LOGIN“Masih pagi gini, udah rame aja!” ujar Arin sambil menyenggol bahu Leena pelan.
Arin tersenyum singkat, sementara manik matanya menyapu kerumunan mahasiswa yang memenuhi area mading fakultas.
Suasana pagi itu nampak berbeda, area mading fakultas tampak ricuh. Mahasiswa saling berdesakan. Beberapa berbisik sambil menatap mading.
Leena melirik malas, tetapi tidak tertarik untuk mencari tahu. Gara-gara percakapannya dengan Evan kemarin menggantung, ia jadi kepikiran. Takut, kalau-kalau Evan tahu rahasianya dengan Zayn.
Pikiran itu, membuat Leena sulit untuk fokus pada hal lain.
“Naa!” Arin mencoba meminta perhatian Leena yang sepertinya tidak bereaksi atas ucapannya tadi.
Namun, Leena hanya mengangkat bahu. “Udah, ke kelas aja lah! Bentar lagi mulai nih,” ucapnya singkat, seolah ingin menutup percakapan.
Arin terdiam sejenak sambil menghela nafas. Raut wajahnya nampak sedikit kecewa.
“Oke deh!” Arin mengekor Leena, walau sebenarnya masih penasaran.
Keramaian di belakang mereka semakin riuh, tapi Leena sama sekali tak menggubrisnya. Pikirannya sudah cukup berisik tanpa itu semua.
Langkah Leena mantap menuju kelas.
Namun, semakin jauh langkah mereka, suara bisikan itu justru terus terdengar. Mahasiswa lain yang lalu-lalang juga saling berbisik.
“Ada ya, orang kayak gitu!”
“Makannya, gue juga heran. Fakultas kita, makin hari makin aneh!”
Arin beberapa kali menoleh ke belakang, gelisah.
“Naaa … kayaknya emang ada hot news deh! Lo nggak penasaran apa?” ujar Arin, dengan nada setengah bersemangat.
Leena menjawab cepat tanpa berpikir. “Nggak, Arin!” Suaranya tegas, seolah ingin memotong rasa penasaran itu sejak awal.
Arin mendengus pelan sambil memutar bola matanya. “Aelah, lo mah nggak asik banget, sumpah!”
**
Tiba di kelas, Leena langsung menangkap suasana yang juga nampak ricuh. Terlihat beberapa mahasiswa berkumpul sambil berbisik membicarakan sesuatu.
Leena dan Arin kemudian duduk di kursi mereka.
Arin yang duduk disamping Leena pun mendengus pelan, sambil melirik ke arah kerumunan itu dengan rasa penasaran yang semakin memuncak.
“Gila ya, bisa-bisanya orang kayak gitu bikin malu fakultas kita,” bisik seseorang di belakang dengan nada penuh cibiran.
Arin menoleh ke belakang, lalu sedikit membungkuk mendekati dua mahasiswa lain di kursi belakang.
“Guys, pada bahas apaan sih?” Nada bicaranya setengah berbisik.
Kedua mahasiswa itu saling pandang, sebelum akhirnya membuka mulut untuk membicarakan gosip dengan antusias.
“Itu loh! Ada Mahasiswi yang katanya jadi simpenan dosen!” ujar salah satu dari mereka.
Mahasiswa lain yang disebelahnya mengangguk cepat, seolah memastikan bahwa gosip itu terdengar nyata.
“Belum tau siapa, yang pasti dia dari fakultas kita. Makannya pada heboh!” lanjut mahasiswa itu sambil menurunkan nada bicaranya.
Seketika Leena menegang. Matanya membeliak. Jari-jarinya meremas ujung buku hingga kusut. Telinganya berdesing, seolah setiap ucapan itu mengarah tepat kepadanya.
Namun, suasana ricuh itu segera tenang ketika dosen pengajar datang.
Zayn masuk dengan langkah mantap. Matanya tajam mengamati seisi ruangan. Lalu, tanpa basa-basi ia membuka laptop dan memulai kelasnya.
“Kita bakal bahas Etika Global dan Multikultural! Perhatikan materi hari ini! Saya nggak akan mengulang!” Nada suara Zayn datar tapi tegas.
Kelas pun berlangsung, tapi pikiran Leena tak fokus. Matanya terpaku pada buku catatan. Jarinya bergetar, berusaha mencatat namun huruf-hurufnya nampak berantakan.
Leena menyesal tidak melihat apa yang ada di mading. Pikirannya berputar cepat tanpa tujuan. Ia merasa tertuding, walau belum ada yang menyebut nama.
‘Gue harus liat mading dan mastiin semuanya abis ini!’ batinnya menggema, penuh cemas.
Sesekali Leena melirik ke arah pintu, berharap waktu berjalan lebih cepat dari kenyataan. Namun, jarum seolah sengaja melambat untuk menyiksa pikirannya.
Sementara Zayn menerangkan materi dengan ritme yang stabil, tanpa menyadari kegelisahan Leena.
“Duh, lama banget sih! Apa nggak bisa di skip dulu gitu?” gumam Leena sambil mengusap telapaknya yang mulai berkeringat.
Tak lama kemudian, kelas pun selesai. Zayn segera mengakhiri kelas sambil menutup laptopnya. Bersiap meninggalkan ruangan.
“Kita lanjutkan minggu depan! Selamat siang!” ucap Zayn singkat, sambil beranjak menuju pintu.
Leena langsung beranjak dari kursinya, seolah tak mau menunggu sedetik pun.
Tasnya sudah rapi di bahu. Leena sudah memasukkan semua buku ke dalam tas 5 menit sebelum kelas berakhir tadi.
Arin baru saja membuka mulut, hendak mengajak Leena pergi, namun tercekat.
“Na, kita ke—”
“Sorry Rin, gue duluan ya!” cekat Leena, sambil melangkah lebar menuju pintu.
“Oi, Naa! Mau ke mana sih?!” pekik Arin keheranan. Melihat Leena yang keluar dengan rusuh, bahkan sebelum ia mulai berbicara.
Leena berlari melewati lorong kampus. Suara para mahasiswa yang membahas gosip itu, masih terdengar dari kejauhan.
Di persimpangan koridor, Leena berhenti sejenak. Mengecek kondisi area mading. ‘Sepi!’
Dengan pelan dan pasti, Leena melangkah mendekat ke mading. Jantungnya berdegup kencang, matanya langsung menyapu setiap info yang tertempel di sana.
Leena menelan ludah, pupilnya membesar. Akhirnya ia menemukan jawaban atas rasa penasarannya. Informasi yang sedari tadi mengusik pikirannya, kini terpampang jelas depan mata.
“I—ini ….” bisiknya lirih, hampir tak terdengar.
Tangannya bergetar, saat mencoba meraih salah satu lembar info yang sedikit miring.
Deg! Mata Leena membelalak. Sedikit syok dengan apa saja yang baru ia lihat.
"Apa-apaan ini?”
‘Dasar otak sialan!’Leena membanting tubuhnya ke kasur asrama yang entah kenapa terasa jauh lebih keras dari biasanya. Ia memejamkan mata sejenak, merutuki diri sendiri yang bisa-bisanya memikirkan hal-hal yang jauh di luar batas urusan akademis hanya karena satu kata ‘puas’.Suasana kamar asrama lebih remang, kontras dengan gemerlap lampu di resto Saga yang baru saja ia tinggalkan.Jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Tubuhnya pegal, tapi otaknya malah masih berputar kencang, memutar ulang setiap adegan di ruang Saga siang itu.“Fokus, Na. Fokus. Dia itu dosen lo, nggak lebih,” gumamnya sambil menepuk-nepuk pelan pipi yang masih terasa panas.Manik mata Leena seketika tertuju pada flashdisk hitam milik Zayn yang kini ada di genggaman.Sebelum pulang dari resto, Zayn melemparkan benda itu padanya disertai satu instruksi tajam: “Jangan sampai ada yang kelewat. Pelajari semuanya.”Lalu kemudian, Leena bangkit, menyeret kaki ke kursi belajar. Dengan gerakan terbata, ia menautk
“Ni orang tenangnya kalau lagi tidur aja. Kalau melek kerjaannya ngancem mulu...’ suara batin Leena mengomel, tapi bibirnya tetap terkunci.Zayn tak menanggapi. Pria itu hanya merapikan setelan kemejanya yang sedikit kusut, baru kemudian melangkah ke meja kerja Saga. Dari saku kemeja, ia mengeluarkan sebuah flashdisk hitam.Gerakannya tenang, seolah langkahnya sudah tak memiliki canggung lagi ketika menggunakan area kerja Saga.Leena hanya mengawasi dengan mata, tak beranjak dari tempat. Hanya manik matanya yang bergerak mengikuti setiap gerak Zayn.“Pindah ke sini.” Suara Zayn singkat, sambil menarik kursi kerja yang biasa dipakai Saga.Dengan spontan Leena menolak, “Lah, nggak sopan dong, Pak. Masa iya saya duduk di kursi bos sendiri.”Bukan lagi suara Zayn yang jadi jawaban, tapi tatapannya yang tajam dan menusuk, membuat Leena akhirnya menurut meski hatinya masih penuh tanda tanya. Leena menjatuhkan diri, tubuhnya terasa kaku.Layar monitor menyala, dan folder terenkripsi dibuka.
“Cih!” Leena ikut mendengus ketika Zayn tiba-tiba terdengar mengumpat. Dan untuk yang kedua kalinya, suara berat itu kembali jatuh, “...Bangsat!.”Otomatis Leena terperangah. Manik matanya membelalak, tak habis pikir kalau Zayn bisa semarah itu sampai mengucap kata kasar. Kedua tangan Leena refleks berkacak di pinggang, sambil dada naik turun menahan emosi. “Pak, saya tau saya salah. Tapi omongan bapak barusan—”Kalimat makian yang tertahan di ujung lidah Leena mendadak terputus, setelah langkahnya menyingkap sisi depan sofa. Dan disanalah ia melihat sesuatu yang membuatnya diam. Pria yang biasanya tampil dengan aura otoritas yang menindas itu ternyata sedang terlelap. Zayn tampak menyandarkan kepala di bantalan sofa dengan posisi duduk yang miring dan terlihat tak nyaman. Rambutnya kusut, beberapa helai jatuh menutupi kening, menambah kesan lelah yang jelas di rautnya.Tak ada tatapan tajam yang menghakimi, tak ada suara dingin yang menusuk. Yang ada hanya helaan napas sedikit
"Di mana kamu?"Nada suara Zayn terdengar sedikit lantang dari seberang telepon, tajam dan tanpa basa-basi. Leena yang baru saja setengah duduk di ranjang langsung mengernyit heran, matanya masih berat oleh sisa kantuk.ia melirik ke arah ponsel sekali lagi. Nama Zayn tertera jelas.‘Pagi-pagi gini… ngapain dia nelpon, sih?’ tukasnya dalam hati.“Saya di asrama, Pak,” jawab Leena akhirnya dengan nada sedikit kaku. “Kenapa, emangnya?”Hari itu hari selasa, tepat lima hari sebelum ia kembali ke rutinitas kampus dan memulai semester baru dengan magang chapter dua.Libur masih berjalan, dan selama libur itu, Zayn bukan sepenuhnya menghilang, tapi juga bukan sosok yang rutin muncul.Leena masih bertemu pria dingin itu sesekali kalau dirinya mampir ke resto Saga. Itupun sebatas profesional. Hanya ada sapaan singkat, dingin dan seperlunya saja. Tak lebih. Bahkan semingguan terakhir, Zayn sama sekali tak muncul.Lalu, sekarang, tiba-tiba saja pria itu menelpon Leena.“Kamu kesini sekarang!”
“Ni anak, akhir-akhir ini kenapa jadi makin rewel sih?”Leena mengumpat dalam hati. Terkadang selalu dibuat heran akan perubahan sikap Evan yang tiba-tiba terlihat posesif.Evan masih mengangkat telepon. Alisnya tampak mengerut tipis seolah isi percakapan di layar bukan hal sepele. Padahal, sebelum ponsel itu bergetar, Evan masih sibuk menanyai ini-itu ke Leena dengan nada setengah curiga dan setengah khawatir.Leena menggaruk tengkuknya pelan. Ringisan kecil tersungging di wajahnya. Lebih terlihat heran daripada geli. “Sejak kapan dia jadi kayak gini?” gumamnya lirih, hanya cukup untuk didengar sendiri.Padahal, Evan adalah tipe yang santai. Cerewet iya, kepo juga iya, tapi tak sampai seperti saat ini. Sekarang ia bersikap seolah setiap gerak Leena perlu dipastikan.Tak lama, Evan menutup telepon dan menjauhkan layar dari daun telinganya, lalu menghela napas pendek.“Kayaknya... gue juga harus pergi sekarang, Na,” ucap Evan dengan nada pasrah.Leena mengerjap seketika. “Hah?”“Boka
“Bentar, deh… ?” Langkah Evan mendadak tercekat. Tubuhnya mematung tepat di tengah tarikan Leena yang sedari tadi sudah setengah menyeretnya. Alis pria itu mengernyit dalam. Sorot mataya masih terkunci ke arah mobil yang terparkir di bahu jalan seberang. “Na, kok… kayaknya gue pernah liat mobil itu,” ucap Evan pelan. Nada suaranya tampak diturunkan, seperti sedang memaksa ingatan yang belum sepenuhnya menyatu. Jarak antara gedung asrama Leena dan bahu jalan seberang tepat Leena berhenti, untung saja cukup lebar. Dari titik mereka berdiri, cukup mustahil bagi Evan untuk bisa melihat dengan jelas. Apalagi dengan kaca mobil yang gelap, tak mungkin mudah untuk ditembus pandang dari jarak yang segitu jauh. Logikanya jelas.Namun justru karena itu, jantung Leena berdegup semakin tak beraturan. “Lo ngeyel banget sih, Van,” ketus Leena pada akhirnya. Lagi, Leena mendorong kuat-kuat tubuh Evan. Namun, percuma. Tubuh Evan tetap tak bergeming sedikit pun, seakan kakinya sudah men







