LOGINSalwa berangkat kerja ke klub naik taksi. Dia berencana mengambil gajinya dan meminta resign pada managernya seperti saran dari Sabiru. Kota ini bukan tempat yang tepat untuknya. Salwa berniat kembali ke kampung halamannya.
"Bos, saya mau ambil gaji saya bulan kemarin," kata Salwa saat berada di ruang manager. "Ini gaji kamu beserta bonusnya. Saya kasih lebih karena kerja kamu bagus," jawab sang manager. Setelah amplop gaji itu ada di tangan Salwa, dia menghitungnya. Jumlahnya lumayan besar karena diberi tambahan bonus. Belum lagi uang simpanan Salwa yang diberi tip langsung oleh pengunjung, jumlahnya sudah lumayan untuk mengirimi keluarganya di kampung. "Terima kasih, Bos. Tapi, bulan ini saya mau resign," ucap Salwa sambil menatap wajah managernya. "Resign?!" si manager kaget. "Kamu baru kerja satu bulan. Saya sudah kasih kamu bonus besar dibandingkan pekerja yang lain. Tolong kamu pertimbangkan lagi! Zaman sekarang cari kerja di luar sana susah," bujuk Vino agar Salwa mengurungkan niatnya. "Saya tahu, Bos. Tapi saya harus pulang kampung, orang tua saya sedang sakit jadi lebih baik saya resign saja," pinta Salwa dengan nada memohon. "Justru kalau orang tua kamu sakit, kamu harus tetap kerja untuk membantu pengobatannya. Jika kamu resign maka ada denda 3 kali lipat dari gaji kamu yang harus kamu bayar. Apa kamu sanggup membayarnya sekarang?" Vino menekan Salwa dengan ancaman berupa denda. Salwa merasa dadanya begitu berat mendengar ucapan Vino. Uang sebanyak itu sayang sekali jika harus diberikan secara cuma-cuma. Lagi pula Salwa sudah bekerja selama 30 hari dan baru mendapat gaji 12 juta, uang simpanannya juga belum sebanyak jumlah denda yang diminta sang manager. "Tidak, Bos," jawab Salwa pasrah sambil menunduk. "Ya sudah, kamu kerja lagi!" Vino mengusir Salwa dari ruangannya. Salwa melangkah ke dalam klub dengan pikiran kacau. Ternyata tidak semudah itu untuk bisa berhenti dari pekerjaan yang tidak disukainya ini. Sesaat terlintas pikirannya untuk kabur, tapi ijazahnya masih tertahan di sini. Hari ini banyak tamu pria yang ingin ditemani Salwa. Kali ini Salwa merasa enggan, trauma dengan kejadian kemarin. Salwa pun beralasan kurang enak badan dan meminta izin pulang lebih awal. *** Rani pergi ke mall untuk mengambil ponselnya di tempat service HP kemarin. Kemudian dia langsung tancap gas ke klub dan menyusup ke ruang CCTV untuk mengambil rekaman video saat Salwa dicekoki minuman dan dilecehkan beberapa hari yang lalu. "Ah... sial! Rekamannya sudah dihapus, aku kecolongan," gerutu Rani sambil menatap layar komputer dengan wajah sebal. Dia pun keluar dari ruangan itu tanpa diketahui oleh siapapun dan kembali bekerja melayani para tamu. Sebenarnya Rani sangat ingin menceritakan tentang keluarga Sabiru yang dilihatnya kemarin kepada Salwa, tapi hubungan keduanya sedang tidak baik-baik saja. Lagipula, Salwa juga tidak akan percaya jika dia menceritakannya tanpa menunjukkan bukti. Rani pun berusaha memperbaiki hubungannya terlebih dahulu untuk mendapatkan kepercayaan Salwa lagi. "Shanum kemana, Van?" tanya Rani kepada Ivan, rekan kerjanya. "Tadi dia izin pulang dulu, katanya lagi nggak sehat," jawab Ivan sambil menggoreng kentang di pantry. Vino bertemu dengan Rani, membicarakan apa yang baru saja Salwa katakan padanya. "Rani, teman kamu itu belum apa-apa sudah minta resign!" "Benarkah, Bos? Kenapa?" tanya Rani dengan ekspresi wajah gembira. Dalam hatinya ada perasaan lega karena perlahan-lahan, usahanya untuk menyingkirkan Salwa dari klub berjalan dengan sendirinya tanpa dia perlu bersusah payah menciptakan drama. "Katanya orang tuanya sakit, emangnya bener? Kamu kan tetangganya di kampung, pasti tahu!" Vino tidak percaya pada ucapan Salwa. "Oh, kalo Bapaknya memang sudah lama sakit stroke, Bos," kata Rani sambil membetulkan riasannya di depan cermin. "Aku tekan dia, aku minta denda 3 kali lipat dari gajinya kalau dia mau resign hari ini. Dan dia nggak akan sanggup," cerita Vino sambil tertawa. "Dia kan sekarang dekat sama Sabiru, udah dikasih apartemen pula. Gampang lah Bos buat dia bayar denda segitu, tinggal minta aja sama gadunnya," Rani membocorkan rahasia Salwa pada Vino. "Lho... sejak kapan dia tinggal di apartemen? Kupikir dia masih tinggal di kos sama kamu," Vino kaget mendengar cerita Rani. "Udah sekitar dua minggu yang lalu dia aku usir dari kos, habisnya nggak tahu diri sih, udah ditolong dikasih pekerjaan dan tempat tinggal malah ngelunjak!" Rani bercerita dengan nada marah. Tiba-tiba Sabiru datang dan menonjok muka Vino. Rani terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya. "Pak Sabiru? Ada masalah apa, Pak? Kenapa Bapak datang menyerang saya seperti ini?" Vino bertanya sambil memegang pipinya yang kesakitan akibat terkena pukulan tangan Sabiru. "Berikan ijazah Shanum! Dan biarkan dia resign hari ini juga, jika tidak, kamu yang akan menanggung akibatnya!" Sabiru mengancam Vino dengan mengangkat kerah bajunya sampai Vino merasa tercekik. Dengan terpaksa, Vino menyerahkan ijazah Salwa di depan mata Rani. Hal itu membuat Rani semakin membenci Salwa dan Sabiru yang bisa berbuat seenaknya dengan mengandalkan jabatan serta power yang dimiliki oleh Sabiru. Sabiru kemudian pergi sambil membawa apa yang diharapkannya. Dia membaca nama yang tertera pada ijazah itu 'Salwa Dewantari'. Dibawanya ijazah itu ke apartemennya. "Ini yang kamu mau!" Sabiru menyodorkan ijazah itu di depan wajah Salwa. Salwa memeluk Sabiru. "Terima kasih, Pak! Saya nggak tahu jika tidak ada Bapak mungkin nasib saya sudah tidak jelas di kota ini." Pelukan Salwa membuat hasrat Sabiru bangkit. Dia lalu menggendong Salwa dan melemparnya ke atas ranjang. Dibukanya baju Salwa dari atas hingga bawah tanpa mengatakan sepatah kata pun. Diciuminya bibir, leher, dada hingga perut Salwa dengan liar. Salwa mengerang nikmat merasakan sensasi yang diberikan oleh Sabiru. Tangan Salwa menarik dasi Sabiru hingga terlepas, kemudian kancing kemejanya dibuka satu per satu. Wajahnya mendekat ke wajah Sabiru dan dilumatnya bibir pria tampan itu. Tak tahan dengan sikap Salwa yang sudah mulai nakal, Sabiru melepaskan celana dan kemejanya. Digaulinya gadis itu untuk kedua kalinya. Lagi-lagi Salwa tak melawan, dia justru makin pandai menggoda dan nakal di atas ranjang. "Hmmmh..." lenguh Salwa. Keduanya saling menatap mata, Sabiru mencium kening Salwa dengan lembut, memberi jeda sebentar dari permainan yang akan dia lanjutkan berulangkali sampai malam berganti pagi. Malam itu, Sabiru benar-benar tidak memberi Salwa ampun, keduanya berulang kali merasakan orgasme hebat yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Membuat Salwa menginginkannya terus menerus. Akibat sering bercinta dengan Sabiru, perasaan Salwa perlahan tumbuh padanya. Selain itu, pria tersebut juga telah memberikan banyak hal untuknya selain kenikmatan biologis, dia memberi uang, tempat tinggal, perlindungan dan rasa aman di tengah dunia kejam yang sedang menindasnya. Padahal ini adalah jebakan besar yang sengaja Sabiru siapkan untuknya, hanya saja Salwa belum menyadarinya.“Sayang pagi ini aku pergi dulu ya! Bodyguard itu akan datang jam 7 nanti.” Sabiru berpamitan sambil mencium kening Salwa.“Baiklah, kamu juga hati-hati ya!” jawab Salwa.“Pasti.” Sabiru membuka pintu dan pergi meninggalkan Salwa sendirian di dalam unit apartemennya.Salwa melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul 5 pagi. Dia memutuskan untuk tidur lagi sampai bodyguard itu datang.‘Tok tok tok’ suara pintu diketuk oleh seseorang.Salwa mendengar ketukan itu, dia membuka matanya. Dilihatnya jam dinding yang menunjukkan pukul 07.10. Dia melompat dari tempat tidurnya untuk membuka pintu.“Selamat pagi, saya Dion, bodyguard yang sudah Anda sewa melalui aplikasi,” pria di depan pintu itu tersenyum memperkenalkan diri pada Salwa.“Oh… iya, silahkan masuk,” Salwa merasa canggung.Dion melihat Salwa dari ujung kaki ke ujung kepala. Salwa masih memakai baju tidur dan rambutnya berantakan. “Maaf ya, aku bangun tidur.” Salwa malu dan kemudian langsung masuk ke kamar mandi untuk membersi
“Hmm… makanannya enak sekali,” Salwa mengunyah makanannya sambil memuji cita rasanya.“Iya, aku juga setuju. Ini enak sekali.” Sabiru menanggapi sembari mengunyah makanannya.“Setelah ini kita kemana?” tanya Salwa.“Pulang, kita kan sudah lama di sini. Lebih baik kita istirahat saja di apartemen,” jawab Sabiru.Pria yang mengawasi Sabiru dan Salwa duduk di dalam kafe. Dia berniat mengikuti Sabiru dan memotret semua gerak-geriknya untuk diberikan pada seseorang.Lima belas menit berlalu, Salwa sudah menjinjing tasnya dan bangkit dari kursi. Sabiru memegang kunci mobilnya dan berjalan keluar dari kafe. Pria itu membuntutinya perlahan-lahan.Dengan gerakan cepat, pria tersebut sudah berada di atas motor. Melihat mobil Sabiru melaju, pria tersebut ikut tancap gas berjalan di belakang mobil dengan jarak yang diatur agak jauh supaya tidak mencurigakan.“Akhirnya sampai juga…” kata Sabiru lega saat mobilnya terparkir di basement apartement.Pria misterius itu membuntuti Salwa dan Sabiru samp
“Hah… apa kamu sudah gila? Itu terlalu berbahaya, aku tidak setuju,” Rani kaget mendengar bisikan dari Vino.“Ayolah! Bantu aku!” pinta Vino.“Aku tidak mau, resikonya terlalu besar untuk kita. Sabiru tidak akan tinggal diam jika terjadi sesuatu pada wanitanya,” Rani menolak mentah-mentah keinginan Vino yang ingin dibantu balas dendam.“Ah ya sudahlah…” Vino menyerah.“Aku sempat melihat Sabiru bersama anak dan istrinya,” cerita Rani.“Sabiru sudah punya keluarga? Tapi kenapa tidak pernah ada pemberitaan di publik? Aku pikir selama ini dia single,” Vino kaget mendengar cerita Rani.“Iya, aku melihat sendiri istri dan anaknya hari itu. Aku mendengar anak kecil itu memanggilnya dengan sebutan ‘Papa’,” terang Rani.“Sabiru benar-benar playboy kelas kakap. Sudah punya keluarga tapi masih suka main wanita, bahkan sebelum kamu kerja di klub, telah banyak wanita yang dikencaninya. Malang sekali nasib sahabatmu yang akan jadi korban selanjutnya.” Vino bicara sambil mengunyah makanan.“Habiska
“Aku cinta kamu,” Salwa menatap mata Sabiru setelah bercinta semalaman.“Aku juga, Sayang!” Sabiru memeluk tubuh Salwa yang masih berbaring di ranjang.Senyum manis menghiasi wajah keduanya. “Cepat mandi! Aku mau ajak kamu ke suatu tempat.”“Kemana?” tanya Salwa.“Sudah ikut saja, kamu pasti suka,” jawab Sabiru sambil mengelus kepala Salwa.Salwa turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi. Dia membersihkan tubuhnya yang dipenuhi bekas kecupan pria yang dia cintai. Dipandanginya wajah dan tubuhnya di depan cermin.“Ah… ini ulah Sabiru,” kata Salwa berbicara sendiri.Beberapa menit kemudian, Salwa selesai mandi. Dia memakai dress putih yang membuatnya makin terlihat cantik. “Cantik sekali kamu, Sayang! Tunggu ya… aku mau mandi dulu,” Sabiru terpukau melihat kecantikan Salwa.Beberapa menit kemudian, Salwa dan Sabiru keluar dari apartemen. Sabiru membukakan pintu mobilnya untuk Salwa. Dengan tersipu malu, Salwa menatap mata Sabiru sambil masuk ke dalam mobil.Setelah keduanya duduk
Salwa berangkat kerja ke klub naik taksi. Dia berencana mengambil gajinya dan meminta resign pada managernya seperti saran dari Sabiru. Kota ini bukan tempat yang tepat untuknya. Salwa berniat kembali ke kampung halamannya."Bos, saya mau ambil gaji saya bulan kemarin," kata Salwa saat berada di ruang manager."Ini gaji kamu beserta bonusnya. Saya kasih lebih karena kerja kamu bagus," jawab sang manager.Setelah amplop gaji itu ada di tangan Salwa, dia menghitungnya. Jumlahnya lumayan besar karena diberi tambahan bonus. Belum lagi uang simpanan Salwa yang diberi tip langsung oleh pengunjung, jumlahnya sudah lumayan untuk mengirimi keluarganya di kampung."Terima kasih, Bos. Tapi, bulan ini saya mau resign," ucap Salwa sambil menatap wajah managernya."Resign?!" si manager kaget."Kamu baru kerja satu bulan. Saya sudah kasih kamu bonus besar dibandingkan pekerja yang lain. Tolong kamu pertimbangkan lagi! Zaman sekarang cari kerja di luar sana susah," bujuk Vino agar Salwa mengurungkan
Pintu kamar diketuk dari luar. Salwa menyeka air matanya, dengan mata sembab, lalu dengan segera membuka pintu. Sabiru berdiri di hadapannya dan membawa dua box makanan untuk Salwa."Pak Sabiru," kata Salwa sambil membuka pintu kamarnya lebar-lebar."Hey Shanum... kamu kenapa lagi? Mata kamu sembab, kamu habis nangis?" Sabiru menanyakan kondisi Salwa dengan nada khawatir."Sudahlah, kan sekarang kamu juga sudah tinggal di sini. Kamu nggak perlu mikir ucapan Rani kemarin!" pinta Sabiru sambil merangkul pundak Salwa."Ini bukan soal itu, Pak. Rani mengancam saya," jawab Salwa sambil menangis.Tangisannya pecah, kondisi psikologisnya sedang kacau, tubuhnya tiba-tiba memeluk Sabiru yang masih berdiri di dekat pintu. Sabiru meletakkan box makanan yang dibawanya di atas meja. Tangannya memeluk Salwa erat, mencoba menenangkan hati gadis itu. "Rani mengancam apa?" Sabiru bertanya dengan tenang.Salwa melepaskan pelukannya, tanpa pikir panjang, ditunjukkan pesan video yang dikirim oleh Rani d







