Share

18. Mencurigakan

Author: ReyNotes
last update Last Updated: 2026-01-16 22:06:11

Denny tak langsung menjawab. Ia melirik kiri dan kanan, memastikan tidak akan ada orang yang akan masuk ke pantry.

“Umm... iya, Nona. Begini, kemarin sore saya melihat Nona Darla menyelinap masuk ke ruang Tuan Blue.”

Informasi itu dianggap biasa oleh Stefhani. Ia mengangguk. “Sepertinya, memang Nona Darla sering begitu. Pernah juga ke apartemen Tuan Blue tanpa perjanjian.”

Namun, Denny menggeleng. “Tapi ini terlihat mencurigakan, Nona.”

“Mencurigakan bagaimana?”

“Saya lihat beliau begini.” Denn
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   112. Curhat

    Theodore mengetuk pintu dengan pelan."...Masuk," jawab suara Luna dari dalam, terdengar mengantuk.Theodore mengintip sebelum pintu perlahan. Luna berbaring miring dengan mata terpejam. Sepertinya tidak sadar siapa yang masuk—mungkin mengira hanya salah satu keluarganya.Dengan langkah pelan, Theodore masuk. Tidak ingin membuat suara yang mengganggu. Ia melihat stetoskopnya tergeletak di meja samping tempat tidur, persis seperti yang ia ingat.Ia meraih stetoskopnya dengan hati-hati, lalu berbalik untuk pergi. Tapi kemudian suara Luna membuatnya berhenti."Kak Theo?" Luna bangun dan terduduk."Iya?" jawab Theodore dengan hati-hati. “Maaf, aku cuma mau ambil ini.” Theo mengangkat stetoskop di tangannya.Luna terdiam sejenak, seperti mempertimbangkan kata-katanya. "Oke.”Theodore tersenyum kecil, melangkah sedikit lebih dekat—tidak terlalu dekat, masih menjaga jarak yang profesional. "Kamu… k

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   111. Ada Apa dengan Luna?

    Pintu kamar terbuka perlahan. Theodore masuk dengan tas kulitnya, diikuti oleh Grey, Blue, Stefhani, dan Daddy Geo yang ingin melihat perkembangan kondisi Luna. Mommy Bianca dan Sky berdiri di samping tempat tidur.Luna duduk bersandar di tumpukan bantal, wajahnya sudah tidak sepucat tadi. Pipinya bahkan sudah sedikit berwarna merah muda kembali. Matanya yang tadi sempat sayu kini sudah lebih fokus, meskipun masih terlihat lelah."Luna, sayang, dokter sudah datang untuk cek kondisimu," ucap Bianca dengan lembut sambil mengusap rambut putrinya.Luna mengangguk pelan, matanya melirik Theodore yang mendekat dengan senyum profesional."Halo, Luna. Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Theodore sambil meletakkan tasnya di meja samping tempat tidur."Lebih baik," jawab Luna dengan suara yang masih sedikit serak tapi jauh lebih kuat dari sebelumnya. "Tidak mual lagi. Perut juga tidak sakit.""Bagus sekali." Theodore tersenyum, mengeluarkan stetoskop dari tasnya. "Aku akan periksa detak jantu

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   110. Kesempatan Kedua

    Tidak tega rasanya Blue mengatakan Luna adalah anak yang ringkih dan sering sakit sejak kecil. Sementara itu, Theo menunggu Blue melanjutkan kalimatnya.“Paling… unik di antara kami berempat.” Blue menyelesaikan kalimatnya. “Maklum, anak perempuan satu-satunya di keluarga kami. Bungsu pula.”Theo mengangguk mengerti. “Lalu, sejak kapan Luna sensitif pencernaannya?”“Sejak kecil suka tiba-tiba sakit saat makan sesuatu yang menurut kami makanan normal saja.”“Oh ya?”Sedikit, Blue menceritakan masa kecil Luna yang sering demam jika salah makan. Keluarga berpikir seiring waktu berjalan, sakit itu akan hilang. Nyatanya sampai saat ini, pencernaan Luna masih sensitif.Itu pula sebabnya Daddy Geo dan Mommy Bianca memutuskan untuk tidak memiliki bayi lagi meskipun ingin. Mereka merasa perlu merawat dan mendampingi Luna pada saat-saat rapuhnya seperti ini.“Kalau kalian mau, aku akan melakukan beberapa tes untuk Luna. Siapa tau kita bisa identifikasi zat apa saja yang tubuh Luna tidak bisa to

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   109. Kalian Pernah Bertemu?

    Grey langsung mendongak, menatap Theodore dengan bingung. "Bertemu kembali?"Tapi Theodore tidak menjawab, hanya tersenyum kecil lalu berjalan menuju pintu. "Aku akan kembali dua jam lagi untuk memeriksa kondisinya."Luna yang masih sangat lemah tidak merespons ucapan Theodore. Matanya tetap terpejam, tubuhnya terlalu letih untuk bahkan menyadari ada yang berbicara padanya.Blue yang menangkap keanehan dalam ucapan Theodore langsung angkat bicara. "Dokter, biar aku antar ke bawah.""Terima kasih."Blue berjalan berdampingan dengan Theodore. Ketika mereka sampai di tangga dan cukup jauh dari kamar Luna, Blue akhirnya angkat bicara."Dokter Theodore," mulai Blue dengan hati-hati. "Tadi... kamu bilang 'senang bertemu kembali' pada Luna. Kalian pernah bertemu?"Theodore berhenti melangkah, berbalik menatap Blue dengan ekspresi yang agak terkejut—seperti tidak menyangka ucapannya didengar. Ia terdiam sejenak, seperti mempertimbangkan

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   108. Luna Kritis

    Luna keracunan makanan." Suara Grey terdengar panik—sesuatu yang sangat jarang terjadi. "Blue, aku butuh kamu di sini. Sekarang."Wajah Blue langsung tegang. "Aku segera ke sana."“Luna kenapa?” Stefhani bicara sambil Bersiap pergi."Keracunan makanan," jawab Blue sambil cepat-cepat mengenakan celana jeans. "Kondisinya parah. Grey butuh kita di villa mereka sekarang.""Oh, Tuhan!" Stefhani tergesa meraih tasnya. "Luna... dia kan sensitif dengan obat-obatan. Aku ingat kamu pernah cerita soal itu.""Exactly." Blue sudah mengenakan sepatunya. "Makanya Grey panik. Ayo, Stef. Cepat."Lima menit kemudian, mereka sudah di mobil rental menuju villa keluarga Wilson yang berjarak sekitar 15 menit berkendara.Begitu mereka tiba, suasana di villa terasa sangat tegang."Di mana dia?" tanya Blue langsung pada Grey yang menyambutnya."Kamar atas. Kimmy sedang menjaganya." Grey memimpin mereka naik tangga dengan cepat. "Kondisinya semakin memburuk, Blue. Demamnya mencapai 39 derajat. Dia hampir tidak

  • Terjebak di Ranjang CEO Kembar   107. Tiga Anak?

    "Kita butuh lapisan kedap suara di kamar kita," jawab Blue dengan serius tapi mata berbinar nakal. "Karena aku tidak mau menahan diri setiap malam hanya karena takut Papa Larry atau Mommy Gloria mendengar."Stefhani memukul dada Blue dengan wajah memerah total. "BLUE WILSON!""What?!" Blue tertawa. "Aku serius! Kita kan pengantin baru, Stef. Sangat tidak adil kalau kita…. “Stefhani menutup mulut Blue dengan tangannya, wajahnya merah padam tapi ia tertawa. "Oke, oke! Kita akan pasang lapisan kedap suara!"Blue menjilat telapak tangan Stefhani dengan nakal, membuat istrinya memekik dan menarik tangannya dengan cepat."Ew, Blue! Jijik!""Kamu yang tutup mulutku duluan," Blue menyeringai.Mereka tertawa bersama, suasana kembali ringan dan penuh kehangatan. Stefhani kembali bersandar di dada Blue, tangannya bermain dengan kancing piyama suaminya."Blue," panggilnya lagi setelah tawa mereka reda."Hmm?""Aku... aku juga ingin bicara tentang hal lain," Stefhani mulai dengan hati-hati. "Tent

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status