LOGIN“Aku cinta kamu,” Salwa menatap mata Sabiru setelah bercinta semalaman.
“Aku juga, Sayang!” Sabiru memeluk tubuh Salwa yang masih berbaring di ranjang. Senyum manis menghiasi wajah keduanya. “Cepat mandi! Aku mau ajak kamu ke suatu tempat.” “Kemana?” tanya Salwa. “Sudah ikut saja, kamu pasti suka,” jawab Sabiru sambil mengelus kepala Salwa. Salwa turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi. Dia membersihkan tubuhnya yang dipenuhi bekas kecupan pria yang dia cintai. Dipandanginya wajah dan tubuhnya di depan cermin. “Ah… ini ulah Sabiru,” kata Salwa berbicara sendiri. Beberapa menit kemudian, Salwa selesai mandi. Dia memakai dress putih yang membuatnya makin terlihat cantik. “Cantik sekali kamu, Sayang! Tunggu ya… aku mau mandi dulu,” Sabiru terpukau melihat kecantikan Salwa. Beberapa menit kemudian, Salwa dan Sabiru keluar dari apartemen. Sabiru membukakan pintu mobilnya untuk Salwa. Dengan tersipu malu, Salwa menatap mata Sabiru sambil masuk ke dalam mobil. Setelah keduanya duduk di dalam mobil, Sabiru mengemudikan mobilnya ke suatu tempat yang dirahasiakan. “Sebenarnya kita mau kemana, Sayang?” Salwa penasaran. “Sabar… nanti kamu juga akan tahu,” Sabiru menjawab sambil salah satu tangannya menyetir dan tangan lainnya menggenggam tangan Salwa. Tak butuh waktu lama, mobil Sabiru berhenti di sebuah perkebunan bunga yang indah. Salwa melihat sekelilingnya yang dipenuhi dengan bunga matahari. “Indah sekali!” Salwa terpukau. “Ini ladang bunga matahari yang aku kelola. Kamu pasti suka,” kata Sabiru. “Kamu yang mengelola ini? Kamu benar-benar luar biasa dan memiliki segalanya. Aku beruntung dicintai pria sepertimu,” ucap Salwa polos. Salwa berlari menuju area ladang bunga matahari yang bermekaran. Dia memotret foto dirinya dengan latar belakang bunga-bunga cantik itu. Sabiru tertawa melihat tingkah lucu gadis belia tersebut. “Sudah aku bilang, kamu pasti suka. Sini kita foto berdua.” Sabiru mengambil ponsel Salwa dan memotret kemesraan di antara mereka. “Ini sangat indah… fotonya bagus, aku suka sekali,” kata Salwa girang. Salwa kemudian memilih foto terbaiknya yang memotret kebahagiaannya dengan Sabiru. Dia unggah di status W******p miliknya. Lima menit kemudian, Rani melihat status Salwa. Dia melihat kebahagiaan di wajah mantan sahabatnya itu. Wajah Rani tersenyum kecut, seolah sudah memahami jika kebahagiaan Salwa tidak akan bertahan lama. “Lihat ini!” Rani menyodorkan ponselnya pada Vino yang sedang sarapan dengannya di sebuah warung makan. “Shanum dan Sabiru? Terang-terangan sekali mereka,” kata Vino heran. “Shanum itu terlalu naif, dia pikir Sabiru tulus mencintainya.” kata Rani sambil mengisap rokok di tangannya. “Tapi menurutku temanmu itu licik juga, dia bisa mendapat fasilitas mewah dan apartemen dari Sabiru. Bahkan aku juga sampai dihajar Sabiru demi memenuhi keinginannya untuk resign. Aku masih sakit hati jika ingat kejadian itu,” Vino memberikan penilaiannya terhadap Salwa. “Sudahlah… tidak perlu diingat-ingat lagi! Aku juga jadi ikut benci mengingatnya, dia itu terlihat polos tapi tidak tahu diri,” kata Rani dengan penuh kebencian. “Setuju! Licik dan sok polos. Ngomong-ngomong, kamu tahu kan dimana dia tinggal?” tanya Vino. “Tahu, kenapa?” jawab Rani. “Aku ingin membalas dendam padanya,” kata Vino geram. “Jangan cari masalah! Kamu lupa siapa yang menjaga dia? Sabiru… dia punya power yang hebat,” Rani mencegah Vino berbuat hal yang tidak-tidak. “Aku mengerti, tapi aku belum puas jika belum membalaskan dendamku!” Vino masih keras kepala. “Apa yang akan kamu lakukan?” Rani penasaran. Vino berbisik ke arah telinga Rani. Dia tidak ingin satu orang pun mendengarkan ucapannya kecuali Rani.“Sayang pagi ini aku pergi dulu ya! Bodyguard itu akan datang jam 7 nanti.” Sabiru berpamitan sambil mencium kening Salwa.“Baiklah, kamu juga hati-hati ya!” jawab Salwa.“Pasti.” Sabiru membuka pintu dan pergi meninggalkan Salwa sendirian di dalam unit apartemennya.Salwa melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul 5 pagi. Dia memutuskan untuk tidur lagi sampai bodyguard itu datang.‘Tok tok tok’ suara pintu diketuk oleh seseorang.Salwa mendengar ketukan itu, dia membuka matanya. Dilihatnya jam dinding yang menunjukkan pukul 07.10. Dia melompat dari tempat tidurnya untuk membuka pintu.“Selamat pagi, saya Dion, bodyguard yang sudah Anda sewa melalui aplikasi,” pria di depan pintu itu tersenyum memperkenalkan diri pada Salwa.“Oh… iya, silahkan masuk,” Salwa merasa canggung.Dion melihat Salwa dari ujung kaki ke ujung kepala. Salwa masih memakai baju tidur dan rambutnya berantakan. “Maaf ya, aku bangun tidur.” Salwa malu dan kemudian langsung masuk ke kamar mandi untuk membersi
“Hmm… makanannya enak sekali,” Salwa mengunyah makanannya sambil memuji cita rasanya.“Iya, aku juga setuju. Ini enak sekali.” Sabiru menanggapi sembari mengunyah makanannya.“Setelah ini kita kemana?” tanya Salwa.“Pulang, kita kan sudah lama di sini. Lebih baik kita istirahat saja di apartemen,” jawab Sabiru.Pria yang mengawasi Sabiru dan Salwa duduk di dalam kafe. Dia berniat mengikuti Sabiru dan memotret semua gerak-geriknya untuk diberikan pada seseorang.Lima belas menit berlalu, Salwa sudah menjinjing tasnya dan bangkit dari kursi. Sabiru memegang kunci mobilnya dan berjalan keluar dari kafe. Pria itu membuntutinya perlahan-lahan.Dengan gerakan cepat, pria tersebut sudah berada di atas motor. Melihat mobil Sabiru melaju, pria tersebut ikut tancap gas berjalan di belakang mobil dengan jarak yang diatur agak jauh supaya tidak mencurigakan.“Akhirnya sampai juga…” kata Sabiru lega saat mobilnya terparkir di basement apartement.Pria misterius itu membuntuti Salwa dan Sabiru samp
“Hah… apa kamu sudah gila? Itu terlalu berbahaya, aku tidak setuju,” Rani kaget mendengar bisikan dari Vino.“Ayolah! Bantu aku!” pinta Vino.“Aku tidak mau, resikonya terlalu besar untuk kita. Sabiru tidak akan tinggal diam jika terjadi sesuatu pada wanitanya,” Rani menolak mentah-mentah keinginan Vino yang ingin dibantu balas dendam.“Ah ya sudahlah…” Vino menyerah.“Aku sempat melihat Sabiru bersama anak dan istrinya,” cerita Rani.“Sabiru sudah punya keluarga? Tapi kenapa tidak pernah ada pemberitaan di publik? Aku pikir selama ini dia single,” Vino kaget mendengar cerita Rani.“Iya, aku melihat sendiri istri dan anaknya hari itu. Aku mendengar anak kecil itu memanggilnya dengan sebutan ‘Papa’,” terang Rani.“Sabiru benar-benar playboy kelas kakap. Sudah punya keluarga tapi masih suka main wanita, bahkan sebelum kamu kerja di klub, telah banyak wanita yang dikencaninya. Malang sekali nasib sahabatmu yang akan jadi korban selanjutnya.” Vino bicara sambil mengunyah makanan.“Habiska
“Aku cinta kamu,” Salwa menatap mata Sabiru setelah bercinta semalaman.“Aku juga, Sayang!” Sabiru memeluk tubuh Salwa yang masih berbaring di ranjang.Senyum manis menghiasi wajah keduanya. “Cepat mandi! Aku mau ajak kamu ke suatu tempat.”“Kemana?” tanya Salwa.“Sudah ikut saja, kamu pasti suka,” jawab Sabiru sambil mengelus kepala Salwa.Salwa turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi. Dia membersihkan tubuhnya yang dipenuhi bekas kecupan pria yang dia cintai. Dipandanginya wajah dan tubuhnya di depan cermin.“Ah… ini ulah Sabiru,” kata Salwa berbicara sendiri.Beberapa menit kemudian, Salwa selesai mandi. Dia memakai dress putih yang membuatnya makin terlihat cantik. “Cantik sekali kamu, Sayang! Tunggu ya… aku mau mandi dulu,” Sabiru terpukau melihat kecantikan Salwa.Beberapa menit kemudian, Salwa dan Sabiru keluar dari apartemen. Sabiru membukakan pintu mobilnya untuk Salwa. Dengan tersipu malu, Salwa menatap mata Sabiru sambil masuk ke dalam mobil.Setelah keduanya duduk
Salwa berangkat kerja ke klub naik taksi. Dia berencana mengambil gajinya dan meminta resign pada managernya seperti saran dari Sabiru. Kota ini bukan tempat yang tepat untuknya. Salwa berniat kembali ke kampung halamannya."Bos, saya mau ambil gaji saya bulan kemarin," kata Salwa saat berada di ruang manager."Ini gaji kamu beserta bonusnya. Saya kasih lebih karena kerja kamu bagus," jawab sang manager.Setelah amplop gaji itu ada di tangan Salwa, dia menghitungnya. Jumlahnya lumayan besar karena diberi tambahan bonus. Belum lagi uang simpanan Salwa yang diberi tip langsung oleh pengunjung, jumlahnya sudah lumayan untuk mengirimi keluarganya di kampung."Terima kasih, Bos. Tapi, bulan ini saya mau resign," ucap Salwa sambil menatap wajah managernya."Resign?!" si manager kaget."Kamu baru kerja satu bulan. Saya sudah kasih kamu bonus besar dibandingkan pekerja yang lain. Tolong kamu pertimbangkan lagi! Zaman sekarang cari kerja di luar sana susah," bujuk Vino agar Salwa mengurungkan
Pintu kamar diketuk dari luar. Salwa menyeka air matanya, dengan mata sembab, lalu dengan segera membuka pintu. Sabiru berdiri di hadapannya dan membawa dua box makanan untuk Salwa."Pak Sabiru," kata Salwa sambil membuka pintu kamarnya lebar-lebar."Hey Shanum... kamu kenapa lagi? Mata kamu sembab, kamu habis nangis?" Sabiru menanyakan kondisi Salwa dengan nada khawatir."Sudahlah, kan sekarang kamu juga sudah tinggal di sini. Kamu nggak perlu mikir ucapan Rani kemarin!" pinta Sabiru sambil merangkul pundak Salwa."Ini bukan soal itu, Pak. Rani mengancam saya," jawab Salwa sambil menangis.Tangisannya pecah, kondisi psikologisnya sedang kacau, tubuhnya tiba-tiba memeluk Sabiru yang masih berdiri di dekat pintu. Sabiru meletakkan box makanan yang dibawanya di atas meja. Tangannya memeluk Salwa erat, mencoba menenangkan hati gadis itu. "Rani mengancam apa?" Sabiru bertanya dengan tenang.Salwa melepaskan pelukannya, tanpa pikir panjang, ditunjukkan pesan video yang dikirim oleh Rani d







