pintu kamar diketuk dari luar. Salwa menyeka air matanya, dengan mata sembab, lalu dengan segera membuka pintu. Sabiru berdiri di hadapannya dan membawa dua box makanan untuk Salwa."Pak Sabiru," kata Salwa sambil membuka pintu kamarnya lebar-lebar."Hey Shanum... kamu kenapa lagi? Mata kamu sembab, kamu habis nangis?" Sabiru menanyakan kondisi Salwa dengan nada khawatir."Sudahlah, kan sekarang kamu juga sudah tinggal di sini. Kamu nggak perlu mikir ucapan Rani kemarin!" pinta Sabiru sambil merangkul pundak Salwa."Ini bukan soal itu, Pak. Rani mengancam saya," jawab Salwa sambil menangis.Tangisannya pecah, kondisi psikologisnya sedang kacau, tubuhnya tiba-tiba memeluk Sabiru yang masih berdiri di dekat pintu. Sabiru meletakkan box makanan yang dibawanya di atas meja. Tangannya memeluk Salwa erat, mencoba menenangkan hati gadis itu. "Rani mengancam apa?" Sabiru bertanya dengan tenang.Salwa melepaskan pelukannya, tanpa pikir panjang, ditunjukkan pesan video yang dikirim oleh Rani d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status