Share

2. Bukti Perselingkuhan

last update Last Updated: 2025-10-26 23:19:15

Perasaan hampa semakin menghujam hati Mita, kala pikiran mengerikan jika suaminya selingkuh merayap masuk ke otaknya.

Pikiran itu membuat dada Mita semakin sesak, hingga memicu niatan untuk mengambil inisiatif memulai keintiman, menghangatkan ranjangnya seperti dulu.

"Ma, aku capek banget hari ini."

Pram menghindar, perlahan mendorong Mita yang menghujaninya dengan ciuman penuh gairah. Sebagai gantinya dia memberi sentuhan singkat di kening istrinya, ciuman yang biasa saja, hambar, tanpa kehangatan.

Mita yang tadinya membayangkan malam yang intim dan penuh kehangatan, langsung merasakan kehampaan. Kedua tangan yang masih melingkar di leher suaminya terasa kaku dan tanpa daya.

"Tapi, sudah lama kita tidak..." protes Mita lemah, mencoba menahan suaminya yang sudah bersiap beranjak.

Pram mendesah, mengusap wajahnya yang tampak letih. "Maaf ya. Hari ini sibuk banget. Dari pagi rapat dengan bagian marketing, terus harus jemput bola klien baru yang cukup merepotkan. Badan rasanya mau remuk."

"Lalu kapan ada waktu untukku?" batin Mita berteriak, tapi yang keluar dari mulutnya justru sebaliknya.

"Iya, tidak apa-apa. Aku ngerti, Papa sudah bekerja keras untuk keluarga ini." Mita, memaksakan senyum manis untuk menutupi rasa kecewa yang mulai menggerogoti. "Sana, mandi dulu biar seger!"

Pram hanya mengangguk, memberikan senyum tipis yang sama lelahnya sebelum berbalik dan masuk ke dalam kamar mandi. Suara pintu tertutup, seolah memutus sisa harapan Mita untuk malam ini.

Suasana kamar menjadi sunyi, hanya terdengar gemericik air dari balik pintu kamar mandi.

Perlahan, Mita berjalan mendekati cermin panjang di sudut kamar. Di balik lampu temaram, bayangan seorang perempuan terpantul jelas. Lingerie merah yang membalut tubuhnya ternyata tidak mampu memercikkan kembali warna hubungan mereka yang mulai pudar karena kesibukan masing-masing.

"Apa aku sudah tidak cantik lagi di matamu, Pa?"

"Badanku mungkin tidak lagi sekencang dulu, setelah melahirkan Samudra..."

Jari-jari rampingnya menelusuri lekuk tubuhnya di balik kain. Mencari kekurangan pada dirinya yang membuat sang suami sudah lama enggan menyentuhnya lagi.

Kenangan manis masa lalu, kala Pram memandangnya dengan mata berbinar penuh kerinduan, justru terasa sangat menyakitkan.

Suara pintu kamar mandi terbuka menyadarkan Mita dari lamunan. Pram keluar dengan rambut masih basah, kaos santai sudah melekat di tubuhnya. Ia menunduk sebentar, lalu menempelkan kecupan singkat di kening Mita.

“Istirahat duluan, ya. Aku harus menyelesaikan proposal kerja sama. Besok pagi sudah ditunggu klien.” Tanpa menunggu jawaban, Pram berbalik dan melangkah keluar kamar, menuju ke arah ruang kerjanya.

Mita menghela napas, lalu melangkah masuk ke kamar mandi. Ia sudah terbiasa dengan kebiasaan Pram yang suka meletakkan handuk dan pakaian sembarangan. Seperti biasa, handuk ia ambil dan jemur di tempat yang sudah tersedia.

Ketika hendak memungut pakaian kerja suaminya dan memasukkan ke keranjang pakaian, sesuatu terjatuh ke lantai.

Celana dalam Pram.

Mita menunduk, pandangannya terpaku pada noda samar di kain itu. Sisa keintiman yang tak asing lagi bagi seorang istri. Tubuhnya menegang karena itu jelas bukan berasal dari dirinya.

Tangan Mita bergetar saat mengangkat celana bahan warna hitam yang tadi dipakai Pram seharian. Di bagian dalamnya, bercak putih yang mengering, meninggalkan jejak yang tidak bisa dibantah.

Detik itu juga, dada Mita serasa dihantam palu.

Mita menggenggam erat kain itu, matanya basah. Senyum getirnya pecah menjadi desahan pedih.

“Ternyata capekmu bukan karena mencari nafkah untuk keluarga ini, tapi karena kau baru saja menuntaskan kesenanganmu sendiri.”

***

Di Tengah kesibukanya mengurus konveksi, sebisa mungkin Mita tetap mengurus keluarganya. Seperti pagi ini, aroma tumis buncis dan telur dadar memenuhi ruang makan. Mita sudah sibuk mengatur meja makan, dan menyiapkan makan pagi untuk suami dan Samudra, putra semata wayangnya.

Demi Samudra, Mita berusaha tetap kuat, seolah tidak terjadi apa-apa, meski dadanya masih bergemuruh mengingat apa yang ia temukan semalam.

Saat meja makan sudah siap, keduanya menunggu Pram turun seperti biasanya. Tapi suara langkah di tangga terdengar terburu-buru.

Pram muncul dengan setelan jas, dasi tergantung rapi di leher. Ia menuruni tangga cepat, lalu tanpa banyak bicara mencium kening Mita.

“Aku berangkat dulu, Ma. Sudah ditunggu klien. Doakan ya, semoga tender kali ini lancar.”

Mita menelan ludah. Senyum dipaksakan terbit di wajahnya, meski jantungnya berdebar sakit. “Iya, hati-hati, Pa.”

“Doakan Papa, Sam!” Dengan gerakan terburu-buru Pram menepuk punggung putranya.

Samudra hanya diam, pandangannya mengikuti punggung ayahnya yang terburu-buru. Kecewa kentara menyelimuti sorot matanya. 

Mita menarik kursinya, mencoba mengalihkan suasana. “Ayo, Sam. Kita sarapan. Nanti kamu telat sekolah.”

Anak itu menunduk sebentar, lalu mengambil sendok. Suasana hening menyelimuti meja makan. Hanya suara sendok beradu dengan piring yang terdengar.

Sampai akhirnya, Samudra berhenti mengunyah. Ia menatap mamanya lekat, sorot matanya tajam tapi juga penuh luka.

“Ma,” panggil Samudra dengan suara lirih penuh keraguan. “Kalau Papa melakukan kesalahan… kesalahan yang benar-benar fatal, apa Mama akan memaafkan Papa?”

Sendok di tangan Mita berhenti. Dadanya seolah ditikam. Pertanyaan itu terlalu mendadak, terlalu tepat menyentuh luka yang berusaha ia sembunyikan.

Mita menatap wajah putranya, memaksakan senyum terukir di bibirnya. “Bukankah Tuhan Maha Pemaaf, yang akan memaafkan dosa-dosa seluruh umatnya yang bertobat? Jadi jika Papa, bertobat dan mau memperbaiki diri, tentu mama akan memaafkan.”

“Tapi ada dosa yang tidak dimaafkan Tuhan, dosa umatnya yang memiliki sesembahan lain.”

Mita menarik napas panjang, menatap anaknya dengan penuh kasih. Ia berusaha untuk menerka arah pembicaraan putranya.

“Lalu… apakah Mama akan memaafkan Papa, jika Papa memiliki perempuan lain?”

Mita tersenyum, senyum yang kentara dipaksakan. “Nggak usah dipikirkan, kamu fokus belajar saja, biar bisa masuk tim OSN lagi.”

Mita tidak tahu, dia sedang menenangkan hati anaknya atau hatinya sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   145. Bahagia Bersama

    Kabar kehamilan Mita disambut Samudra dengan sorak kegembiraan yang tulus. Tidak ada lagi ganjalan di hati remaja itu, baginya, kehadiran calon adik baru adalah simbol bahwa rumah tangga ibunya kali ini benar-benar berdiri di atas landasan cinta, bukan sekadar kewajiban.“Kali ini, aku akan jadi abang yang siaga, Ma. Aku bakal jagain adik sampai dia besar,” ucap Samudra sambil memeluk Mita.Namun, di balik tawa lebar dan perayaan keluarga itu, ada badai kecemasan yang berkecamuk di dalam dada Gara. Setiap kali ia melihat Mita, bayangan kelam mendadak melintas, bayangan saat Amara meregang nyawa setelah melahirkan. Trauma itu menghantui Gara. Ia sadar betul bahwa Mita hamil di usia yang secara medis masuk dalam kategori risiko tinggi.Gara menjadi suami yang sangat protektif, bahkan cenderung ‘rewel’ dalam artian yang manis. Setiap jadwal periksa kandungan menjadi agenda paling sakral di kalendernya. Tidak ada rapat penting atau urusan bisnis yang bisa menggeser waktu konsultasi dokter

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   144. Dua Garis Merah

    Ruang tamu rumah Mita yang biasanya sunyi, kini disulap menjadi tempat yang sakral dengan hiasan bunga melati putih yang menebar aroma wangi menenangkan.Tidak ada pesta pora mewah. Hanya ada keluarga inti, penghulu, dan saksi. Di bawah bimbingan penghulu, Gara mengucapkan kalimat ijab kabul dengan satu tarikan napas yang mantap, menjabat tangan wali dengan penuh keyakinan."Sah!"Suara para saksi menggema, membawa kelegaan yang luar biasa bagi Mita. Di balik kerudung tipisnya, air mata Mita jatuh, bukan karena sedih, melainkan karena rasa syukur telah menemukan pelabuhan yang berani memperjuangkannya.Setelah doa terakhir dipanjatkan, suasana haru menyelimuti ruangan. Samudra, yang sejak tadi duduk tenang di samping ibunya, langsung berdiri. Ia melangkah mendekati Gara yang kini telah resmi menjadi ayah sambungnya.Samudra menatap Gara tepat di mata, wajah remaja itu tampak jauh lebih dewasa dari usianya."Mas, tolong, jangan pernah sakiti Mama. Kalau suatu saat nanti Mas Gara sudah

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   143. Tunggu Sah

    Suara Gara mengelegar memenuhi ruangan. Pemuda itu masuk dengan langkah tegap penuh percaya diri, wajahnya sedingin es, namun matanya berkilat penuh kemenangan saat mendapati papanya duduk di kursi tamu.Sadewa tersentak, ia berdiri dengan raut wajah yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya."Gara? Sedang apa kamu di sini?"Gara tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat ke arah meja Mita, melirik Sadewa dari sudut mata dengan tatapan meremehkan.“Setahuku hanya papa yang tidak bisa konsentrasi kalau melihat perempuan. Otaknya langsung kotor.”Wajah Sadewa memerah mendengar sindiran telak itu. "Jaga bicaramu, Gara! Lalu apa urusanmu datang ke sini?"Gara terkekeh getir, lalu ia mengangkat tangan kanannya yang menjinjing tas kertas berlogo Restoran Makanan Nusantara. Aroma rempah dan ayam bakar menyeruak di ruangan itu.Gara menaikkan sebelah alisnya. " Aku ke sini untuk makan siang dengan calon istriku."Kata-kata itu meledak seperti bom di tengah ruangan. Sadewa mematung, mata

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   142. Gangguan Sadewa

    Mita memijat pangkal hidungnya yang berdenyut, namun seulas senyum tipis terukir saat melihat layar monitornya. Desain seragam kerja untuk jaringan minimarket yang sedang menjamur itu tampak sempurna.Perpaduan warna yang modern, pilihan bahan yang nyaman untuk bergerak, serta detail kantong yang fungsional, semuanya memiliki karakter kuat yang akan menjadi identitas baru bagi ribuan karyawan minimarket tersebut.Jika proyek ini gol, ini bukan sekadar keberhasilan biasa, ini adalah ladang penghasilan besar yang akan mengamankan posisi konveksinya di pasar industri.Dulu, butuh waktu berhari-hari untuk menyusun slide presentasi dan prototipe desain digital seindah ini. Namun, berkat Gara yang dengan sabar mengajarinya menggunakan perangkat lunak desain berbasis AI, semuanya menjadi jauh lebih mudah.Gara seolah tahu cara memanjakannya, bukan dengan bunga, tapi dengan teknologi yang memangkas waktu kerjanya. Berkat itu pula, Mita belum merasa perlu mencari asisten pribadi baru, meski be

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   141. Papa Tiri Rasa Kakak

    Jam dinding di kamar Mita seolah berdetak lebih keras dari biasanya. Ia berguling ke kanan dan ke kiri, namun kantuk enggan menjemput. Ucapan Gara terus terngiang seperti kaset rusak di kepalanya.“Ada satu lagi pria yang sudah mengincarmu... istrinya bisa kalap.”Peringatan Gara terasa seperti ancaman nyata yang membayangi reputasinya. Selama ini Sadewa memang sangat agresif, dan istrinya pun begitu posesif. Tentu Marina tidak akan tinggal diam, bukan hanya karena cinta, tapi juga harta yang menjamin hidupnya sejahtera.Namun, di sela-sela kecemasan itu, bayangan lain menyelinap masuk, wajah mungil Alya yang merah padam karena demam, jemari kecilnya yang gemetar menahan sakit, dan boks bayi yang terasa dingin tanpa pelukan ibu.Ada desakan aneh di ulu hati Mita, sebuah keinginan untuk merawat bayi itu, memberikan kehangatan yang tidak sempat diberikan Amara. Namun, logika Mita segera menamparnya bangun.“Kalau aku merawatnya, itu artinya aku akan terjebak lagi dengan Pram,” batin Mit

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   140. Pria Lain yang Antre

    Mobil Gara berhenti dengan sempurna di depan halaman rumah Mita. Suasana malam kian larut, menyisakan suara jangkrik dan hembusan angin dingin yang menusuk. Begitu mesin mati, Gara menoleh ke kursi belakang, menatap Samudra lewat spion tengah."Sam, masuk duluan ya? Aku mau bicara sebentar sama mamamu," bisik Gara pelan namun penuh penekanan.Samudra, yang sudah cukup dewasa untuk membaca ketegangan di antara kedua orang dewasa itu, hanya mengangguk kecil. Ia seolah paham bahwa ada sebuah percakapan yang selama ini tertahan di ujung lidah Gara."OK. Ma, Sam masuk duluan."Setelah pintu rumah tertutup di belakang Samudra, Mita hendak membuka pintu mobil, namun jemari Gara bergerak lebih cepat. Ia meraih tangan Mita, menahannya dengan genggaman yang tidak menyakiti namun sangat posesif."Tante, tunggu," suara Gara rendah, namun sarat dengan kecemasan.Mita menoleh, menatap Gara dengan dahi berkerut. "Ada apa lagi, Gara? Ini sudah sangat malam."Tanpa basa-basi, Gara langsung melontarkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status