MasukSmith sudah menjelaskan pada Valerie tentang bisnis apa saja yang dipegang olehnya mulai saat ini. Tapi Valerie merasa jika ia masih belum pantas untuk menggantikan kakek Smith. Soal bisnis dan memimpin bukanlah hal yang mudah, maka dari itu Valerie memutuskan untuk bisa belajar dari bawah.
Namun ia belum memutuskan untuk kapan bisa bekerja, karena satu tujuan yang ingin dilakukan olehnya, yaitu membalas James, menghancurkan apa yang dimiliki olehnya.
"Vale, Kakek mengerti jika kamu ingin membalas rasa sakitmu pada James. Namun, James bukanlah orang yang mudah kita lawan, kita memang tidak kalah dalam hal uang, tapi ada sesuatu yang lain dalam diri James, yang tidak bisa kita lawan," jelas Kakek Smith saat mengerti kemana arah tujuan Valerie, yang ingin menghancurkan James Addison.
Valerie terdiam, bertanya-tanya, sekuat apa James itu?
"Tapi aku yakin, James akan terus mengusikku, Kek. Entah mengapa, aku merasa James tidak akan melepaskan aku," ucap Valerie. Ekspresi wajahnya terlihat sendu tapi ada perasaan kesal yang tidak bisa disalurkan olehnya. Kesal karena James kuat hingga tidak bisa dilawan olehnya?
Meskipun ia sudah memiliki Smith dan Russel di belakangnya, nyatanya Smith saja merasa itu sulit."Apa tidak bisa jika melapor pada polisi, karena jelas itu adalah hal yang ilegal?" taya Valerie kembali mencari celah untuk menjebloskan James ke dalam penjara atau dengan cara lain yang menghancurkan James.
Smith menggelengkan kepalanya lemah, ia tahu bagaimana hidup seperti James, uang, kekuasaan bisa dimanfaatkan dalam sebuah hukum. "Percuma saja, jangan berpikir ke arah sana.Semua itu akan sia-sia. Bukti, Saksi, bahkan tidak ada. Di dunia ini. kau tidak bisa mempercayai siapapun. Karena jika kau nekat tanpa tahu bagaimana lawanmu, justru kamu lah yang akan hancur."
Valerie mengepalkan tangannya, jelas ia tahu tentang hal ini, orang yang memiliki banyak uang memang suka seenaknya. "Lalu aku harus bagaimana, aku tidak mau terus berada dalam jerat pria jahat itu!" Smith terdiam, ia pun masih memikirkan cara agar Valerie bisa bebas dan tenang menjalani hidupnya tanpa harus berhubungan dengan James. Hari berganti, kini Valerie harus lebih siap untuk bisa menjalani hidupnya. Meskipun James adalah ketakutan dalam dirinya, tapi ia tidak bisa terus bersembunyi. Valerie memutuskan bekerja di cabang perusahaan Russel, seperti apa yang sudah direncanakan olehnya, menjadi karyawan biasa. Sehari bekerja, Valerie tidak memiliki masalah apapun, ia suka dan nyaman. Tapi saat pulang kerja, ia dikejutkan dengan sosok wanita yang menunggunya lobi perusahaan. Valerie terkejut dan takut, ia memiliki menghindari dari wanita itu, melewati jalan lain–basement. Namun setelah menghindari wanita itu, justru Valerie malah bertemu dengan sosok pria jangkung dan tampan yang sudah merenggut masa depannya.James, pria itu perlahan berjalan ke arahnya, tubuh Valerie bergetar, ia tidak menyangka bahkan James berani datang ke wilayahnya.
"James! Untuk apa kau berada disini?" tanya Valerie.
"Apalagi, untuk menemui wanita milikku! Vale, kau tidak akan bisa lepas dariku. Kau sudah aku miliki, membeli dan dapatkan. Kau pikir aku akan melepasmu?" ucap James membuat Valerie kesal.
"Kau pria brengsek, James!""Ya itu aku! aku bukan pria baik, aku hanya pria yang akan berusaha mendapatkan apa yang ingin aku miliki! Menghalangiku, menolakku, akan aku hukum dengan sangat kejam."
James telah berada di hadapan Valerie, memegangi Valerie agar tidak menjauh darinya. James mencium tengkuk leher Valerie, membuat Valerie menghindar, tapi itu membuat James marah dan memaksa mencium bibir Valerie, tapi Valerie menggigit bibir James.
Pria itu marah, tatapannya tajam pada wanita yang dijadikan miliknya.
"Bukankah sudah aku katakan, jangan menolakku, Vale!" desis James mencengkram leher Valerie, sehingga Valerie kesulitan untuk bernafas. "Bunuh aku saja!" ucap Valerie membuat James semakin marah."Nyawamu, hidupmu adalah milikku! Kau tidak bisa memutuskan seenaknya. Jika kau ingin mati, maka bukan nyawamu yang akan mati, tapi orang yang ada di sekitarmu. Aku yakin kau sudah tahu bagaimana aku dari Smith?" ujar James dengan senyum liciknya. "Akan aku berikan kamu contoh agar kau percaya."
Valerie menatap tajam James, mungkin ini adalah hal yang ditakuti oleh Smith, karena kekuasaan James yang tidak sepenuhnya diketahui oleh kakeknya. Smith memang bisa berlaku kejam, tapi melawan orang yang kuat pun itu bukan lah hal yang mudah."Jangan ganggu orang sekitarku!" desis Valerie.
"Maka, jadilah gadis penurut, Valerie." James kembali mencium bibir Valerie dan kali ini tidak ada penolakan dari gadisnya. Hal itu membuat James senang.
"Begitu lebih baik, Sayang. Oh sungguh aku merindukan tubuhmu, tapi aku akan berikan kamu waktu untuk bisa bersantai, menikmati hidup barumu dengan harta berlimpah dari Russel. Setelah itu, aku akan datang kembali dan kita nikmati malam selanjutnya. Ah, mungkin pernikahan akan menjadi lebih baik," ucap James,Valerie menatap tajam James, ia tidak mau semua itu terjadi, malam selanjutnya? Mimpi saja kau, James! bisiknya dalam hati.
James tersenyum dengan lick, ia sadar betul Valerie sangat membencinya tapi itu adalah hal yang menyenangkan darinya. Tantangan untuk membuat Valerie takluk padanya.
James pergi meninggalkan Valerie yang masih menatap tajam padanya, memasuki mobil yang sudah menunggunya berbicara dengan Valerie.Selepas kepergian James, anak buah Smith yang ditugaskan untuk menjaga Valerie kini berlari ke arahnya, dengan ekspresi wajah khawatir pada tuannya karena sudah gagal mereka lindungi. Kini Valerie tahu, menyadari jika James lah yang sudah menahan mereka.
James, orang seperti apa kau?
Apa aku benar-benar tidak bisa menghancurkanmu? Bahkan dia tahu, aku adalah penerus keluarga Russel. "Apa yang harus aku lakukan?" bisik Valerie kemudian.Sebuah notif di ponselnya mengejutkan Valerie, Merry serta Beni yang pernah menolong terbebas dari rumah sakit, kini berada ditangan James.
Valerie menatap layar itu tanpa kedip, tangannya bergetar, seluruh tubuhnya membeku. Sebuah foto di pesan itu menelannya hidup-hidup. Merry dan Beni. Darah. Tali. Luka. Ketakutan di mata mereka. Ponselnya berdering, lalu terdengar suaranya-James-dingin dan pelan seperti pisau yang diselipkan ke tulang belakangnya. "Tenang, mereka masih hidup. Asal kau penurut, semuanya akan baik-baik saja. Seminggu lagi aku datang. Jangan buat aku marah." Telepon terputus, Valerie pun terdiam sejenak. Namun kemudian Valerie jatuh berlutut, tangis dan amarah menyatu hingga suaranya tak lagi terdengar seperti manusia. "James... aku akan membunuhmu."James melangkah mendekati Valerie yang sedang menatap dirinya di sebuah cermin besar, gaun yang indah melekat di tubuhnya. James tiba-tiba memeluk Valerie dari belakang, ekspresi wajah datar dan dingin seketika berubah, dengan senyuman yang terukir di bibir Valerie. "Kau cantik dan sangat cocok dengan gaun ini, aku tidak sabar untuk segera berada di altar pernikahan," ucap James berbisik lembut di samping telinga Valerie. "Terima kasih, aku memang sudah cantik. James, pernikahan ini,apa kita mengundang banyak orang?" tanya Valerie. "Tentu, terutama kolega bisnisku dan juga dari perusahaan Russel, aku ingin mereka tahu siapa istriku," jawah James tanpa ragu, Valerie mengangguk mengerti.Orang-orang yang berada di butik itu, melihat jika mereka adalah pasangan serasi dan bahagia, bahkan setelah kejadian Grace yang melabrak Valerie. James yang membela calon istrinya dan membuang simpanannya, bahkan membuat Grace menyesal karena kini kehilangan segalanya. Hal itu membuat mereka yakin j
James tersenyum tipis ketika Valerie mulai menggunakannya, ia pun melangkah mendekati mereka. Grace melirik ke arah Valerie menatap, benar saja, James tidak jauh dari sana dan sedang mendekati mereka. Suasana di butik itu menjadi tegang, hening, beberapa orang memperhatikan mereka, seolah penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. James kini sudah berada di antara mereka, berdiri di dekat Valerie. Sehingga membuat Grace semakin merasa terancam. Grace merasa bodoh karena berpikir Valerie tidak bersama dengan James. Ketika ia memasuki butik itu bersama salah satu temannya dan melihat wanita yang tidak asing baginya, Valerie dalam sebuah foto di galeri ponselnya yang didapatkan dari Eleanor. Grace yang kesal dan marah karena Valerie mengambil dan memiliki James seorang diri, naik menjadi istri sah James, wanita yang ia tahu baru yang dikenal oleh James. Mereka para wanita di sisi James, sama-sama merasa tidak adil karena seharusnya James memilih wanita diantara mereka, paling tidak
Valerie berjalan di samping James, memegang tangan Valerie seolah tidak ingin Valerie menjauh darinya. James benar-benar ingin membuat orang-orang yang mengenalnya tahu jika ia akan menikahi wanita di sampingnya. Memasuki sebuah butik yang cukup terkenal dengan rancangan gaun pengantinnya, Valerie sedikit terpukau dengan gaun-gaun yang indah dan cantik, elegan bahkan terkesan mewah. Sayangnya pernikahan dengan James bukanlah pernikahan impiannya, bukan pernikahan yang membahagiakan, melainkan perang melawan nasib buruknya bersama James Addison."Kau pilihlah, ada yang harus aku lakukan lebih dahulu," ujar James lembut bahkan mencium kening Valerie. Valerie mengangguk dan tersenyum tipis, melihat James yang kemudian menjauh sambil menerima telepon yang masuk ke ponselnya. "Nona, Anda ingin melihat agun seperti apa?" tanya salah satu pegawai di toko tersebut. "Pilihkan saja, yang paling baru dan paling mahal!" ucap Valerie dingin, ia tidak peduli apapun dengan bentuk gaun seperti ap
Valerie dan James kini sudah kembali ke rumah. James meninggalkan Valerie menuju ruang kerjanya, tanpa sepatah kata, sedangkan Valerie berjalan memasuki kamar. Di dalam kamar, Valerie duduk di depan meja rias, berniat untuk membersihkan riasannya.Terdengar langkah kaki yang mendekati Valerie, Anna, wanita disisi James sebagai asisten, yang memberikan obat perangsang pada dirinya, kini datang dan menemui Valerie kembali. 'Aku kira kau sudah tidak bekerja bersama James lagi, Anna?" tanya Valerie dingin."Hampir, Tuan James hampir membunuhku, karena kehilanganmu." Anna menjawab dengan sinis pada Valerie."Apakah kau akan bersikap sinis padaku, Anna? bukankah kau tahu, aku akan menjadi istri James, dan itukan yang kau inginkan?" tanya Valerie menatap Anna dengan senyum liciknya.Valerie ingat betul jika Anna ingin Valerie tunduk pada James, sehingga bisa menikmati kekayaannya. Namun nyatanya bukannya tunduk sebagai jalang, melainkan sebagai istri dan itu membuat Anna berada di bawahnya.
Langkah Valerie beriringan memasuki rumah besar itu, di dalam Henry sudah menunggu kedatangan mereka, tatapan Henry datar, seolah tidak peduli dengan apapun yang akan James lakukan, bahkan dalam hati kecilnya ia merasa takut. Maeva yang juga baru sampai setelah bertemu dengan Eleanor, terlihat menatap sinis dan tajam pada Valerie. Meskipun Valerie berasal dari keluarga kaya, tapi itu tetap tidak menguntungkan darinya. Karena hanya kekayaan dari Addison yang bisa membuatnya bertahan di posisi atas. "Seharusnya Eleanor yang ada di posisimu, gadis murahan!" bisik Maeva dalam hatinya, terlihat kebencian itu pada Valerie. "Kita langsung makan malam saja," ujar Henry tanpa mau berbasa-basi.Valerie mengernyit heran, melihat sikap ayah James, tapi dengan begitu ia tahu jika ayahnya benar-benar tidak bisa membantah James, anak laki-lakinya sendiri. James bahkan tatapannya lebih dingin dari yang ia kira, entah apa yang sebetulnya terjadi di keluarga Addison. Meski begitu, ia tidak begitu te
"Bukankah itu mereka? mereka bertengkar?" tanya Eleanor pada Maeva. Maeva melihat ke arah yang ditunjukan oleh Eleanor, benar saja disana ada James bersama wanita pilihannya. "Mereka akan menemui Henry malam ini," decak kesal Maeva setelah mendapat info dari Henry jika James akan memperkenalkan calon istrinya. "Lihatlah, wanita itu berlagak seperti seorang cinderella. James terlalu royal padanya, Ele, kau harus segera cari cara agar James hanya akan menjadi milikmu!""Aku tahu, tapi aku bingung bagaimana caranya, James, sangat sulit untuk aku perdaya!" kesal Eleanor. "Mengapa tidak kau berpura-pura hamil?" tanya Maeva. Eleanor berdecak kesal, " ada wanita yang melakukan cara itu, meskipun itu benar anaknya, tapi jika James tidak mau, maka tetap wanita itu akan disingkirkan olehnya. Menghadapi James sangatlah sulit, berada tetap di dekatnya saja itu sudah cukup bagus, tapi ketika wanita itu datang James malah langsung menyingkirkanku. Padahal sedikit lagi, aku mungkin aku bisa mem







