LOGIN'Gila! Ini... apa nggak salah?' tukas Leena dalam hati.Napas Leena tertahan tepat saat manik matanya menangkap deretan angka di sisi kanan menu. Jemarinya berhenti di tengah gerakan membalikkan halaman. Ia refleks mengulang gerakan yang sama, seakan berharap kalau hanya salah baca.Leena menarik napas pelan, kali ini lebih dalam. Manik matanya bergerak cepat, menyisir nama-nama menu dengan istilah asing yang disandingkan dengan harga yang terlalu niat untuk dihafal.Bukan berarti dia pelit. Leena tahu betul, isi dompetnya masih cukup. Tabungannya belum kosong, ditambah gaji part-time dari Saga, dia masih bisa duduk tenang di tempat seperti itu tanpa harus khawatir besok makan apa.Masalahnya hanya satu: logika.Batin Leena semakin merintih, 'Sekali makan segini? Kalau dua kali? Tiga kali?'Bukan masalah mampu tidaknya. Lebih ke sayang saja.Leena yang baru mulai kerja. Uang simpanannya pun sebagian besar sudah ia serahkan ke Bibi Vior untuk kebutuhan. Bukan terpaksa, tapi memang suda
“What.” Pagi harinya, Leena sudah berdiri kaku di depan sebuah restotan berfasad kaca tinggi. Pintu otomatis di belakangnya baru saja menutup dengan desis halus. Restoran Serenitea, tempat pilihan Zayn. Sesuai janjinya, hari itu Leena yang akan mentraktir. Di taksi, ia mengikuti arahan yang ada di g****e maps sepanjang perjalanan, dan sepertinya sudah sesuai. Satu tangan Leena menenteng sebuah paper bag, dan tangan satunya menggenggam ponsel yang masih menyala di layar peta. Tenggorokan Leena mendadak terasa kering, sampai-sampai membuatnya harus menelan ludah lebih dari sekali. “Gua baru tau ada tempat kayak gini...” ucap Leena lirih, nada suaranya campuran antara kagum dan sedikit was-was. Dari luar saja tempat itu sudah terlihat mahal. Terlalu mahal untuk sekadar kata 'traktir' yang ia ucapkan dengan enteng minggu lalu. Tak menunggu lama, Leena kemudian melangkah masuk. Interior restoran itu langsung menyambutnya dengan kesan bersih dan tenang. Lampu-lampu warm light meman
“Kamu nunggu pencairan, ya?” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Saga. Ia memotong ucapan Leena yang bahkan belum sempat tuntas. Saga melempar tuduhan itu dengan raut yang tampak dibuat serius, tapi jelas ada binar jenaka yang tertahan di ekor matanya. Leena sempat terdiam, butuh beberapa detik untuk sadar kalau dirinya sedang diledek. “B—bukan itu, Om,” sanggah Leena cepat. Sialnya, tubuh Leena tak bisa diajak kompromi. Pipi dan telinga Leena langsung memanas dalam hitungan detik. Reaksi jujurnya terlalu kentara untuk disembunyikan. Padahal, jauh di lubuk hati, ada benarnya. Hari itu memang hari gajian pertamanya setelah dua minggu kerja penuh. Siapa yang tak menunggu hasil dari peras keringat? Gengsi Leena juga setinggi langit. Ia tak ingin kalau sampai Saga berpikir bahwa motivasinya datang ke ruang kerja pria itu hanya demi angka di rekening. ‘Ish, Om Saga ini, asal ceplos aja. Kan bukan itu maksud gue,’ gerutu Leena dalam hati. Namun, suara hati kecilnya ikut men
‘Dia punya pacar?” Pikiran itu muncul begitu saja di otak Arin.Sorotnya masih tertahan di layar ponsel Leena yang masih menyala. Nama pengirim pesan hanya tersimpan dengan inisial “Z”. Tak ada foto dan nama lengkap. Otaknya langsung bekerja, menebak-nebak tanpa dasar yang jelas.Namun, sebelum Arin bisa berpikir lebih jauh, langkah kaki terdengar mendekat. Ryan muncul lebih dulu dari arah rak buku sambil menenteng satu buku tebal. Ia meletakkan di atas meja dengan bunyi pelan, lalu menoleh ke Arin.Dengan nada santai, Ryan bertanya, “Eh, Rin. Lo nggak ikut nyari?” Arin refleks menjauhkan jemarinya dari ponsel Leena, lalu cepat-cepat bangkit dan langsung pura-pura akan ikut menyusuri rak. “Iya, ini mau kok,” jawab Arin ketus dengan raut yang dibuat tetap datar. “Nggak disuruh juga gue juga tau kali.”Tapi sebelum itu, Leena muncul dari balik rak dengan beberapa buku di pelukannya. Senyum tipis menghiasi wajahnya ketika ia kembali duduk.Arin melirik sebentar ke arah Leena. Hanya s
“Gimana kalau kita diskusi di Perpus?”Leena menoleh ke arah Arin dengan sorot penuh harap. Bahunya sedikit menegang, seolah menunggu jawaban yang bisa menegaskan arah kelompok.Namun, yang Leena dapat hanya dengusan pendek. Arin memutar bola matanya malas, ekspresinya datar. Ia tak langsung menjawab, hanya menyandarkan punggung ke sandaran kursi sambil menyilangkan kaki, seakan tak mau peduli.Tak ingin suasana semakin canggung, Leena mengalihkan pandangan ke Ryan dan Agis. Dengan satu kedipan kecil, ia memberi kode bertanya. Ryan langsung merespons. Ia mengangguk cepat, nada suaranya mantap. “Boleh si.”“Iya, sekalian cari referensi.” Agis tampak ikut menimpali dengan semangat.Lagi-lagi Leena menatap Arin, berharap ada sedikit perubahan sikap. Namun, yang muncul hanya decihan malas. “Terserah deh, asal ngga ribet,” jawab Arin ketus, nada suaranya masih dingin.Hembusan nafas pelan lolos dari bibir Leena. Ia memilih untuk tak menanggapi.Setelah itu, keempatnya langsung pergi ke p
“Na, gue sekelompok sama lo ya. Kelompok lo belum penuh, kan?”Leena sempat tersentak kecil. Refleks, kepalanya menoleh. Ia mengangguk sebelum sempat berpikir panjang."Iya... belum," jawabnya.“Gue juga ya, Na,” timpal satu mahasiswa lain yang juga ikut mendekat.“H-hah? Oh… iya. Boleh kok,” sahut Leena. Ia sedikit gugup tapi berusaha terdengar santai.Perlahan, suasana kampus kembali seperti biasa. Bisik-bisik yang sempat mengarah pada Leena, kini mulai mereda. Beberapa orang yang sempat menjaga jarak, kini kembali menyapa Leena seperti biasa.Leena berpikir ulang. Semua itu juga tidak lepas dari peran Zayn.Hukuman-hukuman kecil yang kerap Leena terima memang terlihat seolah murni disiplin. Tapi Leena tahu, di balik itu, Zayn sengaja menempatkan dirinya di tempat itu.Bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk memberinya ruang, menunjukkan kemampuan akademik yang sebenarnya. Sampai hasilnya mulai terlihat. Orang-orang mulai melihat Leena bukan memang serakah, tapi sebagai role model yang







