Beranda / Romansa / Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku / 1. Aku Kira Suaminya, Ternyata Anaknya

Share

Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku
Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku
Penulis: Henny Djayadi

1. Aku Kira Suaminya, Ternyata Anaknya

Penulis: Henny Djayadi
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-25 12:16:46

“Tante tidak jelek.”

Ibu jari Gara yang besar dan hangat mengusap jalur air mata di pipi Mita. Gara menahan napas saat menyelipkan helai rambut Mita ke belakang telinganya, gerakan lembut itu membuat napas pemuda itu berembus sangat dekat.

Mita menatap Gara, mata sembabnya menelisik mencari bukti. Jangan-jangan pemuda itu hanya sedang kasihan.

“Tante cantik.” Gara menelan ludah dengan susah payah, suara seraknya mengandung kejujuran. “Mungkin suami Tante yang buta.”

Belum sempat Mita bereaksi, jemari Gara meluncur menyusuri garis rahangnya, turun ke leher yang berdenyut cepat. Pandangan Gara terkunci pada bibir Mita yang pucat, dan sentuhan ibu jarinya membuat Mita tanpa sadar sedikit membuka bibirnya, mengundang.

“Tante tidak hanya cantik,” bisik Gara, suaranya kini bergetar karena desakan. “Tapi juga indah.”

Gerakan Gara tak lagi lembut, melainkan memutuskan, bibirnya menyergap bibir Mita dalam sebuah ciuman yang mendesak, panas, dan menggairahkan.

***

"Selingkuh? Kayaknya ga mungkin deh, Mas Pram selingkuh."

Amara memegang tangan Mita, mencoba menenangkan. Mita mengangguk, mencoba percaya, atau minimal terlihat percaya.

"Mungkin cuma perasaanku aja. Kami sama-sama sibuk. Komunikasi juga berantakan," katanya pelan, meski ia sendiri tahu itu kedengarannya klasik, tapi ya … apa lagi yang bisa ia pegang? 

“Kalau capek, istirahat Mit,” ucap Amara kala menatap wajah lelah sahabatnya.

Mita menggeleng getir. “Untuk sekarang belum bisa, Ra. Pinjaman modal Mas Pram sebagian besar aku yang tanggung. Kamu ingat kan, proyek konstruksi yang ambrol dua tahun lalu?”

Amara mengangguk, tentu dia ingat. Karena hubungan baiknya dengan salah satu petinggi bank swasta, bisa membantu Mita dan Pram mendapat pinjaman dalam jumlah besar.

  

“Sekarang ini berat, Ra. Konveksiku harus bersaingan dengan produk murah dari China. Kalau aku berhenti putar modal, bisa-bisa Mas Pram semakin kesulitan menutup cicilan bank. Terpaksa deh, aku harus kerja keras bagai kuda,” sambung Mita, memejamkan mata menahan lelah.

Amara terkekeh, suara tawanya sedikit menusuk. “Kerja keras bagai kuda, sampai lupa ‘kuda-kudaan’ ya, Mit!”

Seringai Amara itu membuat Mita tersentak. Ia merasakan guyonan Amara terdengar seperti ejekan, seolah tahu betapa dingin dan hambar kehidupan ranjangnya kini.

“Mau gimana lagi, Ra. Hutang kami banyak, apalagi Mas Pram berencana ambil proyek besar lagi untuk menutupi kerugian lama. Kalau itu berhasil, mungkin kami bisa sedikit bernapas lega.” Mita berusaha mengabaikan sindiran Amara.

Mita menghela napas panjang. Pram mengambil pinjaman bank yang nominalnya sangat besar. Selama perusahaan properti Pram belum stabil, tidak jarang Mita yang harus menomboki dari keuntungan garmentnya, hanya demi menyelamatkan rumah tangga dan nama baik suaminya.

“Kamu tidak usah mikir yang nggak-nggak, Mas Pram sudah terlalu sibuk dengan berbagai proyek, sudah tidak ada waktu untuk yang aneh-aneh. Doakan saja rejekinya selalu lancar, biar perusahaannya tambah gede.”

“Amin.”

Terlalu asik berbincang membuat Mita lupa waktu. Tanpa terasa sudah berjam-jam dia duduk hingga kandung kemihnya terasa penuh.

“Maaf, Ra. Mau numpang pipis,” ucap Mita yang terlihat sudah tidak nyaman. “Eh, kamar mandinya di mana, ya?”

Amara langsung berdiri. “Lewat sini.”

Mita melangkah mengikuti Amara menuju bagian belakang rumah, menyusuri lorong yang luas dengan pencahayaan hangat. Mita menarik napas dalam-dalam. Bahkan kamar mandinya pun berbau mahal. Kemewahan ini adalah kontras tajam dari hidupnya yang penuh perhitungan utang.

Amara memiliki kehidupan yang makmur dan stabil meski menikah muda. Rumor yang pernah dia dengar, Amara melahirkan tiga bulan setelah acara perpisahan sekolah. Ya, dia memang hamil duluan, tapi beruntung menikah dengan anak orang kaya.

Beberapa menit kemudian, setelah menyelesaikan hajatnya, Mita langsung keluar. Tapi saat membuka pintu, tepat di depannya ada pintu kamar lain yang terbuka.

Tubuh Mita menegang.

Di sana, pria tinggi tegap sedang membelakangi sambil membuka kemeja flanelnya. Gerakan tangannya yang cepat menarik kaus itu ke atas, memperlihatkan punggungnya bidang, otot-ototnya tegas bagai pahatan. Saat ia berbalik, six-pack di perutnya lebih mencolok daripada keterkejutan di mata pemuda itu. 

Tanpa sengaja mereka saling beradu pandang.

Mita terpaku, darahnya mendadak berdesir cepat karena terkejut dan panik. Ia merasa seperti sedang mengintip momen pribadi yang seharusnya tak ia saksikan. Matanya cepat-cepat beralih, namun sensasi visual itu sudah terekam jelas di benaknya.

“Ma-maaf,” ucap Mita terbata.

Pemuda itu mengangkat alis, berusaha tetap sopan. “Oh… saya tidak tahu kalau ada tamu.”

Wajah Mita memanas, lalu bergegas ke ruang tamu, menekan rasa malu yang anehnya sulit dijelaskan.

Mita duduk, mencoba mengatur napasnya. “Suamimu sudah pulang, Ra?” tanya Mita berusaha mengalihkan pikiran yang dia anggap tidak pantas, dia merasa sudah mengintip suami dari sahabatnya.

Amara tertawa kecil, sedikit menunduk. “Suamiku? Astaga, Mit. Di rumah ini aku hanya tinggal bersama anakku. Aku sudah lama bercerai dari suamiku.”

Mita tercekat. Ia tak pernah mendengar kabar perceraian sahabatnya itu. Dan ia tak menyangka, pria bertubuh kekar itu adalah putra Amara. 

Belum sempat Mita bertanya lebih, Gara sudah muncul di ruang tamu. Pemuda itu hanya mengenakan celana jins, dengan tubuh bagian atasnya masih polos.

“Ma, handuk di mana?” tanya Gara dengan Santai.

Amara memarahi putranya, "Gara! Pakai bajumu! Ada tamu, tidak sopan!"

“Gerah, Ma,” jawab Gara ringan sambil mengusap lehernya.

Gara hanya menyeringai cuek, lalu menoleh pada Mita. Mata mereka kembali bertemu. Kali ini, tidak ada kepanikan, hanya sebuah tatapan intens yang berlangsung sedikit lebih lama.

“Mit, ini anakku, Gara.”

Mita mengulurkan tangan, menjabat tangan Gara. Telapak tangan Gara terasa hangat, sedikit kasar, namun genggamannya mantap.

“Gara,” ucap Gara singkat.

“Mita,” balas Mita.

“Panggilnya apa, ya?”

“Ya, tante dong, Gar,” sahut Amara. Nada suaranya mengandung perintah. “Tante Mita kan, sahabat mama waktu SMA.”

“Sayang,” celetuk Gara, senyum jahilnya menyergap. Ia melirik tajam ke arah Mita. 

“Jangan iseng, Gar," hardik Amara, suaranya tiba-tiba dingin dan matanya menyipit. “Tante Mita sudah punya suami dan anak.” Suara Amara tegas, seperti sebuah peringatan.

“Masa sih sudah tante-tante, Ma. Orang masih cantik gini.”

Mita hanya tersenyum tipis, lalu menundukkan kepala menyembunyikan rona merah di pipinya. Guyonan garing pemuda di hadapannya terdengar seperti gombalan. Tapi kata ‘sayang’ yang sempat terucap mampu membangkitkan sesuatu yang telah lama ia rindukan. Sang suami, yang sudah lama hanya melihatnya sebagai mesin pencetak uang, bukan sebagai istri yang seharusnya disayang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Sherly Monicamey
punya suami kayak gitu kok masih dipertahankan
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
koq mau aja sih dikibulin suami. yakin proyeknya merugi terus?
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   145. Bahagia Bersama

    Kabar kehamilan Mita disambut Samudra dengan sorak kegembiraan yang tulus. Tidak ada lagi ganjalan di hati remaja itu, baginya, kehadiran calon adik baru adalah simbol bahwa rumah tangga ibunya kali ini benar-benar berdiri di atas landasan cinta, bukan sekadar kewajiban.“Kali ini, aku akan jadi abang yang siaga, Ma. Aku bakal jagain adik sampai dia besar,” ucap Samudra sambil memeluk Mita.Namun, di balik tawa lebar dan perayaan keluarga itu, ada badai kecemasan yang berkecamuk di dalam dada Gara. Setiap kali ia melihat Mita, bayangan kelam mendadak melintas, bayangan saat Amara meregang nyawa setelah melahirkan. Trauma itu menghantui Gara. Ia sadar betul bahwa Mita hamil di usia yang secara medis masuk dalam kategori risiko tinggi.Gara menjadi suami yang sangat protektif, bahkan cenderung ‘rewel’ dalam artian yang manis. Setiap jadwal periksa kandungan menjadi agenda paling sakral di kalendernya. Tidak ada rapat penting atau urusan bisnis yang bisa menggeser waktu konsultasi dokter

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   144. Dua Garis Merah

    Ruang tamu rumah Mita yang biasanya sunyi, kini disulap menjadi tempat yang sakral dengan hiasan bunga melati putih yang menebar aroma wangi menenangkan.Tidak ada pesta pora mewah. Hanya ada keluarga inti, penghulu, dan saksi. Di bawah bimbingan penghulu, Gara mengucapkan kalimat ijab kabul dengan satu tarikan napas yang mantap, menjabat tangan wali dengan penuh keyakinan."Sah!"Suara para saksi menggema, membawa kelegaan yang luar biasa bagi Mita. Di balik kerudung tipisnya, air mata Mita jatuh, bukan karena sedih, melainkan karena rasa syukur telah menemukan pelabuhan yang berani memperjuangkannya.Setelah doa terakhir dipanjatkan, suasana haru menyelimuti ruangan. Samudra, yang sejak tadi duduk tenang di samping ibunya, langsung berdiri. Ia melangkah mendekati Gara yang kini telah resmi menjadi ayah sambungnya.Samudra menatap Gara tepat di mata, wajah remaja itu tampak jauh lebih dewasa dari usianya."Mas, tolong, jangan pernah sakiti Mama. Kalau suatu saat nanti Mas Gara sudah

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   143. Tunggu Sah

    Suara Gara mengelegar memenuhi ruangan. Pemuda itu masuk dengan langkah tegap penuh percaya diri, wajahnya sedingin es, namun matanya berkilat penuh kemenangan saat mendapati papanya duduk di kursi tamu.Sadewa tersentak, ia berdiri dengan raut wajah yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya."Gara? Sedang apa kamu di sini?"Gara tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat ke arah meja Mita, melirik Sadewa dari sudut mata dengan tatapan meremehkan.“Setahuku hanya papa yang tidak bisa konsentrasi kalau melihat perempuan. Otaknya langsung kotor.”Wajah Sadewa memerah mendengar sindiran telak itu. "Jaga bicaramu, Gara! Lalu apa urusanmu datang ke sini?"Gara terkekeh getir, lalu ia mengangkat tangan kanannya yang menjinjing tas kertas berlogo Restoran Makanan Nusantara. Aroma rempah dan ayam bakar menyeruak di ruangan itu.Gara menaikkan sebelah alisnya. " Aku ke sini untuk makan siang dengan calon istriku."Kata-kata itu meledak seperti bom di tengah ruangan. Sadewa mematung, mata

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   142. Gangguan Sadewa

    Mita memijat pangkal hidungnya yang berdenyut, namun seulas senyum tipis terukir saat melihat layar monitornya. Desain seragam kerja untuk jaringan minimarket yang sedang menjamur itu tampak sempurna.Perpaduan warna yang modern, pilihan bahan yang nyaman untuk bergerak, serta detail kantong yang fungsional, semuanya memiliki karakter kuat yang akan menjadi identitas baru bagi ribuan karyawan minimarket tersebut.Jika proyek ini gol, ini bukan sekadar keberhasilan biasa, ini adalah ladang penghasilan besar yang akan mengamankan posisi konveksinya di pasar industri.Dulu, butuh waktu berhari-hari untuk menyusun slide presentasi dan prototipe desain digital seindah ini. Namun, berkat Gara yang dengan sabar mengajarinya menggunakan perangkat lunak desain berbasis AI, semuanya menjadi jauh lebih mudah.Gara seolah tahu cara memanjakannya, bukan dengan bunga, tapi dengan teknologi yang memangkas waktu kerjanya. Berkat itu pula, Mita belum merasa perlu mencari asisten pribadi baru, meski be

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   141. Papa Tiri Rasa Kakak

    Jam dinding di kamar Mita seolah berdetak lebih keras dari biasanya. Ia berguling ke kanan dan ke kiri, namun kantuk enggan menjemput. Ucapan Gara terus terngiang seperti kaset rusak di kepalanya.“Ada satu lagi pria yang sudah mengincarmu... istrinya bisa kalap.”Peringatan Gara terasa seperti ancaman nyata yang membayangi reputasinya. Selama ini Sadewa memang sangat agresif, dan istrinya pun begitu posesif. Tentu Marina tidak akan tinggal diam, bukan hanya karena cinta, tapi juga harta yang menjamin hidupnya sejahtera.Namun, di sela-sela kecemasan itu, bayangan lain menyelinap masuk, wajah mungil Alya yang merah padam karena demam, jemari kecilnya yang gemetar menahan sakit, dan boks bayi yang terasa dingin tanpa pelukan ibu.Ada desakan aneh di ulu hati Mita, sebuah keinginan untuk merawat bayi itu, memberikan kehangatan yang tidak sempat diberikan Amara. Namun, logika Mita segera menamparnya bangun.“Kalau aku merawatnya, itu artinya aku akan terjebak lagi dengan Pram,” batin Mit

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   140. Pria Lain yang Antre

    Mobil Gara berhenti dengan sempurna di depan halaman rumah Mita. Suasana malam kian larut, menyisakan suara jangkrik dan hembusan angin dingin yang menusuk. Begitu mesin mati, Gara menoleh ke kursi belakang, menatap Samudra lewat spion tengah."Sam, masuk duluan ya? Aku mau bicara sebentar sama mamamu," bisik Gara pelan namun penuh penekanan.Samudra, yang sudah cukup dewasa untuk membaca ketegangan di antara kedua orang dewasa itu, hanya mengangguk kecil. Ia seolah paham bahwa ada sebuah percakapan yang selama ini tertahan di ujung lidah Gara."OK. Ma, Sam masuk duluan."Setelah pintu rumah tertutup di belakang Samudra, Mita hendak membuka pintu mobil, namun jemari Gara bergerak lebih cepat. Ia meraih tangan Mita, menahannya dengan genggaman yang tidak menyakiti namun sangat posesif."Tante, tunggu," suara Gara rendah, namun sarat dengan kecemasan.Mita menoleh, menatap Gara dengan dahi berkerut. "Ada apa lagi, Gara? Ini sudah sangat malam."Tanpa basa-basi, Gara langsung melontarkan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status