Masuk"Apa yang akan kau lakukan, Vale? kau tidak boleh membunuhku! aku ayahmu!" Lukas menantang Valerie, ia tidak mau jika harus mati di tangan anak tirinya.
Seharusnya, kehidupannya bisa lebih baik setelah memberikan Valerie pada James, tapi tidak disangka Lukas malah ditahan oleh kakek tua yang melindungi Valerie. Lukas masih bertanya-tanya tentang siapa kakek tua itu, sehingga memilih membantu dan melindungi Valerie dari James.
"Ayah?" Valerie tertawa penuh dengan sinisme. "Tiri! Bahkan menjadi menjadi Ayah tiri pun kau tidak pantas, Lukas! Lagipula kau sudah membunuh Ibuku, lantas mengapa aku tidak bisa membunuhmu?"
Lukas membeku, ia benar-benar tidak bisa berbuat apapun, kedua matanya melihat sekitar yang benar-benar tidak menguntungkan baginya. Kakek itu, bahkan hanya menjadi penonton antara Valerie dan juga Lukas. "Ah, pasti kau bertanya-tanya, siapa kakek di belakangku ini?" tanya Valerie kembali.Valerie ingin membuat Lukas menyesal karena telah membuat harta yang paling berharga, Ibunya serta dirinya. Jika saja mereka bisa hidup layaknya keluarga, mungkin tidak akan berakhir seperti itu. Tapi Valerie tetap sangat menyesalkan Louisa yang memutuskan menikah dengan Lukas. Sehingga nasib buruk pun menimpa mereka.
"Ini adalah kakekku, Smith. Smith Russel!" tambah Valerie.Lukas membeku, ia tidak menyangka jika Valerie adalah keturunan keluarga Russel. Jika saja dia tahu sejak awal, mungkin Lukas bisa memanfaatkan Valerie serta Louisa.
"Russel? Tidak! Tidak mungkin!" sergah Lukas tidak percaya.
Jika itu benar, maka Lukas berada di ujung tanduk. Tidak mampu berbuat apapun, kini nyawanya berada di tangan Valerie. Lukas menatap Valerie takut serta pada Smith yang tersenyum sinis melihatnya.
Haruskan ia memohon ampun?
Namun, memohon ampun pada anak tirinya, itu tidak akan mungkin bisa dilakukan olehnya. Karena Lukas tahu Valerie sangat dendam padanya, selain karena kematian Louisa juga karena Lukas telah menjual Valerie pada James.
Valerie telah bersiap dengan pistol di tangannya, mengarahkan pada Lukas. Ayah tiri itu melangkah mundur dengan harapan bisa lolos dari amarah Valerie yang telah menghancurkan masa depannya.
"Kau tidak akan bisa lari dari hukumanku, meskipun kematian adalah hukuman yang ringan untukmu. Tapi aku tidak peduli selagi aku tidak lagi bisa melihatmu lagi di dunia ini!"
"Tidak! Vale... kau–kau tidak akan benar-benar membunuhku bukan?" ucap Lukas penuh harap. Valerie tersenyum sinis mendengar perkataan Lukas. Suami dari ibunya itu, masih berpikir Valeria hanya menggertaknya."Selamat tinggal, Lukas! Pergilah ke neraka!"
Klik..
Satu tarikan pelatuk, sehingga terdengar suara tembakan yang cukup kuat. Lukas mati dengan tembakan tepat di kepalanya. Lukas terjatuh bersamaan dengan darah segar yang mengalir dari kepalanya. Valerie dengan tatapan datarnya, tidak ada rasa kasihan atau bahkan tega telah membunuh seseorang dalam hidupnya. Kini apa yang dirasakan oleh Valerie di hidupnya, seolah telah mati, tidak ada rasa empati. Valerie pun pergi meninggalkan tempat itu, tanpa berbicara sedikitpun bahkan pada kakek yang baru ia temui. "Singkirkan mayat itu, jangan sampai meninggalkan jejak!" perintah Simith pada anak buahnya.Smith menatap punggung cucu perempuannya yang perlahan menjauh dari tempat itu. Kakek itu tahu apa yang dirasakan oleh Valerie sebelumnya, amarah, dendam dan merasa terasing.
Namun ketika bertemu dengannya, ia tahu Valerie seolah memiliki kekuatan untuk kembali bisa berdiri, dan membalas mereka yang sudah menyakitinya. Smith senang tapi juga ia takut, dengan perubahan Valerie.
Apakah akan berbahaya atau akan menguntungkan?
Tapi apapun itu, Smith hanya bisa mendukungnya, karena Valerie adalah satu-satunya penerus keluarga Russel.
Sementara itu James yang baru mendapat informasi mengenai Valerie. Pria itu tertawa kencang seolah itu adalah hal yang sangat lucu. Hal yang sangat membahagiakan untuknya.James mengetahui jika nyatanya Valerie adalah satu-satunya penerus keluarga Russel.
"Jangan sampai kalian salah dengan informasi ini, karena jika kalian salah aku akan membunuh kalian satu-persatu!"
Ekspresi James yang bahagia berubah menjadi tegas saat berbicara dengan anak buahnya. Karena ia tidak mau jika kebahagiaan itu hanyalah omong kosong baginya.
"Tidak Tuan. Kami sudah mengeceknya berulang, karena kami pun cukup terkejut dengan informasi yang kami dapatkan." James kembali tertawa, ia senang jika nyatanya Valerie adalah wanita yang memiliki latar belakang yang kuat, bukan Lukas dengan pria yang miskin dan banyak hutang."Aku akan buat dia menjadi istriku! Jika ada yang tidak setuju atau menghalangi rencanaku, akan aku singkirkan mereka, meskipun itu adalah Smith!"
"Valerie... kau hanya milikku!"James melangkah mendekati Valerie yang sedang menatap dirinya di sebuah cermin besar, gaun yang indah melekat di tubuhnya. James tiba-tiba memeluk Valerie dari belakang, ekspresi wajah datar dan dingin seketika berubah, dengan senyuman yang terukir di bibir Valerie. "Kau cantik dan sangat cocok dengan gaun ini, aku tidak sabar untuk segera berada di altar pernikahan," ucap James berbisik lembut di samping telinga Valerie. "Terima kasih, aku memang sudah cantik. James, pernikahan ini,apa kita mengundang banyak orang?" tanya Valerie. "Tentu, terutama kolega bisnisku dan juga dari perusahaan Russel, aku ingin mereka tahu siapa istriku," jawah James tanpa ragu, Valerie mengangguk mengerti.Orang-orang yang berada di butik itu, melihat jika mereka adalah pasangan serasi dan bahagia, bahkan setelah kejadian Grace yang melabrak Valerie. James yang membela calon istrinya dan membuang simpanannya, bahkan membuat Grace menyesal karena kini kehilangan segalanya. Hal itu membuat mereka yakin j
James tersenyum tipis ketika Valerie mulai menggunakannya, ia pun melangkah mendekati mereka. Grace melirik ke arah Valerie menatap, benar saja, James tidak jauh dari sana dan sedang mendekati mereka. Suasana di butik itu menjadi tegang, hening, beberapa orang memperhatikan mereka, seolah penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. James kini sudah berada di antara mereka, berdiri di dekat Valerie. Sehingga membuat Grace semakin merasa terancam. Grace merasa bodoh karena berpikir Valerie tidak bersama dengan James. Ketika ia memasuki butik itu bersama salah satu temannya dan melihat wanita yang tidak asing baginya, Valerie dalam sebuah foto di galeri ponselnya yang didapatkan dari Eleanor. Grace yang kesal dan marah karena Valerie mengambil dan memiliki James seorang diri, naik menjadi istri sah James, wanita yang ia tahu baru yang dikenal oleh James. Mereka para wanita di sisi James, sama-sama merasa tidak adil karena seharusnya James memilih wanita diantara mereka, paling tidak
Valerie berjalan di samping James, memegang tangan Valerie seolah tidak ingin Valerie menjauh darinya. James benar-benar ingin membuat orang-orang yang mengenalnya tahu jika ia akan menikahi wanita di sampingnya. Memasuki sebuah butik yang cukup terkenal dengan rancangan gaun pengantinnya, Valerie sedikit terpukau dengan gaun-gaun yang indah dan cantik, elegan bahkan terkesan mewah. Sayangnya pernikahan dengan James bukanlah pernikahan impiannya, bukan pernikahan yang membahagiakan, melainkan perang melawan nasib buruknya bersama James Addison."Kau pilihlah, ada yang harus aku lakukan lebih dahulu," ujar James lembut bahkan mencium kening Valerie. Valerie mengangguk dan tersenyum tipis, melihat James yang kemudian menjauh sambil menerima telepon yang masuk ke ponselnya. "Nona, Anda ingin melihat agun seperti apa?" tanya salah satu pegawai di toko tersebut. "Pilihkan saja, yang paling baru dan paling mahal!" ucap Valerie dingin, ia tidak peduli apapun dengan bentuk gaun seperti ap
Valerie dan James kini sudah kembali ke rumah. James meninggalkan Valerie menuju ruang kerjanya, tanpa sepatah kata, sedangkan Valerie berjalan memasuki kamar. Di dalam kamar, Valerie duduk di depan meja rias, berniat untuk membersihkan riasannya.Terdengar langkah kaki yang mendekati Valerie, Anna, wanita disisi James sebagai asisten, yang memberikan obat perangsang pada dirinya, kini datang dan menemui Valerie kembali. 'Aku kira kau sudah tidak bekerja bersama James lagi, Anna?" tanya Valerie dingin."Hampir, Tuan James hampir membunuhku, karena kehilanganmu." Anna menjawab dengan sinis pada Valerie."Apakah kau akan bersikap sinis padaku, Anna? bukankah kau tahu, aku akan menjadi istri James, dan itukan yang kau inginkan?" tanya Valerie menatap Anna dengan senyum liciknya.Valerie ingat betul jika Anna ingin Valerie tunduk pada James, sehingga bisa menikmati kekayaannya. Namun nyatanya bukannya tunduk sebagai jalang, melainkan sebagai istri dan itu membuat Anna berada di bawahnya.
Langkah Valerie beriringan memasuki rumah besar itu, di dalam Henry sudah menunggu kedatangan mereka, tatapan Henry datar, seolah tidak peduli dengan apapun yang akan James lakukan, bahkan dalam hati kecilnya ia merasa takut. Maeva yang juga baru sampai setelah bertemu dengan Eleanor, terlihat menatap sinis dan tajam pada Valerie. Meskipun Valerie berasal dari keluarga kaya, tapi itu tetap tidak menguntungkan darinya. Karena hanya kekayaan dari Addison yang bisa membuatnya bertahan di posisi atas. "Seharusnya Eleanor yang ada di posisimu, gadis murahan!" bisik Maeva dalam hatinya, terlihat kebencian itu pada Valerie. "Kita langsung makan malam saja," ujar Henry tanpa mau berbasa-basi.Valerie mengernyit heran, melihat sikap ayah James, tapi dengan begitu ia tahu jika ayahnya benar-benar tidak bisa membantah James, anak laki-lakinya sendiri. James bahkan tatapannya lebih dingin dari yang ia kira, entah apa yang sebetulnya terjadi di keluarga Addison. Meski begitu, ia tidak begitu te
"Bukankah itu mereka? mereka bertengkar?" tanya Eleanor pada Maeva. Maeva melihat ke arah yang ditunjukan oleh Eleanor, benar saja disana ada James bersama wanita pilihannya. "Mereka akan menemui Henry malam ini," decak kesal Maeva setelah mendapat info dari Henry jika James akan memperkenalkan calon istrinya. "Lihatlah, wanita itu berlagak seperti seorang cinderella. James terlalu royal padanya, Ele, kau harus segera cari cara agar James hanya akan menjadi milikmu!""Aku tahu, tapi aku bingung bagaimana caranya, James, sangat sulit untuk aku perdaya!" kesal Eleanor. "Mengapa tidak kau berpura-pura hamil?" tanya Maeva. Eleanor berdecak kesal, " ada wanita yang melakukan cara itu, meskipun itu benar anaknya, tapi jika James tidak mau, maka tetap wanita itu akan disingkirkan olehnya. Menghadapi James sangatlah sulit, berada tetap di dekatnya saja itu sudah cukup bagus, tapi ketika wanita itu datang James malah langsung menyingkirkanku. Padahal sedikit lagi, aku mungkin aku bisa mem







