Terjebak di Kamar Sang Pejabat

Terjebak di Kamar Sang Pejabat

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-11-04
Oleh:  Lalang BuanaBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
9Bab
18Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Salwa, gadis desa yang terjebak dalam kehidupan gemerlap di kota Jakarta karena ajakan sahabat lamanya. Hidupnya berubah drastis semenjak merantau, banyak pejabat dan pria berduit yang menginginkan dirinya karena kecantikannya yang luar biasa. Himpitan ekonomi membuatnya harus menjadi pelayan di klub malam dan berujung pada keterpaksaan menjadi simpanan orang-orang kaya yang punya power di kota besar. Sosoknya yang polos lambat laun terbawa arus kehidupan yang keras sehingga menjalani pilihan yang sulit dan mengorbankan harga dirinya demi menghidupi keluarganya yang miskin.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

’Aku sudah sampai.’

Pesan itu belum juga dibalas.

Salwa menghela napas. Sejak meninggalkan rumah pagi tadi, ia sudah menempuh perjalanan hampir delapan jam. Bus yang membawanya dari desa tiba menjelang malam saat kota sudah berubah menjadi lautan kendaraan dan manusia.

Di desanya, setelah matahari tenggelam, jalanan akan menjadi sunyi. Paling-paling terdengar suara jangkrik atau sesekali motor tetangga melintas.

Di kota ini suara klakson bersahutan, lampu gedung menjulang tinggi, dan orang-orang berjalan tergesa-gesa seolah setiap detik sangat berharga.

Salwa merapatkan jaket tipis yang dikenakannya.

"Salwa!" teriak seorang wanita muda.

Salwa menoleh dan melihat Rani, teman sekolahnya dulu yang sudah terlebih dahulu merantau ke Jakarta. Wanita berambut panjang itu berlari menyeberangi jalan sambil melambaikan tangan.

"Rani!" jawab Salwa dengan tersenyum lega.

Rani memeluk Salwa erat. "Akhirnya kamu datang juga! Maaf bikin kamu menunggu. Ayo, ikut ke kosku!"

Salwa menggeret kopernya sembari terpukau menatap gedung-gedung tinggi di kejauhan.

"Kota ini besar sekali," tutur Salwa terheran-heran

Rani tertawa karena tingkah lucu sahabatnya yang memang seumur hidupnya dihabiskan di pelosok desa.

"Kalau baru pertama kali memang kelihatan menakjubkan, nanti juga terbiasa." kata Rani sambil tertawa.

Salwa tersenyum lega karena bisa keluar dari kampung halamannya dan merajut harapan baru di tempat perantauannya ini. Sejak awal, Salwa menanamkan dalam dirinya bahwa ia datang ke sini bukan untuk mencari kesenangan, tapi untuk memperbaiki nasib.

Ayahnya sudah lama tidak bisa bekerja seperti dulu karena sakit stroke. Ibunya juga hanya berjualan gorengan di depan rumah dengan pendapatan yang tidak seberapa. Sementara ia punya adik yang masih butuh biaya untuk sekolah.

Salwa tidak punya banyak pilihan, bagaimanapun ia harus bekerja untuk membantu orang tuanya. Apa pun pekerjaannya akan dilakukan.

***

Keesokan harinya, Rani mengajak Salwa menemui seseorang yang katanya bisa memberikan pekerjaan.

"Kerjanya sebagai waitress," kata Rani saat mereka menaiki kendaraan menuju pusat kota.

"Di restoran?" tanya Salwa

"Kurang lebih," jawab Rani

Salwa menoleh, menatap wajah sahabatnya dengan bingung. "Kurang lebih itu maksudnya apa?"

Rani tersenyum aneh. "Nanti kamu akan tahu."

Jawaban itu justru membuat Salwa semakin penasaran. Mereka berhenti di depan sebuah bangunan besar yang dari luar tampak seperti hotel mewah.

Saat memasuki lorong di bagian belakangnya, Salwa mulai menyadari bahwa tempat itu bukan restoran biasa. Lampu berwarna biru dan ungu menerangi ruangan. Suara musik terdengar samar dari balik pintu.

Beberapa perempuan mengenakan pakaian kerja yang terbuka dan seksi dibandingkan seragam waitress yang pernah Salwa bayangkan.

Langkah kaki Salwa terhenti sebelum sempat menemui seseorang yang Rani katakan.

"Ran..." Salwa menghentikan langkahnya.

"Hm?" Rani merespon.

"Ini tempat apa?" Salwa bertanya meminta kejelasan.

Rani menatapnya sebentar dan menjawab "Klub malam."

Salwa kaget, "Apa?!"

"Tenang saja. Kamu cuma melayani tamu. Mengantar minuman, mengambil pesanan, menemani ngobrol kalau mereka mengajak bicara,” jelas Rani menenangkan Salwa.

Salwa memandang sekeliling. "Aku kira restoran."

"Kalau aku bilang klub malam dari awal, memangnya kamu mau datang?" tanya Rani.

Salwa enggan menjawab, lehernya terasa tercekat tak dapat mengeluarkan suara. Rani langsung menggenggam tangannya untuk meyakinkan Salwa agar mau bekerja di klub malam itu.

"Sal, gajinya besar," bujuk Rani

Kalimat itu membuat Salwa berpikir ulang, membayangkan kebutuhan keluarganya di kampung yang miskin dan membutuhkan bantuan keuangan darinya.

"Gaji berapa?" tanya Salwa.

Rani menjawab "Tiga kali lipat dari perkiraan gaji seorang pelayan di restoran biasa, belum termasuk tip."

Salwa menelan ludah. Akhirnya ia memberanikan diri untuk melangkah lagi memasuki klub malam untuk pertama kalinya.

***

"Papi, ini teman saya yang saya ceritakan kemarin," ucap Rani memperkenalkan Salwa pada bosnya.

Malam itu juga Salwa diterima bekerja dan ia langsung diminta memakai seragam kerjanya. Sebuah dress hitam tanpa lengan yang roknya sepanjang paha yang terasa risih saat dikenakan.

Salwa berdiri di depan cermin dan hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Rambut panjang ikalnya dibiarkan terurai. Wajahnya hanya diberi sedikit riasan.

Wajah cantiknya memesona. Kecantikannya bukan jenis yang mencolok atau dibuat-buat. Wajahnya lembut, kulitnya bersih, matanya agak sipit, dan senyumnya memiliki sesuatu yang membuat orang merasa nyaman.

"Sal..." panggil Rani

Salwa menoleh. Rani berdiri di ambang pintu.

"Jangan terlalu banyak tersenyum," Rani memberi nasehat.

Salwa mengernyit, "Kenapa?"

"Karena di sini, senyum sedikit saja bisa disalahartikan," jawab sang sahabat.

Salwa tidak mengerti. Namun malam itu ia segera mengetahui maksud Rani.

Klub mulai ramai sekitar pukul sembilan. Para tamu datang dengan pakaian mahal. Sebagian datang bersama teman-teman bisnis, sebagian lagi ditemani perempuan cantik.

Salwa bekerja seperti yang diajarkan, mengantar minuman, mengambil pesanan dan membersihkan meja.

Tersenyum seperlunya. Namun semakin malam, semakin banyak mata yang tertuju kepadanya. Awalnya Salwa berusaha mengabaikannya.

Sampai seorang pria paruh baya memanggilnya, "Nona!"

"Ya, Pak?" Salwa mendekat.

"Namamu siapa?"

"Sal..." belum sempat Salwa menjawab, Rani datang dan nyeletuk menyebutkan nama samaran untuk Salwa.

"Shanum!" ucap Rani yang kemudian pergi menjauh.

Pria itu tersenyum sambil memperhatikannya, "Nama yang bagus."

"Terima kasih," ucap Salwa.

"Baru bekerja di sini?" tanya sang pria

Salwa mengangguk, Pria itu tertawa kecil. "Pantesan."

Salwa tidak tahu apa maksudnya. Ia segera berpamitan setelah meletakkan minuman. Tetapi belum sempat pergi jauh, Rani menarik lengannya.

"Jangan terlalu dekat dengan tamu seperti itu dan di sini kamu jangan menyebutkan nama aslimu, pakai nama samaran saja. Mulai sekarang saat bekerja, namamu adalah Shanum"

"Kenapa?" tanya Salwa polos

"Nanti kamu akan mengerti Salwa. Dan itu tadi Pak Arman, pengusaha kaya raya yang tinggal di kota ini." Rani menjelaskan.

Salwa memerhatikan pria itu diam-diam dari kejauhan. Pria yang tadi memanggilnya sedang berbicara dengan beberapa lelaki lain. Mereka semua berpakaian rapi dengan jam tangan mahal melingkar di tangannya.

Mereka bukan tipe orang yang pernah Salwa temui di desanya.

"Mereka sering datang ke sini?" tanya Salwa.

"Sering," jawab Rani

Malam ini ternyata baru permulaan. Dalam beberapa minggu berikutnya, nama Shanum mulai dikenal oleh beberapa pelanggan tetap. Ada yang memberinya tip besar, ada yang mengirim bunga dan ada pula yang meninggalkan kartu nama sambil mengatakan bahwa ia bisa menghubunginya kapan saja jika membutuhkan pekerjaan yang lebih baik.

Salwa selalu menolak dengan halus. Ia tidak ingin membuat masalah di tempat kerja yang baru ia masuki selama 3 minggu ini. Salwa hanya ingin mendapatkan uang dan pulang membawa kesuksesan untuk keluarganya.

Namun dunia tempat ia bekerja ternyata memiliki aturan yang tidak pernah tertulis. Semakin cantik seorang waitress, semakin besar pula perhatian yang didapat. Dan semakin besar perhatian, semakin sulit baginya menjaga jarak.

Suatu malam, seorang pria datang lebih awal dari biasanya. Begitu memasuki klub, beberapa pegawai langsung menyambutnya. Salwa sedang membawa nampan ketika tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan pria itu.

Usianya sekitar tiga puluh tujuh tahun, badannya tinggi, tegap, matanya agak sipit, rambut hitam lurus rapi dan berponi. Pria itu memakai setelan jas hitam yang membuatnya tampak berwibawa.

Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya membuat Salwa merasa seolah-olah sedang diperhatikan dengan sangat teliti. Pria itu tidak langsung duduk, hanya berdiri beberapa detik.

Kemudian bertanya kepada manajer klub, "Siapa perempuan itu?"

Salwa membeku. Manajer mengikuti arah pandangannya, "Oh, itu Shanum."

"Baru?" tanya sang pria.

"Iya baru beberapa minggu," jawab si manajer.

"Suruh dia mengantar minumanku!"

Malam itu, Salwa akhirnya mengetahui namanya, Sabiru Andreas, seorang pejabat muda yang sedang naik daun. Dan menurut Rani, ia bukan orang sembarangan.

"Jangan cari masalah dengan dia," bisik Rani.

"Aku tidak melakukan apa-apa," kata Salwa.

"Justru itu masalahnya," Rani menanggapi.

Salwa menatap sahabatnya. "Maksudmu?"

Rani menarik napas. "Kalau seorang pria seperti Pak Sabiru sudah tertarik pada seorang perempuan, biasanya dia tidak akan berhenti hanya karena perempuan itu bilang tidak."

Salwa terdiam. Ia mencoba mengabaikan perkataan itu. Tetapi malam semakin larut.

Dan ketika Salwa hendak pulang, seorang staf memanggilnya, "Shanum!"

"Ya?" jawabnya

"Pak Sabiru ingin bicara denganmu,” kata staf itu.

Salwa menatap ke arah ruangan VIP. Pintu kayunya tertutup. Untuk sesaat, jantungnya berdetak lebih cepat.

"Apa katanya?" tanya Salwa.

"Katanya cuma sebentar," jawab temannya.

Salwa menggenggam ujung seragamnya. Ia tahu seharusnya ia menolak. Namun ia juga tahu bahwa sejak malam pertama memasuki klub itu, hidupnya perlahan telah memasuki dunia yang sama sekali berbeda.

Dunia yang dipenuhi dengan orang-orang yang memiliki uang, kekuasaan, rahasia serta para lelaki yang terbiasa mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan powernya.

Salwa menarik napas panjang. Kemudian berjalan menuju pintu ruangan VIP. Ia belum tahu bahwa beberapa langkah lagi akan membawanya menuju sebuah kejadian yang kelak mengubah seluruh hidupnya.

Hatinya bergemuruh, ada rasa takut dan enggan untuk menemui pria yang katanya punya power itu. Salwa sama sekali tidak tahu apa yang diinginkan Sabiru malam itu.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
9 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status