LOGINMeyra menggeleng cepat. Air matanya semakin deras. "Nggak, Mas. Aku nggak pernah. Aku cuma sama kamu."Glen menatapnya lama. Tapi tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik."Mas, kamu masih nggak percaya sama aku?" suara Meyra putus asa. "Mas Glen!"Glen tak menjawab. Ia terus melangkah, berjalan keluar kamar tanpa menoleh sedikit pun.Meyra tertunduk dalam. Air matanya tumpah tanpa bisa dibendung. Tangisnya pecah."Hiks..."Begitu Glen pergi, suasana kamar berubah menjadi semakin mencekam. Evan yang sejak tadi diam di belakang Erina akhirnya melangkah maju. Wajahnya merah padam, matanya menyala-nyala menahan amarah yang sudah memuncak."Kamu pikir kamu hebat, ya?" desisnya dengan suara penuh kebencian. "Nggak nyangka selama ini kamu juga main kotor di belakang aku. Kamu lebih menjijikan dari yang aku kira, Meyra."Meyra masih terisak, kepalanya kembali mendongak. "Mas Evan, aku—"Belum sempat Meyra menyelesaikan kalimatnya, Evan mendorong bahunya dengan keras. Tubuh Meyra yang lemah tak
Erina duduk di sofa apartemennya dengan wajah tegang. Pikirannya terus mengulang kejadian beberapa hari lalu, saat Meyra tiba-tiba muntah di depan matanya.Gerak-gerik Meyraa, wajah pucatnya, mual-mualnya. Semua mengarah pada satu kemungkinan.'Nggak mungkin...' batinnya gelisah. 'Bukannya Om Glen mandul? Atau jangan-jangan...'Tak ingin menggantungkan rasa penasarannya, Erina meraih ponsel dan menekan nomor Evan. Tak lama, suara Evan terdengar dari seberang."Ada apa, Sayang?""Evan, aku perlu ketemu Om Glen," ucap Erina langsung tanpa basa-basi."Hah? Buat apa?"Erina menahan napas. "Pokoknya kamu temenin aja. Oke?"Setelah mengatakan itu, Erina memutuskan panggilan. Sebenarnya ia masih ragu, namun mempertaruhkan semua yang ia miliki untuk melakukan hal ini.'Kalaupun benar itu anak Mas Evan, aku yakin Mas Evan bakal lebih milih aku,' pikirnya penuh tekad dan keyakinan. Seketika tatapan Erina berubah tajam, bibirnya menyeringai."Kita lihat apa Om Glen masih ngelindungin kamu atau ng
"Itu kecelakaan," balas Meyra, suaranya mulai lelah. "Kita sama-sama nggak sadar. Aku juga nggak tahu bagaimana itu bisa terjadi.""Masih saja ngeles!" Erina mengangkat tangannya, dan sebelum Lisa sempat bereaksi, tamparan keras mendarat di pipi Meyra.Plak!"Meyra!" Lisa membelalak kaget.Meyra terhuyung, hampir jatuh. Lisa segera menahan dan berdiri di depan Meyra, melindunginya."Berani-beraninya kamu tampar dia!" bentak Lisa, dengan kasar mendorong Erina sampai terjatuh. "Keluar! Sekarang juga, sebelum aku panggil satpam!"Erina tertegun melihat reaksi Lisa, tapi belum puas. "Meyra, kamu—"Belum selesai bicara, Meyra tiba-tiba memegangi mulutnya, wajahnya pucat pasi. Ia berlari menuju kamar mandi."Mey!" Lisa panik, segera mengikuti.Erina hanya bisa terpaku, tidak mengerti apa yang terjadi.Di dalam kamar mandi, Meyra muntah hebat di depan wastafel."Uwek! Uwek!"Lisa mengusap punggungnya, membasuh wajahnya dengan air, mencoba menenangkan."Kamu kenapa, Mey? Sakit?" tanya Lisa ce
"Ya orang sakit emang gitu," sahut Lisa santai sambil merebahkan diri di samping Meyra. "Mau nyemil apa, dong? Biar aku ada kerja nih jagain kamu."Meyra terkekeh pelan. Sikap Lisa yang rebahan santai sangat berbanding terbalik dengan apa yang ia katakan."Udahlah. Temenin ya temenin aja. Papa mertuaku nggak nyuruh kamu ngebabu.""Tapi aku emang dikasih tip, sih. Makanya semanget banget aku pagi-pagi ke sini, haha!" ujar Lisa jujur sambil tertawa puas.Meyra menggeleng. Ia baru tahu kebenarannya.Usai tertawa, Lisa tersadar akan sesuatu saat membicarakan Glen. "Eh, tapi kamu selalu berdua sama mertua di rumah ini? Suami kamu ke mana?"Meyra menghela napas. "Entahlah. Mungkin sama selingkuhannya. Dia terang-terangan banget ngenalin Erina ke Papa."Mendengar hal itu, Lisa membelalak. "Hah?! Yang bener?"Meyra mengangguk pelan. Dia lupa menceritakan hal ini pada Lisa. Jika sebelumnya ia akan sakit hati, tapi kali ini Meyra benar-benar tak peduli. Dia langsung mengutarakan perasaannya saa
Evan duduk di sofa apartemen Erina dengan wajah tegang. Erina berdiri di depannya, kedua tangan terlipat di dada, matanya merah menahan tangis."Kamu harus jujur sama aku, Mas. Itu bekas dari siapa?" suara Erina bergetar penuh tuntutan.Evan menunduk. Tangannya meremas rambutnya frustrasi. Akhirnya, dengan suara serak, ia mengaku."Meyra."Erina terkesiap. Air mata yang ditahan akhirnya jatuh."Meyra? Bukan pelacur atau yang lain, tapi Meyra?!" ulangnya masih tak percaya."Aku nggak sadar, Erina. Aku mabuk. Jadi aku nggak ingat apa-apa," dalih Evan cepat.Erina menangis, memukul-mukul dada Evan lemah. "Tapi kenapa kamu harus tidur sama dia?! Kamu udah janji!""Aku bener-bener minta maaf, Sayang. Itu cuma kesalahan. Tolong percaya sama aku." Evan meraih tangan Erina, menggenggamnya erat.Erina masih melotot marah pada pria itu. Dengan suara penuh amarah dan air mata yang masih mengalir, dia membalas."Pokoknya kamu harus cepat ceraikan dia. Aku nggak mau tahu!"Evan menarik napas panja
Glen meraih kedua tangan Meyra yang masih berusaha menutupi dada, lalu memborgolnya ke atas kepala.Meyra hanya bisa pasrah, tak kuasa melawan perbedaan kekuatan yang sangat jelas. Tubuhnya terbuka sepenuhnya di hadapan Glen.Kain hitam kemudian diikatkan di mata Meyra. Dunianya menjadi gelap."Mas... jangan begini. Aku nggak suka," rintih Meyra, suaranya bergetar hampir menangis."Aku lebih nggak suka denger desahan kamu sama Evan," sindir Glen.Glen kemudian meraih sesuatu dari samping. Benda kecil, tumpul, dan dingin.Meyra merasakan sesuatu masuk ke dalam tubuhnya. Bukan milik Glen. Benda itu kecil, bergetar, terbuat dari silikon."Mas, itu... ah..." Meyra mengerang pelan.Glen menekan remote. Level getaran naik. Meyra menjerit kecil, tubuhnya menegang. Sensasi yang aneh, asing, dan terlalu intens menjalar dari area sensitifnya."M-mas... aku minta maaf... tolong, berhenti," rintihnya di sela-sela erangan yang tak bisa ditahan.Glen hanya menatapnya, dengan ekspresi yang sulit diba
“T-tunggu. Apa tadi, Pah?” tanya Meyra.Memastikan pendengarannya tak salah.Glen duduk akhirnya tegap. Kedua kakinya disilangkan santai sambil memutar kursi kerjanya menghadap Meyra.“Iya. Dokter bilang, Papa nggak bisa punya anak, Meyra. Jadi Papa milih ngadopsi Evan dari pada orang lain,” jawabn
Sontak wajah Meyra memerah seperti tomat rebus.“Duh, Chika. Jangan ngomong kayak gitu," gerutunya malu.Sambil menutupi sebagian wajah dengan tangan.Chika hanya tertawa kecil.“Maaf, maaf. Para pelanggan yang datang sering nanya kegunaan dan kualitasnya. Jadi saya kebiasaan jelasin begitu.”Meyra
Meyra sedikit mengerutkan kening melihat ekspresi kosong di wajah Glen. Pria itu menatapnya beberapa saat seolah sedang memikirkan sesuatu.“Pah? Kok diem aja? Papa butuh sesuatu?” tanyanya heran.Seperti tersadar dari lamunan, Glen berkedip cepat. Tatapan yang tadinya samar berubah menjadi lebih fo
“Aku percaya sama kamu, Mas,” gumam Meyra lirih. Kedua matanya meredup. “Tapi sikap kamu yang bikin aku curiga terus.”Meyra tahu. Meski mengatakannya pun, Evan tak akan mendengarkan. Dan mungkin balik menyalahkan dirinya.Karena itu, lebih baik menyimpannya sendiri. Walau hatinya selalu tak tenang







