Mag-log in“Brengsek! Apa saja yang kalian lakukan, menjaga satu orang saja tidak becus!” hardik James sangat marah ketika mendengar laporan, jika Valerie tidak ditemukan dimanapun, disetiap sudut rumah sakit.
Valerie berhasil melarikan diri, terbebas darinya. James tidak bisa menerimanya.
Anna menundukkan kepalanya, takut dan sangat bersalah. “Maaf, Tuan, saya kira Nona Vale benar-benar sedang dalam pemeriksaan.” Anna benar-benar merasa sudah dibodohi oleh seorang perawat serta dokter palsu yang membantu Valerie melarikan diri.
“Cari! cari wanita itu, cari sampai dapat, aku tidak mau tahu, kalian harus segera membawanya padaku, secepat mungkin!” titah James.
James sangat marah, ia tidak rela wanita yang dibelinya melarikan diri darinya, terlebih Valerie adalah wanita yang cukup membuatnya terkesan dengan perilaku yang berbeda dengan wanita lainnya. Valerie melawan padanya, tapi itu menjadi tantangan untuknya, untuk bisa membuatnya tunduk padanya. .
James kemudian teringat tentang seseorang yang sedang mencari Valerie. Tapi sayang James belum mendapat informasi apapun tentang siapa mereka yang mencari miliknya.
Pria itu sangat kesal, karena baru kali ini ia kesulitan dalam mencari informasi yang diinginkan olehnya. Orang yang mencari Valerie, terkesan misterius sehingga sulit mencari siapa mereka. Karena hal itu lah, James semakin penasaran dengan Valerie dan siapa sosok yang berada di belakangnya.
James pun sudah mencoba mencari keberadaan Lukas, karena ia berpikir jika Lukas pasti mengetahui informasi yang dibutuhkan. Namun sayangnya, James pun tidak dapat menemukan Lukas dimanapun, bahkan ia mendengar jika Lukas telah dibawa oleh beberapa pria berjas hitam, dengan tubuh penuh luka, oleh mereka yang mencari keberadaan Valerie.
“Siapa mereka, apa hubunganmu dengan mereka, Valerie ?” geram James.
***
Sementara itu, Vale yang kini sudah berada di sebuah mansion, membuatnya terpukau, menatap sekeliling yang penuh dengan kemewahan. Vale tidak yakin apa benar jika ia memiliki seorang kakek?
Karena melihat bagaimana rumah itu, seperti sebuah istana yang megah, sementara dirinya selama ini hanya tinggal disebuah apartemen kecil di pinggiran kota.
“Apa benar, ini rumah kakekku, dan apa benar, aku cucunya? kalian tidak salah orang?” tanya Vale berturut-turut, ia merasa Merry dan Beni salah menemukan orang yang dicari oleh mereka.
“Tentu, Nona kami tidak mungkin salah mendapatkan informasi. Ayah tiri Anda, bahkan sudah kami amankan,” jelas Beni membuat ekspresi wajah Vale berubah.
Ekspresi yang penuh kebingungan kini berubah menjadi amarah, Vale terlihat ingin menghajar pria yang sudah menghancurkan masa depannya. Harta yang dijaga olehnya, direnggut paksa oleh pria bajingan, dengan membeli pada Ayah tirinya.
“Apa Lukas dekat dengan kakek itu?” tanya Vale.
Vale tidak mau jauh ke dalam perangkap untuk kedua kalinya, jika orang yang disebut kakeknya mendukung Lukas, maka Vale bisa dipastikan hidupnya akan semakin menderita.
“Dekat? tentu tidak nona, tapi Lukas, Ayah tiri Nona kini sedang mendekam di penjara bawah tanah,” ucap Merry.
Vale mendengar itu tersenyum, artinya, ia bisa membalas Lukas, dan kakek itu tidak berada di pihak Lukas.
Namun, Vale masih harus berhati-hati, ia tidak tahu apakah kakek itu adalah orang baik, dan apakah memang kakek kandungnya atau hanya orang yang berpura untuk menginginkan dirinya, seperti James.
Langkah demi langkah Vale memasuki mansion itu, terlihat ragu tapi Vale merasa tetap harus mencari tahu kebenarannya, apakah benar ia memiliki seorang kakek?
Hingga Vale sampai di ambang pintu mansion tersebut, langsung mendapat sambutan dari para pekerja yang ada di mansion itu. Sambutan hangat dan penuh senyuman. sehingga keraguan di hatinya, perlahan memudar, digantikan oleh senyuman, rasa haru, seolah kini ia sudah memiliki lagi keluarga yang baru.
Tapi mengapa baru sekarang?
“Valerie…” suara berat terdengar oleh Vale, ia menoleh menatap kakek tua berjalan perlahan ke arahnya, dengan tongkat di tangannya. Kakek itu terlihat senang melihat Vale kini berada di hadapannya, setelah cukup lama ia mencari.
“Aku kakekmu, ayah dari Morgan, ayah kandungmu,” ucap sang kakek, membuat Vale teridiam.
Valerie terdiam, Morgan memang nama ayah kandungnya, dan sudah lebih dari 10 tahun Morgan meninggalkannya. Tapi mengapa kakek itu tahu, Vale adalah cucunya?
“Kau benar kakekku? lalu kemana kau selama ini?” tanya Vale, benar-benar tidak masuk akal.
“Ceritanya cukup panjang, Vale. Tapi kakek akan ceritakan secara singkat.” Kakek mengajak Vale duduk di sofa, untuk mendengarkan cerita darinya. “Morgan memilih pergi bersama ibu kandungmu, dan meninggalkan kemewahan ini. Kakek mengira kehidupan Morgan baik-baik saja, sampai… 2 tahun yang lalu, kakek kembali ke negara ini dan baru mengetahui Morgan telah tiada,” ucap sang kakek menjelaskan secara singkat pada Vale, tapi itu tidak membuat Vale percaya sepenuhnya.
“Sampai kakek menemukan ibumu, tapi ia tidak mau kau bersama kakek, sehingga kakek hanya bisa mengawasimu dari jauh. Tapi tidak menyangka, Ibumu pergi lebih cepat, dan saat itu Kakek sedang berada di luar negeri. Sesampainya disini kakek langsung mencarimu, tapi pria brengsek itu malah menjualmu pada pria lain. Kakek menyesal, kakek terlambat menyelamatkanmu, Vale…”
Suara berat itu kini berubah menjadi isak tangis, Vale pun hanya bisa terdiam, baginya sulit mempercayai semua ini.
Apa dan mengapa?
Banyak pertanyaan yang melintas di benaknya, tapi Vale merasa jika ini bukan waktunya untuk mencari itu semua, Vale butuh waktu lebih lama untuk memahami semuanya.
“Sekarang ini adalah rumahmu, kau layak mendapatkan semua ini, kau adalah satu-satunya, penerus keluarga Russel,” ucap sang kakek, Smith.
Vale membeku, mendengar perkataan dari kakeknya, karena kini ia seolah mendapatkan anugerah yang luar biasa dari tuhan. Ia tidak percaya kisah tentang pewaris dialami olehnya.
Setelah mendapatkan cobaan yang berat, kini tuhan seolah berpihak padanya, doa dan harapan yang sudah ia panjatkan, untuk bisa membalas mereka yang telah menyakitinya.
Vale tersenyum, air matanya menetes, meski semua ini sangat membuatnya terkejut dan sempat tidak bisa mempercayainya, tapi Vale merasa beruntung, karena dengan apa yang dimiliki olehnya, ia bisa melakukan apa saja, terutama melawan orang kuat seperti James.
“Aku tidak tahu, Kek. Semua ini sangatlah mendadak, masih banyak pertanyaan di benakku. Tapi jika kakek mengizinkan, aku ingin menggunakan hak ini untuk membalas seseorang yang sudah merenggut masa depanku, hartaku yang paling berharga,” ucap Vale.
“Lakukan. lakukan apapun yang kamu mau, semua ini sudah kakek serahkan padamu, kau bisa memanfaatkannya dengan sebaik mungkin,” ujar Smith.
Vale tersenyum, ia mengangguk, meski dalam hatinya ia belum benar-benar bisa menerima Smith sebagai kakeknya, tapi ia akan mencoba untuk menerimanya.
“Lukas, dimana orang itu? Aku ingin membunuhnya!” geram Vale, ia sangat ingin menemuinya.
Smith pun membawa Vale ke ruang bawah tanah, dimana Lukas ditahan. Vale melihat Lukas meringkuk di atas tempat tidur yang hanya terbuat dari bambu yang berjajar rapi. Tubuhnya penuh luka, membuat Vale tersenyum tipis.
“Aku kira kau bersenang-senang, Lukas?!”
Lukas mendengar suara Vale terkejut, ia langsung terbangun dari tidurnya, ia menatap va;e seolah ingin meminta pertolongan.
“Vale, kau disini, keluarkan aku cepat!” ujar Lukas, nada bicaranya masih sama pada Vale, meski dirinya kini tidak berdaya dalam sel tahanan.
“Keluar? tapi kau harus menjawab pertanyaanku dengan jujur, apa kau membunuh Ibuku?” tanya Vale, ia benar-benar sangat penasaran dengan kematian ibunya yang sangat mendadak.
“Ibu mati, dia terjauh sendiri!” jawab Lukas membuat Vale geram.
“Lebih baik kau mati disini!” desis Vale.
Lukas tertawa mendengar perkataan Vale. “Untuk apa kau bertanya pada ibumu, dia sudah mati. Mati karena meminum racun dariku, itu salahnya, karena tidak menuruti perkataanku!”
Vale menggeram marah, apa yang dicurigainya ternyata benar, ayah tirinya telah membunuh Ibunya. “Kau benar-benar pria yang kejam, Lukas!”
“Tidak aku baik, karena kau sudah aku berikan pada pria kaya, kini kau bisa menikmati kehidupan sebagai orang kaya bukan, maka balas budilah padaku!”
“Balas budi? benar… Kakek, apa aku boleh mengahabisinya?”
“Tentu, apapun untukmu, sayang…” jawab Smith.
Lukas membeku, apa yang dimaksud oleh Vale, apa dia akan membunuhnya?
“Vale kau-?”
“Pergilah ke neraka, Brengsek!”
Pagi harinya, Valerie yang sedang memandangi taman dari dalam rumah di lantai dua, dengan masih mengenakan lingerie. Tatapannya terlihat kosong, tidak ada semangat untuk menjalani hari-harinya yang penuh dengan ancaman. Valerie dipaksa harus terus tersenyum dengan rasa sakit yang bertubi-tubi datang padanya, penuh dengan ancaman, dari James pada orang-orang yang disayanginya.“Apa yang sedang kamu lamunkan, Sayang?” tanya James, tangannya melingkar di perut Valerie, memeluknya dari belakang.“Aku merindukan kakekku, kapan kau akan mengajakku kesana? Aku baru sebentar bertemu dengannya, tapi kau memisahkanku,” ucap Valerie dengan enggan menatap James, yang lebih memilih menatap taman dengan langit mendung.“Aku sibuk, akhir-akhir ini, jika senggang aku akan mengajakmu kesana. Vale, kau tidak perlu khawatir, kakekmu tidak akan apa-apa, pengobatan sudah aku berikan maksimal. Kau akan ke perusahaan sekarang?” tanya James, mengubah topik pembicaraan. Tidak mau Valerie terus menanyakan kebe
"Tidak, jangan membunuhku! James, kau tidak akan melakukan ini padaku bukan? bagaimanapun, aku adalah istri ayahmu, aku sudah menjadi ibu tirimu," ucap Maeva memohon agar James tidak membunuhnya.Maeva tidak pernah berpikir jika tindakan nekatnya akan membuat dirinya menerima amarah James, hingga nyawanya terancam. Maeva masih percaya jika siapapun wanita disisi James, tidak akan membuat James marah, dengan mencelakai atau menghilangkan nyawanya yang berharap Eleanor bisa menjadi istri James. Tapi sayangnya, pemikirannya salah, karena Valerie bahkan kini bertindak seperti James yang kejam dan tanpa belas kasih."Kau salah jika memohon pada James, Nyonya Maeva. Seharusnya, kau memohon padaku! Apa harus diulangi, jika semua ini tergantung padaku, bukan James!" desis Valerie, tatapannya tajam, membuat Maeva kesal, tidak terima. "Mengapa, mengapa kau membuat keputusan bodoh seperti itu, James. Bukankah selama ini kau hanya mempermainkan semua wanita sesukamu?" tanya Maeva pada James, tid
"Menyingkirkannya langsung?' tanya kembali James, memastikan pada sang istri. Valerie pun mengangguk, tanpa ingin berlama-lama berada di tempat yang cukup membuatnya tidak nyaman. Ketidaknyaman Valerie, tentu karena kehidupannya sangat jauh berbeda dari yang dulu, meski penuh dengan kemiskinan akan tetapi Valerie merasa bahagia, tidak ada masalah yang berat, bahkan jika harus menghukum orang. Valerie pada dasarnya adalah wanita yang baik, tapi memiliki keberanian. Namun, Valerie tidak pernah mengira jika keberaniannya kini akan dipakai untuk sesuatu hal yang di luar hati nuraninya. Hanya karena James, hanya karena ingin menyelamatkan nyawa yang berada di tangan James, dan hanya karena Valerie harus bisa kuat bahkan lebih kuat lagi dari James, agar bisa membalas dan melawan, bahkan sampai membuat James jatuh tunduk padanya.Jika Valerie lemah dan tidak bisa sekuat James, maka dipastikan Valerie akan kalah dari James. Valerie tidak mau itu terjadi. Maeva, Eleanor, dan juga Grace, mere
Maeva dibawa ke sebuah gudang kosong yang letaknya tidak jauh dari hotel tempat berlangsungnya pesta pernikahan James dan Valerie. Di gudang itu, sudah ada Eleanor dan juga Grace. Maeva terkejut melihat keadaan Grace dan Eleanor yang sudah tidak baik-baik saja. Wajah mereka terlihat lebam, seolah sudah mendapat pukulan yang menyakitkan. Tidak jauh dari mereka, seorang pria yang dibayar untuk menyentuh Valerie pun terlihat sudah tidak berdaya. "Kalian akan segera menjemput kematian. Tuan James, tidak pernah memberikan kesempatan pada orang yang mengusik ketenangan hidupnya. Terlebih Valerie, adalah wanita yang Tuan James miliki." Leon mengatakan pada mereka yang sudah merencanakan rencana licik dan jahat pada Velerie yang berharap pernikahan itu akan gagal, dan digantikan oleh Eleanor. "Tahu apa kau, Leon. Aku adalah ibu tiri James, dia tidak akan menghukumku!" desis Maeva. Leon mengangkat sebelah alisnya. Leon merasa lucu dengan percaya dirinya Maeva jika James tidak akan pernah m
"Bermain?" gumam Valerie tanpa mengalihkan pandangannya pada Maeva yang sedang ketakutan. "Permainan ini adalah keinginanmu? Kau yang memulai, maka kau lah yang harus mengakhiri. Vale, tunjukkan kalau kau memang layak berada disisi, di depan mereka!" ucap James dengan senyum seringainya.James menantikan, Valerie bertindak sebagai nyonya Addison yang tidak kalah kejam dengan dirinya.Valerie menatap James, ia tahu pria yang kini menjadi suaminya menginginkan dirinya menjadi istri yang sama jahatnya. Valerie tersenyum pada James, hingga semua orang mengira, Valerie benar-benar jatuh cinta pada James, wanita yang bahagia karena dipilih James sebagai pasangan hidupnya. "Aku akan ikuti apapun yang kamu mau, James, itukan yang kamu ingin dariku?""Benar, buat aku semakin menyukaimu, Valerie, jangan sampai aku membencimu, karena itu tidak akan baik untuk hidupmu!"Maeva yang masih duduk dengan tubuh membeku, merasa putus asa, entah apa yang harus dilakukan olehnya. Maeva membaca berkali-k
Pernikahan yang megah dan mewah dengan para tamu undangan yang menunggu sepasang pengantin yang akan memulai hidup baru mereka. Alunan musik klasik yang merdu, dengan dekorasi indah yang dihiasi kristal-kristal yang menggantung di langit-langit gedung, bunga-bunga mahal yang tersusun rapi menambah kesan keindahan. Sehingga mereka berpikir, jika pernikahan itu adalah pernikahan yang paling membahagiakan. Mereka tidak tahu, jika itu hanyalah sebuah permainan, sebuah keegoisan James.Para tamu tersenyum, kagum melihat semuanya, melihat James yang sudah siap menyambut pasangan pengantinnya.Mereka pun tidak menyangka jika James Addison, pada akhirnya menikah.Valerie berdiri di balik pintu besar, dengan gaun pengantin putih membuatnya terlihat sempurna, cantik dan elegan. Tapi semua itu terasa sia-sia jika hanya untuk terperangkap dalam jerat James Addison.Anna berdiri di belakangnya, membantunya melangkah hingga sampai pada Tuannya. "Sudah waktunya, Nona," ucap Anna singkat.Valerie m







