LOGINMalam mulai merangkak dan menebar sepi, kala semua karyawan sudah pulang. Namun, di ruang kerja Mita, lampu masih menyala terang.
Mita duduk di balik meja, jemarinya lincah menggoreskan sketsa di atas kertas. Lembar-lembar desain berhamburan, kain sample bertumpuk di sudut meja. Matanya tampak lelah, tapi enggan berhenti.
Seolah dengan bekerja, ia bisa mengusir rasa sesak yang sejak tadi malam mengerogoti kewarasannya.
Dian, sahabat sekaligus asistennya, berdiri di dekat pintu dengan perutnya yang membuncit, sorot mata menyiratkan kekhawatiran.
“Mit, sudah jam sembilan malam. Pulang yuk! Besok bisa dilanjutkan lagi, Sam pasti nungguin mamanya.”
Mita berhenti sebentar, menekan pensil di atas kertas. Lalu ia menghela napas, menahan letih.
“Aku sudah hubungi Sam kalau aku lembur. Besok desain ini sudah harus aku presentasikan, kalau sampai gagal, bisa hancur reputasi kita.”
Dian melipat tangan di dada, menggeleng pelan. “Kerja keras boleh, tapi kamu juga manusia, Mit. Badan kamu bisa sakit kalau terus dipaksa begini.”
Mita tersenyum samar, menutupi hatinya yang getir. “Aku lebih takut pikiranku sakit kalau berhenti sekarang. Tidak tenang meninggalkan pekerjaan nanggung seperti ini.”
Dian mendekat, lalu menepuk bahu Mita. “O ya, aku mau kenalkan asisten baru, dia yang akan menggantikan aku selama aku cuti,” ucap Dian cepat. “Dia calon arsitek, lagi ambil pendidikan profesi.”
“Arsitek?”
“Kan cuma sementara. Yang penting bisa, tapi jangan ahli, nanti aku kesaing.” Tawa renyah menjeda kalimat Dian. “Lagi pula kamu kan mau buka toko offline, siapa tahu bisa jadi jasa konsultasi gratisan untuk desain tokonya.”
Mita menggeleng dengan senyum di bibir. Pola pikir sahabatnya yang satu ini memang aneh.
“Cakep lho. Ganteng, bodynya… ah, pokoknya paket komplit.” Dian seolah tidak bisa menggambarkan daya tarik asisten baru.
“Ingat suami yang sudah nunggu di bawah. Tuh, anak ketiga juga sudah mau brojol.”
“Kebetulan anak ketiga ini kan cowok, siapa tahu mirip Gara.”
“Memangnya bapaknya kurang ganteng?”
Dian tertawa lebar, mengingat sang suami yang ganteng dan setia. “Setidaknya bisa untuk cuci mata, biar nggak ngantuk pas kerja.”
“Ingat umur, Dian!”
Ketukan pintu menginterupsi percakapan Mita dan Dian. Setelah Mita mempersilahkan, pintu terbuka pelan, dan seorang pemuda tinggi tegap melangkah masuk. Dengan kemeja rapi dan tatapan mata yang lugas, dia memang terlihat menarik.
Mita terperanjat. Debar jantungnya langsung melonjak. Nama yang pernah dia dengar, wajah yang pernah dia lihat, kini berdiri di ruang kerjanya.
“Gara?” Sapaan itu lolos dari bibir Mita.
Pemuda itu juga tampak terkejut, tapi mampu cepat mengendalikan diri. Gara tersenyum tipis, menggigit ujung bibir bawahnya. Ia sedikit menunduk, dengan lirikan mata yang sulit diartikan.
“Tante Mita?” Gara membalas sapaan itu.
Dian mengerutkan dahi, bingung. “Kalian sudah kenal?”
Mita tersenyum kaku. “Gara ini anak teman SMA yang dulu bantu aku dapat pinjaman bank.” Ia menoleh ke Gara, matanya menunjukkan rasa ingin tahu. “Kenapa kamu mau magang di sini, Gar? Bukannya kamu harusnya di proyek besar? Lagi pula mamamu kan, koneksinya luas?”
Gara tersenyum tipis, sorot matanya tampak lebih dewasa dari usianya. “Saya perlu mencari lebih banyak pengalaman di luar zona nyaman, Tan. Selain itu, juga ingin tahu bagaimana sebuah perusahaan dikelola dari sisi manajemen non-teknis.”
Semangat belajar yang sangat mengagumkan bagi Mita, apalagi setahunya keluarga ayah Gara memiliki perusahaan konstruksi besar. Tanpa harus bekerja keras dia akan menduduki posisi yang bagus dan mewarisinya.
Dian berdecak. “Wah, dunia sempit sekali. Kalau begini, aku jadi nggak khawatir meninggalkanmu. Mit, Gara ini multitasking banget.” Dian lalu memandang keduanya bergantian. “Kalau kamu lebih muda beberapa tahun, kalian cocok banget.”
Mita hanya menggeleng samar, berusaha menyangkal pikiran itu. “Berikan dia beberapa tahun... dia pasti akan jadi pria hebat,” batinnya.
Suara dering ponsel di tas Dian meraung-raung, perempuan hamil itu melihat nama suaminya di layar. “Sudah ditunggu, aku pulang dulu, ya?”
“Hati-hati!” Mita melambaikan tangan, mencoba menutupi getaran di dada kala memory akan pesona ragawi dan tatapan intens Gara di rumah Amara kembali menghantam.
Suara pintu tertutup pelan, meninggalkan Mita dan Gara dalam suasana yang canggung. Sepertinya hanya untuk Mita, tidak dengan Gara. Karena pemuda itu dengan penuh percaya diri mendekat dan duduk di kursi yang berada tepat di depan Mita.
Mata Gara menatap Mita dengan intensitas yang sama persis seperti saat mereka bertemu di lorong, tatapan yang terlalu berani untuk seorang asisten magang.
“Apa yang harus saya pelajari, Tan?”
“Oh… tolong buatkan PPT untuk presentasi minggu depan,” jawab Mita yang berusaha keras menutupi kegugupannya.
***
Di bawah cahaya megah lobi sebuah hotel bintang lima, Mita melangkah anggun, di sisinya Gara berjalan tegap, membawa tablet berisi file penting.
Saat mereka mendekati ruangan meeting VIP, Mita menoleh. “Semua file presentasi sudah siap?”
“Sudah,” jawab Gara sigap.
“Bagus.”
Mereka memasuki ruangan. Mita dengan tenang memimpin negosiasi dengan perwakilan dari Hotel Red Orchid, membahas desain seragam baru untuk staf.
“Bu Mita, desain Anda fantastis. Konsep timeless elegance ini sesuai sekali dengan citra hotel kami,” ujar perwakilan hotel itu. “Hanya saja, harga per unit yang Anda tawarkan, terlalu tinggi. Kompetitor Anda menawarkan desain yang serupa dengan harga 10% lebih murah.”
Mita tersenyum tipis, pandangannya mantap. “Tentu, kami memahami anggaran Anda. Tapi, mari kita bahas apa yang Anda dapatkan dengan harga yang kami tawarkan.”
“Seragam staf hotel bintang lima adalah investasi citra dan kenyamanan kerja. Harga yang kami tawarkan mencakup desain ergonomis yang membuat staf front office tetap segar selama delapan jam kerja, mengurangi keringat, karena kami menggunaan katun premium.”
Gara dengan cepat memproyeksikan grafik-grafik yang menunjukkan kelebihan produk mereka.
Perwakilan hotel itu mengangguk, terkesan, hingga akhirnya kesepakatan pun tercapai.
Saat mereka berjalan keluar ruangan, Gara berbisik, kekaguman terdengar jelas. “Luar biasa presentasi Tante tadi. Tidak heran perusahaan Tante bisa semaju itu.”
Mita tersenyum lega, lalu menatap Gara sejenak. Ada perasaan asing yang menjalar saat dia mendengar pujian dari pemuda di sampingnya, sesuatu yang tak pernah keluar dari bibir Pram.
“Terima kasih, Gar. Tanpa bantuan kamu presentasi tadi tidak akan selancar ini.”
Mereka tiba di lobi utama yang ramai.
“Saya ambil mobil di parkiran. Tante tunggu di lobi utama saja.”
“Baik, Gar.”
Mita mengangguk, lalu bersandar di pilar marmer, lega menyelimutinya. Tangannya bergerak ke ponsel, ingin berbagi kabar gembira. Tapi tepat di bawah chandelier besar yang memancarkan cahaya keemasan, seolah sengaja menyorot sebuah adegan intim.
Sosok yang sangat familiar berdiri membelakangi Mita, postur tubuhnya, setelan jasnya, semuanya tak salah lagi, dia Pramudya Wijayanto, suaminya.
Pram tertawa sambil memeluk mesra seorang wanita yang mengenakan gaun malam. Tawa yang tak pernah ia dengar saat Pram bersamanya.
Tangan Pram yang menolaknya di ranjang kini membelai punggung wanita lain dengan keintiman yang terlarang. Keintiman yang sudah lama mati dalam pernikahan mereka, kini dipertontonkan di depan umum.
Pram berdiri di sana. Wajahnya pucat. Tubuhnya tampak lebih kurus. Ada sisa lebam yang belum sepenuhnya hilang. Matanya menatap Mita lama, seolah mencari celah.Mita bangkit berdiri. Jarak beberapa meter di antara mereka terasa seperti jurang yang menganga lebar. Kehadiran Pram membawa aura pekat yang membuat dada Mita sesak."Apa lagi yang ingin kau bicarakan, Mas?" Suara Mita dingin, memangkas semua basa-basi.Pram melangkah masuk tanpa diundang, menutup pintu dengan pelan namun terasa mengancam."Aku ingin bicara tentang rumah tangga kita," jawab Pram cepat, suaranya serak. "Tentang Samudra. Tentang semua yang…"Pram tidak melanjutkan kalimatnya, terlihat bingung mau bicara apa lagi. Sikap tak acuh Mita kala menyambutnya, sudah menjadi petunjuk, tak mudah untuk mengubah keputusan istrinya itu.Pram menelan ludah yang terasa pahit. "Aku tahu aku salah.""Mengaku salah setelah ketahuan?" sahut Mita ketus.Pram maju selangkah. Mita tidak mundur, namun bahunya menegang kaku."Aku tidak
"Ternyata selingkuh bukan sekadar khilaf, tapi sudah jadi tabiat Papa sejak muda," suara Gara rendah, namun memukul hati Sadewa dengan keras.Pikirannya melayang pada lembar-lembar kaku berkas perceraian Mita yang baru saja ia baca. Angka-angka di sana menari mengejeknya. Selisih usia Gara dan Mita, sahabat SMA Amara, adalah empat belas tahun. Logika paling bodoh sekalipun tahu, tidak mungkin Amara melahirkannya saat masih mengenakan seragam SMP."Jadi Mama mengalami baby blues karena tahu Papa selingkuh dengan anak sekolah?" Gara menoleh, matanya berkilat menuntut."Gar..." Sadewa mencoba meraih lengan putranya.Gara menepisnya kasar. "Aku butuh penjelasan, bukan pembelaan. Papa mau jujur atau bohong tidak akan bisa mengubah masa lalu.”Sadewa menarik napas panjang, bahunya merosot seolah beban puluhan tahun mendadak menindihnya. "Papa dijebak, Gar."Gara tersenyum menyeringai sambil menggelengkan kepala. Apa yang diucapkan Sadewa adalah alasan klise bagi orang yang sudah terpojok ke
Sadewa menelan ludah. Bahunya merosot dengan tatap mata yang goyah. Rahasia yang selama ini dia simpan, sampai pada titik menunjukkan kebenarannya.Seolah seluruh tubuhnya ikut menyerah, akhirnya Sadewa mengangguk lemah“Kita bicarakan di dalam,” ucap Sadewa dengan suara lirih.Sadewa berbalik lebih dulu, lalu dengan langkah gontai menuju ke ruang kerja. Dan Gaa mengikuti, tak ingin melepaskan kesempatan untuk mengetahui yang sebenarnya.Sementara itu di ruang tamu lampu menyala setengah. Marina muncul dari ujung lorong. Wajahnya pucat. Monic berdiri di belakangnya, memeluk diri sendiri.“Ada apa, Pa?” Monic bertanya pelan, mencoba menarik perhatian ayah dan kakak tirinya.Sadewa tidak menjawab, mengabaikan Monic begitu saja.Gara melirik mereka sekilas. Tatapannya dingin. Tajam. Seolah baru sadar selama ini ia hidup di tengah orang-orang asing.Marina membuka mulut, tapi menutupnya lagi. Dari sorot mata Sadewa, dia paham suaminya itu sedang dalam suasana hati yang tidak baik-baik saj
Gara mematung.Kata demi kata yang terlontar dari mulut Amara seperti beban berta yang langsung di jatuhkan di atas kepalanya dengan begitu tiba-tiba.“Ibu kandungmu…” Kata itu masih berdengung di kepalanya.Selama ini yang Gara tahu, Amara adalah ibu kandungnya, Amara adalah perempuan yang melahirkannya. Tapi apa yang baru saja dia dengar seperti sebuah pukulan yang tak pernah Gara duga.Selama dua puluh lima tahun, Amara adalah poros dunianya. Perempuan itu adalah dekapan saat ia bermimpi buruk, tangan yang mengusap air matanya, dan sosok yang ia puja sebagai malaikat tanpa sayap. Kini, malaikat itu baru saja menanggalkan topengnya.Amara menatapnya, kali ini tanpa senyum. “Selama ini kamu pikir aku apa?”Gara membuka mulut, tapi tak ada suara keluar. Ia hanya bisa menatap bayangan dirinya di bola mata Amara, sosok pria dewasa yang tiba-tiba merasa sekecil debu.Amara mendekat selangkah. “Waktu ibu kandungmu dirawat di rumah sakit jiwa, papamu sibuk main perempuan di luar. Kamu masi
Rumah mewah itu sunyi saat pintu terbuka keras.Amara yang semula berdiri di depan cermin tersenyum refleks. Senyum yang biasa ia pakai saat Gara datang. Senyum ibu yang yakin masih punya kuasa atas putranya.Namun, senyum itu runtuh seketika saat Gara melangkah masuk ke dalam cahaya lampu kristal. Putranya tampak seperti orang asing.Sorot matanya segelap badai, rahangnya terkatup begitu rapat hingga otot-otot di wajahnya menegang. Tidak ada sapaan. Tidak ada hangat yang biasanya menyambut Amara.Amara menurunkan tangannya perlahan. Bulu kuduknya meremang. Ada sesuatu yang sangat salah."Kenapa Mama ikut campur sampai sidang perceraian Tante Mita ditunda?" suara Gara keluar pelan, namun dinginnya terasa mengiris kulit.Amara terdiam sesaat, seolah sedang menimbang-nimbang reaksi apa untuk menanggapi putranya. Ia terkekeh pendek, suara yang dipaksakan untuk menutupi detak jantungnya yang mulai tak beraturan."Kamu marah sama mama karena Tante Mita, Sayang?""Jawab, Ma. Jangan bersandi
Ruang sidang yang semula tenang berubah tegang saat pengacara dari pihak Pram berdiri. Map cokelat dibuka. Satu per satu lembaran dikeluarkan dengan gerakan terukur.Mita menegakkan punggung. Ada rasa tidak nyaman yang merayap pelan.“Yang Mulia,” suara pengacara Pram memecah keheningan, berat dan penuh otoritas yang dipaksakan. “Klien kami, Saudara Pramudya Wijayanto, saat ini dalam kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan untuk hadir dan menjalani persidangan.”Pengacara lalu menyerahkan berkas.“Ini surat keterangan dari pihak rumah sakit. Hasil rontgen menunjukkan beberapa tulang rusuk klien kami mengalami fraktur. Kondisinya masih dalam pemulihan dan membutuhkan istirahat total.”Mita menghela napas pelan. Tangannya mengepal di pangkuan.Adnan berdiri. “Yang Mulia, kami menghormati kondisi kesehatan termohon. Namun perlu dicatat, ketidakhadiran ini bukan yang pertama. Kami memohon agar proses tetap berjalan.”Hakim menerima berkas. Membacanya saksama. Kacamata diturunkan sedik







