Share

6. Teringat Mas Adam

.

.

.

Di rumah Winda, aku terhenyak ketika bangun.

“Mas Adam,” kataku tiba-tiba sembari menyibak selimut dan bergegas menyiapkan sarapan pagi untuknya.

Suasana dapur sedikit berbeda, nampak lebih sempit dari biasanya. Bahan-bahan disana juga tak sesuai dengan seleranya. Aku merasa linglung harus memasak apa dengan bahan yang tidak biasa kugunakan.

"Mas Adam, cepat bangun! Jangan malas! Taruh baju kotormu di keranjang. Jangan lupa nanti pulang tepat waktu. Makan di rumah. Aku tidak suka mas kalau kamu itu lembur terus. Dan juga tiap akhir pekan jangan badminton melulu mas." gerutuku disela-sela aktifitasku memotong sayur. Sampai akhirnya sebuah suara membuyarkan fatamorgana yang kukerjakan.

“Rani, kau sedang apa?” tanya sahabatku melongo melihat tingkah anehku.

“Eh? Win ...,” sahutku mencoba mencerna situasi dihadapanku.

Kutatap pisau ditanganku dan potongan wortel yang sudah kupotong. Terdiam, aku mengolah situasi yang ada disana.

“Ran, apa kau baik-baik saja?” tanya Winda mendekatiku.

Sesaat setelah dia menyentuh bahuku, getaran rasa pedih kembali menyambar hatiku bagai luapan topan yang bergulung begitu saja. Sudah lama aku menahannya seorang diri. Sekarang sudah tidak sanggup lagi.

“Win … Hiks …,” aku menangis dalam dekapannya. Kutaruh pisau dapurku dan kuhentikan apa yang kukerjakan. Mas Adam telah menjadi rutinitasku. Terpatri kuat dan menjadi kompas, bahkan meskipun aku telah pergi dari sana.

Biasanya setiap bangun pagi, aku akan menyiapkan sarapan pagi untuk pria itu. Setiap sendok yang dia suap kuperhatikan, untuk mengetahui hal yang dia suka atau tidak. Kutulis. Kutandai. Dan kuingat-ingat. Seluruh otakku kuhabiskan untuk memikirkan dan melayaninya. Bahkan mulutku sampai kering untuk menasihatinya.

Tetapi apa yang dilakukan oleh pria itu? Dia tidak pernah puas! Bagai menggarami lautan, semua yang kulakukan adalah kesia-siaan. Dia tidak pernah suka. Memujiku adalah sebuah kenajisan baginya. Dan suaraku dianggap gangguan olehnya.

Kutatap Winda dan kukeluarkan seluruh asa yang selama ini kupendam sendirian. Sampai semua tercurah dan aku merasa lega.

“Sorry Win, aku mendadak teringat Mas Adam,” jelasku sembari mengusap air mataku. Aku tidak tahu dengan perasaanku sendiri yang sangat kacau. Rasa sedih, terluka dan marah seketika bercampur aduk menjadi satu. Aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan.

“Rani, tenanglah. Hari ini jangan pikirkan tentang dia. Hm?” ucap Winda seraya memberikan sebuah koper berwarna merah menyala kepadaku.

Sejenak aku termenung memandang koper sebesar itu. Sedangkan Winda, dia malah tersenyum melihat ekspresiku.

Bagai busur pelangi yang Sang Esa bentangkan di awan-awan, isi di koper itu penuh warna. Berbagai macam gaya busana ada disana dengan style kekinian. Sesuatu yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Menyipitkan kedua mataku aku mencoba mencerna maksud sahabatku itu. Seluruh baju itu …

“Lihatlah Ran. Ini semua untukmu,” katanya kepadaku.

Baju-baju itu pasti sangat mahal, batinku dengan perasaan tidak nyaman. Bukan karena aku tidak suka, tetapi aku tidak mau merepotkan sahabatku itu.

“Win … Ini-“ Aku mencoba mengutarakan kesungkananku, tetapi Winda terlebih dahulu memotongnya.

“Rani, tenanglah. Aku tidak memberinya gratis padamu. Aku sekarang menjadi seorang desyner dan merintis butikku sendiri. Aku memerlukan seorang model untuk baju-bajuku Ran. Untuk itu, mulai sekarang, kau akan menjadi modelku bagaimana?” Winda menerangkan maksudnya yang membuatku merasa lega. Setidaknya aku tidak perlu berhutang banyak padanya kelak.

“Model? Tapi Win… apa aku bisa melakukannya? Aku kan hanya seorang ibu rumah tangga,” jelasku dengan penuh keraguan.

 “Ckck … Tidak lagi Ran. Kau bukan lagi seorang ibu rumah tangga. Kau adalah Maharani, seorang primadona di SMA dulu. Apakah aku perlu mengingatkanmu?” sahut Winda sedikit melirik ke arah tubuhku yang hanya mengenakan sebuah daster bermotif bunga-bunga.

Aku sedikit menunduk seakan mengerti dengan maksud Winda. Dia benar. Karena selalu berada di rumah, aku hampir tidak pernah memakai baju bagus. Aku tidak pernah memakai lipstick atau sejenisnya. Bahkan seringkali aku lupa mencuci rambutku yang begitu lebat. Aku merasa tidak ada orang yang akan melihatku sehingga aku tidak memperhatikan diriku sendiri sampai mungkin aku tidak menyadari jika aku terlihat sedikit lusuh.

Tawaran Winda seketika menyirami kegersangan hatiku. Mengguyurnya hingga menumbuhkan satu tunas harapan untuk menemukan jati diriku yang sesungguhnya. Primadona SMA, itulah diriku sebelum dinikahi oleh Mas Adam.

“Lalu apa yang bisa aku kerjakan sebagai modelmu Win? Dan apa yang harus kulakukan dengan semua pakaian pemberianmu ini?” tanyaku kepadanya.

Tersenyum dengan lembut, Winda lalu mengambil satu diantaranya, “Mulai sekarang, setiap hari dan setiap saat, kau harus memakai semua baju buatanku Ran. Dengan kata lain, jadilah promosi berjalanku, termasuk saat kau menjadi sekretaris esok hari. Apa kau bisa?”

Aku berkedip beberapa kali, tawaran Winda begitu menggiurkan. Meskipun yang sebenarnya, aku tahu maksud yang terselubung di dalam tawaran itu. Dia telah mengemasnya dengan sangat baik supaya aku tidak terluka. Winda hanya tidak mau aku dipermalukan di sana, di kantor suami yang mau menceraikanku.

“Baik Win. Aku setuju untuk menjadi promosi berjalanmu,” ungkapku mengikuti scenario sahabatku yang ingin membangkitkan harga diriku.

Mendengarnya, Winda begitu senang. Dia bahkan sampai melonjak kegirangan. Dan setelahnya, ia langsung saja menarikku untuk pergi bersamanya.

“Eh, Win. Tunggu dulu. Aku belum menyiapkan sarapan untuk kita berdua,” kataku kepadanya.

“Ckck … ” Winda hanya tertawa mendengarnya. Sepertinya perkataanku membuatnya merasa geli. “Astaga Rani, 'kan tadi sudah kubilang kalau kamu itu bukan ibu rumah tangga lagi. Berlakulah layaknya gadis. Kita ini masih 25 tahun Ran. Ayo kita makan diluar dan setelahnya mempermak dirimu,” ucapnya terus menarikku untuk menjauh dari dapur yang dianggapnya neraka itu.

"Nikmati aroma kebebasanmu, Ran. Sejenak lupakan sengketamu dengan Mas Adam," Winda mengerlingkan satu matanya kepadaku.

Sengketa? Entah mengapa aku tertawa. Benar sekali. Aku telah menghabiskan waktu 7 tahun hanya untuk mengomeli suamiku bagai dua orang yang selalu bersengketa. Rasanya sudah cukup! Dan sekarang, aku juga ingin mencium aroma kebebasanku, sama seperti dirinya.

****

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status