LOGINPintu kamar diketuk dari luar. Salwa menyeka air matanya, dengan mata sembab, lalu dengan segera membuka pintu. Sabiru berdiri di hadapannya dan membawa dua box makanan untuk Salwa.
"Pak Sabiru," kata Salwa sambil membuka pintu kamarnya lebar-lebar. "Hey Shanum... kamu kenapa lagi? Mata kamu sembab, kamu habis nangis?" Sabiru menanyakan kondisi Salwa dengan nada khawatir. "Sudahlah, kan sekarang kamu juga sudah tinggal di sini. Kamu nggak perlu mikir ucapan Rani kemarin!" pinta Sabiru sambil merangkul pundak Salwa. "Ini bukan soal itu, Pak. Rani mengancam saya," jawab Salwa sambil menangis. Tangisannya pecah, kondisi psikologisnya sedang kacau, tubuhnya tiba-tiba memeluk Sabiru yang masih berdiri di dekat pintu. Sabiru meletakkan box makanan yang dibawanya di atas meja. Tangannya memeluk Salwa erat, mencoba menenangkan hati gadis itu. "Rani mengancam apa?" Sabiru bertanya dengan tenang. Salwa melepaskan pelukannya, tanpa pikir panjang, ditunjukkan pesan video yang dikirim oleh Rani di ponselnya. Sabiru ternganga melihat apa yang terjadi pada Salwa kemarin. "Saya tidak bisa tinggal diam, saran saya kamu resign saja dari klub itu. Tempat itu bukan tempat yang baik untuk gadis polos seperti kamu. Untuk soal Rani, biar saya yang urus." Sabiru mengambil ponsel dari kantongnya dan menelpon seseorang. Salwa tidak memahami maksud Sabiru. Perasaannya masih luar biasa kacau. Dia melihat Sabiru bercakap cakap dengan seseorang di telepon, sesekali dia mendengarnya mengucapkan nama Rani. Setelah telepon ditutup, Salwa bertanya: "Siapa yang Bapak telepon barusan?" "Saya menelpon hacker kenalan saya, dia bisa menyisipkan virus ke ponsel Rani yang membuat ponselnya mati total. Dengan begitu, video dan foto kamu akan hilang, dia tidak akan bisa mengaksesnya lagi. Kamu aman, Shanum!" Sabiru mengelus kepala Salwa. "Benarkah? tapi bagaimana dengan rekaman CCTV di klub kemarin malam, pasti masih ada," tanya Salwa. "Untuk urusan itu tidak perlu kamu pikirkan, saya tinggal menemui manager kamu dan membayarnya untuk menghapus semua rekamannya secara permanen." Sabiru tersenyum, menatap Salwa dan memeluknya secara tiba-tiba. "Terima kasih, sekali lagi, Pak Sabiru. Anda sudah banyak menolong saya dan saya tidak bisa membalasnya," kata Salwa polos. Dalam pelukan itu, Sabiru menyentuh dagu Salwa, membuat wajah Salwa mendongak menatap matanya. Dalam sekejap, bibir keduanya saling berpagutan. Sabiru berjalan maju, membuat Salwa mundur perlahan dan jatuh ke ranjang kamarnya. Sabiru menindih tubuh Salwa di atas ranjang. Ciumannya mendarat di bibir dan menjalar ke leher mulus Salwa. Ini baru pertama kalinya gadis itu merasakan bercumbu. Dirinya hanya bisa pasrah mengikuti alur yang dimainkan oleh Sabiru. Satu per satu kancing baju Salwa dibuka, membuat kulit putih mulusnya terlihat dan buah dadanya menyembul ke luar. Tubuh seksi itu membuat hasrat Sabiru makin berkobar. Salwa merasa malu dan canggung. Sesekali dia mencoba menutupi tubuhnya dengan tangan. Sabiru mengerti apa yang dirasakan Salwa, namun dia tak peduli. Dengan hasratnya yang sudah tinggi itu, dilepaskan semua pakaian yang dikenakan oleh Salwa hingga tak tersisa sehelai benang pun. Lidahnya menyusuri setiap jengkal tubuh Salwa yang masih perawan. Salwa melenguh manja merasakan kenikmatan yang selama ini belum pernah dia rasakan. Salwa melihat dada bidang Sabiru di atas tubuhnya. Dengan gayanya yang maskulin, menggoyang ranjang dengan tubuh kekarnya, membuat hati Salwa berdebar. Mata Salwa sesekali terpejam, aliran darah di tubuhnya terasa mengalir deras. Pasrah tubuhnya digoyang di atas ranjang oleh pria berusia tiga pulih tujuh tahun itu. Luapan hasrat itu pun meninggi, hingga kenikmatan tak tertahankan dirasakan olehnya. Tiba-tiba darah perawan itu pecah membasahi sprei putih di atas ranjang apartemen. Salwa merintih, merasakan sensasi perih namun nikmat itu. Dia bingung terhadap dirinya sendiri, kenapa dia tidak melawan? Kenapa dia justru menikmati setiap sentuhan Sabiru? Sabiru sudah lelah, dia berbaring tanpa busana di sisi Salwa. Keduanya terengah-engah, detak jantungnya berdegup kencang, keringatnya mengucur deras. Bagi Salwa, ini adalah hari yang tidak akan pernah dia lupakan dan tidak akan dia ceritakan kepada siapapun. *** Rani baru saja selesai mandi, dia mengambil ponsel dari atas meja rias kamar kostnya. Diketuk-ketuk layar ponsel itu beberapa kali dengan jarinya, namun ponsel itu tak menyala. Hal itu membuatnya bingung. "Kayaknya tadi baterainya juga sudah penuh, kenapa tidak bisa menyala?" Tiga puluh menit berlalu, Rani sadar ada yang tidak beres dengan ponselnya. Rasa kesal memenuhi dadanya. Akhirnya dia memutuskan pergi ke tempat service HP yang ada di dalam mall terdekat untuk memperbaikinya. Di tengah perjalanan, Rani melihat mobil Sabiru ke arah mall. Di dalam mobil itu tampak ada beberapa orang, dan salah satu di antaranya ada anak kecil. "Itu Sabiru kan? Sama siapa ya kok ada anak kecil? Apa itu anak dan istrinya?" gumam Rani dalam hati sembari mengikuti mobil itu dari belakang. Benar saja, Sabiru dan Rani memiliki tujuan yang sama, yaitu menuju mall. Ketika Sabiru membuka pintu mobilnya, terlihat seorang wanita dan anak laki-laki berusia sekitar lima tahun juga ikut turun dari mobilnya. Mereka bertiga tampak sangat dekat dan seperti keluarga. Rani sebenarnya ingin memotret momen itu, sayangnya ponselnya sedang rusak. Dia ingin sekali memberitahukan pada Salwa apa yang baru saja dilihatnya agar Salwa mengerti alasan melarangnya terlalu dekat dengan Sabiru. Sesampainya di tempat service HP, Rani langsung meminta staf di sana untuk memeriksa kondisi ponselnya. "Wah, ini sih matinya karena disisipi virus, Mbak. Bisa sih dibuat hidup lagi, tapi resikonya semua file di dalamnya bakal hilang, jadi balik kayak setelan baru lagi," staf itu menjelaskan. Mendengar hal itu Rani langsung memahami siapa dalang di balik kerusakan ponselnya. "Ok Bang, yang penting bisa hidup dulu. Kira-kira kapan bisa saya ambil?" tanya Rani. "Besok pagi ya, Mbak," jawab staf itu. "Ya, Mas," Rani menyanggupi. Rasa kesalnya semakin membesar. Rani yakin, Salwa tidak mungkin melakukan hal seperti ini sendirian, pasti ada campur tangan Sabiru di dalamnya. *** Malam ini, sebelum klub buka, Sabiru mencari manager Salwa. Dia mengutarakan maksudnya untuk menghapus rekaman CCTV kemarin yang menampilkan adegan Salwa dengan banyak pria itu. "Pak Sabiru, ada apa? Tumben sudah ke sini sebelum jam buka?" si manager bingung. "Ini ada hadiah untuk kamu." Sabiru memberikan amplop cokelat berisi uang 20 juta kepada manager tersebut. "Hadiah? kenapa Anda memberi hadiah, Pak? Apa ada yang bisa saya bantu?" si manager itu bertanya sambil membuka amplop itu. "Saya minta rekaman CCTV kemarin malam, saat Shanum mabuk. Tolong kamu masukkan ke dalam flash disk ini dan hapus yang ada di data base komputer klub!" Sabiru menyodorkan flash disk warna putih. "Baik, Pak." Manager klub mengambil flash disk itu di tangan Sabiru dan berjalan ke arah ruang CCTV. Sabiru mengikutinya dan ikut masuk ke ruangannya. Dia ingin memastikan rekaman itu benar-benar dipindah ke flash disknya dan dihapus dari komputer asalnya. Saat proses penghapusan, Sabiru merekamnya dengan ponsel. Video itu kemudian dikirimkan pada Salwa agar Salwa tidak khawatir lagi. "Sudah, Pak. Rekaman sudah saya masukkan ke flash disk dan di komputer ini juga sudah saya hapus permanen," kata si manager. "Bagus! Terima kasih, ya... Vino," kata Sabiru penuh kelegaan. Sabiru mengantongi flash disk itu dan segera pergi meninggalkan klub. Di dalam mobil, Sabiru menerima pesan balasan dari Salwa. 'Terima kasih banyak, Pak. Saya sangat lega sekarang.' Mata Sabiru menatap layar ponselnya, membaca pesan singkat itu dengan senyuman. Di sisi lain, Rani merasa tidak terima dengan apa yang baru saja menimpanya. Ditambah lagi pemandangan Sabiru yang berjalan bersama anak istrinya yang masih terbayang di ingatannya. Rani pun menyusun ide cemerlang untuk menghancurkan hubungan Salwa dan Sabiru.“Sayang pagi ini aku pergi dulu ya! Bodyguard itu akan datang jam 7 nanti.” Sabiru berpamitan sambil mencium kening Salwa.“Baiklah, kamu juga hati-hati ya!” jawab Salwa.“Pasti.” Sabiru membuka pintu dan pergi meninggalkan Salwa sendirian di dalam unit apartemennya.Salwa melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul 5 pagi. Dia memutuskan untuk tidur lagi sampai bodyguard itu datang.‘Tok tok tok’ suara pintu diketuk oleh seseorang.Salwa mendengar ketukan itu, dia membuka matanya. Dilihatnya jam dinding yang menunjukkan pukul 07.10. Dia melompat dari tempat tidurnya untuk membuka pintu.“Selamat pagi, saya Dion, bodyguard yang sudah Anda sewa melalui aplikasi,” pria di depan pintu itu tersenyum memperkenalkan diri pada Salwa.“Oh… iya, silahkan masuk,” Salwa merasa canggung.Dion melihat Salwa dari ujung kaki ke ujung kepala. Salwa masih memakai baju tidur dan rambutnya berantakan. “Maaf ya, aku bangun tidur.” Salwa malu dan kemudian langsung masuk ke kamar mandi untuk membersi
“Hmm… makanannya enak sekali,” Salwa mengunyah makanannya sambil memuji cita rasanya.“Iya, aku juga setuju. Ini enak sekali.” Sabiru menanggapi sembari mengunyah makanannya.“Setelah ini kita kemana?” tanya Salwa.“Pulang, kita kan sudah lama di sini. Lebih baik kita istirahat saja di apartemen,” jawab Sabiru.Pria yang mengawasi Sabiru dan Salwa duduk di dalam kafe. Dia berniat mengikuti Sabiru dan memotret semua gerak-geriknya untuk diberikan pada seseorang.Lima belas menit berlalu, Salwa sudah menjinjing tasnya dan bangkit dari kursi. Sabiru memegang kunci mobilnya dan berjalan keluar dari kafe. Pria itu membuntutinya perlahan-lahan.Dengan gerakan cepat, pria tersebut sudah berada di atas motor. Melihat mobil Sabiru melaju, pria tersebut ikut tancap gas berjalan di belakang mobil dengan jarak yang diatur agak jauh supaya tidak mencurigakan.“Akhirnya sampai juga…” kata Sabiru lega saat mobilnya terparkir di basement apartement.Pria misterius itu membuntuti Salwa dan Sabiru samp
“Hah… apa kamu sudah gila? Itu terlalu berbahaya, aku tidak setuju,” Rani kaget mendengar bisikan dari Vino.“Ayolah! Bantu aku!” pinta Vino.“Aku tidak mau, resikonya terlalu besar untuk kita. Sabiru tidak akan tinggal diam jika terjadi sesuatu pada wanitanya,” Rani menolak mentah-mentah keinginan Vino yang ingin dibantu balas dendam.“Ah ya sudahlah…” Vino menyerah.“Aku sempat melihat Sabiru bersama anak dan istrinya,” cerita Rani.“Sabiru sudah punya keluarga? Tapi kenapa tidak pernah ada pemberitaan di publik? Aku pikir selama ini dia single,” Vino kaget mendengar cerita Rani.“Iya, aku melihat sendiri istri dan anaknya hari itu. Aku mendengar anak kecil itu memanggilnya dengan sebutan ‘Papa’,” terang Rani.“Sabiru benar-benar playboy kelas kakap. Sudah punya keluarga tapi masih suka main wanita, bahkan sebelum kamu kerja di klub, telah banyak wanita yang dikencaninya. Malang sekali nasib sahabatmu yang akan jadi korban selanjutnya.” Vino bicara sambil mengunyah makanan.“Habiska
“Aku cinta kamu,” Salwa menatap mata Sabiru setelah bercinta semalaman.“Aku juga, Sayang!” Sabiru memeluk tubuh Salwa yang masih berbaring di ranjang.Senyum manis menghiasi wajah keduanya. “Cepat mandi! Aku mau ajak kamu ke suatu tempat.”“Kemana?” tanya Salwa.“Sudah ikut saja, kamu pasti suka,” jawab Sabiru sambil mengelus kepala Salwa.Salwa turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi. Dia membersihkan tubuhnya yang dipenuhi bekas kecupan pria yang dia cintai. Dipandanginya wajah dan tubuhnya di depan cermin.“Ah… ini ulah Sabiru,” kata Salwa berbicara sendiri.Beberapa menit kemudian, Salwa selesai mandi. Dia memakai dress putih yang membuatnya makin terlihat cantik. “Cantik sekali kamu, Sayang! Tunggu ya… aku mau mandi dulu,” Sabiru terpukau melihat kecantikan Salwa.Beberapa menit kemudian, Salwa dan Sabiru keluar dari apartemen. Sabiru membukakan pintu mobilnya untuk Salwa. Dengan tersipu malu, Salwa menatap mata Sabiru sambil masuk ke dalam mobil.Setelah keduanya duduk
Salwa berangkat kerja ke klub naik taksi. Dia berencana mengambil gajinya dan meminta resign pada managernya seperti saran dari Sabiru. Kota ini bukan tempat yang tepat untuknya. Salwa berniat kembali ke kampung halamannya."Bos, saya mau ambil gaji saya bulan kemarin," kata Salwa saat berada di ruang manager."Ini gaji kamu beserta bonusnya. Saya kasih lebih karena kerja kamu bagus," jawab sang manager.Setelah amplop gaji itu ada di tangan Salwa, dia menghitungnya. Jumlahnya lumayan besar karena diberi tambahan bonus. Belum lagi uang simpanan Salwa yang diberi tip langsung oleh pengunjung, jumlahnya sudah lumayan untuk mengirimi keluarganya di kampung."Terima kasih, Bos. Tapi, bulan ini saya mau resign," ucap Salwa sambil menatap wajah managernya."Resign?!" si manager kaget."Kamu baru kerja satu bulan. Saya sudah kasih kamu bonus besar dibandingkan pekerja yang lain. Tolong kamu pertimbangkan lagi! Zaman sekarang cari kerja di luar sana susah," bujuk Vino agar Salwa mengurungkan
Pintu kamar diketuk dari luar. Salwa menyeka air matanya, dengan mata sembab, lalu dengan segera membuka pintu. Sabiru berdiri di hadapannya dan membawa dua box makanan untuk Salwa."Pak Sabiru," kata Salwa sambil membuka pintu kamarnya lebar-lebar."Hey Shanum... kamu kenapa lagi? Mata kamu sembab, kamu habis nangis?" Sabiru menanyakan kondisi Salwa dengan nada khawatir."Sudahlah, kan sekarang kamu juga sudah tinggal di sini. Kamu nggak perlu mikir ucapan Rani kemarin!" pinta Sabiru sambil merangkul pundak Salwa."Ini bukan soal itu, Pak. Rani mengancam saya," jawab Salwa sambil menangis.Tangisannya pecah, kondisi psikologisnya sedang kacau, tubuhnya tiba-tiba memeluk Sabiru yang masih berdiri di dekat pintu. Sabiru meletakkan box makanan yang dibawanya di atas meja. Tangannya memeluk Salwa erat, mencoba menenangkan hati gadis itu. "Rani mengancam apa?" Sabiru bertanya dengan tenang.Salwa melepaskan pelukannya, tanpa pikir panjang, ditunjukkan pesan video yang dikirim oleh Rani d







